BERAMAL LEWAT TULISAN

Sunday, 13 September 2020

KEELOKAN ALAM DI PERBATASAN MALANG - LUMAJANG

 

Apalagi yang harus kukatakan, karena tidak ada habis²nya ciptaan Illahi yang bisa dinikmati. Di sekitaran Malang aja belum habis, apalagi kalau bicara di luar Malang, Indonesia bahkan dunia niscaya kita tak akan mampu menjelajahi semuanya.

Rasa syukur tak putus²nya kupanjatkan kepada Allah SWT dan menjalankan perintah sesuai tuntunan QS Ibrahim Ayat 7 "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Tujuan penjelajahanku kali ini adalah di sekitar perbatasan Kabupaten Malang dengan Kabupaten Lumajang. Dari Kota Malang jarak yang akan kutempuh hingga 70 kilometeran. Dimulai dari Tumpak Sewu, Jembatan Gladak Perak dan diakhiri ke Bamboo Forest. Yuk ikuti penjelajahanku....



DESTINASI-1 TUMPAK SEWU

Bersama travelmate-ku @aditya cahya pramana, dari Malang berangkatnya sekitar pukul 7 pagi. Kami berdua hanya menggunakan sepeda motor untuk menjelajahi beberapa spot di sekitar perbatasan. Terus terang dalam trip ini aku banyak dibantu oleh Mas Adit, sebut saja sepeda motor misalnya dan drone. Semuanya Mas Adit yang nyiapkan. Arigatoo gozaimasu Adit San. Kebetulan dia itu jago Bahasa Jepang dan tau seluk beluk tentang negara sakura.

Jalur yang kami lalui dari Kota Malang - Bululawang - Turen - Dampit - Ampelgading - Pronojiwo (Tumpak Sewu) - Sumber Wuluh Candipuro (Jembatan Gladak Perak)- Sumber Mujur Candipuro (Bamboo Forest). Selepas Turen jalannya terus berliku, naik turun dan banyak truk pengangkut pasir/tebu yang memperlambat perjalanan kami. Dengan kondisi jalanan seperti ini, kami harus selalu waspada agar selamat pergi hingga kembali ke rumah.

Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam tanpa hambatan, alhamdulillah kami tiba di tujuan pertama. Tumpak Sewu namanya sudah sangat terkenal, yaitu air terjun yang menumpahkan banyak aliran air ke ngarai yang terjal.
Berada di sini adalah mengulang perjalananku pada tahun 2015 lalu, dimana Tumpak Sewu fasilitasnya masih sangat sederhana, boleh dibilang safety nya masih minim. Misalnya untuk mencapai ngarai yang terjal hanya menggunakan tangga bambu yang diikat tali ijuk dan tali karet yang terbuat dari irisan ban bekas sebagai pegangannya. Tapi sejak tiga tahun yang lewat sampai sekarang fasilitasnya lebih baik. Tangganya terbuat dari besi, tersedia beberapa balkon untuk menikmati air terjun yang pas, parkiran, asuransi, penginapan dan warung² yang menjual makanan dan minuman.

Untuk masuk ke kawasan Tumpak Sewu ada dua sisi, dari Kabupaten Lumajang ke Goa Tetes dan Panorama, lantas dari Kabupaten Malang ke spot air terjun dan jalan menuju lembah di bawah Tumpak Sewu. Sebab air terjun ini berada tepat di perbatasan dua kabupaten. Tiket masuknya plus asuransi 10 ribu dan tiket parkir dan wisata panorama air terjun 15 ribu.

Jangan diragukan lagi tentang keindahan kawasan Tumpak Sewu. Meski begitu harus tetap ber-hati² ketika menuruni anak tangga yang menempel di tebing terjal menuju dasar lembah. Apalagi kalau di musim hujan, trek yang basah kaki bisa tergelincir.
Video credit to @aditya cahya pramana

Di sekitar Desa Sidorenggo Pronojiwo ini banyak ditumbuhi tanaman salak, cengkeh, pisang dan kopi. Ketika itu cuacanya panas, namun sayang Gunung Semeru sebagai background di atas air terjun tidak tampak karena tertutup awan tebal. Padahal kalau tampak, semuanya bakal sangat sempurna landscape keindahan alam ini untuk dinikmati.

Karena alasan masih ada beberapa spot yang harus dikunjungi, dengan berat hati kami terpaksa meninggalkan Tumpak Sewu lebih cepat dan beristirahat sejenak di Warung Mbak Evi istrinya Mas Rohim yang ada di parkiran.


DESTINASI KE-2 JEMBATAN GLADAK PERAK

Selanjutnya ke Jembatan Gladak Perak di Desa Sumber Wuluh Kecamatan Candipuro. Dari Tumpak Sewu arahnya ke Lumajang. Kami harus memperhatikan papan petunjuk jalan dan sesekali membuka Google Maps. Di sebelah kiri jalur ini sebetulnya tampak jelas kegagahan Gunung Semeru asalkan cuacanya cerah.

