BERAMAL LEWAT TULISAN

Thursday, 25 June 2026

JELAJAHI NUSA TENGGARA TIMUR YANG KE-4 BARENG TEMAN SMA

 

Setelah 45 tahun lulus SMA, saya kembali melakukan perjalanan ke NTT untuk kali ke-4. Targetnya meliputi Maumere (Kabupaten Sikka), Larantuka, Solor, Adonara (Kabupaten Flores Timur), Kabupaten Lembata dan pulau² kecil di sekitarnya (minus Alor).

Uniknya, perjalanan ini kulakukan bersama teman sekelas yang lahir di Malang tapi tinggal di Jakarta. Kebalikan denganku yang lahir di Jakarta tapi menetap di Malang (tabola bale). Dia berangkat dari Jakarta ke Malang dengan kereta, lalu kami bersama sama menuju Surabaya untuk berlayar ke Maumere.

Bagaimana rasanya ngebolang berdua setelah hampir setengah abad berpisah ? Yang satu sudah kenyang naik kapal laut, sedangkan yang lain baru pertama kali. Yuk, simak keseruannya !


​PERJALANAN SURABAYA - MAUMERE (54 jam laut)

​Dari rumahku di Malang, kami naik Bus Patas cuma Rp25.000 harusnya Rp40.000 menuju Terminal Bungurasih (udah rejekinya), lalu lanjut naik Suroboyo Bus (gratis untuk lansia dengan KTP) ke Pelabuhan Tanjung Perak.


Kami menumpangi KM Dharma Rucitra VII (DLU) tujuan Maumere via Labuan Bajo. Meski sempat mengalami penundaan jadwal keberangkatan dari jam 20.00 hingga akhirnya lepas jangkar pukul 02.00 dini hari, perjalanan selama 54 jam tersebut berjalan seru. Kami mengambil kelas Ekonomi Tidur (kelas tertinggi di kapal ini) dapat Bed No. 301. Di kapal yang membawa 482 penumpang ini, kami mendapat banyak teman dan bertukar informasi bermanfaat.


​MAUMERE Gerbang Awal di Flores

​Setelah 4 hari 3 malam berlayar, Senin pagi kami merapat di Pelabuhan Lorens Say, Maumere. Beruntung, kami diantar oleh Pak Haji Haris teman baru yang kami kenal di kapal menggunakan mobil bak terbukanya langsung ke penginapan.

Hotel Beng Goan 2 Rp200.000/malam (Kamar AC berdua) menjadi pilihan stay kami. Lokasinya sangat strategis di pusat kota, lokasinya tepat di depan Pasar Tingkat. Di sekitarnya mudah ditemukan kuliner (nasi kuning pagi hari, sate/soto ayam malam hari), ojek, angkutan umum dan travel agent.

Di dalam kota tersedia Bank NTT, Mandiri, BNI, Danamon, BRI, serta minimarket seperti Alfamart dan Indomaret. Harga sewa motor di hotel Rp70.000/hari. Flores Timur kendaraan bermotor Platnya EB. Pertalite eceran Rp12.000/liter. Harga telur ayam Rp2.000/butir atau Rp55.000/krat (30 butir).

Cerita dari Maumere, sesampainya di hotel, teman seperjalananku langsung ambruk sakit karena kelelahan dan shock baru pertama kali naik kapal berhari hari. Sembari merawatnya, aku menyempatkan diri mengeksplor kota tipis² di sela cuaca yang sering hujan. Untungnya, keesokan hari dia kondisinya membaik dan siap bertualang lagi.

Kami kemudian pindah ke Hotel Binongko Jaya yang berada di kawasan Muslim. Lokasinya sangat nyaman, dekat Masjid At-Taqwa untuk ibadah, ke pantai hanya 50 meter, dekat tempat laundry dan banyak pilihan kuliner halal.

HOTEL BINONGKO
Selama di sini, kami menyempatkan diri ke pelelangan ikan (hanya Rp20.000 per tumpuk ikan segar), mengunjungi Tugu Ikan Tuna/Monumen Tsunami dan menikmati kelapa muda di Pasar Bertingkat (Rp10.000/buah atau Rp15.000/2 buah). Sore harinya, kami menutup hari dengan makan malam ikan baronang bakar segar (Rp35.000) di dekat Jembatan Jl. Sultan Hasanuddin.


