BERAMAL LEWAT TULISAN

Sunday, 4 October 2020

KELILING PULAU MADURA SELAMA 7 HARI

Wow... wow... wow... mau ke spot wisata mana lagi nih ? Jelajah Madura dong, siapa bilang di Pulau Garam ga ada apa²nya, mustahil...

Sebelumnya aku kan pernah ke Madura. Jadi sedikit tau lah sebagian Madura. Tapi yang ini aku akan jelajahi Madura yang lain, yang belum pernah kujelajahi.

Lets go langkahkan Qa Qi Qu ...


MALANG to BANGKALAN

Karena penjelajahan ini pakai sepeda motor boncengan sama istriku, setidaknya motor harus dalam kondisi prima. Oleh sebab itu sebelum berangkat sepeda motor aku service duluan, ganti ban luar yang kelihatan gundul, aki dan yang utama service mesinnya.

Di mulai dari menyeberangi Jembatan Suramadu yang membentang di atas Selat Madura. Untuk melintasi jembatan tersebut, sepeda motor free. Dari ujung jembatan di sisi Surabaya ke ujung lainnya di sisi Bangkalan hanya perlu 10 menit menyebranginya (5.438 m). Jembatan Suramadu mulai beroperasi tanggal 9 Juni 2009.

Setelah bertemu pertigaan, aku ambil jalan ke kiri arah Kota Bangkalan. Lantas sengaja mampir ke Depot Nasi Bebek Sinjay di Jalan Ketengan untuk merasakan renyah dan empuknya bebek goreng dengan olahan sambal yang pedesnya bikin hohah. Menunya hanya ada satu yaitu menu paketan, sepiring nasi, sepotong bebek, lalapan dan sambal mangga muda plus segelas es teh manis. Harga seporsinya 28 Ribu Rupiah. Pokoknya rekomenditlah.

Berbekal Google Maps, hotel yang rencananya kami singgahi sangat mudah ditemukan yakni dekat Alun-Alun Bangkalan, tepatnya di Jalan HOS. Cokroaminoto No. 21. Hotel Rose bagus, bersih dan luas dengan pelayanan yang ramah. Padahal kami pilih yang standard, tapi dapat kamar yang luas dan lengkap. Harganya pun terjangkau.

Target sore dan malamnya adalah ke Masjid M. Kholil, Masjid Agung Bangkalan, Alun-Alun dan kulineran di cafe Bima N Zain.

MASJID dan PESAREAN M. KHOLIL 

Khusus ke Masjid M. Kholil untuk Shalat Maghrib sekaligus ziarah ke Pesarean Alim Ulama Besar Madura M. Kholil yang ada di bagian kanan depan masjid ini.

Beliau adalah Alim Ulama Besar Kharismatik Pulau Madura yang memiliki nama Al-'Alim al-'Allamah asy-Syekh Haji Muhammad Kholil bin Abdul Lathif Basyaiban al-Bangkalani al-Maduri al-Jawi asy-Syafi'i atau lebih dikenal dengan nama Syaikhona Kholil atau Syekh Kholil.

Syeikh Kholil lahir di Kemayoran, Bangkalan pada tahun 1820 dan wafat di Martajasah, Bangkalan pada tahun 1925. Syaikhona Kholil juga dikenal sebagai Waliyullah yang memiliki karamah yang dikenal oleh lingkungan masyarakat Madura.

Buat hari berikutnya kami hanya memiliki dua target yakni ke Bukit Kapur Jadih dan Aer Mata Ibu di Arosbaya selanjutnya geser ke Sampang. Namun sebelumnya kami Shubuhan dulu di Masjid Agung dan berolah raga singkat di Taman Paseban Alun-Alun Bangkalan.

BUKIT KAPUR JADIH

Sehabis sarapan yang disediakan hotel, kami bergegas ke Bukit Kapur Jadih yang jaraknya sekitar 6 km dari kota. Aku sedikit tersasar karena keasyikan ngobrol, akibatnya jadi kebablasan. Tapi alhamdulillah jadinya kami bisa blusukan melewati jalan-jalan kecil di perkampungan dan akhirnya ketemu juga spot Bukit Jadih.