Jalannya tetap sama berliku naik turun dan sedikit sempit. Melewati Piket Nol lantas puncak yang rawan longsor. Di sebelah kanan jalan arah ke Lumajang, tampak di bawah sana terhampar material pasir dan batu yang sangat luas. Material tersebut berasal dari Gunung Semeru yang terbawa banjir lahar dingin melewati Sungai Besuk Sat hingga ke tempat ini. Dari sinilah material batu dan pasir diambil dan dibawa ke daerah lain seperti Malang, Lumajang atau ke Surabaya. Karena material diambil setiap hari, otomatis jalanan di sepanjang Malang - Lumajang dipadati truk² yang berjalan pelan.
Kira² perlu 15 kilometeran lagi dari Tumpak Sewu untuk mencapai jembatan yang penuh sejarah ini. Jembatan lama yang membentang di atas Sungai Besuk Sat sangat sempit dengan tiang besi sebagai penyangga utamanya. Andai saja jembatan ini masih dipakai untuk lalu lalang Malang Lumajang dapat dipastikan ngeri² sedap rasanya.

Disamping sempit, belokannya juga mengerikan karena harus memangkas tebing batu di ujungnya. Jembatan ini tercatat dibangun pada masa kolonial pada tahun 1925 dan pernah putus karena dihancurkan musuh pada masa perang kemerdekaan. Lalu pada pada tahun 1950an dibangun kembali sebagai penghubung dua kabupaten Malang dan Lumajang. Alhamdulillah pada tahun 1998 jembatan baru yang dibangun oleh putra bangsa dapat menggantikan posisi jembatan lama yang sebelumnya telah banyak berjasa.

Jembatan baru dibuat lurus dengan jalan di ujung²nya sehingga mengurangi bahaya. Disamping itu jauh lebih lebar dan berstruktur penyangga beton bertulang yang kuat. Kedua Jembatan Gladak Perak ini yang lama dan yang baru berdiri tidak jauh berdampingan. Yang lama bagaikan meseum alam berdiri bebas di atas Sungai Besuk Sat. Dan yang baru berdiri kokoh sebagai lambang prestasi karya anak bangsa. Keduanya sangat instagramable untuk diabadikan baik oleh orang yang sedang lewat atau memang sengaja datang ingin melihat jembatan ini.

Untuk melepas lelah, kami singgah menyeruput kopi panas dan menikmati 'gorengan' pedesaan sambil memandang kedua jembatan yang sangat mengesankan itu. Warung kopi tersebut masing² berada tepat di ujung² jembatan.


DESTINASI KE-3 BAMBOO FOREST

Berikutnya adalah destinasi terakhir yang akan kami jelajahi yakni Bamboo Forest (hutan bambu) yang lokasi ada di Desa Sumber Mujur Kecamatan Candipuro Lumajang. Dari Jembatan Gladak Perak ke TKP kira² 10 kilometeran lagi. Arahnya tetap menuju Lumajang. Setelah melaju dari Jembatan Gladak Perak tidak lama akan bertemu dengan per3an yang menikung. Di situ ada Patung Pak Tani yang memikul salak dan singkong. Di jalan itulah masuknya hingga ke Bamboo Forest.
Dimulai dari gerbang selamat datang menuju hutan bambu, dari situ tidak jauh lagi ke spot wisatanya. Cukup bayar tiket 5 ribu dan parkir sepeda motor 3 ribu, kami sudah bisa menikmati hutan bambu yang rimbun, kolam renang dan ngopi² di kedai yang berada di dalam kawasan ini.

Hutan bambu ditata dan dibuat jalan plesteran beton di antaranya. Suasananya terasa sejuk dan monyet²pun senang berayun² di atas rumpunan bambu hingga berlarian santai sampai ke jalan. Ada beberapa kolam renang di muka dan di dalam kawasan Bamboo Forest ini. Anak² dan orang dewasa pun bisa bebas santai berbasah²an di sini.

Memang perlu penataan yang lebih baik lagi, misalnya bisa mencontoh penataan seperti hutan bambu yang ada di Jepang (Hutan Bambu Sagano di distrik Arashiyama, bagian barat Kyoto). Untuk membuat bangunan tambahan hendaknya jangan mengambil dari pepohonan bambu yang masih segar. Sayang rasanya kalau harus menebang pohon bambu untuk membuat sebuah bangunan tambahan di dalam kawasan ini. Sebaiknya dibuat saja dari bahan lain yang lebih awet dan kuat dengan warna yang natural disesuaikan dengan warna di sekitarnya. Namanya juga saran dari seorang pecinta alam demi kelestarian hutan bambu ini.



Makan siang kami agak telat dan hanya bisa memilih menu makanan yang terbatas di salah satu kedai di sini. Setelah itu segera meninggalkan lokasi setelah Ashar dan kembali melewati lika liku jalan yang sama menuju Malang.

Alhamdulillah tiba di Malang sekitar pukul 9 malam. Berarti one day trip yang kami lakukan durasinya 14 jam, berangkat pukul 7 pagi dan tiba di rumah pukul 9 malam. Setelah istirahat sejenak aku bergegas mandi air hangat, beranjak tidur dan esoknya membuat tulisan ini. 

Wassalam.... sampai jumpa di kisah perjalanan lainnya.



Copyright@by RUSDI ZULKARNAIN