BERAMAL LEWAT TULISAN

Tuesday, 17 May 2022

PROVINSI LAMPUNG SEBAGAI PENUTUPNYA









MALANG - MERAK - BAKAUHENI - BANDAR LAMPUNG

Tuntas sudah menjelajahi Pulau Sumatera yang memiliki 10 provinsi mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung dan Provinsi Lampung sebagai penutupnya.

Buah dari kesabaran bertahun tahun akhirnya satu persatu provinsi yang ada di Pulau Sumatera berhasil kujelajahi semua. Meski penjelajahannya tidak dalam satu rentang waktu, tetapi ini adalah sebuah kemudahan dari Allah SWT yang patut disyukuri. Apalagi semuanya dijalani bersama istri tercinta dengan moda transportasi darat, laut dan udara.

Kami berdua stay di Lampung hanya dua harian aja. Setelah itu geser ke Palembang, Jambi dan Sumatera Barat lantas kembali lagi stay di Lampung sebelum kembali ke Malang.

Kesananya pakai Bus Rosalia Indah, berangkat dari Pool Hamid Rusdi (Malang) menuju - Pool Way Halim (Bandar Lampung). Harga tiketnya 575 K termasuk 2X makan, penyebrangan Merak/Bakauheni dengan ferry cepat. Rutenya dari Malang via Surabaya dilanjutkan sampai ke Merak. Service makannya di Kantor Pusat daerah Palur Solo dan di Rest Area Subang. Menunya enak, tempatnya bersih, bisa up grade kupon makan atau dibungkus. Pelayanannya one stop service karena tersedia restoran, loket tiket, area parkir bus yang luas, ruang tunggu, mushola, minimarket dan toilet berbilik banyak yang bersih. Rosalia di Palur dan Rest Area Subang, keduanya cukup nyaman mirip terminal milik Rosalia sendiri.

Syarat menyeberang ke luar Jawa harus sudah vaksin 2X. Kalau belum lengkap apalagi belum sama sekali harus test PCR/Antigen plus surat keterangan rumah sakit bagi yang punya komorbit. Menyebrang melalui Executive Port Merak pakai ferry cepat KMP Port Link III lebih cepat dan nyaman. Malah menunggu antri masuk ferry nya lebih lama dibandingkan dengan waktu menyebrangnya.

Tidak ada persiapan khusus untuk ngebolang ke Lampung. Cuma saja kami niatkan sebagai musafir, beribadah dan berusaha mencari ilmu selama berada di Sumatera. Kebetulan kami berdua berangkatnya 4 hari sebelum Ramadhan tiba.

Perjalanan dari Malang ke Lampung terbilang sangat lancar. Kami stay di daerah Jalan Pulau Buru Bandar Lampung, yakni rumah kost eksklusif mirip hotel dengan tarip yang cukup murah (Kost Ornella). Di sekitarnya ada beberapa masjid dan kedai untuk memenuhi kebutuhan kami sehari².

Meski baru dua hari mengenal Lampung, kami sudah ke Kalianda, Tanjungkarang, Masjid Agung Al Furqon, Lampung Walk, Trans Mini Studio dan menikmati beberapa kulinerannya. WoW, di Lampung banyak sekali nama daerah memakai kata 'Way', ternyata artinya AIR atau SUNGAI. Ada Way Halim, Way Kambas, Way Kanan, Way Seputih, Way Tuba dan masih ada puluhan "Way" lainnya.

Sesuai rencana dadakan yang kususun di Lampung, hari ini akan geser ke Palembang. Tiket Kereta Api ekonomi AC 'Rajabasa' sudah kubeli kemarin lewat aplikasi KAI Access (32 K). Check out hotel lantas buru² sarapan nasi uduk dan lontong sayur di dekat hotel yang buka di awal pagi. Lantas order ojol mobil menuju Stasiun Tanjung Karang. KA Rajabasa sudah menunggu kedatanganku, print tiket dan masuk tanpa test antigen lagi sesuai peraturan terbaru yang penting sudah vaksin 2 kali.


PALEMBANG

Tepat pukul 08.30 KA Rajabasa bergerak dari Stasiun Tanjung Karang Bandar Lampung menuju Stasiun Kertapati Palembang. Kereta melewati stasiun² besar diantaranya Baturaja dan Prabumulih. Tepat 8 jam melintasi rangkaian rel di Sumatera bagian selatan akhirnya kereta tiba on time di Kertapati.

