BERAMAL LEWAT TULISAN

Senin, 26 Oktober 2015

AIR TERJUN 'TUMPAK SEWU'


Selepas Maghrib aku tiba di rumah setelah seharian eksplor Goa Tetes dan Tumpak Sewu di perbatasan Malang - Lumajang. Kami berdua sangat kelelahan, apalagi istriku kentara sekali terlihat kepayahannya. Sampai-sampai istriku minta tolong pada anakku untuk membelikan param kocok, biar rasa capeknya cepat berlalu. Maklumlah kami ini bukan 'Balita’ lagi, tapi ‘Manula’.
Itulah gambaran betapa beratnya medan yang harus kami lalui menuju Tumpak Sewu dan Goa Tetes, Niagaranya Indonesia.



GOA TETES

Tujuan pertama kami adalah ke ‘air terjun’ Tumpak Sewu, sedangkan ke Goa Tetes adalah tujuan kami yang kedua. Berikut, aku kisahkan perjalanan ke Goa Tetes yang cukup menantang. Meski ada tantangan kami tidak mau menyerah begitu saja dan sayang kalau harus melewatkan kesempatan ini. Goa Tetes lokasinya berada satu kawasan dengan Tumpak Sewu yang memiliki panorama sangat indah, eksotis dan mengagumkan.



Kami harus bersusah payah untuk menjangkaunya, tapi niat ke sini sudah kami pasang semenjak dari rumah. Trek yang harus kulalui adalah bukit berbatu dengan kemiringan 60̊ hingga 85̊ dan hampir semua permukaannya diguyur dan dialiri air deras.

Tidak ada trek yang permanen untuk melewatinya, jadi bebas mau lewat mana saja juga bisa. Yang penting sampai tujuan. Di situ hanya terdapat trek sederhana yang dilengkapi tali karet dari ban bekas. Untuk menjangkaunya, diperlukan konsentrasi ekstra, agar semuanya bisa selamat dan berjalan lancar. Kehati-hatian dan kesabaran harus kulakukan karena membawa istri yang harus selalu dikawal, dituntun step by step naik turun, melangkah dan menyebrang sambil mengandalkan kekuatan tali karet sebagai bantuannya.



Menuju ke Goa tetes umumnya bisa dilakukan dari dua jalan masuk. Yang pertama, dari jalan masuk di patok km 37 dari Turen, Desa Sidorenggo, Kecamatan Ampel Gading, Kabupaten Malang. Atau yang kedua dari Desa Sidomulyo, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.

Kami memilih masuk dari yang pertama, karena sedikit lebih dekat kalau dari Malang. Ya benar, masuknya dari gerbang tepat sebelah patok kilometer 37 arah Turen. Masuk lagi ke dalam sejauh 500 meteran menuju parkiran. Dari situ wajib turun meniti trek tangga dari bambu dengan bantuan tali sebagai pegangannya. Cara yang paling aman melewatinya yaitu turun menghadap ke trek tangga bambu. Disamping cara ini dianggap lebih aman, cara ini juga lebih mudah dan bisa mengurangi rasa takut karena faktor ketinggian. Kalau takut ketinggian, sebaiknya urungkan niat anda, karena resikonya sangat besar bila terjadi sesuatu di tengah jalan. Namun demikian spot air terjun masih bisa dinikmati dari atas, jadi tidak perlu turun ke dasar jurang di lembah yang curam.  



Biasanya, kalau masuk dari Pronojiwo yang ditemui pertama kali adalah Goa Tetes dulu, kemudian berjalan lagi 800 meteran, maka akan ketemu Tumpak Sewu. Sedangkan sebaliknya, kalau dari Desa Sidorenggo ketemu Tumpak Sewu dulu, lalu lanjut naik ke Goa tetes. Basicly, sangat memungkinkan masuk dari Pronojiwo dan keluarnya di Desa Sidorenggo atau sebaliknya. Atau datang dan pulangnya dari jalan yang sama, seperti yang kami lakukan, datang dan pulang melalui Desa Sidorenggo.


