BERAMAL LEWAT TULISAN

Tuesday, 1 November 2016

DARI MALANG KE ACEH LEWAT KUALALUMPUR

Menurutku, sangat jarang orang melakukan perjalanan dari Malang ke Aceh lewat Kualalumpur Malaysia. Masak masih sama-sama di Indonesia, ke Aceh harus melalui negeri jiran lebih dulu. Sombong bener nih orang, cari kerjaan aja. Kebanyakan duit kali. Mungkin celotehan seperti itu yang bakalan orang lain lontarkan padaku.


MALANG - BANDA ACEH

Kalau ke Aceh umumnya dari Surabaya terbang dulu ke Jakarta lalu ke Aceh. Atau dari Jakarta ke Medan dulu, lalu Aceh.

Ya, aku ingin yang anti mainstream, dari Malang ke Aceh lewat Kualalumpur. Inilah yang kami lakukan karena biayanya sangat murah. Untuk semua tiket, kami hanya bayar airport tax-nya saja. Tiket pp berdua dari Surabaya-Kualalumpur dan Kualalumpur-Banda Aceh, totalnya hanya 1,2 Juta Rupiah.

Ya, lumayanlah meski harus sedikit memutar tetapi bisa singgah bernostalgia beberapa hari di negeri jiran. Seperti biasanya, aku beli tiket promo-an tersebut dari maskapai budget asal negeri tetangga.

Ini adalah awalnya perjalanan kami yang sedikit panjang, hampir sebulan lamanya. Sebab, selesai dari perjalanan ke Aceh dan Malaysia, akan kusambung lagi ke Iran.

Let's go simak kisah perjalanan kami ke Tanah Rencong atau yang lebih akrab dengan sebutan Daerah Istimewa Nangroe Aceh Darussalam, Negeri Serambi Mekkah.

Ketika tau berangkat tanggal 5 Oktober, istriku bilang, "Abang sengaja ya pilih tanggal itu ? Tanggal 5 kan waktu kita saling kenal untuk yang pertama kali. Itu terjadi 30 tahun yang lalu".

Kebetulan aja pas ada promo tiket murah di tanggal itu. Setelah belakangan sadar, pilihan tanggal 5 itu tentu datang dari Allah, jadi bukan dariku. Sebab, aku hanya meng-klik tanggal 5 itu karena harganya murah, bukan karena yang lain.

"Jadi Abang sudah lupa dengan tanggal perjumpaan kita ?." Aku hanya tersenyum merespon pertanyaan istriku. Kalau tanggalnya pas sama dengan perjumpaan kita, ya dinikmati dan disyukuri aja. Berarti Allah sayang kita. Hhee.
KLIA2
Kami sangat rileks terbang dari Surabaya ke KLIA2 pada tengah malam. Dan bisa berleha-leha santai sambil mencicipi aneka kuliner di KLIA2 Airport yang sudah lama kami kangeni.

Setelah santai-santai beberapa jam di KLIA2, akhirnya kami harus check in kembali buat terbang ke Banda Aceh, take off pukul 07.45 pagi.

Semuanya berjalan  mulus, dalam waktu 1 jam 40 menit pesawat mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda 'SIM'. Tampak arsitektur bandaranya menyerupai masjid karena ada kubahnya di beberapa sisi atapnya.


PETUALANGAN DI BANDA ACEH

Bus Damri kebetulan hari itu tidak beroperasi masuk bandara. Katanya, karena penumpang sepi. Akhirnya kami pakai mobil sewaan (100K) ke kota.

Mobil sewaan berhenti singgah di pemakaman massal korban tsunami tahun 2004, karena dari Bandara ke Banda Aceh jalannya sejurusan. Pekuburan ini letaknya di Siron dengan jumlah jenazah yang dikubur sekitar 46 ribuan. Speechless dan hanya bisa berdoa semoga semuanya khusnul khotimah. Aamiin YRA.
Abang Heri namanya, driver yang membawa kami ke kota. Dia sangat cekatan dan ramah. Tawaran Abang Heri singgah ke beberapa spot wisata dan mencarikan hotel murah, sulit kutolak karena semua itu tidak perlu tambahan ongkos lagi.

Hampir semua spot wisata di Banda Aceh masuknya gratis, terutama yang berhubungan dengan musibah tahun 2004, seperti museum tsunami, situs PLTD terapung atau terdamparnya kapal kayu di atas rumah di Lampulo karena hantaman gelombang raksasa tsunami. Meski semuanya gratis, peristiwa tersebut menjadi peristiwa yang paling menyedihkan  memilukan hati bagi masyarakat Aceh dan menjadi bencana nasional bahkan internasional. Kejadian ini sebagai tonggak awal agar kita selalu mau instrospeksi diri untuk lebih mendekatkan diri pada Illahi Rabbi.

Penduduknya yang ramah dan suka menolong, menjadi ciri khas masyarakat Aceh, meski cuacanya panas karena dekat dengan laut namun tidak merubah tabiat baiknya. Kaum wanitanya tampak dimana-mana hampir semuanya berhijab. Pantas saja disebut Serambi Mekkah karena hampir semuanya bernuansa Islami. Namun namanya juga dunia, jadi di manapun masih ada saja yang jahat dan ada yang baik.

Museum Tsunami

Kami ambil penginapan budget di Jalan Sultan Iskandar Muda, Wisma Nusa Cendana. Letaknya strategis, jadi dekat kemana-mana. Tarip penginapan di Aceh mulai dari 100K ke atas. Jangan lupa ! bawa surat nikah/KTP suami istri kalau nginap sama istri. Kalau tanpa surat nikah/KTP pasti ditolak. Apalagi menginap bukan dengan pasangannya.


Pekuburan Massal di Siron
Situs Lampulo



PLTD Terapung

Rumah Aceh

















Kami ngopi-ngopi dulu untuk mengawali pagi di Banda Aceh. Aku pilih kopi hitam, sedangkan istriku teh hijau. Siangnya kami santap menu ayam goreng 'ayam tangkap', olahan ayam kampung digoreng rempah daun pandan. Malamnya mencoba Mie Aceh yang basah dan yang kering. Di lain hari kami menikmati kari kambing. Sedangkan minumannya kopi, juice buah yang kental atau es teh hijau.

Untuk sarapannya biasanya ada nasi gurih atau lontong sayur. Nasi gurih semacam nasi uduk. Sandingannya ada telur ceplok, telur dadar, telur bulat, rendang ayam atau perkedel plus kerupuk. Tetapi, rata-rata porsinya sedikit. Kalau senang seafood, bisa menikmatinya di sekitar pinggir laut Uleelhleu. Di situ banyak sekali resto yang menjorok ke laut.

Mie Aceh Basah
Teh Hijau
Sajian per porsi setiap makanan dan minuman harganya mirip-mirip dengan di Jawa. Mayoritas jenis makanan yang dijual banyak menyerupai masakan padang yang berkuah santan.

Beberapa hari di Banda Aceh, kami mengunjungi Masjid Baiturrahman, Masjid Baiturrahim, Replika pesawat pertama RI, Museum Tsunami, Rumah Aceh, Situs terseretnya PLTD terapung sejauh 2,5km dari Uleelheue, Rumah Cut Nya Dien, Situs terdamparnya kapal kayu di atas rumah penduduk di Lampulo, Pekuburan Belanda tempat Mayor Jenderal Kohler dimakamkan dan singgah di penjual oleh-oleh khas Aceh di ruas jalan raya menuju Lhok Ngaa. Macam oleh-olehnya berupa aneka kudapan, kopi Aceh, dendeng sapi atau rusa tersedia di sini.



Nama Bukit Barisan yang kesohor itu, baru pertama kali kulihat langsung ketika di Banda Aceh ini. Begitu juga pantai-pantai yang indah bisa kami datangi satu persatu di sekitaran Aceh.


SERBA SERBI ACEH

'Bentor' becak motor dan berjalan kaki menjadi pilihan transportasi kami. Moda transportasi lainnya seperti taxi, Bus Trans Koetaraja dan labi-labi sejenis angkot yang sudah jarang ada karena sangat sedikit penumpangnya. Ini disebabkan banyaknya sepeda motor yang dimiliki warga Aceh.

Becak motor atau bentor bisa dipakai untuk berkeliling kota. Tarip paling murah 5K. Besarnya tarip tergantung jauh dekatnya tujuan. Ingin sewa motor harian lebih bagus untuk berkeliling ke kita mau. Tarip sewa per hari 80K-100K.