Ga pakai pikir panjang, kami panggil bentor menuju Kedai Pempek Lie Mei 311 di 10 Ulu Jalan Benteng di samping Klenteng. Dari situ lanjut ke Hotel Budget di Jalan Veteran pakai mobil online. Meski hotel budget tapi rekomendit (225 K) plus breakfast untuk 2 orang. Sarapannya aku pilih nasi uduk sedangkan istriku Mie Celor kuliner khas Palembang.

Kami hanya stay semalam di situ, esoknya menjelang siang kami geser ke hotel lain yakni Hotel Sriwijaya99 lokasinya tidak begitu jauh dari yang pertama. Hotel tersebut baru beroperasi kurang dari 6 bulan, jadi masih gress semuanya. Rate hotel ada promonya bila stay 2 hari. Kami mendapatkan pelayanan yang sangat baik dari para kru hotel. Pendek kata hotel ini sangat memuaskan hati.

Kami sangat bersyukur bisa stay di sini karena hotelnya bersebelahan dengan masjid. Hal ini sangat membantu kami fokus beribadah sholat 5 waktu khususnya untuk sholat taraweh selama berada di Palembang. Beberapa kali kami kebagian makanan berbuka seperti pempek, celimpungan atau laksan.

Hari itu adalah hari Jumat. Aku bergegas menuju ke  Masjid Agung Sultan Badarudin untuk sholat di sana. Namanya juga masjid agung tidak heran kalau jamaahnya membludak. Dan kemacetan parah pun terjadi di sekitarnya. Memang, di sini adalah tempatnya macet.

Tidak jauh dari Masjid Agung, menyebrang jalan sedikit kami sampai di Kedai Martabak Har Lamo yang namanya sudah sangat melegenda. Aku cuma pesan seporsi martabak kari untuk dimakan bareng istri. Jadilah makan sepiring berdua.

Esoknya, daripada ga kemana², selepas turun dari Angkutan Kota Jurusan 'Ampera - Lemabang' berwarna hijau di ujung Pasar Ilir, kami menuju Stasiun LRT Ampera. Naik eskalator dan beli tiket untuk 2 orang.  Pas ditanya petugas loket, "Tujuannya mana Pak ?". Kujawab bebas kemana aja ga pa pa, yang penting ada yang segera berangkat. Akhirnya diberi tiket destinasi DJKA (5 K). Tanpa menunggu, kami langsung naik eskalator dan rangkaian LRT tiba dalam 30 detik kemudian.

Kami tidak langsung pulang tapi mampir dulu ke pasar membeli pisang, kurma dan kerupuk gobang. Setelahnya kami kembali ke hotel menumpang angkot favorit  'Ampera - Lemabang'.

Hari terakhir di Tanah Wong Kito kami menuju ke Ampera lanjut jalan kaki ke Benteng Kuto Besak lantas naik ketek (kapal klotok) ke Pulau Kemaro. Di situ memang tempat mangkalnya ketek ke beberapa tujuan. Harganya tergantung kesepakatan antara kita dengan pengemudi ketek. Kami bertolak ke Pulau Kemaro melewati kolong Jembatan Ampera. Sesekali Abang ketek kuminta tolong menjepret suasana Sungai Musi. Dia dengan senang hati tersenyum ketika menjepret² buat kami. Di sekitar Sungai Musi sangat banyak yang bisa dieksplor untuk diabadikan termasuk kejadian dadakan yang datangnya tidak disangka².

Sekitar 30 menit kami sudah tiba di Dermaga Pulau Kemaro. Lantas mengeksplornya mulai pintu gerbang selamat datang hingga ke bagian dalam seperti pagoda, klenteng dan catatan kisah terjadinya Pulau Kemaro. Di situ cuma 30 menitan karena panasnya lumayan sedangkan kami lagi puasa. Kami kembali ke tempat semula di dekat Benteng Kuto Besak. Lantas buru² menuju ke Masjid Agung karena waktu Dhuhur sebentar lagi tiba.

Urusan beribadah menghadap Allah sudah selesai, selanjutnya memenuhi tuntutan istri ingin bungkus nyobain Pempek Candy yang terkenal itu. Bentor kuminta menunggu sebentar, lantas meluncur kembali pulang.


J A M B I

Hari terakhir di Palembang pagi² jam 7an kami menunggu jemputan Travel Ratu Intan Permata menuju Kota Jambi. Tiketnya kubeli dua hari lalu yang agennya tidak jauh dari homestay. Harga tiketnya 160 K menggunakan armada Toyota Hiace yang masih baru. Berangkat on time, posisi seat nya longgar dan dapat snack box. Untung aja dapat sopir yang cekatan dan punya percaya diri yang tinggi, sehingga Palembang - Jambi mampu ditembus pas 6 jam. Itu waktu tercepat, kalau 'sopir biasa' mungkin bisa makan waktu 8 jam. Sebab jalur Palembang - Jambi banyak hambatannya terutama disebabkan truk² besar yang lewat jalur ini.

Di Jambi kami ambil homestay ber-AC dan kamar mandi di dalam (150 K). Lokasinya ga jauh dari Jamtos dan di depan homestay ada laundry sehingga ga perlu cuci² pakaian sendiri. Tidak banyak spot yang kami eksplor di Jambi, cuma ajak istri ke tempat yang dulu pernah kukunjungi seperti Masjid Agung Jambi Al-Falah, Jembatan Gentala Arasy dan Jamtos. Menjelang Maghrib kami menuju Masjid Raya Magat Sari di area pasar depan Mall Ramayana sekalian Sholat Isya dan Tarawehnya disitu juga. Baliknya ke homestay harus pakai ojol mobil karena angkutan umum sudah ga ada lagi setelah Isya. Di Jambi ojol nya terbilang lengkap mulai Grab, Gojek dan Maxim. Angkutan Kota nya juga masih banyak yang rata² taripnya 5 K.


S O L O K

Esoknya, di waktu petang kami bertolak dari Jambi ke Solok dengan Bus Family Raya Ceria yang tiketnya kubeli di pool dekat Jamtos (150 K). Sedangkan naiknya harus dari Terminal Alam Barajo, stand bye pukul 14.00 dan bus berangkat pukul 14.30.

Bus melewati Kabupaten Batanghari, Muaro Bungo, Sijunjung dan sebelum masuk Kota Solok bus berhenti untuk memberi kesempatan para penumpang sahur. Kami turun di Solok sedangkan bus melanjutkan perjalanan ke Padang, Pariaman dan Bukittinggi. Perjalanan dari Jambi ke Solok memakan waktu lebih dari 12 jam.

Karena bus tiba di Solok sebelum Shubuh dan tidak melewati guest house yang bakal kami tempati, kami ambil 2 ojek motor @20 K. Sebab di Solok tidak ada ojol, yang ada hanya ojek konvensional dan angkutan kota. Kami dapat guest house dengan harga miring (200 K), sedangkan yang lain rate nya lebih dari itu. Guest House Mamiji sangat rekomendit, strategis persis di depan jalur Solok - Bukittinggi. Kulinerannya juga banyak di sekitarnya.


Hari pertama di Solok kami sholat di Masjid Agung Solok Al-Mukhsinin, ke Pasar Solok dan membeli lauk di Pasar Ramadhan Jalan Teratai buat buka puasa. Balik ke guest house menggunakan 2 ojek @5 K. Sedangkan Maghrib, Isya dan Tarawehnya di masjid yang dekat² aja, diantaranya di Masjid Kodim 309 Solok.

Solok hanya memiliki 2 kecamatan, udaranya normal seperti daerah lain. Tapi kalau musim kemarau, panas terasa luas biasa. Kecuali di daerah kabupaten yang banyak bukit dan gunungnya terasa lebih sejuk. Solok merupakan lumbung padi Sumatera Barat. Di sini Harga kelapa murah sekali. Untuk kelapa muda (degan) harga seliternya cuma 8 K. Seliter butuh 2 buah kelapa. Di kota ini tidak ada satu pun ojol, i*domart, a*famart, R*ddoorz atau OY*.

Pasar Solok lengkap banget. Sayur mayur melimpah ruah, aneka bumbu/rempah, buah²an, perlengkapan sehari² dan aneka makanan yang keluar khusus pada bulan puasa. Pada kesempatan lain, kami eksplor bekas Stasiun Kereta Api Solok yang berhenti beroperasi sejak 2003. Kemudian menuju bekas Stasiun Kereta Api Singkarak. Sebelum pulang ke guest house, santai² dulu di pinggiran Danau Singkarak yang jaraknya sekitar 15 km dari Kota Solok.

