BERAMAL LEWAT TULISAN

Sunday, 5 January 2014

RAHASIA DIBALIK MISTERY KEAGUNGAN BAGAN (Burma -4)

                                           
BAGAN atau PAGAN, bagi pelancong mengunjungi daerah yang satu ini adalah suatu kewajiban. Walaupun jaraknya dari Yangon cukup jauh dan perlu 10 jam an dengan bus, tetap saja turis terus berbondong-bondong mengunjunginya.

Ada apa sih di Bagan ? Untuk mengetahuinya ya harus datang sendiri ke sana biar ada surprise-nya.

Bagan Area, adalah kota lama yang mempunyai sekitar 2000 pagoda yang besar dan kecil.  2000 pagoda ? Aku tidak akan bahas sejarahnya, karena tidak mempunyai kemampuan untuk menggalinya. Ayo kita selidiki dengan ringan dan santai ..... 


BUS KE BAGAN

Cukup membeli tiket bus di depan Garden GH jurusan Yangon - Bagan yang harganya 15.000 Kyats 'Ks', aku ga perlu repot lagi harus beli di Terminal Antar Kota Mingalar. Setiap penginapan biasanya dapat membantu pembelian tiket dengan sedikit tambahan Kyats.


Pemberangkatan malam (18.30), itu yang kupilih, biar tiba di Bagan sekitar shubuh. Tidak ada pengantaran untuk ke Terminal Mingalar, aku harus berangkat sendiri dengan bus kota yang murah meriah (200 Ks) saja. Dengan bus ke Mingalar dari depan Sulu Pagoda harus betul-betul memperhitungkan waktunya. Karena untuk sampai ke sana perlu waktu setidaknya 1,5 jam. Aku ambil bus no 43 menuju Mingalar dan duduk di samping sopir, plus barang bayarnya jadi 500 Ks bukan 200 Ks lagi.

Tidak pernah membayangkan sebelumnya bentuk dan suasana Terminal Mingalar, kirain sama dengan terminal-terminal bus lainnya. Yang ini bener-bener berbeda, jalannya cukup berdebu dan areanya sangat luas. Aku tidak bisa membedakan harus menunggu dan berangkat dari mana. Hanya bermodal bertanya dan tiket di tangan, step by step akhirnya ketemu juga. Kalau ga kuat bawa barang berat dan ga kuat jalan jauh, jangan coba-coba mengikuti caraku ini karena ongkos pijatnya bakalan lebih mahal daripada harga tiket ke Bagan.

Semua penumpang menunggu di agen, dan keadaan bus terus diperiksa kelengkapannya dan diberi pengharum agar selama di perjalanan aman nyaman. Bus hanya boleh dinaiki 30 menit sebelum berangkat. Barang-barang bawaan yang sangat besar dimasukkan ke dalam bagasi, sedangkan koper dan tas semua dipaksakan naik ke atas bus.

Bus dengan kapasitas 41 penumpang pasti kurang nyaman, walaupun seatnya 2 x 2. Yang bikin sesak bus dan kurang nyaman, karena ada tambahan kursi di sepanjang lorong tengah. Disamping sangat merepotkan, itu juga bikin susah penumpang yang duduk di situ harus melipat kursinya kalau ada yang mau lewat. Apalagi kalau ada sesuatu yang membahayakan dengan bus itu sendiri, sangat sulit untuk menyelamatkan diri. Bus-bus type lama memang seperti itu. Tapi bus yang terbaru seatnya 2 x 1 tapi harga tiketnya lebih mahal.

Seperti umumnya bus malam di tanah air, bus dilengkapi TV Flat, ber-AC (tapi kaca jendelanya bisa dibuka untuk meludah sirih), air mineral, tisu basah dan tanpa toilet.

Sediakan jaket dalam bus, karena rata-rata AC nya sangat dingin. Ketika pemeriksaan akhir sebelum berangkat, aku diminta menuliskan nama dan nomor paspor pada manifes penumpang. Sedangkan yang lain aku lihat di manifestnya semua ditulis dalam Bahasa Burma. 

Bus meluncur melewati jalan yang lumayan bagus dan masuk ke jalur tol versi Myanmar. Beberapa jam meluncur, akhirnya bus berhenti untuk memberi kesempatan penumpang beristirahat makan dan minum atau pergi ke toilet. Tempat peristirahatan bus ini cukup mewah, lengkap dan luas sekali. Puluhan bus berhenti di sini, para penumpang biasanya memesan makanan dan minuman atau membeli sesuatu sebagai oleh-oleh.


Isirahatnya di restoran Pionir, di situ masih banyak restoran selain Pionir. Wifi nya banter dan free connection tanpa password. Aku akui tempat peristirahatan ini sangat besar, belum pernah aku lihat sebesar ini di Jawa sekali pun.

Agar tidak bingung, aku selalu dekat dengan penumpang yang satu bus denganku. Hal ini untuk menghindari kehilangan jejak dimana bus berada, karena nama bus semuanya pake Bahasa Burma.

Tidak semua jalan tol menuju Bagan pelayanannya standar. Untuk membayar tiket tol saja, tidak jarang kondekturnya harus turun karena loket tol ada di sebelah kiri sedangkan driver ada di sebelah kanan. Meng-input data kendaraan untuk tiket tol juga masih menggunakan laptop. Ya masih begitulah keadaannya.

Istirahat kedua hanya beberapa jam saja sebelum memasuki Bagan, para penumpang banyak yang turun dan masing-masing berjalan cepat menuju semak-semak untuk buang air kecil. Sebelum memasuki Bagan, banyak penumpang yang turun di tengah kegelapan malam. Biasanya di sini yang bikin heboh, karena dalam keadaan mengantuk harus turun mengangkat barang bawaan yang banyak itu. Ada saja barang yang tertinggal atau kelupaan dibawa, jadi harus bolak balik mengambilnya. Bagi mereka namanya juga pulang kampung. Berbeda denganku, aku kan turis. Hhe ....


BAGAN KOTA MIMPI

Akhirnya sampai juga di Terminal Bagan, yang kondisinya jauh dari kesan sebagai suatu terminal. Waktu itu sekitar pukul 5 pagi, mata masih sulit untuk dibuka. Aku berjalan dalam kondisi mengantuk menjauhi bus, seketika itu juga banyak orang yang menawarkan jasa angkutan ke hotel atau guest house 'GH'.


Aku ingin cepat-cepat istirahat di GH, seorang yang telah menawarkan angkutan ke penginapan aku sepakati saja harganya 3000 Ks. Memang Bagan sudah tidak pure lagi sebagai Myanmar aslinya, di sini bisnis sudah mulai bermain. Ternyata betul, orang yang menawarkan jasa angkutan tersebut itu hanya bertugas mencari calon penumpang, sedangkan angkutannya milik orang lain. Ia mengantarkan aku ke angkutan yang ada di tepi jalan dalam kegelapan pagi buta. Ternyata angkutannya hanya berupa delman berikut kusirnya sudah ada di situ. Nah itu, seperti yang aku duga ... "Silakan naik Pak". Katanya. Sedangkan orang yang pertama tadi sudah berlalu mencari calon penumpang lainnya (bagi-bagi fee-lah).

Kalau aku pikir, traveling sendirian jadinya agak mahal. Karena tidak bisa sharing penginapan dan sharing angkutan umum seperti taksi atau delman ini yang bisa ditumpangi 2 atau 3 orang.

Aku sedikit bingung, katanya kalau masuk Bagan harus bayar 15 US $. Pihak hotel atau yang lain juga bilang begitu, tapi sampai aku pulang ke tanah air aku tidak pernah merasa bayar apa-apa. 

Kusir delman menanyaiku, "Ini mau ke mana ?". Aku bilang mau ke GH May Kha Lar. Sebentar saja, aku sudah tiba di May Kha Lar tapi ga dapet kamar (full). Akhirnya aku suruh dia mencarikan GH yang lain, lalu dia menanyakan ketersediaan kamar pada temannya lewat telepon. Aku naik delman lagi bersamanya dan dapat kamar di Motel Eden (20 US $). Proses registrasi selesai, kunci kamar sudah di tangan. Mungkin saja kusir delman dapat fee dari Motel tersebut (nggak mau mikir akh). Pak kusir langsung menawariku, "Apa mau lihat sunrise pagi ini ?". Aku bilang harus istirahat dulu masih ngantuk. Dan dia pesan padaku "Kalau perlu delman lagi tolong hubungi saya, atau besok pagi lihat sunrise-nya ?". Aku bilang, I'm not sure.


Dapat kamar di lantai 2 persis di depan tempat para tamu breakfast setiap pagi. Aku pasang kompas shalat dan langsung Shubuhan, lalu tidur.

Dua jam kemudian siap santap breakfast, menu buah pisang, semangka, roti, omelete dan coffee mix. Cukup menguntungkan, kalau check in shubuh berarti bisa breakfast dua kali, pagi ini dan esok pagi.

Benar saja, Pak kusir sudah menungguku di lobby dan menawarkan lagi jalan-jalan dengan delmannya. Aku bilang, aku mau ke temanku yang sedang menunggu di dekat pasar (itu hanya alasanku aja untuk menghindarinya). Ok ya, aku cepat berlalu sambil senyum kepadanya.

Tapi, aku benar-benar berjalan ke pasar untuk melihat keunikan yang ada di dalamnya dan mengabadikan dengan kamera. Aku ingin segera tau dan menikmati keindahan ribuan pagoda yang ada di Bagan. Aku berjalan lagi sambil mencari penginapan yang lebih murah. Penginapan rata-rata sudah full karena ini high season dan ada even Sea Games. Ada beberapa penginapan yang hanya melayani tamu domestik saja, bukan untuk turis. Di tepi jalan ada persewaan e-bike, aku mampir ke situ karena aku lihat e-bike nya cuma ada satu tapi baru, pasti ini harga sewanya tidak komersil. Benar saja ibu muda yang manis si empunya e-bike hanya menawarkan 6500 Ks all day. Padahal di tempat lain rata-rata harga sewanya 8000 Ks per hari. Menandatangani persetujuan yang simple lalu bayar dan siap meluncur walau harus belajar dulu cara mengendarainya. selain e-bike, ada juga sepeda pancal (gowes) yang harga sewanya lebih murah maksimum 3000 Ks per hari. Tapi kalau harus ngelilingi Bagan pake sepeda pancal bisa gempor.


Dengan e-bike aku cari penginapan yang lebih murah untuk besok, akhirnya ke May Kha Lar GH yang kemarin aku hampiri. Besok siang ada yang idle dengan harga 10 US$, namaku dicatat untuk besok tanpa harus deposit. Kemudian dengan e-bike aku meluncur di jalur kanan yang berlawanan aturannya dengan di negeri sendiri. Yang penting hati-hati bro. Tidak lupa, sebelum meluncur aku beli air mineral kemasan besar sebagai bekal di perjalanan.

Tempat pertama yang aku singgahi adalah pagoda dalam komplek yang besar, kemudian e-bike meluncur lagi menyusuri lokasi yang lain. Ketika melihat-lihat pagoda tua yang sudah lama tidak dipakai lagi, aku berkenalan dengan pasangan muda Perancis David dan Eva. Akhirnya kami sepakat untuk jalan bersama menjejahi Bagan si kota mimpi dengan 3 e-bike.

David sangat cekatan membaca peta yang tidak begitu jelas jalurnya. Tapi ia punya naluri dan analisa yang tajam, sehingga tujuannya selalu tepat. Banyak sudah pagoda-pagoda yang telah kami singgahi, kami masuki dan kami naiki. Semuanya membangkitkan emosi jiwa, kekaguman dan masih bertanya-tanya dalam hati, apakah ini masih di dunia ? sambil mengucek-ngucek mata hampir tak kupercaya. Seperti berada di dunia lain.


Kami menyusuri jalan-jalan tanah yang berdebu tebal di musim yang panas ini. Jalan yang tidak jelas ke mana ujungnya dan hampir tidak ada seorang pun bertemu dengan kami, yang ada cuma kami bertiga. Saling bahu membahu dalam perjalanan ini sangat mengasyikan, walaupun kami berbeda bangsa tapi sangat kompak di lapangan. Sesekali Eva terjatuh dari e-bike nya dan aku harus menolongnya serta terus mengawalnya dari belakang.               

Untuk menuju Bagan dari Yangon ada beberapa alternatif, bisa pake bus, kereta api http://www.seat61.com/Burma.htm  atau pesawat udara seperti Air Bagan, Myanma Airways, Air Mandalay. Dari Mandalay bisa dengan boat ekspres atau ferry menyusuri Sungai Irrawady (Ayeyarwady).


2000 PAGODA 
  
Bersama David dan Eva, telah banyak pagoda yang aku singgahi melewati jalan-jalan tanah di tengah rimbunnya semak liar. Ketika menjelahi puluhan pagoda yang besar dan harus masuk ke lorong-lorong gelap di dalamnya, aku tidak pernah berpikir hadirnya hewan berbisa seperti ular atau kalajengking. Baru setelah selesai semuanya, aku merenung. Itu kan tempat-tempat yang paling disukai hewan berbisa untuk menunggu mangsanya. Iiii .... badan ini merinding kalau mengingatnya lagi. Kekuatiran itu sebelumnya tidak pernah terpikir sama sekali karena semuanya tertutup oleh keagungan maha karya manusia di Bagan.


Pagoda-pagoda yang tersebar luas pada area puluhan mil persegi ini, mempuyai beberapa gerbang masuk kerajaan. Kebanyakan pagoda berwarna merah bata dan hanya ada beberapa yang berwarna putih. Aku belum bisa membayangkan dulu seperti apa tata kehidupan masayarakat di sini. Tentu suasananya ramai sekali dan makmur karena berada di tepi Sungai Irrawady (Ayeyarwady) yang bisa menembus ke luar masuk mancanegara. Bagan atau Pagan berada hampir di tengah-tengah daratan Myanmar. Pengaruh besar kekuasaan para raja merambah sampai ke mana-mana. Andai saja sekarang ini orang-orang disuruh membuat ribuan pagoda seperti di Bagan, aku masih ragu akan kemampuannya. Dulu itu pakai teknologi apa ? apa hanya disulap bim salabim bisa jadi seperti itu, yang katanya di zaman dulu banyak orang 'sakti'. Itulah yang terjadi, maha karya orang-orang hidup pada abadnya masih bisa kita nikmati hingga saat ini. Mari bersama-sama orang di seluruh dunia menjaga warisan dan milik dunia ini dengan sebaik-baiknya ... walau aku nggak sengaja tidak bayar entrance fee masuk ke Bagan. Hhe.

Adanya Bagan sampai saat ini, yang pasti karena adanya kerajaan yang memerintah pada masing-masing zamannya. Para raja menginstruksikan rakyatnya membangun tempat-tempat ibadah sesuai keyakinannya pada saat itu sebagai wujud ketaatan pada Tuhannya. Itulah yang terjadi di Bagan, rakyatnya membangun itu semua secara berkesinambungan di masa raja yang satu ke masa raja lainnya. Dan tiba juga saatnya kerajaan itu harus runtuh karena perkembangan zaman yang penuh dengan persaingan perebutan kekuasaan di dunia ini.


Masing-masing pagoda mempunyai nama dan sebagian ada papan namanya. Berikut adalah nama-nama pagoda besar yang ada di Bagan, Mahabodi, Bu Phaya, Gawdawpalin, Shwegugyi, Mingalar Kyaung, Thabnyiyu, Shwe Zi Gone, Upali Thein, Tansaung Kyaun, Gubyaukgyi, Gubyauknge, Htilominio, Alotawpyi, Oak Kyaung Gyi, Ananda, Mingalar Zedi, Mya Zedi, Nathlaung Kyaung, Shwe San Daw, Dhamayangyi, Sulamani, Thamanpaya, Hsu Taung Pyi, Dhammayazaka, Tamani, Tamani Oak Kyaung, Seinnyet Nyima & Ama, Thingaraza, Nagayon, Apeyadana, Nanpaya, Manuha, Nanda Pyin Nya, Thambula dan Payathonzu.

Untuk mengamati dari atas ketinggian dengan santai bisa singgah di Tower Nan Myint yang mempunyai 13 lantai, dilengkapi dengan restoran di setiap lantainya (10 US$). Harga makanan dan minumannya di sini sangat mahal. Tower ini buka mulai pagi sampai malam. Dari tower ini dapat menyaksikan sunrise dan sunset yang sangat indah. Menikmati panorama Bagan dengan cara lain, adalah naik balon udara yang mahal taripnya sekitar 300 US$. Ada cara lain lagi yang lebih murah, yaitu melihat Bagan dari Mount Popa yang jaraknya 1 jam perjalanan dengan mobil . Untuk ke sini harus sewa mobil l0 US$ per orang (pp). Kalau minat, bisa hubungi crew hotel, layanan antar jemput menuju ke Mt. Popa, termasuk melihat panorama alam dari atas.



Bagi anda yang ingin foto-foto pre wedding, tempat ini bisa menjadi pertimbangan anda. Karena di sini banyak yang melakukannya bersama pasangan masing-masing sebelum menikah.