Hadirnya Bus Trans Koetaraja sangat menggembirakan masyarakat Banda Aceh, sebab masih gratis hingga tahun 2017. Bus yang mirip Trans Jakarta ini melewati jalan-jalan utama dan masuk melewati Kampus Universitas Syiahkuala.

Lalu lintas masih dibilang amat lancar, nyaris tanpa ada kemacetan. Apalagi di jalanan arah luar kota, lancarnya Kebangetan. BL adalah plat nomor kendaraan wilayah Aceh.

Keamanan sudah sangat baik dibanding dulu ketika masih ada konflik. Semuanya berusaha memperbaiki keadaan supaya kehidupan lebih baik. Berjalan-jalanlah kami berdua ke mall terbesar di Banda Aceh, Suzuka mall dan Hammer. Lalu ke Pasar traditional, Pasar Peunayong.


Banyak tersebar kedai kopi sebagai tempat nongkrong warga yang dilengkapi wifi. Di mana mana selalu ada kedai kopi. Dari pagi hingga dini hari kedai kopi masih tampak buka non stop. Setiap pesan makanan berat selalu otomatis disediakan segelas air putih gratis.
Masjid Baiturrahim
Kalau rajin shalat berjamaah di Masjid, Aceh adalah tempatnya. Banyak masjid besar dengan berbagai arsitektur yang cantik ada dimana-mana.
 

Kami ikut majelis dzikir kamis malam di Masjid Raya Baiturrahman, pas ingin pulang sandal istriku lenyap entah kemana. Semua sudah diikhlaskan, mungkin sandal tersebut ada yang suka. Akhirnya, kami pulang nyeker sampai Blang Padang. Dan membeli sandal japit di Pasar Malam dadakan, Blang Padang.
Tetapi apa yang terjadi. Esoknya, ketika habis Jum'atan, kulihat sandal istriku tergeletak bebas di tempat yang sama. Tanpa ragu, kubawa sandal tersebut dan menyerahkannya pada istriku yang sedang menungguku selesai Jum'atan. Tahu hal ini, dia hanya tersenyum saja.


PULAU WEH BUKAN PULAU SABANG

Selepas tinggal beberapa hari di Banda Aceh, habis sarapan di salah satu kedai makan dekat wisma, kami ambil becak menuju Pelabuhan feri Uleelheue (20K). Kami mau ke Pulau Weh. Kapal cepat cantika/ekspres bahari berangkat 3X sehari, pukul 08.00, 10.00 dan 16.30. Yang berangkat pukul 10.00 sudah stand by di pinggiran dermaga Pelabuhan Uleelhleue. Taripnya, eksekutif 80K dan VIP 100K. Kami tiba di Balohan Pulau Weh dalam waktu 45 menit saja.

Dari Pelabuhan Balohan, kami langsung ke Iboih, kota kecil pinggir pantai jaraknya sekitar 40 km dari Pelabuhan Balohan. Menuju ke sana, kami pakai angkutan umum L300. Taripnya 50K per orang. Waktu itu penumpangnya hanya kami berdua, aku dan istriku.

Kami ambil cottage kayu milik warga lokal. Namanya Green House. Di sekitaran Iboih banyak sekali bertebaran guest house, taripnya mulai 200K ke atas.

Rumah panggung dari kayu ada yang menjorok ke pantai, ada juga yang menempel di dinding bukit. Satu kamar plus kamar mandi di dalam dan teras menghadap ke laut, sungguh surprise melihatnya. Free wifi, listrik dan air bersih selalu tersedia.

Meski Iboih terpencil, namun ada ATM nya seperti BRI,  BNI atau Mandiri. Jangan kaget di sekitar penginapan dan di ruas jalan antara Pelabuhan Balohan-Iboih atau Iboih-Nol Kilometer banyak segerombolan monyet yang mejeng tetapi tidak mengganggu manusia.