Hari berikutnya dengan motor sewaan kami meluncur ke Masjid Tuo Kayu Jao. Dari Kota Solok arah jalannya menuju Kota Padang. Setelah sampai pertigaan Lubuk Selasih belok kiri sampai ada tanda 'Masjid Tuo Kayu Jao masuk 1 km'. Masjid ini tepatnya berada di Nagari Batang Barus Kecamatan Gunung Talang. Kalau dari Kota Solok ke Masjid Tuo jaraknya sekitar 35 km.

Setelah beberapa kali dibantu google maps, akhirnya kami sampai di TKP. Lokasi masjid seperti berada di sebuah lembah dan disampingnya terdapat sungai kecil dengan aliran air yang bening. Taman indah buatan sendiri menghiasi sekitar halaman masjid yang informasinya sudah berdiri sejak 400 tahun lalu. Inilah salah satu masjid tertua di Indonesia yang dibangun oleh Angku Masyhur dan Angku Labai.

Kami sengaja mengamati detailnya termasuk keberadaan makam yang terdapat di bagian luar mimbar masjid. Hampir seluruh arsitektur masjid dibangun dari kayu dan ijuk. Berada di daerah perkebunan teh dan pemukiman yang belum terlalu padat. Masjid Tuo ini masih dipakai untuk shalat berjamaah hingga sekarang. Menurut cerita petugas masjid, ada tamu yang berniat tinggal disini untuk sepuluh harian. Namun mereka hanya kuat 2 hari saja karena dinginnya luar biasa menusuk tubuh.

Dari Masjid Tuo geser ke Danau kembar yakni Danau Di Atas dan Danau DiBawah ditambah lagi Danau Talang, kira² 20 km dari sini. Pertama yang kulihat adalah Danau Di Atas, kemudian danau yang lebih kecil yakni Danau Talang tepat di bawah Gunung Talang (tiket masuk 5K). Dan yang terakhir adalah Danau Di Bawah. View ketiga danau tersebut bagai lukisan yang indahnya luar biasa. Jika kita treking ke puncak Gunung Talang (2.597 mdpl), maka ketiga danau tsb. kelihatan semuanya. Bahkan Danau Singkarak tampak juga, termasuk Danau Tuo yang jarang orang tau.

Ketika balik ke Solok, kami tidak melalui jalur semula namun melintasi jalan lain di tepian Danau DiBawah hingga sampai di Solok. Meski jalannya tidak sebagus jalur Alahan Panjang - Solok namun lebih dekat lewat sini.


BUKITTINGGI

Sebelum check out hari terakhir di Solok, kami akan geser lagi ke Bukittinggi. Transportasi ke sana pakai ELF, namanya Jasa Malindo berwarna biru metalic. Naiknya dari depan guest house (20 K) sampai ke Terminal Aur Kuning Bukittinggi. Waktu tempuh sekitar 2 jam.

Bukittinggi memiliki peran penting bagi perjuangan bangsa Indonesia. Bung Hatta sebagai Proklamator/Wapres ke-1 RI berasal dari kota ini. Ketokohannya diabadikan pada Museum dan Taman Monumen Proklamator Bung Hatta di Bukittinggi. Oleh sebab itu Bukittinggi sangat dikenal masyarakat karena berperan besar bagi negara, indah alamnya, lezat kulinernya dan sejuk hawanya. Maka tidak heran kalau Bukittinggi sangat disenangi para pelancong yang datang dari dalam dan luar negeri.

Guest house kami berada tidak jauh dari Jam Gadang (175 K). Kalau dari pertigaan luar Terminal Aur Kuning naik angkot berwarna merah, disitu adalah tempat ngetemnya. Dari Aur Kuning jurusannya ke Pasar Atas dan Pasar Bawah. Untuk ke Hello Guest House berhentinya di depan Masjid Nurul Haq. Ongkosnya cuma 3 K.

Hello Guest House menurut saya sih keren banget, karena letaknya yang strategis, bersih, ownernya baik dan rate-nya yang ramah di kantong. Ke Masjid Nurul Haq cuma 20 meteran, sehingga kami bisa konsentrasi beribadah di sini. Untuk mengeksplor beberapa spot wisata cukup berjalan kaki aja.

