BERAMAL LEWAT TULISAN

Sabtu, 05 Februari 2011

Menikmati Beijing di Malam Hari (China - 6)











ENAKNYA PAKE SUBWAY

Beberapa hari berada di Beijing, kami sudah mencoba beberapa moda transportasi umum seperti bus, taxi argo dan taxi gelap. It’s time ingin coba naik subway-nya Beijing. Subway di Beijing ada 13 Line atau jalur, peminatnya sangat banyak apalagi subway Line 1, pasti penuh. Tiket subway jauh dekat harganya sama semua 2 Yuan. Kalau mau pindah jurusan nggak perlu keluar stasiun, turun aja atau pindah di stasiun transfer bayarnya hanya 2 Yuan tadi.


Beli tiket subway bisa dilakukan di mesin tiket dengan uang kertas kertas 5, 10 atau 20 Yuan, ada mesin khusus tanpa kembalian dan ada juga yang bisa dengan kembalian. Apabila kita ingin memiliki tiket subway sebagai kenang-kenangan beli aja satu lagi di mesin tiket tapi jangan dipakai.

Subway armadanya oke banget lebih bagus dari subway-nya Kualalumpur, Bangkok atau Singapore sekali pun. Selain di Beijing, tidak ada informasi nama stasiun pada lampu indikator sedangkan di Beijing lampu indikator stasiun yang sedang dituju berkedip hijau dan yang belum dituju hijau tidak berkedip kemudian stasiun yang sudah dilewati lampu indikatornya mati. Hal ini sangat membantu memoninitor perjalanan kita. Di dalam subway dilengkapi audio dan visual text titik yang dituju seperti Pada bus juga begitu.

Walaupun China banyak memiliki moda transportasi yang apik namun masih banyak orang pakai sepeda. Bahkan mereka bersepeda di tengah keramaian lalu lintas kota. Dan yang aku salut, banyak orang China tidak malu-malu pergi ke bank, ke mall atau ke kantor pakai sepeda, lalu parkir di depannya.

Negeri China berpenduduk terbanyak di dunia namun lalu lintasnya lancar, ada kemacetan yang wajar tapi tidak macet cet berhenti berjam-jam tidak bergerak seperti terjadi di Jakarta. Kepadatan penduduk bertransportasi diurai dan dibawa oleh moda transportasi yang terencana baik sehingga ketepatan waktu bisa diandalkan. Kondisi ini berpengaruh juga pada konsumsi BBM, listrik dan gas semua bisa terkendali, roda ekonomi bergulir lancar dan ekonomi biaya tinggi karena sistem transportasi yang buruk bisa dihindari. Suatu negara yang dibilang negara komunis kok bisa ya pemerintahnya selalu memakmurkan rakyatnya, hal ini bisa kami rasakan di Beijing. 



KERETA API LAIN


Jenis kereta api selain Bullet Train 'CRH' yang super cepat itu dan subway, ada juga kereta diesel yang menghubungkan antar kota atau antar provinsi di China. Fasilitas yang disediakan ada tempat duduk saja atau ada yang tempat tidur. Loko kereta ini bisa membawa sampai 17 gerbong, bukan main panjangnya.
 


WANGFUJING
 
Tidak lengkap rasanya ke Beijing kalau belum ke Wangfujing. Di kawasan Wangfujing Bussiness Shopping Center tersebar mall dan outlet-outlet merk ternama dunia Nike, Kappa, Apple, Nokia, Adidas dan merk terkenal lainnya. Kebetulan dari hotel kami ke Wangfujing jaraknya tidak lebih dari 200 meter saja, jadi deket sekali.

Outlet Nike punya 3 lantai, di sini bisa order dengan design sendiri sesuai keinginan kita, warna dan modelnya dan kalau tidak salah dalam 2 minggu pesenan bisa selesai.

Wangfujing di malam hari lebih bersinar lagi karena dipenuhi puluhan kios makanan (night food market) yang menjual aneka sea food dan noodles atau extreme cuisine aneka hewan melata dan serangga seperti ular, kalajengking, kelabang, belalang, jangkrik, bintang laut, kuda laut. Ada juga aneka buah yang ditusuk panjang, kebab, bakso dan masih banyak lagi. Tersedia juga kios yang menjual makanan halal. "Halal ... Halal ... " teriak mereka.

Kalau perlu pernak-pernik sebagai buah tangan, datanglah ke Wangfujing Night Market, ada 3 lorong yang menjual aneka souvenir dan kuliner. Tawarlah harga dengan berani, tawar sampai 1/5 dari harga yang ditawarkan, biasanya dikasih.



RUMAH PERKAMPUNGAN dan PENGEMIS


Sama seperti rumah-rumah yang ada di kota besar, di Beijing banyak rumah sederhana yang kurang baik dilihat namun rumah-rumah tersebut disiasati agar tidak terlihat dari jalanan utama Beijing. Caranya, dibangun tembok di sepanjang rumah-rumah kumuh dengan warna yang sama. Maka, sepertinya tidak ada rumah kumuh di Beijing, kenyataannya semua ada di belakang tembok panjang tadi.

Di Wangfujing area, kami saksikan sendiri ada pengemisnya juga, namun tidak banyak jumlahnya, hanya ada satu dua saja. Pengemis ibu-ibu dengan anaknya meminta-minta dan terus mengikuti kami mengharap sesuatu terutama uang.

Nggak cukup rasanya kalau ke Beijing cuma sebentar, lain waktu ingin lebih lama lagi di Beijing tapi jangan di musim dingin akh... kurang enjoy rasanya.



copyright© by RUSDI ZULKARNAIN
email : 
alsatopass@gmail.com

Tidak ada komentar: