BERAMAL LEWAT TULISAN

Saturday, 11 December 2021

PENUH KENANGAN di SOLO dan PACITAN

 


TO SOLO

Bermula dari adanya undangan pernikahan keponakan di Solo, mau ga mau aku harus siap² segala sesuatunya meski waktunya masih dua minggu lagi. Transportasi dan akomodasi menjadi hal utama yang perlu disiapkan.


Setelah mengetahui pasti waktu acaranya, maka pemilihan hotel kulakukan lewat browsing. Lokasi hotel yang dekat dengan lokasi acara, memeriksa ulasan para tamu dan rate yang ekonomis menjadi pertimbangan untuk dipilih. Akhirnya kuputuskan Garden Suite Hotel di Jalan Rajiman yang lokasinya satu jalan dengan lokasi acara yakni di Solia Zigna Hotel.

Booking online bayarnya bisa di TKP dan harganya jadi lebih murah karena aku punya kode promonya. Lumayanlah bisa lebih hemat.


Langkah selanjutnya adalah mencari transportasi dari Malang ke Solo (maklumlah ga punya mobil), perlu 2 seat  untuk aku dan istriku. Biasanya sih ga sulit mencari travel pagi ke Solo karena umumnya mereka punya dua waktu pemberangkatan pagi dan malam. Namun di masa pandemi ini yang ada semuanya malam. Kalau berangkat malam tibanya terlalu pagi, alhasil bakal lama menunggu sampai check in hotel. Mau pilih berangkat malam males juga, meski nanti bisa eksplor tipis² Kota Solo. Tetep maleslah karena bawa bagpack, belum mandi dan masih ngantuk. Setelah berusaha cari info kesana kemari, akhirnya dapat Travel Rosalia Indah satu²nya yang memiliki jam pemberangkatan pagi. Harganya sih memang sedikit di atas yang lain, tapi armadanya oke, waktu tiba di Solo pas dengan waktu check in hotel dan cuma perlu empat jam dari Malang ke Solo dibandingkan dengan cara lain bisa sampai tujuh jam.

Benar² tepat empat jam dari Malang ke Solo via Surabaya pakai Travel Rosalia 10 seat armada Toyota Hiace. Semuanya lewat tol dan semuanya hanya berhenti di agen Rosalia. Aku memilih berhenti di Kantor Agen Kleco, dari situ pakai Grab ke hotel.


HOTEL, KULINER dan SPOT WISATA SOLO

Hotelnya siip banget. Bangunannya klasik, kamar besar, ada balkon, lokasi strategis, pelayanan ramah, harga ekonomis dan ada resto di lantai bawah yang menyediakan banyak menu pilihan baik western & Indonesia food.



Tidak jauh dari hotel, banyak spot menarik yang bisa dieksplor. Cukup berjalan kaki sambil cari keringat, sudah bisa dapat Sentra lapak buku² bekas, Taman Sriwedari, Stadion, Museum dan jika agak jauh sedikit ada Kraton, Alun² dan Masjid Agung. Selain berjalan kaki, ada juga yang ekonomis seperti pakai ojek online atau Bus Batik Solo Trans (BST) yang memiliki beberapa koridor. Angkot-nya 'angkutan kota' juga keren ber-AC. Kalau mau yang lebih santai, becak juga bisa menjadi pilihan.


Spot wisata di dalam kota lumayan banyak yang bisa dieksplor, apalagi di lingkaran luar Kota Solo ada lebih banyak. Sedangkan untuk kulinernya tidak perlu diragukan lagi hampir semuanya enak. Tinggal pilih mau yang street food, angkringan, cafe ato resto. Tengkleng, tongseng, sate, serabi, nasi liwet adalah kuliner² yang bisa dicoba untuk dinikmati.

Kota Solo yang sering disebut juga Surakarta adalah kota yang terus berkembang, perpaduan antara tempo dulu dan modern berjalan seiring sejalan. Mempertahankan budaya dan kebiasaan tradisi lama tetap dijaga dan dikembangkan hingga sekarang. Sebagai contoh adalah kerajinan batik yang pusatnya ada di Kampung Batik Laweyan, kuliner asli Solo dan beberapa kesenian Jawa dipertahankan tetap ada di tengah masyarakat.


TO PACITAN

Karena urusan dan eksplor tipis² area Kota Solo, saatnya geser ke Pacitan (100 kiloan). Selepas checkout hotel langsung meluncur ke Pacitan dengan Bus Aneka Jaya Ekonomi AC berangkat pukul 14.30 dan tiba pukul 18.00. Harga tiketnya 40 ribu. Rute yang dilewati Solo - Sukoharjo - Wonogiri - Baturetno - Punung - Pacitan.


Kami sengaja tidak naik dari Terminal Solo karena pasti lebih lama. Tapi kami naik dari perempatan dekat RS Kustati (Baturono dekat Pasar Kliwon) yang dilewati bus jurusan Pacitan. Ga perlu kuatir ga dapat tempat duduk, sebab bus nya banyak hampir setiap jam ada. Selain tersedia travel, sebut saja misalnya TRAVEL ENGGAL jurusan Solo - Pacitan (pp). Ongkosnya sekitar 60 ribuan. Waktu tempuhnya mungkin lebih cepat. Yang bikin lama justru pada saat jemput dan antar ke setiap alamat penumpang. 