Beberapa langkah dari hotel, ada sebuah gang yang menembus ke pintu masuk area Benteng Fort De Kock. Tiket ke benteng 25 K inklud masuk ke Kebun Binatang yang keduanya dihubungkan oleh 'Jembatan Limpapeh'. Kawasannya asri berada di sebuah ketinggian, sehingga semua keindahan bisa dilihat dari sini. Meriam, gazebo dan taman yang indah bikin betah berlama² santai di sini. Di area kebun binatang terdapat rumah gadang, taman dan hewan² dalam kandang.

Keluar dari Kebun Binatang, bisa terus ke Masjid Raya Bukit Tinggi, Pasar Atas, Jam Gadang lantas ke bawah sedikit adalah Taman Bung Hatta selanjutnya yang terakhir adalah Panorama Ngarai Sianok dan Goa Jepang.

Pasar Atas (Pasa Ateh) adalah tempat penjualan aneka pakaian dan kuliner. Di pasar inilah pusatnya nasi kapau khas Minangkabau pakai sendok kayu yang panjang. Tinggal pilih mau beli di kedai Uni atau Ni siapa. Di sini pula pusat penjualan camilan oleh² seperti kerupuk sanjai yang pedas² asyik. Pasa Ateh memiliki gedung modern terbaru dan yang tradisional. "Singgahlah singgahlah ..." kata para pedagang di pasar ini. Pasar yang lain adalah dekat Terminal Aur Kuning. Pasarnya besar dan terminalnya besar pula melayani transportasi ke berbagai jurusan seluruh Sumatera dan Jawa.


Pada kesempatan lain kami sengaja singgah ke Rumah Kelahiran Proklamator Kemerdekaan RI, Bung Hatta. Rumah kayu kombinasi batu terdiri dari dua tingkat bertangga kayu. Bagian² rumah ini meliputi halaman, ruang tamu, ruang keluarga, kamar tidur, ruang makan, dapur, kamar mandi, lumbung padi, kandang kuda dan sumur yang masih berfungsi hingga sekarang.

Ketika itu, keluarga besar beliau kakek, nenek, orang tua dan paman²nya bermukim di rumah ini yang masih  terawat baik. Rumah tersebut sekarang dijadikan museum sejarah lahirnya Sang Proklamator. Masuknya gratis dan diberi penjelasan oleh pemandu kebanyakan adalah para pelajar yang sedang magang disini.


PARIAMAN

Sebelum geser ke Pariaman, kami beli kemeja untuk cucu² tercinta. Habis itu buru² ke Terminal Aur Kuning dengan angkot warna merah yang ku stop ga jauh dari guest house. Di dalam terminal yang krodit telah siap Minibus 'Melsy' khusus jurusan Pariaman. Ongkosnya 15 K waktu tempuhnya 2 jam dan turun di Simpang Lapai. Lanjut dengan ojek @10 K sampai Homestay Naira di Kampung Perak.


Homestay yang hampir bersebelahan dengan Masjid Raya Pariaman cukup layak dan sesuai dengan harganya (200 K). Lokasinya sangat strategis dekat ke Stasiun Kereta Api, Pasar dan Pantai Gandoriah. Selama puasa ini kami harus sering konsumsi sayur, buah dan madu. Pisang atau jeruk sangat baik untuk dimakan di saat puasa begini. Kuliner khas Pariaman seperti sala, kerupuk sanjai, arai pinang, ketupat sayur, soto padang atau alpokat kocok tak lepas untuk dicoba.

Shalat di masjidnya ganti², kadang disini kadang disana. Begitu juga untuk buka puasa dan sahurnya juga ganti² tempat. Semakin banyak berpindah² semakin banyak yang orang yang kita kenal yang bisa jadi saudara baru.