Karena yang masuk ke sana hanya segelintir pengunjung saja, kami berdua dan ada yang datang lagi dua orang. Jadi totalnya hanya empat orang. Di TKP aku dihampiri petugas loket karena tadi kami lewat begitu saja tanpa tiket. Memang, pos nya keliatan kosong tidak ada penjaganya. Tadi, perasaan aku dengar sayup² ada orang yang panggil² tapi kurang kedengaran karena pas pake helm tertutup. Tiket parkir ijin masuk berdua 10 ribu. Kemudian petugas di loket lain memberikan tiket masuk ke spot Danau Biru/Goa Pote @ 5 ribu.


Akses jalan ke dalam keadaannya rusak, sebab jalan tersebut masih dilewati truk² mengangkut batu kapur yang digali pada lokasi lain di sebelahnya.

Permulaan masuk kami sudah disuguhi bukit² kapur bekas galian yang artistik bentuknya. Padahal itu bekas pengambilan batu kapur dari bukit yang diruntuhkan. Tentu saja keindahannya sayang untuk tidak diabadikan.

Berikutnya ke Danau Biru yang berada tidak jauh dari spot pertama. Pada saat kemarau, suasananya sangat jauh berbeda, di luar espektasi tidak seperti yang ada di sosial media (instagram dll). Tidak ada air danau sama sekali yang berwarna biru. Rakit² teronggok begitu saja. Padahal kalau bukan kemarau pemandangannya sangat indah airnya penuh berwarna hijau toska kebiruan. Sehingga rakit² dapat membawa pengunjung dari tepi ke tengah bolak balik.

Saat kemarau begini jadi kering semuanya. Semula ada dua danau yang terhubung jadi satu oleh air, danau biru dan goa pote. Sekarang kedua spot tersebut bisa dilewati sepeda motor karena dasar danaunya kering.

Amazing betul bekas galian ini. Kami bisa kesana kemari menaiki bukit, lewat lorong² kapur atau menapaki trap anak tangga yang dibuat cantik. Kesimpulannya spot Bukit Jadih patut dikunjungi.

PESAREAN AER MATA IBU

Selesai menjelajahi Jadih, kami balik ke hotel untuk istirahat, mengemas barang siap² check out dan lanjut ke Pesarean (makam) Aer Mata Ebu di Aermata Kecamatan Arosbaya Kabupaten Bangkalan Pulau Madura. Dari Bangkalan jaraknya sekitar 10 km.

Sebelum tiba di Aermata, kami makan siang di dekat pertigaan sebelah kanan (jauh sebelum Pasar Bunten). Di situ ada depot yang menyajikan menu tom yam, nasi lemak dan sop buntut. Menu ini sangat jarang dijumpai, apalagi di pedesaan seperti ini. Ternyata pemiliknya pasangan suami yang pernah bekerja usaha katering di Malaysia. Ohhh pantes aja. Masakannya asli, enak pas di lidah dan harganya terjangkau.


Di mulai dari gerbang tangga Aermata yang harus dinaiki selanjutnya sampai di komplek pesarean yang cukup luas. Sejarahnya Sarifah Ambani (Ratu Ibu) sering di tinggal bertugas oleh Cakraningrat (Gelar Bangsawan Madura untuk Raja, Sultan atau setingkat Bupati di masa kolonial). Lantas beliau memutuskan untuk bertapa dan berdoa memohon agar nanti ke tujuh turunannya dapat ditakdirkan menjadi penguasa pemerintahan Pulau Madura.

Inilah lokasi pesarean Aer Mata Ebu yang dipenuhi makam keluarga beliau hingga beberapa keturunan. Pesarean ini terbagi menjadi beberapa blok berjenjang dari bawah ke atas. Ratu Ebu berada paling atas bersama beberapa makam tanpa nama. Semua makam terbuat dari batu yang disusun rapi.


BANGKALAN to SAMPANG

Habis ke Aer Mata Ebu kami geser ke Sampang. Jalurnya harus melewati jalan yang sama kembali ke Bangkalan lagi dan lurus ke timur melewati pertigaan jalan Suramadu arah Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Setidaknya perlu waktu dua jam untuk menempuh jarak 60 kilometeran bareng truk² yang banyak lewat sini.

Sementara itu di Sampang kami stay di Hotel Semilir di jalan utama Sampang - Pamekasan. Hotel ini cukup luas yang menawarkan beberapa kelas kamar²nya. Lantas cafe dan menu restonya cukup lengkap beraneka pilihan. Sangat rekomendit untuk bersantai di sini.

Pada hari berikutnya, tepat pukul 6 pagi kami menuju Pantai Camplong yang jaraknya sekitar 9 km dari Kota Sampang. Jalan ke pantai ini sama arahnya dengan arah ke Pamekasan. Tepatnya di sebelah Depo Pertamina.

Pantai ini namanya Kawasan Wisata Pantai Camplong dimana ada hotel, tempat permainan dan depot² kulineran. Kebetulan masih pagi, pintu masuknya belum ada penjaganya, jadi otomatis parkirnya gratis. Alhasil bisa langsung masuk sampai di bibir pantai.

Pantainya boleh dibilang terbagi tiga. Yang pertama adalah pantai dekat kampung nelayan, kemudian yang kedua lokasinya lebih tinggi karena ada dinding batu di sepanjang pantai. Di sinilah para pengunjung biasa bersantai sambil bermain. Ada tulisan besar 'PANTAI CAMPLONG', lambang love dan ada beberapa tulisan lagi di situ. Sedangkan yang terakhir adalah dermaga Pertamina.

Di Pantai Camplong ini ada tempat penyebrangan penumpang tujuan Probolinggo. Kapal motor yang melayani adalah KM. Dharma Kartika.


SAMPANG to PAMEKASAN

Selesai Jumatan di Masjid Agung Sampang seberang Taman Trunojoyo, aku buru² balik ke hotel untuk check out dan langsung cus ke Pamekasan.

Karena perut sudah nagih untuk diisi, akhirnya cobain Bebek Sinjay lagi yang ada di Jalan Raya Camplong. Yang belum kami coba adalah Bebek Songkem yang khas Madura juga. Perjalanan dari Sampang ke Pamekasan yang berjarak 30 kilometeran kutempuh satu jam berjalan dengan santai.


Sekitar lima kilometer sebelum masuk Kota Pamekasan, kami mengunjungi Api Nan Kunjung Padam (api abadi) di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan. Api abadi ini pernah dipakai untuk Pekan Olah Raga Nasional (PON) ke XV tahun 2000 dan PON Remaja I pada tahun 2014, kedua event ini diadakan di Surabaya.

Di Pamekasan, sama seperti di kota² lain kami menginap di hotel budget (Hotel Ramayana). Lokasinya ada di tengah kota dekat alun², pusat kuliner Jl. Kemuning, Jl. Niaga dan Jalan Jokotole.

Kota Pamekasan lebih besar dan lebih ramai. Jalan² di tengah kota tampak teduh ditumbuhi pepohonan yang rimbun, seperti di Jl. Jokotole dan Jl. Trunojoyo.

Kulineran khas Pamekasan diantaranya Kaldu Kokot. Ini makanan berat yang berkadar lemak tinggi yaitu sop tulang sumsum. Kami hanya mencoba mie pangsit istimewa dan empal yang lezat dan pas taste-nya. Terus terang aku tertarik dengan mie pangsitnya, belum pernah kutemui enaknya seperti ini. Depotnya ada di Jl. Kemuning (Depot Podomoro).

Pakaian kotor perlu dicuci, karena cadangan sudah sangat menipis. Sekitar pukul tujuh malam pakaian kotor kubawa ke laundry yang masih buka. Katanya besok pukul sembilan pagi bisa diambil. Lantas buru² ke Masjid Agung yang tidak jauh dari hotel untuk shalat berjamaah.