LARANTUKA "Vatikan-nya Indonesia"

​Pagi pagi sekali kami bertolak ke Larantuka menggunakan bus umum (Rp70.000) yang meluncur selama 3 jam melewati kaki Gunung Lewotobi Laki Laki yang sempat meletus beberapa waktu lalu. Masyarakat setempat mempercayai Lewotobi sebagai gunung api kembar berpasangan. Puncak yang aktif bergemuruh dinamai Lewotobi Laki Laki, sedangkan puncak yang lebih tenang dan tinggi dinamai Lewotobi Perempuan. Oh ya.. kalau perlu bus Maumere - Larantuka (pp) ini nomor kontak yang bisa dihubungi : Viandiro 082340313608.

Larantuka adalah ibu kota Kabupaten Flores Timur yang dijuluki "Vatikan-nya Indonesia". Kota ini memadukan keindahan alam laut, latar belakang Gunung Ile Mandiri, warisan sejarah Portugis serta tradisi Katolik yang kuat. Salah satu magnet utamanya adalah Wisata Religi Semana Santa (perayaan Pekan Suci Paskah) untuk menghormati Renya Rosari (Bunda Maria) yang sudah bertahan lebih dari 500 tahun.

Kami menginap di Kartika Hotel dengan tarif yang cukup ekonomis. Lokasinya luar biasa strategis, tepat di depan gerbang Pelabuhan Larantuka. ​Sekitar hotel dekat dengan Masjid Ash-Shamad (400m), Masjid Agung Syuhada, Indomaret, Bank BNI/BRI, Pasar Baru, Rumah Makan Padang, warung nasi kuning, Katedral Rosari, serta di depan hotel terdapat Taman Herman Fernandez. Selain makanan umum, di sini kita bisa mencoba Ikan Bakar Sambal Lu'at, Jagung Bose dan Jagung Titi. Ini ni nomor hp petugas hotel yang bisa dihubungi : Andre (Aldo) 082247948483.

Hari terakhir di Larantuka, kami berjalan kaki menyusuri pinggir pantai menikmati pemandangan Pulau Adonara dan Pulau Solor di seberangnya, mengunjungi Patung Mater Dolorosa, serta Kapela Tuan Ana Larantuka sembari menunggu matahari terbenam.

Agenda perjalanan kami selanjutnya adalah petualangan island hopping selama beberapa hari ke depan akan berlanjut dengan rute :

​Larantuka > Lembata (kapal kayu)

​Lembata > Adonara (kapal kayu)

​Adonara > Solor (kapal kayu)

​Solor > Larantuka (kapal kayu)

​Larantuka > Makassar (KM Lambelu)

​Makassar > Surabaya (KM Tidar)


PERJALANAN dari LARANTUKA ke LOWOLEBA, PULAU LEMBATA

Setelah sarapan seadanya, kami bersiap di Pelabuhan Larantuka satu jam sebelum keberangkatan. KM Sinar Mutiara Exp. yang berangkatnya setiap hari pukul 08.00 WITA sudah menunggu kehadiran kami, ​rute : Larantuka – Weiwerang (Adonara) – Lewoleba (Lembata). ​Tarifnya Rp.60.000/orang dibayar di atas kapal, kapasitas maksimum bisa sampai seratusan penumpang yang juga mengangkut barang & motor. ​Durasi perjalanan sekitar 3,5 jam (transit 20 menit di Adonara). Selain kapal kayu, kapal cepat juga ada, waktunya lebih singkat tapi ongkosnya lebih mahal sekitar Rp125.000. Kapal merapat di Lewoleba pukul 11.30 WITA.

Kami menginap di Hotel Rejeki, sebuah hotel budget strategis di pinggir jalan (sekitar 1,5 km dari pelabuhan). Dengan tarif Rp200.000/malam, kami mendapat kamar AC dengan kamar mandi dalam. Lokasinya memudahkan akses ke tempat makan, laundry dan masjid untuk salat Jumat. Di Lewoleba tidak ada minimarket modern seperti Indomaret/Alfamart. Kebutuhan warga dipenuhi oleh pasar dan toko lokal. Untuk kuliner malam, Pasar TPI Lewoleba (300 m dari Polres) menawarkan ikan bakar segar super murah dengan pendamping khas seperti buras, gogos atau suami/putu yaitu olahan singkong berbentuk kerucut.



TRAGEDI DALAM PERJALANAN ke PASAR BARTER WOLANDONI (PULAU LEMBATA)

Keesokan paginya, rencana sewa motor dari pengemudi ojek (Bang Unu) batal karena ia tidak kunjung datang dan kami salahnya tidak bertukar nomor HP. Beruntung, kami berhasil menyewa motor lain dari Bang Berto seharga Rp100.000/hari. ​Kami bertolak menuju Pasar Barter Wulandoni yang berjarak sekitar 45 km (2 jam perjalanan) dari Lewoleba. Kondisi jalan sangat ekstrem sebagian beraspal, sisanya tanah, berbatu, serta penuh tanjakan dan turunan terjal.

​Kecelakaan ke-1 (Km 13), motor yang dikendarai sahabatku oleng dan masuk ke selokan. Sahabatku luka ringan, namun kaki kiriku robek dan berdarah. Kami ditolong oleh sepasang suami-istri yang kebetulan lewat yaitu Bang Paul dan istrinya yang seorang perawat/bidan dan dievakuasi ke Puskesmas terdekat (2 km di depan) untuk diobati.

Sahabatku memilih kembali ke hotel diantar Bang Paul. Sedangkan aku bertekad melanjutkan perjalanan sendiri. ​Kecelakaan ke-2 dekat lokasi tujuan, aku terjatuh lagi akibat jalanan berbatu yang rusak parah dan menurun licin. Kaki terjepit bodi motor dan pergelangan tangan terkilir hingga bengkak. Namun, aku tetap melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan ke tujuan, aku beberapa kali berjumpa dengan tradisi kumpul kumpul sambil mengkonsumsi minuman tradisional bernama moke.

EKSOTISME BUDAYA LEMBATA WOLANDONI & LAMALERA

Pasar Barter Wulandoni, ​pasar legendaris ini hanya beroperasi setiap hari Sabtu dan merupakan warisan abad ke-18/19 berdasarkan sumpah adat (Mula Baja) antara Suku Lamanudak (nelayan) dan Suku Wukak (petani). ​Sistem transaksi jual-beli tidak menggunakan uang, melainkan tukar-menukar hasil laut dan hasil kebun menggunakan takaran tradisional (mongan) yang diawali ritual adat. ​Nama Wolandoni berasal dari kata Wulan/Wule (pasar) dan Doni (nama panglima perang setempat). Pasca menyatu dengan kegiatan pasar, aku menyempatkan diri mengobati kaki kanan di Puskesmas Wulandoni secara gratis.


TRADISI BERBURU PAUS di DESA LAMALERA (PULAU LEMBATA)

Dari Wulandoni, aku menahan sakit menuju Desa Lamalera melalui jalanan yang rusak. Di depan gerbang Lemalera, aku bertemu dan singgah di rumah Bapak Opa untuk beristirahat, minum kopi dan dipijat tradisional oleh istrinya. Warisan sejarah budaya berburu paus ada sejak abad ke-15 yang dibawa oleh leluhur dari Indonesia bagian lain. Karena tanah Lamalera gersang dan berbatu, warga sepenuhnya bergantung pada laut.

​Metode perburuan tradisional menggunakan perahu dayung kayu (Peledang) dan tombak bambu berujung besi (Tempuling) yang dilemparkan oleh seorang Lamafa (penombak). ​Sesuai aturan adat perburuan didahului oleh ritual/misa. Warga hanya memburu paus tertentu (seperti paus sperma) dan dilarang keras memburu paus hamil atau anak paus. Hasil tangkapan ​didistribusikan ke warga adat dan daging paus tidak dikomersialkan, melainkan dibagi adil kepada warga desa, janda, yatim piatu atau dibarter dengan bahan pangan pokok masyarakat pedalaman. Tradisi ini diakui dunia internasional perburuan hanya untuk bertahan hidup.

Akhir perjalanan ke Pasar Barter Wolandoni dan selesai mendokumentasikan Lamalera, aku balik badan berjalan pulang ke hotel. Perjalanan terasa sangat lama karena rute yang memutar dan ekstrem. Setibanya di hotel, sahabatku sudah menunggu di kamar. Aku segera membersihkan diri, mengembalikan motor ke Bang Berto (sekaligus memberikan uang kompensasi kerusakan ringan), makan dan beristirahat total untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Adonara esok hari.

Keesokan harinya pas bangun tidur badanku terasa pegal dan merasa perih akibat jatuh dalam perjalanan kemarin. Meski begitu aku nikmati aja sampai berangkat ke Pelabuhan Lewoleba menuju Pelabuhan Weiwerang di Pulau Adonara. Sehabis sarapan di hotel, kami diantar pemilik hotel ke pelabuhan. Kapal tujuan Larantuka transit di Weiwerang sama waktunya dengan Larantuka - Lembata, yakni pukul 8 pagi. Ke Weiwerang ongkosnya Rp30.000 dengan waktu tempuh 2 jam.