P A D A N G

Dua hari sebelum ke Padang, kubeli tiket kereta api pakai aplikasi KAI Access dan bayarnya pake LinkAja. Tiket KA Sibinuang dari Pariaman ke Padang cuma 5 K dengan waktu tempuh 1.5 jam aja. Kami sengaja turun di shelter stasiun kecil Alai karena dekat dengan hotel yang akan kami tinggali. Dekat juga dengan Masjid Raya Sumatera Barat yang arsitekturnya WoW super amazing. Alhamdulillah, selama kami traveling di Bulan Ramadhan ini selalu aja hotelnya bersebelahan dengan masjid sehingga memudahkan kami sholat berjamaah. Di Padang juga begitu dekat dengan masjid. Kami stay di hotel yang bersebelahan dengan Masjid Muhsinin di Jalan Rasuna Said dengan suasana tenang, ekonomis dan nyaman. Angkutan umumnya ada di depan mata, angkot atau Trans Padang. Sedangkan kulinerannya terdapat beberapa cafe seperti Cafe Sentra Susu Sumatera Barat, Cafe Alter, RM Ampera dan Sate Itjap.
Ada keunikan ketika stay di hotel ini, kami setiap hari ganti kamar dan ganti lantai sebanyak 3 kali. Bayarnya setiap hari sebelum waktunya check out untuk extend hari berikutnya. Alhasil, setiap hari kamarnya ga perlu dibersihkan, setiap hari kamar dan suasananya baru. Btw, cuaca di Padang panasnya keren banget karena dekat laut. Hawa panas yang menyengat melengkapi sebagai ujian orang berpuasa.

Sholat berjamaah di beberapa masjid di Kota Padang terus kami lakukan biar lebih mengenal suasana dan jamaahnya. Diantaranya ke Masjid Agung Nurul Iman dekat Kinol. Ga jauh dari situ juga banyak kulinerannya yang buka sampai malam. Satu kilometeran dari masjid terdapat museum sejarah tentang asal usul Tanah Minang lengkap dengan pernak perniknya, yakni Museum Adityawarman.


Pada kesempatan lain kami shalat di Masjid Al Hakim (Masjid Putih) yang lokasinya di ujung muara tepi laut Padang. Masjidnya terkelola sangat baik, kebersihannya, penataannya, kegiatannya dan semua usaha dalam rangka memakmurkan masjid. Posisinya sangat strategis sehingga otomatis keindahannya sangat menonjol.

Dilanjutkan menuju ke Pasar Raya Padang untuk membeli buah²an dan satu dua busana buat istri. Tampak pasar mulai bergeliat ramai menyongsong Hari Raya Idul Fitri. Kemacetan pun terjadi di sepanjang Pasar Raya, semua kendaraan tersendat berjalan pelan.


BACK TO MALANG

Saatnya step by step balik menuju kampung halaman. Dimulai dari Padang menuju Palembang dengan Bus Epa Star (225 K). Berangkatnya dari pool by pass pukul 08.30 dan tiba esoknya pukul 08.30 di Palembang (pas 24 jam). Bus Epa dari Padang tidak langsung ke Palembang. Tapi ke Padang Panjang dulu, lalu Solok lantas menuju Palembang karena banyak penumpang yang naik dari sana.

Berhentinya sekitar 4 kali, pertama berhenti di tempat oleh² masih di wilayah Solok. Kedua di RM Umega Jl. Lintas Sumatera Km 200 Pulau Punjung, Gn. Medan Kabupaten Dharmasraya, ketiga Shalat Magrib sekalian buka puasa di jalan lintas dan yang terakhir makan sahur di daerah TampinoKabupaten Muaro Jambi. Sayangnya kalau makan di rumah makan dalam perjalanan bus harganya lumayan mahal. Tapi apa mau bilang apalagi.


Tiba di pool bus Palembang yang ada di KM 11 lokasinya masih lumayan jauh ke pusat kota. Kalau pakai mobil online ongkosnya sekitar 50 K. Tapi bisa kusiasati pakai angkot jurusan KM 15 - Ampera yang ongkosnya cuma 5 K per orang. Sampai di TKP tinggal nyebrang aja untuk stay di hotel yang sudah ku browsing sebelumnya.

Setelah menempuh perjalanan jauh, istriku perlu direlaksasi di tempat massage KAKIKU buat mengendurkan otot² yang kaku. Sedangkan aku cari tiket tujuan Lampung untuk besok yang tampaknya mulai full dibooking orang. Inginnya sih berangkat siang sehabis check out hotel, tapi aku dapat malam (265 K).

Ke Pasar Cinde dulu akh, kebetulan dekat banget dengan hotel. Di situ beli gula cuko asli Linggau dan sekalian beli asamnya buat bikin pempek di rumah. Abis itu meluncur ke Sentra Kampung Pempek. Ke situ cuma lihat² aja ga ada yang dibeli, soalnya masih sore belum waktunya berbuka.