Pemandangan indah berupa perkebunan dan persawahan yang terhampar hijau menjadi pemandangan dominan di sepanjang perjalanan Solo - Pacitan. Jalur ini lumayan juga kelokan² tajamnya terutama pada ruas akhir Punung - Pacitan.


HOTEL, KULINER dan SPOT WISATA di PACITAN

Pas tiba di Pacitan, di sebelah selatan terminal ada depot sate yang maknyus. Ya, Sate Pak Kasan namanya. Di situ tersedia sate kambing/ayam, gule dan tongseng. Bakaran dagingnya pas banget apalagi racikan bumbu kacangnya bener² enak.



Kami menginap di Reddoorz S. Parman (Ndalem Mbah Alimoesa) yang booking-nya online lewat aplikasi. Masalahnya dari terminal ke penginapan susah transportasi. Di kota ini yang ada cuma Grab, itu juga cuma motornya yang bisa diandalkan. Sedangkan mobilnya susah nyantol ketika dipesan. Mau ga mau kami diantar satu persatu dengan motor ke penginapan.


Hampir sama ketika stay di Solo, alhamdulillah kami dapat penginapan yang rekomendit, ekonomis tapi memuaskan. Hari pertama di Pacitan,  hujan mengguyur kota dari pagi hingga malam. Alhasil kami ga bisa ke-mana², cuma bisa curi² kesempatan pas hujan sedikit reda. Kami sarapan di Depot Rawon & Pecel Bu Yadi, ke Masjid Agung, ke Pasar Tradisional Minulyo membeli jajanan cenil dan lupis, makan rujak & lotek Mbak Yuli persis di belakang pendopo masa kecil Pak SBY. Setelah itu kembali ke penginapan pakai becak motor karena hujan masih aja turun.

Sekalian silaturahim dengan para family Ibuku, esoknya aku dipinjami sepeda motor manual yang cocok untuk menjelajahi kontur jalan yang naik turun. Awalnya kami ke Pantai Telengria kemudian ke Pantai Pancer Dorr, makan seafood di Bu Gandos, lantas ke Goa Gong dan yang terakhir ke Sentono Genthong.



Hampir semua masuk ke berbagai spot wisata di area Pacitan syaratnya hanya diminta mentaati menjaga protokol kesehatan. Kecuali masuk ke spot wisata Goa Gong, pengunjung diwajibkan akses ke aplikasi peduli lindungi atau menunjukkan kartu vaksin. Cek suhu dan beli sarung tangan karet untuk menghindari bersentuh langsung dengan pegangan tangga di dalam goa. Masuknya pun dibatasi hanya beberapa puluh orang saja bergantian.

Pada kesempatan lain kami ke bangunan 'Museum dan Galery Seni Sby * Ani' yangpembangunannya hampir selesai dan siap untuk diresmikan. Bangunannya megah dan bakal jadi ikon baru yang dipersembahkan untuk dan menjadi kebanggaan masyarakat Pacitan

Kami bermaksud membawa oleh² khas Pacitan. Tapi aku cuma mau beli jenang dan gula aren. Oleh sebab itu aku beli di toko oleh² dekat Pasar Arjowinangun, "TOKO SARI RASA" namanya. Sedangkan untuk gula arennya, aku diberi oleh familyku. Selain di toko oleh² sebenarnya banyak yang menjual jenang terutama di Pasar Minulyo atau Pasar Arjowinangun. Monggo silakan dipilih mana yang anda suka.

Aku mencoba makan siang di warung setelah warungnya Bu Gandos. Patokannya 50 an meter setelah Bu Gandos lantas masuk ke kiri yang ada gapuranya. Menu yang ditawarkan masih sama yakni aneka seafood plus sayur/urap, sedangkan nasinya putih atau tiwul.


Sebelum kembali ke Malang kami jalan² ke "Jembatan Grindulu JLS" yang melintas di atas Sungai Grindulu. Pada jalan yang panjang, lebar dan megah di ujung²nya dilengkapi gapura dengan tulisan di bolak baliknya, "Pacitan Kota 1001 Goa", "Pacitan Kota Adipura" , "Pacitan Kota Pariwisata" dan "Pacitan Kota Kelahiran Presiden ke 6"


Akhirnya kami harus meninggalkan kota yang penuh kenangan, bersilaturahmi sambil menikmati keindahan alam Pacitan. Berat hati ini meninggalkan Pacitan tapi kembali ke Malang adalah sebuah keharusan karena anak cucuku rindu menunggu kakek neneknya. Kembali ke Malang pakai Travel Bintang Terang yang taripnya 150 K per penumpang ditempuh dalam waktu 8 jam.


Copyright@by RUSDI ZULKARNAIN

email : alsatopass@gmail.com