BERAMAL LEWAT TULISAN

Thursday, 13 December 2018

PARA TETANGGA IKUT TRAVELING KE PATTANI


Berawal dari penjemputanku di Penang International Airport dan dilanjutkan perjalanan dengan Bus Rapid No 401 ke George Town menuju penginapan.

Itulah rangkaian hari pertama (15/11) perjalanan kami yang diikuti oleh para tetangga dan seorang Ustadz yang kerap memberi tausiah di masjid perumahan kami. Rombongan kecil berjumlah tujuh orang ditambah aku sendiri yang lebih dulu menjelajah selama tiga puluh lima hari ke beberapa negara.

Tujuan safar (perjalanan) kami adalah mensyukuri nikmat Allah, mengenal setiap hamparan bumi Allah dan bersilaturahmi dengan saudara Muslim Penang Malaysia, Hatyai dan Pattani di Thailand Selatan.


NAMANYA JUGA TETANGGA

Konsentrasi kami selama di Penang menjelajahi kota tua yang terdaftar sebagai Kota Warisan Dunia pada badan PBB UNESCO yakni George Town. Kemudian lebih lanjut ke Penang Hill, ke Masjid Terapung Tanjung Bungah dan ke Pusat kuliner/perbelanjaan di Gurney. Semua itu kami tempuh dengan Bus Rapid Penang yang murah meriah, canggih, bersih, uang pas dan on time.

Unik juga punya pengalaman traveling bersama tetangga. Apalagi usianya bervariasi dan memiliki profesi yang berbeda-beda. Sebut saja Prof. Afnan dan Pak Waluyo. Beliau berdua, usianya tujuh puluhan. Sedangkan yang lain usianya masih jauh di bawah itu.

Sedari awal, alhamdulillah kami bisa istiqamah menjalankan kewajiban sujud lima waktu berjamaah. Oleh sebab itu kami memilih hotel yang dekat dengan segalanya. Misalnya dekat dengan masjid, tempat makan halal, money exchange dan akses transportasi. Dengan begitu biaya safar ini bisa kami tekan lebih ekonomis.


KE HATYAI LEWAT DARAT

Hari berikutnya kami menuju Hatyai, yaitu kota terbesar di Thailand Selatan. Berangkatnya dengan minivan kapasitas 11 penumpang. Selain kami ber delapan ada penumpang lagi asal Thailand, Filipina dan Amerika Serikat. Suasana di dalam mobil angkutan ini sangat bersahabat. Kami saling berbagi informasi tentang perjalanan ini. Adapun ongkos minivan dari Penang ke Hatyai per orang 40 Ringgit atau setara seratus lima puluh ribu rupiah. Tapi dari Hatyai ke Penang ongkosnya lebih mahal, 400 Bath atau 50 Ringgit. Monggo silakan dipilih mau bayar pakai Bath atau Ringgit.
IMIGRASI BUKIT KAYU HITAM
Menempuh perjalanan ke negeri gajah putih bagian selatan ini cuma empat jam. Melewati perbatasan kedua negara Malaysia di Bukit Kayu Hitam dan Thailand di Sadao. Kalau dari wilayah Malaysia  ke Thailand waktunya lebih lambat satu jam. Dan arah sebaliknya, waktunya lebih cepat satu jam.

Melintasi Imigrasi Malaysia lancar-lancar saja. Berbeda dengan Imigrasi Thailand. Di situ pas terjadi antrian panjang, sehingga waktu tempuh ke Hatyai sedikit molor. Meski begitu semuanya bisa masuk ke Thailand dengan selamat. Sebelum masuk imigrasi kedua negara ada, kebiasaan setiap orang menyerahkan dua ringgit beserta paspor pada sopir. Sebagai imbalannya, sang sopir memberikan kartu imigrasi yang sudah tercetak lengkap dengan data seperti di paspor.

Melintasi dua negara dengan cara ini, ada dari kami yang belum pernah sama sekali. Mereka biasanya lewat udara. Sehingga urusan imigrasi dilakukan di dalam bandara masing-masing negara.

Di Hatyai kami memilih kamar yang besar (family room) seperti yang kami lakukan di Penang. Kami terus aktif cari informasi. Misalnya, kalau ada hotel yang lebih murah tapi fasilitasnya sama, kami tidak segan-segan pindah ke hotel baru.

Di pusat Kota Hatyai masjidnya tidak banyak dan jauh. Tapi jumlah penduduk Muslim di Thailand bagian selatan lebih banyak dibanding propinsi lain. Alhasil, sesekali kami hanya bisa shalat berjamaah di dalam kamar bukan di masjid. Selepas shalat kami melakukan sharing hikmah perjalanan secara bergilir. Sharing ini dipimpin Ustadz Alfin. Masing-masing menceritakan pengalaman hikmah perjalanan hari ini.

