BERAMAL LEWAT TULISAN

Senin, 30 Desember 2013

TIDAK KEDINGINAN DI GOLDEN ROCK, KYAIKTYO (Burma - 3)



GOLDEN ROCK KYAIKTIYO, itulah sebutan yang sangat terkenal buat salah satu tempat persembahyangan Umat Budha di Myanmar. Sebuah pagoda kecil yang berdiri di atas batu yang menggantung (bertengger hampir jatuh) di puncak Gunung Kyaiktiyo pada ketinggian 1.100 m DPL. Sedangkan arti dari Kyaiktiyo itu sendiri diartikan sebagai pagoda di atas kepala pertapa. Bagaimana untuk bisa menuju ke sana, ayo ikuti caranya.

BERANGKAT DENGAN BUS 

Keluar dari GH, aku ambil Bus yang salah menuju Terminal antar kota Mingalar. Memang di dalam hati sudah sengaja begitu, kalau salah nggak apa-apa bisa sambil killing time, karena ini masih pagi sedangkan bus ke Kyaiktiyo berangkat pukul 12 siang.

Tiket bus sebelumnya aku beli di bekas stadion sepakbola Aung San, di depan Stasiun Kereta Api Yangoon. Di sekitar Aung San ada beberapa agen bus resmi seperti yang ada di Terminal Mingalar. Hari itu masih pagi, sekitar pukul 8 an. Aku bilang pada penjual tiket ingin ke Golden Rock 'GR', maka tiket dibuatkan dengan harga 10.000 Kyats. Aku bayar pake uang dollar kertas pecahan 10 US $, berangkatnya pukul 12 siang. Jadi masih ada cukup waktu walau harus ke Terminal Mingalar lebih dulu yang paling sedikit perlu 1 jam menuju kesana.

Karena ambil bus kota dan turun di tempat yang salah terpaksa harus ganti bus lagi dari terminal kecil menuju Mingalar. Ternyata bus ini pun bukan jurusan ke Mingalar, hanya melewati dekat Mingalar. Aku diberitahu harus turun di sini kalau mau ke Mingalar. Aku pun turun dan berjalan kaki cukup jauh. Pagi masih pukul 10 an, aku lihat di sisi jalan ada kedai nasi biryani label halal. Mampir dulu akh, pesan paket yang sama dengan yang biasa aku beli di Yangoon (700 Kyats). Untuk killing time aku ngobrol kesana kemari dengan pemilik kedai, sambil mengambil beberapa foto untuk koleksi.


Dari situ harus jalan kaki lagi cukup jauh ke Mingalar. Karena tiket bus-ku semuanya dalam bahasa Burma, aku sering bertanya di mana letak agen bus tersebut. Beberapa kali bertanya, akhirnya ketemu juga agennya. Terminal Bus Mingalar cukup membingungkan karena sangat besar dan penataannya yang tidak baik. Agennya terpisah-pisah jauh dan aku harus mencari sendiri, kecuali kalau dari awal naik taksi tidak jadi masalah, karena sopir taksi yang akan membantu mencarinya.

Harus berjalan jauh, panas dan berdebu tentu obatnya hanya satu, yakni sabar tidak perlu kesal hati. Akhirnya ketemu juga toh... Aku lapor pada agen dan selanjutnya siap menunggu pemberangkatan.

Bus yang kondisinya biasa saja berangkat on time. Aku duduk bersebelahan dengan anak lelaki 12 tahunan, yang mengaku bernama Myo Hein Htat dan masih sekolah duduk di kelas 8. Dia juga mau ke GR bersama rombongan orang tua, kakek nenek, paman dan adiknya. Di sepanjang perjalanan aku ngobrol dengan Htat dalam bahasa Inggeris yang lumayan bagus. Setiap ada sesuatu yang menarik, ia selalu beri tau aku. Kehadiran seorang Htat sangat membantu perjalananku menuju GR. 

Htat sangat bersemangat berbincang denganku. Dia sedang berusaha mempraktekan kemampuan berbahasa Inggerisnya. Orangtuanya pun senang melihat aku akrab dengan puteranya. Sesekali aku nasehati dia supaya belajar yang rajin untuk kemajuan Myanmar. Jangan minum beer karena itu sangat berbahaya, kalau sering mabuk-mabukan. Ia mengangguk tanda setuju dan memegang tanganku. Walau barusan kenal tapi dia sudah menganggapku sebagai orang tuanya. "Are You happy ?". Tanyanya. "Oh sure, I am happy". Jawabku.

Tak terasa bus sudah melewati kota Bago, setelah itu kami semua istirahat makan di suatu kedai tempat bus biasa berhenti. Aku beli sebonggol jagung rebus dan memesan secangkir coffee mix, masing-masing harganya sama 300 Kyats.

Hampir 5 jam berlalu, bus terus meluncur mulai dari Mingalar melewati Bago - Pa Yar Kay - War City - Sungai Si Tow dan Kyaikto. Kemudian melewati jalur yang naik turun dan sedikit berkelok kelok. Sampai di Kyaikto, bus tidak melanjutkan ke Kyaiktiyo, jadi harus over bus tapi tidak bayar lagi. Katanya Htat, sebentar lagi kita akan sampai di Kyaiktiyo.

Benar saja, tidak lama bus tiba di Kyaiktiyo dan berhenti di samping rumah makan yang menjadi satu dengan Villa Emerald. Di situ para penumpang diberi kesempatan untuk istirahat, makan minum atau pergi ke toilet. Di rumah makan ini, ada agen bus yang sama untuk melayani pemesanan tiket kembali ke Yangoon. Aku pun pesan tiket di situ untuk pulang ke Yangoon besok pagi pukul 10.30. Di sini, aku baru tau kalau harga tiket sebenarnya cuma 7000 Kyats (7 US $) bukan 10.000 Kyats seperti yang aku beli kemarin. Terus terang sebelum membeli tiket, aku tidak sempat baca catatan kecilku (klepekan) berapa harga sebenarnya. Dan sudah terlanjur percaya kalo orang Myanmar itu jujur-jujur. Ternyata tetap harus hati-hati karena tentu tidak semuanya jujur.


SIAP-SIAP MENDAKI

Kalau tidak ingin nginep di area GR juga nggak apa-apa, bisa ambil Guest House atau hotel di Kyaiktiyo. Rumah makan ini memiliki penginapan, Villa Emerald namanya yang tarip kamarnya 35.000 Kyats per malam.


Untuk mencapai GR, aku harus menaiki puncak Gunung Kyaiktiyo yang tingginya 1.100 meter. Caranya hanya ada satu, yaitu dengan truk. Hah ... dengan truk ? Kami semua naik truk yang sudah hadir di samping rumah makan dengan tangga khusus. Di bagian belakang truk ada delapan deret kursi panjang yang masing-masing diisi enam orang. Jadi satu truk bisa mengangkut 48 orang plus 2 orang di samping sopir.

Truk jenis Mitsubishi FUSO FIGHTER bertenaga besar langsung meluncur menuju puncak Gunung Kyaiktiyo. Udara terasa dingin, semua penumpang mulai berteriak histeris karena truk berjalan sangat kencang pada jalur yang sempit, naik turun dan berbelok tajam. Apabila ada kesalahan sedikit saja, kami semua bisa masuk ke dalam jurang yang menganga lebar. Kelihatannya sopir hanya bertugas membawa truknya tanpa harus memikirkan kondisi penumpangnya di belakang. Jadi keselamatan penumpang adalah tanggung jawab masing-masing individu.

Benar-benar seperti menaiki roller coaster yang sangat menegangkan. Inilah the real adventure of Myanmar. Bagiku, belum ke Myanmar kalau tidak ke GR. Truk beberapa kali berhenti untuk melayani peminta sedekah dan memberi kesempatan giliran truk-truk yang turun ke kota Kyaiktiyo. Kesempatan ini juga dipakai oleh kondektur untuk mengutip ongkos ke GR masing-masing 2500 Kyats.

Pendakian dengan truk belum berakhir, teriakan histeris para penumpang terus terjadi karena 'roller coaster truck' ini melaju 'gila-gilaan', menikung tajam menekuk melebihi 90° dan sesekali berpapasan hebat dengan truk yang menuruni gunung. Kami semua saling berpegangan erat agar selamat dan tidak terlempar jatuh ke luar truk.

Akhirnya spot jantung mereda karena truk sudah tiba di perhentian terakhirnya di GR. Para penumpang pun turun dari truk lewat tangga yang telah disediakan. Kemudian masing-masing menghela nafas dalam-dalam dan memulai berjalan menuju puncak. Bagi turis asing masuk ke area ini harus bayar tiket 6 US $, tapi aku tidak diminta dan tidak juga berusaha membayar dengan inisiatif sendiri. Dasar .... traveler murahan.