Sebelum lebih jauh menjelajahi Pulau Madura, berikut adalah gambaran kabupaten yang ada di Madura. Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Kabupaten Sumenep masing² memiliki pantai utara dan selatan. Sebab setiap kabupaten dibagi seperti garis horizontal yang mengiris Pulau Madura. Sedangkan kabupaten yang terbesar adalah Kabupaten Sumenep yang memiliki pulau² kecil hingga ke Selat Makassar.

Singkat cerita esoknya kami geser lagi ke Kota Sumenep. Di kilo 14 setelah Pamekasan kami singgah di spot Wisata Pantai Talang Siring. Lumayan bisa istirahat sejenak di sini sambil duduk² di pinggiran dan duduk di ayunan menghadap laut. Tidak begitu istimewa spot wisata ini. Sangat cocok singgah di sini kalau hanya untuk ngopi² saja atau makan sekalian. Di sebelah baratnya ada jalan yang tidak begitu lebar dan tidak mulus menuju Vihara Avalokitesvara. Dari jalan raya utama ke Vihara ini sekitar 1.500 meter.


PAMEKASAN to SUMENEP

Di sepanjang jalan antara Talang Siring dengan Prenduan banyak yang jual kelapa muda, legen dan buah siwalan. Kami pun tertarik mampir menikmatinya.

Sebelum tiba di Sumenep, kami mampir ke sobatku anak muda beranak satu di Kecamatan Prenduan dekat Ponpres Al Amin. Kami bernostalgia karena lama ga ketemu dan disuguhi minuman es susu dan rujak erok. Tak lupa aku beli oleh² aneka kerupuk, gula aren, petis. Kebetulan tokonya milik keluarga sobatku. Semua yang kami beli kukirim lewat jasa pengiriman.

Lanjut jalan lagi ke Sumenep. Tiba di sana agak sorean. Kami menuju hotel yang beberapa saat aku browsing (Hotel Surabaya). Di TKP pilih booking online karena harganya jauh lebih murah ketimbang bayar langsung.

Sumenep kotanya lebih besar dibandingkan kota² lainnya di Pulau Madura. Hal itu bisa dilihat dari jumlah traffic light nya, airport nya (Bandara Trunojoyo), banyaknya hotel termasuk keramaiannya.

Spot wisatanya terbilang banyak dan kalau kami habiskan bakal makan waktu yang lama. Tempat wisata di darat dan laut menjadi daya tariknya. Sebut saja misalnya pulau² kecil, Keraton, Masjid Jami, Goa Soekarno, Pantai Sembilan, Pantai Slopeng, Kampung Pasir dan masih banyak lagi yang ga kusebut di sini.

Di Sumenep yang pertama kami kunjungi adalah Keraton dan Masjid Jami. Lantas ke kota tua Kalianget dan menyebrang ke Pulau Talango.

Masjid Jami yang gerbangnya didominasi warna kuning adalah bangunan lama peninggalan para pendahulu masyarakat Sumenep. Dibangun pada akhir abad ke-18 dan selesai setelah pembangunan keraton. Di seberang jalan terdapat Taman Adipura di Kawasan Alun-Alun yang hijau dan indah. Sedangkan di sepanjang jalan yang tidak begitu lebar di belakang masjid ini ada pasar yang ramai.


Kompleks Keraton Sumenep sendiri berdiri timurnya. Urutannya sebagai berikut : Keraton di timur, Alun-Alun di Tengah dan Masjid Jami di baratnya.

Pada saat hari libur seperti sabtu atau minggu, di sekitaran tiga ikon Kota Sumenep ini selalu dipenuhi warga untuk berolah raga pagi, sepedaan, jalan santai atau hunting kulineran di sepanjang Jl. Dr. Soetomo.


SUMENEP to KALIANGET dan PULAU TALANGO

Saatnya meluncur ke Kalianget sebuah pelabuhan kuno di ujung timur Pulau Madura. Dari pusat Kota Sumenep ke Kalianget memerlukan waktu kurang dari 30 menit menempuh jarak sepuluhan kilometer.