Keesokan harinya pada awal pagi, kami sarapan nasi gurih (10K), segelas teh atau kopi (@5K). Lalu sewa sepeda motor seharian (100K). Kami harus berhati-hati mengendarai sepeda motor karena jalannya meliuk-liuk tajam dan curam.
Pantai Iboih
Air Terjun Pria Laot
Dari Iboih, kami menuju Nol Kilometer. Jaraknya sekitar 7 kiloan. Lalu kembali lewat Iboih menuju air terjun Pria Laot. Lalu ke Kota Sabang, dari Iboih sekitar 20 km.
Air terjun Pria Laot dari jalan raya sekitar 750 meter. Separuh jalannya bisa dilalui sepeda motor dan sisanya hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.


Karena waktu itu bukan hari libur, jadi tidak ada seorang pun yang berada di sana. Yang ada hanya kami berdua. Karena keadaan sunyi senyap, beberapa babi hutan pun berani menampakan batang hidungnya di balik semak-semak yang berbunyi kresek ... kresek ...

Perjalanan kami lanjutkan ke Kota Sabang. Semua jalanan di Pulau Weh beraspal mulus, jadi menuju kesana sangat lancar dan tidak memakan waktu lama.

Obyek-obyek menarik di sepanjang perjalanan kami mulai Nol Km, air terjun Pria Laot dan Kota Sabang, semuanya kami abadikan pakai kamera handphone sederhana.

Sabang kotanya cukup ramai. Kota ini berkontur pinggir laut dan perbukitan, menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap pengunjungnya. Perpaduan antara kota semi modern dan peninggalan masa lalu adalah ciri khas kota ini.

Menjelang siang, banyak sekali warga lokal dan para pegawai antri membeli lauk pauk di pinggir jalan. Lauk pauk yang sudah terbungkus rapi di dalam plastik bening siap dibawa pulang pembelinya. Setiap bungkus plastik, berisi aneka sayur, ikan atau daging.

Entah mengapa di sepanjang jalan dalam kota banyak yang menjual makanan jadi. Mungkin, karena warga tidak mau repot, malas masak atau karena cara ini dianggap lebih praktis.

Kami keliling mulai pelabuhan, pusat kota, pusat kuliner, Sabang Fair, Sabang Hill dan shalat di Masjid Agung Babussalam. Kemudian makannya di dekat perempatan yang tidak jauh dari Masjid Agung. Kota Sabang mulai tampak sepi selepas tengah hari. Meski begitu, di sini banyak tersedia penginapan, losmen, guest house, inn, homestay atau hotel.

Rute jalan dari Pelabuhan Balohan ke Kota Sabang ada dua rute. Lewat jalan bypass langsung ke Sabang atau lewat Danau Aneuk Laot.

Pukul 14.30, kami mengembalikan motor sewaan pada pemiliknya. Lalu janjian booking snorkeling dan sewa perahu ke Pulau Rubiah untuk pukul 16.00.

Pemandu kami namanya Dek Gam. Dia sangat berpengalaman dalam urusan selam menyelam. Bapak beranak tiga ini setiap hari buka usaha menyewakan alat-alat snorkeling, diving, boat dan melayani paket tour seluruh Pulau Weh.

Dari boat kami naik ke dermaga kayu. Tetapi apa yang terjadi ? Ada sedikit insiden. Istriku terperosok di antara dermaga dan boat. Alhamdulillah, beruntung semua bisa diatasi. Kutangkap tangan istriku bersama Dek Gam dan mengangkatnya ke atas dermaga. Melihat kejadian ini semua malah tertawa.


Sepatu kaki katak, kacamata dan pelampung sudah menempel di tubuh kami masing-masing. Snorkeling di pinggiran Pantai Rubiah siap dimulai.

De gam sibuk dengan kamera bawah lautnya mengabadikan ulah kami di Pantai Rubiah. Sungguh luar biasa dan kami patut bersyukur pada Allah bisa menikmati ciptaanNya yang sangat indah di alam bawah laut Pulau Rubiah.

Setelah puas snorkeling, kami menikmati sate gurita yang empuk dan kelapa muda. Dunia serasa milik kami berdua. Akhirnya, menjelang maghrib kami kembali ke penginapan dan mengucapkan terima kasih pada Dek Gam atas bantuan jasanya.