Kami menginap di Hotel Asri, sekitar 400 meter dari pelabuhan. Dibandingkan Maumere, Larantuka atau Lembata, tarif hotel di Adonara relatif lebih mahal. Di sini, masjid mudah ditemukan, namun tempat makan cukup terbatas. Kami sendiri memilih makan di deretan depot kuliner seberang Bank BRI Unit yang menyediakan nasi kuning, lalapan, hingga ikan bakar.

​Fasilitas lain seperti laundry tergolong langka dan harus ditanyakan langsung ke warga. Hal unik yang kami jumpai adalah keberadaan kuburan keluarga berkeramik indah di hampir setiap halaman depan rumah mereka. Karena hawa Adonara yang panas, warga lokal biasa memanfaatkan area kuburan yang adem ini untuk bersantai, mengopi hingga tidur.


BERKEJARAN DENGAN TIKET di ADONARA

Hari Senin adalah "Hari Pasar" di Adonara. Suasana Pasar Inpres riuh oleh warga yang berbondong-bondong menjual hasil tani dan tangkapan laut. Di tengah keriuhan itu, kami justru harus bergerak cepat menyusun rencana kepulangan ke Surabaya.

​Rencana awal naik Ferry Dharma Rucitra VII dari Maumere kandas karena jadwal di website tertulis "Dibatalkan" dan "Ditutup". Tanpa buang waktu, aku langsung memesan tiket Kapal Pelni secara "eceran" karena seat yang tersisa hanya untuk rute estafet : Larantuka - Makassar (KM Lambelu) dan Makassar - Surabaya (KM Tidar). Inilah opsi terbaik dan paling maksimal yang kami punya.

​Sore harinya, kami menyempatkan diri mengunjungi Pantai Watu Tena dan Ina Burak menggunakan dua ojek (Rp25.000/ojek sekali jalan). Berjarak sekitar 9 km dari Waiwerang, akses jalan menuju lokasi sudah bagus dengan tiket masuk Rp10.000. Kami menikmati senja di sana hingga menjelang Maghrib. Malamnya, kami kembali ke penginapan untuk mempersiapkan diri sahur, karena esok hari kami akan menunaikan Puasa Sunnah Arafah.


MENYEBRANG ke PULAU SOLOR & KEHANGATAN IDUL ADHA

​Sebelum Dhuhur, kami bertolak dari Waiwerang menuju Menanga (Pulau Solor) menumpangi kapal kayu KM Putra Ilham. Kapal ini beroperasi setiap hari pukul 11.00 dengan tarif Rp20.000/orang dan waktu tempuh 90 menit, sempat singgah di Pelabuhan Labelen Borang.

​Karena tidak ada penginapan di Kecamatan Menanga, kami menumpang di rumah sahabat, Ustadz Syakir di Desa Lewogeka (2,5 km dari pelabuhan). Sambutan hangat langsung terasa. Saat waktu berbuka puasa Arafah tiba, kami disuguhkan hidangan lokal yang sehat seperti ikan bakar, jagung dan singkong rebus serta kelapa muda segar.



Esoknya pukul 06.20 WITA, kami melaksanakan Shalat Idul Adha bersama warga di lapangan terbuka dengan Ustadz Syakir sebagai khatib. Prosesi kurban dimulai pukul 09.00 WITA di Masjid Al Ikhsan Lewogeka, menyembelih 2 sapi dan 4 kambing yang dagingnya dibagikan rata kepada 181 warga Muslim setempat. Pada hari raya ini, seluruh aktivitas dagang dan transportasi laut libur total demi menghormati hari besar.


JEJAK SEJARAH LOHAYONG & NADI KEHIDUPAN SOLOR

​Sebelum penyembelihan kurban, kami sempatkan diri mengunjungi Benteng peninggalan Portugis di Lohayong yang berdiri di dataran tinggi menghadap laut. Kondisinya cukup memprihatinkan karena sebagian besar hancur akibat gempa 4,7 SR pada tahun 1982. Namun, sisa-sisa dinding, beberapa meriam serta fosil kepala dan ekor naga masih terawat. Kunjungan ini terasa istimewa karena dikawal oleh Bang Fathur, sahabat Ustadz Syakir yang merupakan keturunan ke-7 Kerajaan Lohayong.

