BERAMAL LEWAT TULISAN

Tuesday, 17 March 2020

BUKAN API BIRU KOMPOR GAS TAPI BLUE FIRE KAWAH IJEN


Tertarik juga melihat tawaran di akun instagram 'destinasi_ade' yang membuka open trip ke Kawasan Ijen di ujung timur Pulau Jawa.

Cara simpel yang ditawarkan seperti ini pernah kupakai ketika ke Pulau Bawean dan memakai tour operator yang sama. Karena murahnya, simpel ga ribet dan menyenangkan, akhirnya aku ikut open trip ke Ijen ini.

Kalau pergi sendirian dipastikan biayanya lebih mahal. Oleh sebab itu dalam suatu perjalanan pergi sendiri atau grup kadang² bisa lebih mahal bisa juga lebih murah. Makanya, harus pandai² mencermati, memilih dan menentukan biar tidak bikin kantong bolong.




GOES to IJEN

Gunung Ijen termasuk gunung berapi yang memiliki kawah terbuka. Lokasinya ada di perbatasan antara Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.


Tingginya sekitar 2.300 meter di atas  permukaan air laut. Terakhir meletus pada tahun 1999. Keindahan alamnya luar biasa dengan 'api biru' (blue fire) di sebagian kawahnya. Aku akan treking ke Kawah Ijen dari Paltuding Banyuwangi pada tengah malam ini.

Minivan putih ber-strip merah menjemput kami di meeting point dekat Terminal Bungurasih, setelah menjemput yang lain di Stasiun Kereta Api Gubeng. Peserta terakhir minta dijemput di Bunderan Gempol yang sejurusan dengan tujuan.

Alhamdulillah, kami berangkat dengan lancar sesuai rencana. Peserta open trip ada 13 orang dari Klaten, Kudus, Sidoarjo, Surabaya dan Malang. Aku sendiri adalah peserta yang paling senior (tua banget maksudnya).

Awalnya, minivan akan lewat Bondowoso tapi karena ada sesuatu hal, maka rutenya mendadak harus diubah menjadi Surabaya - Probolinggo - Situbondo - Banyuwangi - Ijen.

Perjalanan dari Surabaya sampai di kaki Gunung Ijen perlu waktu hingga 7 jam termasuk berhenti untuk istirahat. Pantai Bohay dekat Paiton Probolinggo adalah tempat yang dipilih untuk ngopi², makan malam dan shalat sebelum lanjut ke TKP.
Begitu masuk dari Kecamatan Licin jalannya terus menanjak dan berliku. Hampir mendekati Paltuding jalannya benar² menanjak tajam ditambah belokan sempit. Di sini perlu ketrampilan setiap pengemudi membawa kendaraannya untuk bisa lolos medan ini. Kondisi kendaraan juga harus dalam kondisi prima.

Kami start dari Paltuding yaitu batas akhir (parkir) kendaraan bermotor. Tempat ini sebagai base camp untuk menyiapkan segala sesuatu sebelum treking ke Kawah Ijen. Banyak warung yang multifungsi buat ishoma, ke toilet dan menyewakan peralatan untuk mendaki. Tersedia sewa masker khusus agar terhindari dari menghirup asap belerang yang mengepul kuat dari kawah.

Di depan warung² tersebut sangat cocok untuk ngopi² duduk melingkari perapian bakaran kayu agar badan tetap hangat. Setelah siap semua, barulah treking dimulai. Cukup membawa ransel kecil yang berisi item² paling penting terutama makanan dan air minum.
Namanya juga bepergian secara grup, meski belum saling kenal tapi jiwa saling tolong menolong harus tetap terpatri di dalam hati. Tujuannya, agar semua bisa sampai ke kawah dan kembali dengan selamat. Oleh sebab itu kami tidak lupa berdoa agar diberi keselamatan dan perlindungan selama trip ini.