Berikut adalah perincian biayanya  :

Sewa peralatan sepatu kaki katak, kacamata dan pelampung, @40K.
Sewa boat kayu (pp),  100K.
Sewa kamera dalam air, 150K.
Jasa pemandu, 150K.
HP Dek Gam  :  082272312824

Sebelum kembali ke penginapan, kami booking becak untuk besok pukul enam pagi ke Pelabuhan Balohan (100K). Di penginapan, semua pakaian basah kami cuci dan mengeringkannya dengan kipas angin.


Di pagi yang gelap dan dingin kami tiba di Pelabuhan Balohan. Kapal feri lambat (roro) Tanjung Burang sudah standby di dermaga. Kami harus antri untuk mendapatkan dua buah tiket (@25K) tujuan Uleelhleue.


BANDA ACEH KUALALUMPUR

Dalam dua jam berlayar, kami sampai di Uleelhleue. Jeprat jepret di pinggiran laut pintu masuk pelabuhan. Lalu labi-labi mengantar kami ke penginapan (15K).

Karena masih kangen berada di sini, kami pun bersantai-santai beberapa hari di Banda Aceh. Menikmati kuliner, suasana kota dan berinteraksi dengan masyarakat Bumi Serambi Mekkah.

Salah satunya ngobrol asik dengan Abang Hamdani, penjual mie Aceh favorit kami. Hampir setiap malam aku nongkrong di situ.

Kalau kangen shalat berjamaah di Masjid Raya Baiturrahman, kami jalan kaki meski sedikit jauh dari penginapan.

Mengakhiri perjalanan di Aceh kami singgah ke Desa Lam Teungoh, dimana sebuah kubah masjid seberat 20 ton terlepas dari bangunan induknya terseret sejauh 2,5 kilometer dari tempat asalnya ketika terjadi tsunami. Menurut ceritanya ada sekitar tigabelas orang yang berpegangan pada kubah ketika gelombang air raksasa menghempaskannya.

Lucunya, ketika aku tawar becak menuju ke Lam Teungoh, Abang Syamsul Bahri (sopir Becak) mengiyakan tawaranku dengan ongkos 50K (pp). Namun, aku curiga kenapa dia beberapa kali minta ijin untuk berhenti, "Sebentar ya Pak, saya ada perlu." akhirnya rahasianya terbongkar juga, "Pak, sebenarnya saya juga ingin tahu di mana letak kubah tersebut. Saya belum pernah ke sana." Kontan saja kami semua tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuannya. Syamsul.... Syamsul....
Kubah masjid yang terbawa tsunami sejauh 2,5 km
Hari terakhir di Aceh, kami menggunakan becak ke Bandara Sultan Iskandar Muda untuk flight menuju Kualalumpur (70K). Becak Syamsul Bahri sudah ku-booking sehari sebelumnya.

Syamsul menjemput kami di penginapan tepat pukul sebelas siang. Di perjalanan aku langsung beri ongkosnya yang 70K itu. Sisa uang kami tinggal 10K lagi. Istriku beli potongan aneka buah segar di pinggir jalan (5K). Buah tersebut kami bagi tiga, aku, istriku dan Syamsul. Makannya di pinggir jalan. Istriku memberikan sisa uang 5K pada Syamsul.

Ketika tiba di parkiran Bandara Sultan Iskandar Muda, kami dan dia sama-sama terdiam berat untuk berpisah. Baru saja beranjak sepuluh meter meninggalkannya, kami kembali lagi menghampirinya. Istriku memberinya sebuah Buku Ayat Ayat Sukses karangan Abdullah Hadrami, sedangkan aku memberinya sebuah kaos cantik yang semula akan kubawa ke Iran.

Setelah kami saling mendoakan, kami benar-benar berpisah dan tidak mau menengok lagi ke belakang. Ini no HP Syamsul Bahri yang polos baik hati asal Lokseumawe itu  : 082168016669.

Beberapa hari menikmati Kota Kualalumpur, kami pun harus berpisah dengan istri tercinta. Dia kembali ke hometown Malang, sedangkan aku lanjutkan perjalanan ke Tehran.

Demi Allah kami cinta Aceh, setiap detiknya selalu ada kenangan yang indah. Kalau Allah mengijinkan, kami akan kembali lagi ke Aceh.



Copyright©  by RUSDI ZULKARNAIN
email :  alsatopass@gmail.com

1 comment:

didi husadi said...

Mantap abang kita ini...betul anti mainstream dan petualang !!!