BERAMAL LEWAT TULISAN

Saturday, 27 June 2020

PERSPEKTIF LAIN DARI MASJID TIBAN


Terlalu banyak spot menarik, ikonik, artistik, favorit atau yang bersejarah termasuk tempat-tempat ibadah di sekitaran Malang Raya. Bagaimana mau habis kalau tidak dicicil didatangi satu persatu mulai dari sekarang. Sebut saja keberadaan Pondok Pesantren besar yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Tiban dekat Turen di selatan Kota Malang. Masjid ini 'tiba-tiba' ada dan langsung terkenal viral sampai sekarang. Ya itulah asal kata TIBAN dalam Bahasa Jawa artinya tiba-tiba.

Sebenarnya, masjid tersebut adalah bagian dari Kompleks Besar Pondok Pesantren 'Ponpres', tapi sudah terlanjur banyak orang menyebutnya MASJID TIBAN. Selanjutnya aku tetap menyebut sebagai Masjid Tiban semata-mata hanya untuk memudahkan orang mencarinya. Yang penting kita sama-sama tau yang sebenarnya.

Banyak versi yang mengatakan kalau masjid tersebut dibangun oleh jin atau kekuatan ghaib dan berbagai versi cerita lainnya.
Benarkah demikian ? Aku telusuri kebenarannya.


AKSES JALAN MENUJU MASJID TIBAN

Untuk mencapai Masjid Tiban ini tidak sulit dan mudah dicari, tergantung kita berangkatnya dari mana. Yang penting ketemu Turen dulu. Kalau sudah ada di Turen lebih mudah aksesnya ke Masjid Tiban. Perjalananku waktu itu dimulai dari rumah - lewat Alun-Alun Malang - Gadang - Bululawang lantas sebelum Turen aku ambil jalan lurus jurusan Wajak.
Ponpres ini berdiri di tengah-tengah kampung pedesaan seluas 7 hektar. Namun bangunannya sangat megah. Bangunannya terdiri dari beberapa tingkat yang menjulang tinggi hingga 10 lantai. Fasilitasnya pun lengkap. Inilah yang membuat Masjid Tiban terkenal karena keunikannya, tidak sama dengan yang lain. Hingga detik ini pun masih ada saja item yang terus ditambah atau dibenahi agar menjadi lengkap sesuai yang diharapkan.

ALAMAT :

Jl. KH. Wachid Hasyim
Gg. Anggur No. 17,
Desa Sanan Rejo, Kecamatan Turen
malang - Jawa Timur 65175


MENELUSURI KOMPLEKS MASJID TIBAN

Sekali lagi, mengapa banyak orang menyebut Masjid Tiban ? Sebab seolah-olah bangunannya dibuat langsung jadi bim salabim ada kadabra. Tapi kenyataannya, semua ada proses membangunnya meski sedikit demi sedikit kontinyu dan luput dari perhatian orang.

Awalnya pada tahun 70 an, kompleks ini dibangun dari hasil istikharah pemilik pondok, KH. Achmad Bahru Mafdloludin Sholeh. Lantas bersama para santri dari Ponpres Salafiyah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah dan jamaahnya membangun kompleks masjid tersebut.

Dengan ikhtiar yang istiqamah dan hanya mohon ridha Ilahi maka kompleks masjid ini terwujud di luar perkiraan, spektakuler, sarat seni arsitekturnya dan menjadi magnet banyak orang ingin mengunjunginya. Karena hanya istiqamah dan selalu mohon ridha Allah semuanya jadi dimudahkan.

Yang mengherankan,  apa  bisa  bangunan  berlantai  tinggi  dibangun  hanya  oleh  para santri ?
Baiklah, misalnya ada beberapa santri yang punya kemampuan jadi tukang bangunan. Tapi bagaimana perhitungan kekuatannya ? apa asal tempel dan disambung sambung begitu saja. Wallahualam ...

Setelah aku bertanya pada beberapa sumber di lingkungan Masjid Tiban. Mereka bilang kompleks masjid ini dibangun secara normal atas biaya "yang diusahakan sendiri" oleh pengelolanya.
Kompleks Masjid Tiban dilengkapi beberapa menara yang tersebar di beberapa bangunan, ada yang kecil dan ada yang besar. Di area yang luas, selain masjid ada asrama, rumah tinggal pengelola, taman, toko, tempat pelihara hewan, parkiran, kebun, kantin, pengolahan sampah dan bengkel kendaraan bermotor. Sepertinya kompleks ini akan dibuat 'One Stop Service', semuanya bisa dilayani disitu.

Bangunan yang didominasi warna biru porselen dan warna putih hampir ada di seluruh kompleks ini. Ornamennya juga apik indah. Alhasil keseluruhan arsitekturnya indah seperti terencana baik. 

Jalan sebelum dan menuju Ponpres banyak tersebar parkiran dan toilet umum untuk menampung dan melayani para pengunjung. Termasuk juga beberapa penginapan ada di sekitar situ. Di Jalan searah yang kecil (Gang Anggur) hanya cukup dilalui kendaraan roda empat. Di situ terdapat toko-toko warga setempat yang berjejer di kiri kanan gang ini.

Sayang seribu sayang, aku tidak bisa mengeksplor lebih dalam setiap detailnya Ponpres ini, karena masih ditutup selama pandemi belum berakhir. Dibuka kembali untuk umum belum ada kepastiannya kapan. Meski pun begitu aku sudah cukup puas mengunjungi Ponpres ini. Melihat langsung dari luar aja begitu indah tidak menyangka semegah itu. Apalagi melihat ke dalamnya mungkin lebih dari itu keindahannya.
Setelah mengelilingi bagian luar kompleks Ponpres, aku menuangkan kopi dari thermos kecilku dan menyeruputnya dengan penuh perasaan. Rasa kopi panas yang tidak terlalu manis bercampur rasa jahe yang melekat semakin semangat untuk siap-siap kembali ke rumah.

Aku pulang lewat rute yang berbeda. Jalurnya lewat Wajak - Poncokusumo - Tumpang - Madyopuro - Sulfat - Soekarno Hatta - sampai rumah.

Baiklah, pada kesempatan lain In Shaa Allah aku akan ke sini lagi. Semoga segala keindahannya tetap bisa bikin bangga. Seandainya saja misalnya kabel-kabel listrik di lorong jalan samping kompleks bisa dirapihkan lebih apik karena saat ini sangat semrawut. Kalau rapih bakal tampak lebih indah sedap dipandang mata dan keamanan arus listrik bakal terjamin. Aamiin.

TO SPREAD KINDNESS TOGETHER

Copyright@by RUSDI ZULKARNAIN
email : alsatopass@gmail.com