Treking dimulai dari pos utama di bawah gerbang pintu masuk. Treknya landai berkerikil halus dan sedikit demi sedikit terasa menanjak. Kalau tidak hati² kerikil halusnya bisa bikin kaki kepleset. Sepatu dengan landasan kasar bergerigi akan lebih baik melintasi jalur ini. Head lamp atau senter di tangan juga sangat perlu untuk menerangi trek di waktu malam.
Mulai dari bawah, para tukang ojek gunung  (gerobak) mulai agresif menawarkan jasanya untuk mengantar tamunya naik sampai bibir kawah. Tarip yang ditawarkan bervariasi untuk naik sekitar 700 ribuan dan turun 200 ribuan. Kalau mau dapat harga yang lebih murah, monggo ditawar siapa tau boleh kurang.

Trek semakin lama semakin mendaki. Bagi yang terbiasa berolah raga rutin, rute seperti ini tidaklah begitu berat. Apalagi masih muda dan badannya sedikit slim dapat dipastikan lancar² aja. Hampir di pertengahan jalan terdapat warung untuk sekedar istirahat, minum yang panas² sambil meluruskan kaki yang mulai pegal.

Perjalanan tinggal setengahnya lagi. Perlu menyiapkan strategi melangkah. Ya... step by step tapi pasti. Itu strategi yang jitu untuk mencapai puncak. Jangan terbawa emosi untuk segera tiba, nanti langkahnya malah ga beraturan dan beresiko kelelahan kehabisan tenaga.
Sebetulnya dari parkiran di Paltuding hingga puncak bisa ditempuh dalam 3 jam dengan langkah biasa tapi stabil. Oleh sebab itu agar bisa melihat blue fire hendaknya waktu berangkat harus disesuaikan. Sebab kalau keduluan terbitnya fajar maka api biru yang berasal dari pertemuan antara gas bumi dan oksigen ga bisa dilihat lagi.

Sebelum mencapai puncak, treknya tidak begitu menanjak namun berliku panjang. Hembusan angin biasa muncul yang bikin udara dingin semakin menusuk tubuh. Untuk mengatasi hawa dingin bisa gunakan pakaian tertutup mulai dari kepala sampai pinggang. Kalau perlu pakai sarung tangan dan slayer di leher.

Akhirnya selepas belokan terakhir bibir kawah mulai tampak. Untuk lebih jelasnya tinggal jalan menurun landai hingga benar² sampai di bibir Kawah Ijen. Alhamdulillah cuacanya lagi bersih tidak berkabut. Air kawah yang berwarna hijau kebiruan tampak jelas indahnya. Begitu juga spot belerangnya dari kejauhan kuningnya jelas sekali bersama asapnya yang terus mengepul terbawa angin.

Di sini perlu hati² sebab tidak ada jalan yang pasti. Jalannya bisa berubah sesuai gerusan aliran air. Banyak kanal berlubang karena gerusan derasnya air ketika hujan. Kerikil kecil menjadi landasan kita berjalan. Tetap harus berhati² kuatir terpleset, apalagi kalau pas berdiri di pinggir kawah. Duhhh... ngeri kalau sampai jatuh ke dalam jurang kawah.

Untuk menikmati keindahan Kawah Ijen yang lebih sempurna, perlu treking lagi agak ke atas. Di situ mulai ada tanaman kawah yang cukup rindang dan berakar cantik. Biasanya para petualang menyebutnya sebagai hutan mati. Dari atas sini, semua bagian kawah utuh terlihat. Sudah lumrah di setiap spot yang ikonik menjadi incaran para pelancong untuk diabadikan. Resikonya ya harus sabar antri bergantian untuk dijepret.