Perjalanan kami ini tidak memakai jasa tour travel. Pilih hotel, makan, waktu dan tujuan.  Semuanya kami atur dan lakukan secara mandiri. Tidak ada formal formalan dan dilakukan dalam suasana cair dalam bingkai kebersamaan. Dan hampir seratus prosen rencana dilakukan dan diputuskan di 'TKP'.

NIKMATI KARI KEPALA IKAN
Makan sehari-sehari tidak harus di restoran besar. Di kedai atau ala food street pun kami lakukan. Kami punya cara lain untuk menumbuhkan persatuan. Cukup beli nasi putih, lantas beli lauk sesuai yang disenangi dan minumnya air mineral yang disediakan hotel atau isi dari dispenser. Makannya bareng-bareng di hotel, duduk lesehan di atas lantai yang bersih. Cara begini ini yang bikin suasana jadi semakin akrab.

Selain itu kami bisa introspeksi, menerima apa yang ada dan bersyukur. Sebab hampir semua peserta kebiasaan hidupnya berada di level menengah ke atas. Safar ini memberi pelajaran untuk mensyukuri setiap relung kehidupan. Pada akhirnya kebiasaan ini In Shaa Allah semua akan berubah menjadi kenikmatan. Bukan sengsara membawa nikmat.

Di hari yang lain, kami menjelajah ke beberapa tempat di sekitar Hatyai. Diantaranya Central Mosque, Kota lama Songkhla, Tangkuan Hill, Dragon Songkhla Statue, floating market dan Patung Mermaid di pesisir Pantai Songkhla yang berpasir putih. Kata orang, belum sah ke Songkhla kalau belum berfoto di depan Patung Putri Duyung Mermaid.


CUKUP PAKAI TUK-TUK

Menuju ke situ, kami sewa tuk-tuk. Moda transportasi seperti angkot, tapi pintu masuknya dari belakang. Untuk mendapatkan harga yang murah, aku pakai jurus berbahasa Thai dan merangkul ringan pundak sang sopir. Alhamdulillah dengan jurus ini sopir tuk-tuk sepakat dibayar 900 Bath saja.
TUK2 ANGKUTAN UMUM DI HATYAI
Pada saat perjalanan hampir selesai, ongkosnya kubayar dan kutambah 100 Bath lagi sebagai tanda terima kasih. Sopirnya baik sekali, sabar menunggu dan sudah membawa kami dari siang hingga malam dengan selamat.

Rencana selanjutnya adalah ke Pattani. Sebuah kota yang banyak Muslimnya dan banyak masjidnya. Jaraknya dua jam perjalanan dengan minivan.


MENGENALKAN PATTANI

Maka esoknya (18/11) di hari yang masih pagi kami bergegas menuju terminal bus pakai tuk-tuk. Ongkosnya berdelapan kutawar 150 Bath. Padahal normalnya per orang 30 Bath.

Di situ kubeli tiket minivan tujuan Pattani untuk delapan orang. Minivan nya bagus-bagus sekelas minivan yang sering dipakai standar turis mancanegara. Ongkosnya 100 Bath.

Jangan heran, untuk memasuki Pattani banyak penjagaan oleh militer bersenjata lengkap. Posnya dikelilingi tumpukan karung pasir dan panser yang siaga di posisinya. Kalau naik minivan tampak aman-aman saja. Sebab kendaraan umum tersebut sering mondar-mandir Hatyai - Pattani. Lagi pula kami semua wajahnya mirip wajah orang Thailand. Jadi di setiap pos, minivan hanya berjalan pelan dan membuka kaca jendela.

MASJID RAYA PATTANI
Kalau ada aktifitas dari kami yang mengundang perhatian, bisa dipastikan bakal diperiksa. Itulah Pattani yang tampak bebas tapi sesungguhnya berada dalam pengawasan setiap saat.

Tiba di Pattani minivan berhenti di area parkir Masjid Raya yang banyak ditumbuhi pohon kurma. Sambil menunggu kehadiran temanku asal Pattani, kami istirahat sejenak di teras masjid bagian timur.

Untuk mengunjungi beberapa masjid di kota ini, aku menyewa tuk-tuk dari pangkalannya  di dalam kampus Prince Songkhla University. Tujuannya ke Masjid Krusek, Masjid Raja dan Masjid Raya. Untuk ketiga tempat ini dia minta 400 Bath.