Bagan dibagi beberapa wilayah utama, pertama adalah Nyaung-U tempat para turis stay, pasar dan kegiatan ekonomi lainnya. Yang kedua, Old Bagan, adalah bekas kerajaan yang dipenuhi ribuan pagoda. Dan yang terakhir adalah New Bagan, yaitu perkotaan kecil dimana banyak penduduk tinggal saat ini. Airport-nya sendiri bernama Nyaung-U Airport yang berada di Nyaung-U.

Old Bagan, area puluhan mil persegi saat ini sebagai situs arkeologi terbesar. Setelah terjadi bencana, seperti banjir besar dan gempa bumi di Bagan, banyak pagoda yang semula berjumlah ribuan menjadi berkurang jumlahnya, runtuh atau tidak utuh lagi bentuknya.



KESEHARIAN DI BAGAN

Banyak tempat hiburan siang dan malam hari di Bagan. Kalau dari pagi sampai sore seharian penuh, biasa untuk menjelajahi pagoda. Maka malamnya diisi dengan hiburan sambil makan dan minum. Tempat hiburannya bermacam-macam ada berupa tempat khusus, restoran, cafe atau rumah makan biasa.  

Kegiatan masyarakat khususnya di Nyaung-U biasa-biasa saja, ramainya hanya mulai pagi sampai sekitar jam sembilan malam. Di pagi hari terutama di Mini Sithu Market, aktivitas masyarakatnya sangat sibuk berbelanja untuk berbagai keperluan. Ramai sekali ... Sedangkan pertokoan yang berada di pinggir jalan utama ramai dengan turun naiknya penumpang dari angkutan, bongkar angkut barang dan jual beli segala macam barang termasuk pelayanan pemesanan tiket untuk turis. Di suatu malam, aku coba ngopi di kedai sambil nonton bareng bola ajang Sea Games. Di situ aku bertemu dengan seorang TKM 'Tenaga Kerja Myanmar' yang pernah kerja di Malaysia. Aku pun dengannya bahasa Melayu-an.

Pada kesempatan lain, di kedai depan Motel Eden aku pesan banana pancake coklat untuk dibawa pulang dan nasi goreng sayur plus telur. Semuanya 3000 Ks. Di kedai itu, aku ngobrol-ngobrol bebas dengan para traveler dari beberapa negara. 

Waktunya untuk istirahat, kembali ke Motel sambil memeriksa kondisi pakaian yang aku cuci sendiri dan aku keringkan dengan kipas angin mulai pagi tadi. Rencananya habis sarapan esok pagi aku akan meninggalkan Bagan menuju Mandalay dengan bus. Sebetulnya ingin coba kapal ferry dari Bagan ke Mandalay menyusuri Sungai Irrawady (Ayeyarwaddy) yang taripnya 35 US$.

Saranku, tinggal di Bagan cukup dua hari saja. Sediakan budget lebih karena harga-harga lebih mahal dibanding kota lain. Sharing dengan teman lebih baik untuk menekan cost.

Sampai ketemu di Mandalay, bye .. bye ..    

       
Copyright© by RUSDI ZULKARNAIN 
email  : alsatopass@gmail.com 
   

6 comments:

Donny said...

pagi pak..
blog pak rusdi sdh bisa diakses dari warnet saya.. rupanya akses ke beberapa blogspot kemarin di block, skrg sdh normal lg..

seratusnegara said...

pagi mas,

Mgkn ada maintenance dari gmail
Mksh.

seratusnegara said...

blogspot dari google mksudnya

Effi Rahmawati said...

Boleh tahu pak...brp total biaya khusus di bagan dan total biaya keselurahan dari perjalanan

Anonymous said...

Salam kenal pak Rusdi..
2 minggu lagi saya dan adik sy mau ke myanmar.
Dari Yangon sebaiknya ke Mandalay dulu baru ke Bagan,
atau Yangon ke Bagan baru ke Mandalay ya pak ?
supaya efektif dan optimal jalan2 nya, karena kami hanya punya waktu 5 hari di Myanmar.

Terimakasih pak Rusdi.. :)

rusdi zulkarnain said...

Salam kenal juga,

Menurut saya ke Bagan dulu, karena ini yang utama. Setelah itu baru ke Mandalay. Walaupun menurut saya sama saja kalau dibolak-balik.

Cheers