Menuju area Goa Tetes, trek-nya ektrem menantang namun indah. Semuanya bercampur menjadi satu. Itulah yang menggugah hati untuk mencobanya. Hampir bisa dipastikan, semua pakaian kita akan basah kuyub karena harus melewati aliran air, kena terpaan air atau sengaja ingin berbasah-basahan di sini.




Bebatuan tebing yang berwarna coklat kekuningan ternyata tidak licin dan tidak tajam seperti karang. Terasa unik, sebagian trek-nya menyerupai anak tangga bukit batu alami yang sangat membantu sebagai tempat pijakan kaki. Jurang yang terjal tempat jatuhnya air, pegangan besi, tali karet,trek tanah berbatu dan tangga bambu vertikal menjadi bagian utama yang terdapat di trek ini.




Jika berhasil menjangkau Goa tetes, maka segala rasa lelah, takut dan kesabaran akan terbayar lunas setelah melihat keindahannya.

Siapkan plastik atau pembungkus bahan kedap air untuk melindungi perlengkapan anda, seperti pakaian, makanan, dompet, kamera, HP atau apa saja yang berisiko terendam air. Siapkan juga handuk kecil, head lamp, air mineral, bekal dan pakaian pengganti. Kami membawa semua itu meski dalam jumlah minimal, agar tidak berat membawanya.




Di dekat Goa Tetes, tampak stalaktit (batu yang menonjol ke atas) dan stalakmit (batu yang menonjol ke bawah). Begitu juga di dalam goa, kami jumpai hal yang serupa. Diperlukan senter atau head lamp untuk menerangi dalam goa. Inilah yang dinamakan Goa tetes, karena banyaknya air yang menetes, mengalir dan berjatuhan deras di sekitar goa. Kami tidak lupa mengabadikan situasi ini meski hanya dengan sebuah HP berkamera. HP kubungkus dengan plastik bening sederhana, bukan plastik anti air khusus buat gadget. Membawa plastik seperti ini sangat penting ketika mengabadikan Tumpak Sewu, menjangkau Goa Tetes atau menyusuri sungai. 


Tumpak Sewu

Tumpak atau Coban atau Grojogan atau Curug itu sama saja artinya dengan air terjun. Ini adalah Tumpak Sewu, yang berarti air terjun dengan banyak jatuhnya aliran air ke dasar. Yang ini bukan air terjun seperti yang biasa kulihat, yang beraliran tunggal.

Lokasi dan cara mencapainya seperti yang kujelaskan di atas. Tunda datang ke sini pada masa liburan, karena dipastikan pengunjungnya penuh sesak. Apalagi kalau lewat Desa Sidorenggo melewati trek tangga bambu, semua harus antri satu persatu (pada waktu bersamaa, maksimum boleh lima orang saja).




Ke sini, kami cukup pakai sepeda motor. Berangkat pukul 05.30 pagi dan tiba pukul 08.00 (total 2,5 jam). Jalur yang kami lalui adalah Kota Malang - Gondanglegi - Turen - Dampit - Desa Sidorenggo, seluruhnya menempuh jarak sekitar 70 km.




Selepas Dampit, jalannya berliku-liku dan sedikit naik turun. Di jalur ini banyak truk yang menghambat perjalanan kami. Masuk ke sini dikenakan restribusi parkir sepeda motor 5K dan tiket masuk ke Tumpak Sewu juga 5K. Sedangkan ke Goa Tetes harus bayar lagi 5K.



Kami harus menuruni tebing setinggi dua ratus meteran melalui tangga bambu. Turunnya perlu konsentrasi penuh. Apalagi aku harus menjaga istri, bawa ransel dan mengabadikan setiap momen yang ada di sekitar sana. Pastinya, tenaga dan pikiranku cukup terkuras untuk perjalanan ini.