Satu per satu tujuan kami selesaikan. Di Masjid Krusek, kami datang pas waktu Dhuhur tiba jadi kami bisa langsung shalat berjamaah. Jamaahnya full sebab kebetulan ada rombongan touring dari Perlis Malaysia.
MASJID KRU SEK, PATTANI
Masjid yang berumur lima ratus tahunan ini, bangunannya masih kokoh berdiri. Dan masih dipertahankan untuk pelaksanaan shalat lima waktu berjamaah hingga sekarang. Selepas Shalat Dhuhur kami saling bersalaman dan berbincang dengan para jamaah dan imam masjid. Cerita singkat sejarah masjid dari imam kami dengarkan dengan seksama.

Sebagai tanda tali ikatan silaturahmi, kami serahkan beberapa set sarung, tasbih dan kopiah yang kami bawa dari tanah air. Senyum bahagia dari imam dan yang lain membuat kami terharu. In shaa Allah kapan-kapan ingin kemari lagi.

MASJID ACHEH
PENANG
PANTAI SONGKHLA
Hal yang sama kami lakukan juga di Masjid Raja dan Masjid Jamek Pattani. Hamdee, temanku asal propinsi ini sangat membantu lancarnya perjalanan kami. Dia menerima kehadiran kami, mengantarkan kami dan menjelaskan semuanya pada kami. Beliau telah meluangkan waktunya untuk kami yang hanya berniat bersilaturahmi, bersujud di rumah Allah dan menjelajahi bumi Pattani.

Sebelum Hamdee mengantar kami ke terminal, kami serahkan tanda mata padanya untuk disampaikan pada saudara yang membutuhkan. Perasaan hati menjadi lega setelah bisa berbagi pada saudara-saudara seiman di Pattani. Saat itu juga kubeli tiket minivan untuk kembali ke Pattani. Minivan langsung penuh dan langsung berangkat menuju Hatyai.


BELANJA TIPIS-TIPIS SEBELUM KE PENANG

Esoknya (19/11), ada teman kami yang pulang duluan karena ijin cutinya terbatas. Dialah Terry, pulang ke Surabaya dari Penang. Naik kereta api dari Hatyai ke Padang Besar, lalu dari Padang Besar ke Butterworth. Lantas nyebrang pakai ferry ke George Town dan menuju airport dengan Grab. Cara ini lebih murah, tapi sedikit repot.

Kami pun menyusul ke Penang pada petang harinya. Tapi kami tetap naik minivan karena lebih praktis dijemput dan diantar ke hotel. Kalau tadi Terry langsung balik ke Surabaya. Sedangkan kami masih stay tiga malam lagi di Penang.
MASJID TERAPUNG
TANJUNG BUNGAH-PENANG
HALAMAN MASJID KAPITAN KELING
PENANG
Lusanya (21/11), Ustadz Alfin menyusul pulang. Dari Penang pakai bus menuju Kualalumpur. Sebab malamnya akan meneruskan perjalanan ke Uzbekistan dengan rombongan yang lain. Alhasil, kini kami tinggal ber enam.

Untuk ibadah harian kami masih konsisten berjamaah di masjid. Sisa waktu di Penang kami manfaatkan untuk mengeksplor lebih dalam ke beberapa spot wisata. Tidak lupa kami mencicipi satu persatu kuliner khas Penang yang melegenda. Mie sotong, cendol, nasi kandar, laksa, kepala ikan bumbu kari atau rojak pasembur menjadi buruan kami setiap hari.

Delapan hari pun tidak terasa. Petang ini menjadi waktu kami terakhir di Penang dan harus kembali ke Surabaya.
MASJID KAPITAN KELING-PENANG
Delapan hari berada di dua negara penuh dengan kenangan. Sebut saja misalnya, sarapan roti channei dan minum teh tarik selepas Shalat Shubuh, itu kenangan yang tidak mudah dilupakan. Atau makan udang, tom yam dan mango sticky rice di Hatyai juga bikin kangen ingin traveling bareng lagi.

Akhirnya kami hanya bisa mengucap syukur pada Illahi Rabbi atas nikmat-nikmatNYA pada kami.

Lengkap sudah perjalanan kami, pesawat landing di Bandara Juanda Surabaya. Dalam perjalanan pulang ke Malang kami mampir ke sebuah masjid untuk shalat berjamaah. Pada kesempatan itu, kami saling bermaafan apabila ada salah kata dan perbuatan selama safar delapan hari.



Copyright©  by RUSDI ZULKARNAIN
email :  alsatopass@gmail.com