Menanga dan Lohayong adalah wilayah pesisir berpenduduk sekitar seribuan jiwa. Warga pesisir umumnya bekerja sebagai nelayan, sementara warga dataran tinggi bertani ladang tadah hujan dengan komoditas mete, kacang-kacangan dan jagung. Fasilitas publik di sini masih minim, air bersih baru dinikmati tiga tahun terakhir melalui sistem tandon bergilir setelah sumber air gunung mengering. Untuk perbankan, warga mengandalkan Bank Unit BRI, sementara perahu kayu menjadi urat nadi utama menghubungkan pelabuhan-pelabuhan kecil di Solor (Lohayong, Menanga, Lemalera, Borang) menuju Waiwerang dan Larantuka.

​Malam terakhir di Solor kami manfaatkan untuk membeli hasil kebun warga seperti mete, beras hitam dan kacang hijau.


TRANSIT di LARANTUKA HINGGA BERLAYAR BERSAMA KM LAMBELU

​Keesokan paginya pukul 07.15, kami menumpang kapal kayu menuju Larantuka (tarif Rp25.000, waktu tempuh 1,5 jam) dengan retribusi Pelabuhan Lohayong sebesar Rp2.000. Kapal sempat singgah di depan Benteng Lohayong, Lewwo dan Lewokaha.

​Setibanya di Larantuka, kami kembali menginap di Hotel Kartika yang terletak persis di depan pelabuhan. Kami memilih kamar AC seharga Rp200.000 (fasilitas free Wi-Fi, teh/kopi dan area cuci-jemur baju). Kuliner di sekitar hotel sangat ramah kantong, seporsi nasi, ikan dan telur rebus hanya Rp20.000 dengan air putih minum gratis.

​Sembari menunggu KM Lambelu keesokan harinya, kami mengisi waktu dengan jogging menikmati sunrise di pelabuhan, menyantap nasi kuning dan menunaikan Shalat Jumat di Masjid Agung As Syuhada dekat Pasar Baru.

Ketika kapal tiba, kami mencetak tiket dengan santai karena jarak hotel ke dermaga hanya 100 meter. KM Lambelu datang dan berangkat tepat waktu. Kapal sempat transit di Bau-Bau selama 3 jam. Kesempatan ini kami manfaatkan untuk keluar pelabuhan, mencicipi ikan bakar dan berjalan-jalan di Pantai Kamali sebelum kapal melanjutkan pelayaran ke Makassar.



EKSPLORASI MAKASSAR & KEMBALI ke RUMAH

​Hebatnya, KM Lambelu tiba di Bau-Bau maupun Makassar 2 jam lebih awal dari jadwal. Karena KM Tidar yang akan membawa kami ke Surabaya baru berangkat pukul 02.00 dini hari (jeda 10 jam), kami menyewa kamar di Hotel Agus tepat di depan pelabuhan seharga Rp175.000. Biaya yang murah karena dibagi dua dan bag kami pun aman tersimpan di kamar.

Kami memanfaatkan waktu luang untuk explore singkat Kota Makassar : mengunjungi Benteng Rotterdam, berburu buah tangan di Jl. Somba Opu dan melihat Masjid Kubah 99. Kami juga mencoba Bus Mamminasata Koridor 1 (Panakukang - Galesong) dengan tarif non-tunai Rp4.600 menuju Panakukang Square untuk memuaskan selera dengan Sop Saudara dan ikan bolu bakar, lalu kembali ke hotel menggunakan transportasi online.

​Dari kamar hotel tampak KM Tidar sudah bersandar di Pelabuhan Soekarno Makassar. Menjelang keberangkatan aku berdua bergegas ke pelabuhan. Sayangnya, proses cetak tiket dan alur masuk ke kapal masih diwarnai antrean padat saling berdesakan—sebuah catatan evaluasi yang semestinya bisa dibuat lebih simpel dan nyaman oleh pihak pelayaran, terlebih saat musim libur karena banyak tanggal merah di Bulan Mei seperti sekarang ini.



Meski padat penumpang, perjalanan KM Tidar berjalan sesuai jadwal. Pagi hari kapal merapat di Tanjung Perak, Surabaya. Tengah hari, aku sudah kembali ke dalam pelukan istri, anak dan cucu tercinta di rumah, sementara sahabatku melanjutkan perjalanannya menuju Jakarta menggunakan kereta api dari Stasiun Pasar Turi.

Sampai jumpa di kisah perjalanan berikutnya !


I ❤️ Beautiful Indonesia 

Copyright@by RUSDI ZULKARNAIN