Sore ini banyak aktivitas yang harus diatur lebih cermat karena malam ini sekitar pukul 8 kami akan geser lagi dari Palembang ke Bandar Lampung. Yang pertama ajukan late check out hotel plus biayanya, kemasin barang bawaan, minta penjemputan travel diundur 30 menit, siapkan makanan untuk buka puasa, Shalat Maghrib di masjid terdekat dan yang terakhir stand bye menunggu jemputan.

Travel datangnya on time dan langsung melaju ke Bandar Lampung via tol. Kurang dari 5 jam kami sudah berada di Lampung dan check in hotel pada dini hari. Lagi² kami dapat hotel budget (175 K) yang rekomendit dan dekat masjid. Masjidnya tinggal pilih mau yang 10 m, 50 m atau yang 200 m. Alhamdulillah, Allah mempermudah jalan kami.

Esoknya buru² ke Stasiun Kereta Tanjung Karang untuk survey tiket DAMRI menuju Jawa dan sistem SWAB/Antigen di sekitar stasiun. Sebab aturan terbaru untuk mudik harus sudah booster atau pakai test antigen hasil negatif. Akhirnya aku fix pilih Rosalia Indah sebagai armada pulang kampung dari Bandar Lampung - Malang. Seat ke arah Jawa banyak yang sudah full booked sampai akhir April. Tanpa pikir panjang, terpaksa aku beli jurusan Solo yang masih tersisa beberapa seat lagi (625 K). Nanti di Solo banyak pilihan transportasi untuk lanjut ke Malang.

Aku ingin tau apa itu seperti mahkota yang ada di setiap bangunan penting di Lampung. Ternyata itu 'siger' bagian sejarah & budaya Lampung, sebagai lambang mahkota. Siger adalah mahkota pengantin wanita Lampung yang berbentuk segitiga, berwarna emas yang memiliki tujuh atau sembilan lekukan. Siger aslinya terbuat dari lempengan tembaga, kuningan berwarna emas. Tapi kini disesuaikan bisa dibuat dari bahan apa saja. Biasanya dipakai pengantin wanita suku Lampung pada acara pernikahan atau acara adat budaya lainnya. Tidak itu saja, siger menandai pada berbagai bangunan dan tempat² penting lainnya.

Meng-eksplor Lampung tidak bisa sehari atau dua hari saja apalagi di Bulan Ramadhan ini. Kami baru dapat kulitnya aja sedangkan yang lebih detail perlu waktu untuk meng-eksplor-nya. Mungkin pada kesempatan lain In Shaa Allah aku akan kemari lagi.

Sebagai penutup berada di Lampung, kami ke Jalan Pagar Alam untuk cari keripik pisang khas Lampung. Masuknya dari seberang Hotel Radisson yang terkenal sebagai daerah macet. Setelah sampai di Gapura Kampung UMKM Digital Sentra Keripik, aku ga jauh² dari situ (depan Masjid Al Hikmah) membeli aneka kripik pisang yang diolah menjadi beberapa varian. Berbagai varian rasa tersedia di sini seperti rasa oreo, barbeque, pedas, keju, kopi atau manis.

Lampung memang terkenal dengan kripik pisangnya. Begitu juga Kopi Lampung sama² terkenalnya. Nggak banyak yang kubeli sebagai bawaan untuk orang rumah. Dari situ mampir sejenak Sholat Dhuhur Jama Qasar sekalian bayar zakat fitrah. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar.

Pesan mobil online ke hotel dan lanjut ke Pool Bus Rosalia Indah siap² berangkat pulang ke kampung di Malang. Bus melaju on time, tapi di Km 20 menuju Bakauheni bus diminta masuk ke rest area untuk pemeriksaan vaksin. Yang sudah vaksin 2 X dan punya hasil SWAB Antigen negatif pun diambil KTP nya oleh petugas, semua diminta menuju ke lantai 2 untuk vaksin booster. Ya bersyukur aja kami bisa vaksin ke-3 (Booster) tanpa antri dan prosesnya cepat.

Dari penyebrangan keluar sampai Pool Solo lancar² aja. Tiba di Pool Solo, aku buru² upgrade tiket biar bisa sampai Blitar sesuai tujuan akhir bus ini. Tambahnya 70 K dan sampai di luar Terminal Blitar aku ambil Bus Bagong menuju Malang. Dan setelah total 24 jam dalam perjalanan, alhamdulillah kami bisa berkumpul kembali dengan keluarga tercinta.


❤️ Beautiful Indonesia


Copyright@by RUSDI ZULKARNAIN
email : alsatopass@gmail.com