Tumpak Sewu ketinggiannya sekitar 175 meteran dan aliran airnya berasal dari Gunung Semeru. Ketika semua aliran airnya tiba di bibir tebing yang luas, dari situ airnya menyebar dan menciptakan air terjun massal sehingga dinamakan Tumpak Sewu.

Semula, air terjun dan dasarnya hanya bisa kami saksikan dari kejauhan saja (dari atas). Tetapi kini, kami sudah berada di dasarnya dan bisa melihat tingginya tebing yang kami turuni tadi.

Hanya decak kagum dan terus ingat pada Allah SWT. Sang Penciptanya. Hanya itu yang terus bisa kami lakukan. Sangat luar biasa yang tidak hanya bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Padahal, kami datang pada saat puncak musim kemarau. Tetapi masih saja ada air deras yang terus berjatuhan dan mengalir mengikuti alur sungai di dasaran antara dua tebing tinggi hingga ke PLTA Ampel Gading.

Puas menyaksikan keindahan ciptaan Ilahi di sekitaran Tumpak Sewu, kami beranjak dari situ menyusuri sungai sampai di kaki Goa Tetes. Tidak semua permukaan sungai dipenuhi dan dialiri air, karena ini musim kemarau. Jadi ada bagian sungai yang hanya dipenuhi hamparan pasir dan batu-batu besar yang bermunculan.

Ingin tubing, yaitu semacam arung jeram (rafting) dengan ban dalam mobil ? Di sini, di Coban Sewu tempatnya. Ban-ban akan berjalan di alur sungai sepanjang lebih dari tiga kilometeran hingga di PLTA. Paketnya untuk sepuluh orang, masing-masing bayar 100K, bisa group atau gabungan.




Biasanya, peserta harus standby di dasar jurang dan dibawa menyusuri aliran sungai. Di dekat ujung sana disiapkan makan siang dan acara minum kopi, lalu dengan jeep peserta dibawa sampai di parkiran. Jika berminat melakukannya bisa kontak dan janjian dengan Mas Ciko atau Tholib di 081334286437.

Hampir di sepanjang alur sungai mulai dari Tumpak Sewu hingga kaki Goa tetes semuanya bisa dinikmati. Meski begitu, kita tetap harus waspada. Berada di antara celah lembah yang diapit tebing tinggi sangat mengasyikan sekaligus mengkuatirkan. Apalagi di musim penghujan, airnya lebih deras dan dinding tebing bisa saja runtuh sewaktu-waktu. Tampak bekas longsoran tebing pernah terjadi di sini sebelumnya. Hati-hati juga kalau bersefie, terutama di tepi jurang Tumpak Sewu dan di Trek Goa Tetes.



Akhirnya, kami bisa mandi-mandi di dalam telaga kecil yang sangat bening airnya, sambil menikmati pancuran air terjun kecil di dekatnya. Sebelum nyemplung ke telaga kecil, aku titip barang pada warung kecil di sebelahnya. Kami pesan mie instan cup (8K) dan sebotol air mineral tanggung (4K). Habis berendam di telaga, racikan mie instan panas langsung kami santap bersama singkong rebus yang sengaja kami bawa dari rumah. Lalu berbagi dengan orang-orang yang ada di situ.

Setelah itu, kami naik ke Goa Tetes seperti yang kuceritakan di awal tadi. Dan sekitar pukul 3 sore, kami kembali melewati jalan yang sama. Kalau awalnya menuruni trek tangga bambu, kini sebaliknya memanjatnya sampai dekat parkiran.


Tiba di rumah sekitar pukul 6 petang, kelelahan sambil membongkar barang bawaan bekas perjalanan tadi. Tidak lupa, termasuk mengeluarkan beberapa kilo salak pondoh yang kubeli dari hasil kebun masyarakat lokal desa ini.

Sempatkan jelajahi keindahan alam Indonesia.
  



     Copyright© by RUSDI ZULKARNAIN 

Tidak ada komentar: