BERAMAL LEWAT TULISAN

Tuesday, 12 November 2019

OH INI YANG DINAMAKAN PULAU BAWEAN

NOKO BEACH
Pingin iseng aja ke Bawean, mumpung tinggal di Malang Jawa Timur. Masih tidak terlalu jauh kalau melancong ke Bawean. Dulu pernah tinggal lama di Surabaya, tapi nggak pernah kepikiran mau traveling ke Bawean.

Inilah saat yang tepat untuk mengunjungi Pulau Bawean. Maunya sih yang simpel² aja tapi nggak mahal. Maka aku pilih salah satu tour operator yang standbye di Gresik. Dari ig aku dapat akun 'destinasi_ade' yang melayani paket tour ke Bawean (HP. 0821 3570 5550).


IKUT OPEN TRIP

Kebetulan pas ada paket Open Trip ke Bawean yang berangkatnya besok (09/11). Tanpa pikir panjang aku ambil paket tersebut dan booking lewat WA. Biayanya per orang 900K+ (transfer DP 400K) untuk eksplor selama tiga hari, mulai tanggal 09 - 11 November 2019 (pas long weekend). Kenapa aku ambil paket ini ? Sebab kalau solo traveling ke Bawean jatuhnya bakal lebih mahal. Diantaranya harus sewa kendaraan, perahu dll. Begitu juga untuk mengeksplor spot seperti hutan atau lokasi terpencil diperlukan pendamping supaya aman. Ikut Open Trip lah yang paling cocok.

Bawean, pulau kecil di Laut Jawa jaraknya sekitar 118 kilometer utara Kota Gresik. Pulau ini termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Gresik - Jawa Timur, terdiri dari dua kecamatan yaitu Kecamatan Sangkapura dan Kecamatan Tambak. Kuy kita mulai eksplor pulau eksotis ini....

Karena start dari Malang, otomatis aku harus berangkat Shubuh. Dari Terminal Bus Arjosari menuju Terminal Bus Bungurasih Surabaya (14K). Lantas sambung Bus DAMRI P8 ke Terminal Osowilangun (9K). Dari situ naik angkot warna biru muda ke dekat Pelabuhan Gresik (7K). Ada tujuh orang yang ikut open trip ini termasuk aku. Meeting Point nya di Pelabuhan Gresik. Para peserta dibuatkan WAG jadi gampang untuk saling kenal dan untuk info² seputar trip ini.


TO PULAU BAWEAN

Hari itu kami pakai Kapal Natuna Ekspres berangkat pukul 9 pagi dan tiba sedikit terlambat pukul 13.30. Waktu di Bawean lebih cepat 30 menit dari WIB. Mereka biasa menyebutnya WIS 'Waktu Indonesia Setempat'. Beruntung cuaca hari itu sangat baik untuk pelayaran. Biasanya kalau cuaca kurang baik (ketinggian ombak di atas 2.5 m) maka kapal tidak diberangkatkan. Inilah masalah utama kalau traveling ke Bawean.

Dari Dermaga Sangkapura tempat merapatnya Kapal Natuna Ekspres ke pintu keluar pelabuhan lumayan jauh. Tapi di dekat gapura sudah ada yang menjemput kami dan disediakan sepeda motor untuk mengeksplor spot² di Pulau Bawean.

Hotel yang kami tempati tidak begitu jauh dari pelabuhan. Lokasinya persis di depan gerbang Pelabuhan Ferry Sangkapura. Makan siang sudah disiapkan. Setelah itu langsung cus ke penangkaran rusa dan ke Danau Kastoba.

Penangkaran rusa tidak begitu jauh dari Kota Kecamatan Sangkapura. Penangkarannya sih biasa aja namun punya arti yang penting. Kalau rusa² ini dibiarkan hidup bebas begitu saja bakalan punah diburu masyarakat. Itulah sebabnya rusa² asli Bawean ini perlu dijaga dari kepunahan. Alhamdulillah... saat ini jumlahnya semakin banyak.

Untuk ke Danau Kastoba lumayan jauh. Menuju kesana setidaknya perlu waktu satu jam. Ditambah masuk jalan desa yang kecil dan treking naik ke atas bukit selama 20 menitan.

DANAU KASTOBA
Letak Danau Kastoba ada di tengah² Pulau Bawean. Keadaannya masih alami, asri dan indah terjaga baik. Ada larangan untuk mandi atau berenang di sini. Menurut ceritanya danau ini masih dianggap sakral oleh masyarakat Bawean. Maksudnya tidak boleh berbuat yang tidak pantas di sekitaran danau.

Pulau Bawean dapat dikelilingi dengan kendaraan tidak lebih dari tiga jam saja. Tidak ada angkutan umum. Yang ada hanya sepeda motor dan mobil pribadi. Sedangkan becak jumlahnya sangat sedikit dan terbatas daerah operasinya untuk mengangkut penumpang.

Jalan² utama hampir seluruhnya dari paving block dan sebagian lainnya terdiri dari aspal dan jalan dicor beton. Untuk sinyal telekomunikasi yang paling kuat adalah Telkomsel. Sedangkan yang lainnya terbatas bahkan blank spot. Sehingga kalau pas lagi di pelosok nggak ada sinyal terpaksa pakai GPS 'Gunakan Penduduk Setempat'.

HOTEL BAROKAH
Stay di Hotel Barokah milik Haji Halik letaknya strategis, bersih dan layak. Dilengkapi AC, kamar mandi dalam, ada mushala mungil dan toko di lantai bawah. Kalau ada Wifi-nya tambah siip lagi. Sayang belum ada.


Pemilik hotel, Haji Halik banyak familinya di Singapura dan Malaysia. Keluarganya kalau ke Bawean malah melancong sekalian pulang kampung. Tampaknya begitulah masyarakat Bawean banyak yang merantau ke negeri seberang. Kalau masyarakat yang tinggal di pulau usahanya hanya berdagang atau menjadi nelayan. Memiliki perahu itu sama saja seperti memiliki mobil sebagai alat transportasi untuk mencari rizki.
Bahasanya yang mirip dialeg Madura menjadi bahasa komunikasi sehari². Ikan dan nasi menjadi lauk pauk pokok pulau ini.

Ada sedikit cerita selepas dari Danau Kastoba. Baru aja sampai di parkiran motor halaman Hotel Barokah salah satu dari kami sebut saja 'Princess' merasa handphone-nya ketinggalan di danau. Dicari berkali² di dalam tasnya tetap ga ada. Mau balik lagi tapi jauh dan sudah malam. Dia tampak gelisah yang ditenang²kan. Ya tetap aja kelihatan gelisahnya.

MAS MANDO DI KASTOBA
Akhirnya Mas Mando sebagai komandan dengan beberapa temannya sepakat kembali dengan dua motor menuju ke danau untuk mencari handphone milik 'Princess'. Pada malam itu juga mereka berempat berangkat melewati jalur tengah yang jalannya tidak begitu mulus. Heroik sekali komandan kita yang satu ini. Apa karena besok Hari Pahlawan 10 November ya ? Hanya mereka yang tau. Yang jelas mereka begitu bertanggung jawab dan selalu membantu segala keperluan dan kesulitan kami.

Tiba ditujuan 'Princess' diminta menunggu saja di rumah penduduk terdekat. Lantas Mas²nya yang naik ke Danau dilengkapi senter dan parang menembus kegelapan malam. Begitu kompaknya mereka hanya untuk mendapatkan sebuah handphone bisa kembali ke 'Princess'. Top bener grup kami yang satu ini. Tiada kata lain yang lebih pantas disebutkan selain kata KOMPAK.

Pagi² di meja makan aku lihat 'Princess' sudah sumringah wajahnya. Kupikir, handphone-nya pasti udah ketemu di sekitaran danau. Memang kemarin itu rombongan kami adalah yang terakhir mengunjungi danau tersebut. Dan selepas itu belum ada lagi orang pergi ke situ. Alhamdulillah ketemu itu handphone.


EKSPLOR PULAU GILI NOKO, NOKO DAN NOKO SELAYAR

Pagi ini adalah hari kedua di Bawean. Langit sedikit mendung dan gerimis tipis mewarnai sekitaran Sangkapura. Hawa sejuk dapat kami rasakan sebelum mengeksplor Pulau Noko, Gili Noko dan Noko Selayar.

Seperti kemarin kami bertujuh ditambah tiga kru meluncur dengan lima sepeda motor ke Dermaga Apung Pamona menuju Pulau Gili Noko. Cukup pakai satu perahu dan sebentar saja kami tiba di Gili Noko. Sambil menyiapkan peralatan snorkeling, aku dan beberapa kawan ngopi² sejenak di Warung Bu Siti.

Saatnya menuju Pulau Noko yang eksotik perahu disitu ditambatkan ke pasir. Pasir putih menyerupai jalan berliku yang panjang menuju Pulau Noko membuat kami surprise melewatinya. Sebab jalan berpasir putih ini kanan kirinya laut. Benar² eksotik bila dinikmati sepenuh hati.

Setelah puas eksplor Pulau Noko saatnya snorkeling tipis² di sekitar selatan Pulau Noko. Hampir semuanya nyemplung ke laut dengan pelampung nempel di tubuh masing². Dengan berbagai macam gaya, teman² menikmati pemandangan bawah laut melihat terumbu karang.


Snorkeling sedikit menguras tenaga yang bikin perut jadi ingin cepat diisi. Saatnya kembali ke Gili Noko untuk makan siang. Sebelumnya pesanan sudah dicatat oleh Bu Siti pemilik kedai makan, tinggal disajikan aja pada kami.

Menu yang kami pesan tidak banyak hanya lobster dan ikan kerapu bakar plus tiga macam sambal. Minumnya masing² sebuah kelapa muda. Semuanya ludes disantap orang tujuh. Harganya pun sesuai dengan apa yang kami makan. Worth it lah...
Perut sudah terisi, rasa kantuk mulai mendera. Kami istirahat sejenak, menjemur pakaian basah dan membilas tubuh agar tidak lengket kena air asin. Di situ sambil menunggu waktunya berangkat yang pas untuk melihat sunset di Pulau Noko Selayar. Meluncur ke sana lumayan jauh dari Gili Noko. Di tengah perjalanan perahu kami sedikit bergoyang kena gelombang air laut.




Tidak lama berada di pulau ini, sunset pun mulai berproses bergerak tenggelam sebagai tanda akan hadirnya malam. Pergerakan sunset terus kami abadikan dengan seksama. Betapa indahnya ciptaan Illahi ini. Terasa semakin kecil kami ini setelah melihat kebesaranMU.

Perahu kami adalah yang terakhir meninggalkan Pulau Noko Selayar. Meski suasananya gelap, namun cahaya bulan cukup membantu perjalanan kami menuju dermaga apung di bawean.

Makan malam bersama adalah aktivitas kami yang terakhir malam itu. Walaupun ada beberapa teman yang masih punya acara menikmati malam terakhir di Bawean.


BACK TO GRESIK

Akhirnya hari perpisahan datang juga. Kami semua harus kembali ke tempat masing², ke Jogya, Bogor dan Surabaya. Banyak kenangan indah telah terukir di pulau ini. Apalagi kehadiran Mbak² yang baik selalu bikin suasana pecah selama tiga hari itu. Kegembiraan masih mewarnai wajah mereka hingga Pelabuhan Gresik.

Kapal Cepat Ekspres Bahari membawa kami dari Bawean ke Gresik. Selamat jalan sobat dan berharap bisa berjumpa lagi di lain waktu. Mohon maaf atas segala salah dan khilaf dalam tutur kata dan canda.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada :
Tour leader & Kru
Owner hotel
Nakhoda kapal
dan sobats peserta Open Trip Bawean

Cheeers.....

Copyright©by RUSDI ZULKARNAIN
email : alsatopass@gmail.com