Terbayar sudah segala biaya, waktu dan tenaga untuk mencapai lokasi ini. Pegal² dan rasa lelah hilang dengan sendirinya setelah menyaksikan keindahan Illahi ini. Hatiku puas, bahagia dan bersyukur bisa kesini. Saatnya kembali ke parkiran di Paltuding melalui jalan yang sama. Yang berbeda adalah suasananya terang, gunung² di sekitar dan laut antara daratan Banyuwangi (Jawa) dan Gilimanuk (Bali) tampak jelas dari atas sini.
Souvenir satu²nya dari Kawah Ijen ini adalah kerajinan dari batu belerang yang diukir sederhana. Harganya bervariasi tidak begitu mahal. Kalau batu aslinya yang dibawa para penambang biasanya dijual ke pengepul per kilo @1.250 (per pikul beratnya 75 Kg).
Menuruni trek menuju Paltuding perlu lebih hati² karena hampir semuanya berkerikil kecil. Banyak yang terpleset berkali² ketika turun. Ada yang cuma kaget ketika hampir jatuh dan ada yang benar² terpleset jatuh sampai terkilir bahkan terluka. Entah karena malas atau faktor kelelahan tidak sedikit yang sewa ojek gunung sampai parkiran.
Kawasan Kawah Ijen terpaksa harus kami tinggalkan untuk melanjutkan ke spot berikutnya Pantai Bama sekaligus eksplor Taman Nasional Baluran di Kabupaten Situbondo. Karena sudah hampir tengah hari, makan siang di luar kota kecil Ketapang adalah jawabannya. Sebelum makan, banyak teman seperjalanan yang mandi (terutama wanita) sebab kalau mandi di Paltuding airnya dingin kayak es.


SAVANA BEKOL and BAMA BEACH

Ini kami sedang di Baluran National Park. Dari loket pembelian tiket utama ke spot² di dalamnya lumayan jauh masuk beberapa kilometer. Kawasan ini sangat luas, ada hutan, pantai dan savana. Monyet, rusa, kerbau dan banteng adalah penghuni dominan di Baluran ini.
Pertama yang kami eksplor adalah Pantai Bama. Pengunjungnya cukup banyak, termasuk monyet² senang nongkrong di sini. Mereka menunggu pemberian makanan dari pengunjung.

Pantai Bama yang masih alami terdiri dari hutan di pesisirnya. Tanaman bakau dan hutan mangrove menjadi bagian yang bisa dieksplor. Untuk berendam atau berenang tipis² bisa juga dilakukan asal timingnya pas, pagi atau petang sebelum pukul 17. Sebab kawasan ini ditutup pada pukul 17.30 WIB.

Selanjutnya ke Savana Bekol, padang rumput luas yang sangat ikonik. Puluhan fosil kepala banteng digantung di pinggiran savana. Para pengunjung pun banyak yang mengabadikan diri di depan spot ini. Tampak di kejauhan puluhan rusa, monyet dan kerbau hutan berkumpul bersama komunitasnya. Jalanan yang lurus sepi dan diapit kiri kanannya oleh padang rumput menjadi daya tarik tersendiri. Suasananya mirip seperti peternakan di New Zealand, Australia atau Eropa.

Eksplor kawasan Baluran adalah spot kami yang terakhir. Saatnya kembali ke basecamp yakni Kota Surabaya. Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan bisa sedikit berkurang karena mampir ke pusat oleh² di Tongas. Ada tape, aneka kerupuk atau dodol lengkap tersedia di sini. Aku hanya beli beberapa bungkus tape sebagai oleh² untuk dibawa pulang.

Makan malam di Rumah Makan Khas Trenggalek 'TITIN' menjadi obat pamungkas karena perut sudah lama menunggu untuk segera diisi. Akhirnya trip ini selesai juga tepat pukul 22.30. Aku minta turun di dekat Terminal Bungurasih dan lainnya bisa turun sesuai request yang penting tidak jauh dari jalur meeting point semula.

Banyak kenangan yang tercipta, apalagi para milenial yang gabung di trip ini tentu punya kenangan tersendiri sampai terbawa mimpi pada malam² berikutnya. Thanks so much to Kru Destinasi_Ade, sobat Ibrahim, Laras, Ica, Anif, Tita, Nining, Adriana, Picthanda, Cik.we, Zain, Dedy dan Fitri (CMIIW). Cheers sampai jumpa lagi pada kisah yang lain.


Copyright©by RUSDI ZULKARNAIN
email : alsatopass@gmail.com