Pemandangannya sangat fantastik, dari atas ketinggian puncak Kyaiktiyo hampir 360° dapat melihat keindahan alam sekitarnya. Apalagi saat itu menjelang sunset, oh sungguh luar biasa ciptaan Ilahi ini. Semua orang mengabadikan suasana ini, termasuk para muda mudi menjepretkan kameranya sebagai kenang-kenangan bersama kekasihnya.

Truk yang lalu lalang turun naik ke GR tidak sedikit, nggak ada putus-putusnya. Area GR semakin banyak dipenuhi turis dan penganut Budha yang akan sembahyang di situ.

Setelah sunset berlalu, aku baru sadar kalau aku nggak bawa jaket. Aku hanya bawa kaos AREMA yang kupakai, sikat gigi, kamera digital dan HP saja. Mulanya banyak orang yang memandangiku tapi aku nggak berpikir apa-apa. Belakangan baru tau kalo aku juga mulai merasa kedinginan. Tapi apa mau dikata, aku terlanjur nggak bawa apa-apa. Hasrat yang besar telah mengalahkan kebekuan yang menusuk raga ini. Hampir 100 % pengunjung dan penduduk di sekitar GR mengenakan jaket tebal, kecuali aku. Pantes saja semua mata banyak tertuju ke arahku. Ok lupakan itu semua.

Padahal baru saja menyaksikan pemandangan yang menakjubkan dikala senja hari. Jalan kaki menanjak sedikit saja, aku sudah disuguhkan dengan keajaiban yang lain, batu emas yang menggantung di bibir tebing. Luar biasa ... hampir kutak percaya melihat kenyataan ini. Serta merta aku mengabadikan obyek ini dengan puluhan jepretan foto ke arahnya. Dan aku sendiri dijepret oleh Htat.
Banyak pengunjung yang sengaja datang ke sini hanya untuk sembahyang. Mereka jauh-jauh datang sekeluarga, dengan temannya atau dengan pasangannya. Mereka membawa segala peralatan, bekal termasuk kemah dan sedekah untuk keperluan tempat persembahyangan di sini.




Pada beberapa titik terdapat semacam pos untuk menerima sedekahan berupa uang yang masing-masing ada petugasnya. Bagi pengunjung yang membawa perbekalan yang banyak dan berat, tersedia para pembantu angkut barang menuju puncak. Semua barang diangkut dengan keranjang khusus yang mereka miliki. Bagi pengunjung yang sudah sepuh, bisa dibawa dengan tandu oleh para pembantu khusus yang membawa tandu.


Malam semakin larut, tapi pengunjung masih turun naik silih berganti ke tempat suci ini. Dinginnya malam itu sekitar 5°C. Untuk sedikit menetralkannya, badan perlu dihangatkan dengan makanan dan minuman panas. Aku pesan mie instan rebus campuran aneka sayur plus telur dan sepiring nasi putih. Minumnya aku pesan coffe mix panas. Lumayan, setelah badan berangsur lebih hangat. Untuk itu semua, aku harus bayar 2000 Kyats.
Menikmati suguhan alam yang menakjubkan di malam hari hampir aku selesaikan. Kemudian aku akhiri dengan mengabadikan obyek dan diri ini dalam phose terbaik. Aku harus menginap semalam di guest house area puncak GR. Karena high season, penginapan di sekitar sini harganya naik. Aku dapat kamar yang taripnya 25.000 Kyats, kamar mandinya di luar, tanpa breakfast. Nggak apa-apa dech, cuma semalam aja kok. Kebetulan di guest house ini signal wify-nya banter banget, jadi bisa kirim kabar kabari ke tanah air.

Tadi, Htat pamit padaku karena ia mau bertemu keluarganya yang masih belum kelihatan berada di atas puncak. Maklum mereka sudah tua, apalagi kakek dan neneknya juga ikut. Aku amat kehilangan dia, sampai saat aku kembali ke Yangoon, aku tidak pernah bertemu dia lagi. Oh anak baik, kamu telah menolong bapak dengan ketulusan hatimu. Hanya Tuhan yang bisa membalas segala kebaikanmu. Selamat buat keluargamu ... semoga Yang Kuasa bisa mempertemukan kita kembali.

Sampai hari ini aku belum bisa tidur nyenyak karena kadang-kadang masih teringat kebaikan dan ketulusannya. Anak yang baik, sopan dan cerdas telah menghilang begitu saja. Semoga engkau kelak akan menjadi anak yang bermanfaat buat semua.

Waktunya untuk istirahat, di malam yang semakin dingin. Aku mulai memejamkan mata sambil digoda oleh tikus-tikus yang berlarian di balik atap, sampai-sampai ada beberapa bagian kecil eternit jatuh ke kasurku. Dasar Siti ... Si Tikus




SIAP-SIAP KEMBALI

Pukul tiga pagi aku sudah terjaga dan keluar kamar ingin tau kondisi di luar pada jam segitu. Ternyata di luar tetap ramai oleh hilir mudiknya pengunjung GR. Tentang dinginnya, jangan ditanya lagi. Memang terasa lebih dingin. Tapi tidak dengan aku, Allah maha adil dan maha melindungi hambanya yang tidak membawa peralatan dengan tidak sengaja. Aku yakin itu, minta tolong pada siapa lagi kalau bukan pada Yang Maha Kuasa. Yang berada di dalam guest house aja semua kedinginan. Semua badannya dibalut beberapa lapis pakaian, kaos kaki dan tangan, juga penutup kepala. Apalagi yang berada di luar sana, oh .... dinginnya.



Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa dengan tubuhku. Aku ambil kesempatan untuk mengabadikan beberapa obyek dan aktivitas orang-orang di situ pada dini hari. Kemudian tidur lagi sampai tibanya waktu Shubuh. Fajar mulai tampak, langit di ujung sana mulai ada kemerahan tanda sunrise akan tiba untuk memulai hari yang baru. Di GR, ternyata tidak saja sunset tapi sunrise pun bisa aku nikmati sempurna di sini. Subhanallah .... Maha Besar Engkau Ya Allah.

Sebagai upaya untuk mengusir hawa dingin di dalam tubuh, aku menuju warung, pesan secangkir coffee mix panas. Kemudian mengabadikan beberapa obyek dan aktivitas orang-orang di pagi hari.

Saatnya check out dan siap-siap kembali menuju Kyaiktiyo. Sambil menuju ke pangkalan truk, aku sempatkan beli sedikit souvenir berupa miniatur GR yang terbuat dari batu dan kayu, masing-masing harganya 500 dan 1000 Kyats.

Pangkalan truk sudah disesaki oleh pengunjung yang akan turun kembali ke Kyaiktiyo. Ada yang antri dan ada juga yang langsung naik truk dari samping. Kapasitas  truk tetap diisi oleh 50 orang. Sebelum truk bergerak turun, para penumpang dimintai ongkos masing-masing 2500 Kyats. Truk pun meluncur turun dengan cara yang sama seperti ketika naik ke puncak Gunung Kyaiktiyo. Heboh ... penuh histeria para penumpangnya.

Sambil menunggu bus datang yang akan membawaku kembali ke Yangoon, aku pesen mie instan rebus dengan aneka sayuran yang aku iris sendiri, ditambah lagi dengan telur rebus. Minumnya tetep favoritku coffee mix (cuma 1000 Kyats).


Bus 'Yoe Yoe Lay Express' siap membawaku kembali ke Yangoon (7000 Kyats) tepat pukul 11 siang dan tiba di Mingalar Highway Bus Terminal pukul 4 sore. Lalu sambung dengan bus kota jurusan Sule Pagoda (200 Kyats).

Syukur Alhamdulillah sudah tiba di Garden GH lagi tempat tinggalku sementara di Yangoon. Kamar GH ini telah aku bayar untuk beberapa hari karena kuatir tidak dapat lagi kamar yang murah. Walaupun kehilangan satu hari tanpa aku tiduri tidak menjadi masalah, hanya lost 10 US $ saja tapi hati tetap tenang.

Penjelajahan ke GR berakhir di sini. Saatnya hunting menu makanan malam ini. Bila tubuh ini sudah minta haknya untuk istirahat, aku akan tidur. Supaya besok bisa menjelajah lagi.

Pesanku sebelum tidur, kalau ke GR harus bawa jaket karena udaranya dingin sekali seperti dinginnya Bromo. 



Copyright© by RUSDI ZULKARNAIN 
email  : alsatopass@gmail.com  

      



    




2 komentar:

Anggi Prapdi Prayudha mengatakan...

saya suka pak cerita-ceritanya... apakah bapak sudah menerbitkan buku... saya pengen beli... salam dari Solo :D

seratusnegara mengatakan...

Mksh Anggi, bukunya blm ada
Salam juga