Tiba di TKP langsung masuk kapal ponton yang sudah siap berangkat menuju pulau kecil Talango. Jarak dari Kalianget ke Pulau Talango tidak jauh, sekitar 10 menitan menyebrang dengan kapal ini.

Kapal ponton ini bisa mengangkut mobil, truk dan sepeda motor tapi cuma sedikit. Tiketnya hanya untuk kendaraan bermotor, untuk orang free. Sepeda motor dikenakan 4 ribu rupiah.

Di Pelabuhan Talango banyak becak motor yang menawarkan jasanya terutama ke Asta (makam) Syeikh Yusuf. Sama seperti pelabuhan yang lain, Talango sebagai pelabuhan kecil cukup ramai. Kapal ponton setiap 30 menitan selalu siap sedia menyebrang ke Kalianget.

Makam Syeikh Yusuf ada di-mana², di Makassar, Banten, Cape Town Afrika Selatan dan di Talango. Wallahu 'alam. Di makam ini selalu dipadati para peziarah yang datang dari berbagai daerah. Dan seperti biasa selalu ada para pencari sedekah yang duduk menanti pemberian kita.


Kami sempat mengelilingi Pulau Talango yang gersang (mungkin pas kemarau). Di pulau ini banyak rumah warganya yang terbilang mewah. Mungkin ini sebagai tanda kemakmuran negari kita. Hhee...

Kami tidak ber-ama² berada di Pulau Talango. Selepas mengelilingi pulau ini kami kembali ke Kalianget rutenya sama seperti perjalanan semula. Lanjut ke Kampung Pasir di Legung Kecamatan Batang-Batang. Dari Kalianget ada jalan pintas menuju Jalan Gapura tapi harus menyebrang pakai perahu kecil yang hanya muat delapan sepeda motor. Untuk motor ongkosnya 5 ribu sedangkan orang gratis.


KALIANGET to KAMPUNG PASIR

Jalan pintas ini sangat membantu perjalanan kami dari Kalianget ke arah Kampung Pasir/Lombang. Sebab kalau mengikuti jalan normal harus ke Sumenep dulu lalu memutar lantas baru bisa ke Jalan Gapura. Otomatis rutenya 20 km lebih jauh dibanding lewat penyebrangan ini.


Selepas menyebrang kami harus melewati jalan² di pinggiran ladang garam hingga ke Jalan Raya Gapura (depan Polsek Gapura). Melewati jalan di antara ladang garam tetap harus hati² karena jalannya sangat sepi.

Setelah ketemu Jalan Raya Gapura, perjalanan dilanjutkan menuju Kampung Pasir di Legung Kecamatan Batang-Batang tetapi masih di wilayah Kabupaten Sumenep.

Sejak melalui Gapura Kampung Pasir berarti kami sudah berada di Legung. Masuk jalan yang tidak terlalu jauh tampak hamparan pasir pantai berwarna kecoklatan yang lebar dan panjang. Sepeda motor dan mobil bisa ke pantai ini, namun karena pasirnya tebal kendaraan jalannya pasti ngepot². Kecuali yang di tepi pantainya, pasirnya basah tapi padat.

Kami hanya memilih salah satu rumah warga yang se-hari² hidupnya tidak lepas bersama pasir. Tidur di pasir, ngobrol bersama tetangga di pasir. Halamannya pasir dan di kamar tidur pun ada pasir. Katanya sangat nyaman tidur dan hidup bersama pasir yang sudah dijalankan mereka turun menurun.

Di kampung ini banyak pemakaman warga, malah ada yang berada di dalam rumah. Kalau saja di sini lebih ditata lagi sebagai kampung wisata yang apik, bukan tidak mungkin ekonomi masyarakat bakal meningkat. Yang harus diperhatikan adalah masalah sampah yang masih sangat berserakan. Dan belum adanya penginapan apalagi yang namanya hotel tidak tersedia di sini.

Masyarakat Legung yang welcome dan ramah menyambut kami dan mempersilahkan untuk ngobrol² serta melihat kehidupannya lebih dekat. Kami berterima kasih telah diperkenankan singgah untuk mengenal kehidupan saudara kami di Kampung Pasir.

Perjalanan masih cukup panjang, kami harus meninggalkan Legung menuju destinasi lain. Kami berdua meluncur ke arah Pantai Slopeng. Maksudnya sih cuma mau cari makan siang dan ingin menginap di sekitar sini. Tapi keduanya sangat sulit kami dapatkan.


To PANTAI BADUR dan SLOPENG

Ternyata Pantai Slopeng itu masih jauh sekali. Padahal perut sudah terasa lapar dan badan ini perlu istirahat di penginapan. Aku berhenti di salah satu rumah warga yang menjual rujak. Di situ kami ngobrol sambil ber-tanya². Tidak direncanakan sebelumnya, tak sengaja kami bisa mampir di Pantai Badur yang sangat indah, sebelumnya kami tidak tau ada pantai di  dekat sini.

Setelah tanya² dimana ada yang jual makanan, akhirnya aku dapat penjual soto ayam yang tidak jauh dari Pantai Badur. Sotonya masih ada tapi lontongnya belum matang. Dengan sabar kami harus menunggu sambil ngobrol di teras depan rumahnya. Aku naksir dengan buah pepaya matang yang ada di pohon dan bertanya, "Apa pepayanya boleh kubeli ?" Suaminya yang memanjat memetik pepaya itu sedangkan aku yang menangkapnya di bawah.

Soto dan lontong sudah siap dihidangkan di lantai teras, tidak kusangka semuanya ludes kusantap tanpa sisa. Aku bercerita tentang perjalanan ini dan bertanya apa ada penginapan didekat sini. Semula ia menawarkan kamar di rumahnya, tapi setelah aku tanya berapa taripnya, dia malah sungkan menawari kami lagi. Padahal aku sudah bilang daripada nginep di hotel lebih baik uangnya kuberi sebagai pengganti kamarnya.

Matahari sebentar lagi akan masuk ke peraduannya. Kami harus sesegera mungkin meluncur lagi ke spot Wisata Pantai Slopeng. Menurut dia di situ ada penginapan. Baiklah lanjut ... Sedari tadi kami melewati jalan yang kurang baik dan kecil di utara Pulau Madura ini. Akhirnya kami pun tiba di Pantai Slopeng yang ternyata masih ditutup karena covid. Dan yang mengkhatirkan adalah tidak ada sama sekali penginapan di sini.

Karena sudah masuk maghrib, kami disarankan petugas pom bensin di Ambuten jangan melanjutkan perjalanan, lantas mempersilakan kami bermalam di pom bensin-nya. Kami pun menuruti nasehatnya, karena kalau tetap dilanjutkan terlalu berisiko seperti tidak ada lampu penerangan jalan (gelap), keamanan di jalan dan jarak antar rumah sangat jauh.

Ada beberapa orang yang tidur di pom bensin, sehingga kami bisa saling sapa dan ngobrol akrab karena merasa senasib. Malam hingga shubuh kami lewati karena bisa tidur nyenyak, badan pun terasa lebih fresh.


To GOA SOEKARNO

Awal pagi itu kami sarapan dan ngopi² di warung depan Koramil Ambuten. Lantas cus lagi ke Pasongsongan di sana ada spot wisata baru, Goa Soekarno 'GS' namanya. Saking asyiknya melaju tanpa lihat GMaps, aku kebablasan hingga Pasean Pamekasan, berarti kelebihan 10 km. Karena targetnya ingin kunjungi GS, mau tidak mau harus balik lagi menuju ke TKP.

Ada papan arah yang tidak begitu besar dengan tulisan 'Goa Soekarno'. Masuk dari situ ke TKP sekitar 1 km. Melewati jalanan sempit di antara hutan jati yang sedang dilanda kekeringan, akhirnya kami tiba di GS.

Hanya kami berdua yang menjadi tamu satu-satunya. Setelah memarkir motor, tampak di bagian luar terdapat taman yang belum ditata rapi dan wahana sepeda gantung. Karena masih baru, semuanya harus dikembangkan lagi supaya lebih bagus. Masuk ke GS tiketnya 15 ribu plus jeprat jepret oleh Kru GS.



Tara... begitu masuk goa yang sebenarnya, sungguh luar biasa indahnya. Goa ini bersih tanpa bau sedikit pun dan luas seperti aula yang besar. Penambahan aksesoris di sana sini dimaksudkan untuk mempercantik goa ini. Sambil melangkah kecil, akhirnya kami tiba di ruang utama yang ada cafe-nya. Pelataran atau stage yang dibuat bertingkat difungsikan sebagai 'meja bar' dan dapur, personil band serta meja kursi untuk pengunjung. Karena kami adalah satu²nya tamu yang datang ke sini semuanya menjadi spesial dan terasa sangat private.

Sambil menikmati pesanan kulineran di meja utama, live music menghibur dengan lagu² nostalgia yang liriknya pas buat kami. Jeprat-jepret dari kru belum juga berakhir buat kami... semuanya jadi sangat surprise.

Penjelajahan ke GS kuakhiri di ruang yang ada patung Soekarno duduk memegang buku. Di sinilah aku dapat informasi kalau lahan ini milik Soekardi yang menjadi fans berat Ir. Soekarno. Sehingga spot wisata ini dinamakan Goa Soekarno.

Dari GS perjalanan lanjut ke Waru yang masih berada di Kabupaten Pamekasan. Setelah melewati Pasongsongan (Kab. Sumenep) akan ketemu pertigaan Pasean (Kab. Pamekasan) di utara Pulau Madura.


To WARU

Jalanan di utara Pulau Madura ini sangat lengang. Kendaraan yang lewat cuma sedikit. Dari pertigaan Pasean ke daerah Pasar Waru sekitar setengah jam aja sudah sampai. Kami singgah silaturahim ke saudara dua pupu (sepupu 2 X) melepas kangen dan disuguhi 'kaldu kokot' yakni kaldu kaki sapi yang maknyus rasanya.

Perjalanan tetap harus dilanjutkan. Dari Waru sekarang menuju Air Terjun Toroan 'ATT' yang ada di pantai utara Pulau Madura tepatnya dekat kota kecil Ketapang Kabupaten Sampang.

Air terjun ini airnya deras ketika musim hujan. Kami kesana pas musim kemarau, tapi airnya tetap mengalir meski curahannya tidak begitu besar. Ada dua grojokan di sini, yang besar dan yang kecil, letaknya bersebelahan. ATT berada di antara tepi jalan Ketapang dan di pesisir pantai. Curahan air terjun jatuh ke telaga kecil langsung mengalir ke laut di sebelahnya. Warna airnya kehijauan menyegarkan dan pantainya indah apalagi pas sunset tiba. Tiket masuk 3 ribu plus parkir sepeda motor 5 ribu rupiah.

Lanjut mang... selepas dari ATT langsung ke Surabaya lewat Arosbaya, Bangkalan, Suramadu dan Surabaya. Sebagai malam terakhir eksplor Pulau Madura ini kami menginap di hotel bintang 2 (Hotel Pop) di Jl. Waspada. Kami dapat harga promo dengan fasilitas yang rekomendit buat traveler.

Esoknya eksplor bagian kota lama Surabaya yakni Jalan Panggung. Lantas menikmati menu Nasi Kebuli dan Sinom (semacam minuman herbal) di Jl. KH. Mas Mansyur. Akhirnya trip ini kami tutup lalu cus ke Kota Malang sebagai base camp kami. Kesimpulannya, trip kami lakukan by sepeda motor 110 cc bersama istri dari Kota Malang ke Pulau Madura plus Pulau Talango berkeliling selama 7 hari menempuh tidak kurang dari 500 km. Alhamdulillah ... kami masih diberi kesehatan dan keselamatan sehingga bisa menulis kisah perjalanan ini.


Copyright@by RUSDI ZULKARNAIN