BERAMAL LEWAT TULISAN

Friday, 16 March 2012

haji- SILAKAN BACA atau TIDAK SAMA SEKALI, PERJALANAN KARENA PANGGILAN ALLAH ‘HAJI’


30 HARI @ MAKKAH ‘AL MUKARRAMAH’ & 8 HARI @ MADINAH ‘AL MUNAWARAH’


                                                 
RUKUN ISLAM YANG KE-5

Menjadi dambaan setiap Muslim untuk menjalankan Rukun Islam yang ke-5 yaitu Haji. Dalam seumur hidup seorang Muslim diwajibkan hanya 1 kali berhaji. Begitu juga dengan kami, perintah tersebut harus kami lalui step by step dengan sabar, dimulai dari pendaftaran sampai dengan kembali lagi ke tanah air. Kami sangat beruntung sekeluarga mendaftar pada tahun 2004 dan bisa berangkat tahun itu juga, bersamaan dengan berakhirnya pendaftaran sistem manual. Tahun-tahun berikutnya beralih dengan sistem komputer, sehingga saat ini daftar tunggunya sangat banyak dan harus menanti sampai bertahun-tahun lamanya.

Pergi haji bertiga dengan haji regular (bukan Haji Plus) waktu itu total menghabiskan biaya 100 jutaan, itu semua kubayar dari hasil penjualan rumah yang kuniatkan untuk berhaji.

Dikatakan Allah dalam Al Qur’an : Sebaik-baiknya bekal ke Tanah Suci (berhaji) adalah Taqwa. Dan selama ber-haji hingga kita menutup mata nanti harus senantiasa menghindari 3 hal : wala rafatsa, wala fusuqa dan wala jidala (jangan berkata-kata kotor, jangan berbuat keji dan jangan berbantah-bantahan).

SEMOGA KAMI SEMUA MENJADI HAJI YANG MABRUR, amin.

Kujepret habis Shalat Jumat


PENDAFTARAN YANG SANGAT SIMPLE

Tahun itu adalah tahun 2004 di akhir Bulan Maret, aku daftar haji di Kantor Departemen Agama Kabupaten Tabanan, Bali. Mengisi formulir ‘Surat Pendaftaran Pergi Haji’ atau SPPH, yang diisi adalah data identitas dan domisili lengkap juga pekerjaan.

Aku daftar juga untuk isteri dan anakku yang masih berumur 12 tahun tapi sudah baligh ditandai dengan suara yang berubah lebih besar, sudah khitan dan ada rambut disekitar aurat utama. Hari berikutnya adalah membuka tabungan haji, menyetor masing-masing 20 Juta Rupiah. Dapat buku tabungan dan bukti tanda terima setoran tabungan BPIH tahun 2005 M / 1425H, lengkap dengan ‘nomor porsi’ haji. Prosesnya sangat gampang dan simple, alhamdulillah semua berjalan lancar. Selesai bayar dapat souvenir dari bank kain ihram, jaket dan payung.


MENGAPA PERGI BER-3 ?

Ada yang melatarbelakangi mengapa kami berhaji ber-3. Kisahnya begini, pada awalnya hanya aku saja yang akan berhaji sedangkan isteriku tidak aku ajak. Mengapa ? Terus terang dan mohon maaf buat isteriku tersayang, beliau itu kurang disiplin dan mudah lupa. Hal inilah yang membuat aku ragu mengikutsertakan beliau. Bagaimana nanti kalo sudah ada disana pasti akan merepotkan orang lain dan merepotkan dirinya sendiri.

Ketika konsultasi dengan Petugas Departemen Agama salah satu Kabupaten di Bali, aku utarakan rencanaku mau berangkat seorang diri. Dia tanya kepadaku, "Kenapa isteri tidak ikut ?", katanya. Kemudian aku ceritakan alasan seperti yang aku ceritakan tadi. "Tapi maaf kalau isteri ikut, apakah Bapak punya biaya untuk itu ?", dia bertanya lagi. Aku bilang ada Pak. Kalau begitu jangan ragu-ragu ajak isteri sekalian, karena kalau Bapak punya biaya tapi isteri nggak diajak, nanti bapak menyesal hanya menikmati sendiri sejuta kenikmatan dari Allah di Tanah Suci. Jangan kuatir dengan kegelisahan tentang isteri Bapak, Allah lebih tahu daripada kita.

Setelah dapat pencerahan dari Petugas Depag, hati terbuka dan berubah sesaat ingin juga mengajak isteriku berhaji. Isteriku sebelumnya hanya bilang, "Aku nggak diajak nggak apa-apa karena khawatir dengan kekuranganku. Tapi kalau Allah punya mau semuanya bisa terjadi", katanya. Aku malu dengan isteriku karena dia benar. Tidak saja memutuskan mengajak isteriku, tapi saat itu aku serta merta memutuskan anakku yang baru kelas 1 SMTP juga aku ajak berhaji. Subhanallah kalau Allah sudah punya mau, kita bisa berbuat apa-apa, terima kasih Ya Allah.  


PELUNASAN ONH (Ongkos Naik Haji)

Pada Bulan Juli melunasi Ongkos Naik Haji ‘ONH’ sesuai yang ditetapkan pemerintah sebesar 2700an US$ (waktu itu 1US$ = 9.200) atau sekitar 25 Jutaan. Diberi slip pelunasan yang ditempel foto, berarti sudah resmi siap berangkat tahun ini. Dari Propinsi Bali ada 2 Kelompok Terbang ‘Kloter’ 58 dan 59, berangkatnya dari Embarkasi Juanda Surabaya. Kloter ini termasuk dalam pemberangkatan ‘Gelombang II’ berangkat dari Surabaya langsung menuju Jeddah dan pulangnya dari Madinah. Kalau Gelombang I dari masing-masing embarkasi langsung menuju Madinah dan pulang dari Jeddah.


MANASIK HAJI TANPA KBIH

Untuk mengetahui tata cara berhaji yang benar Calon Jamaah Haji ‘Calhaj’ harus ikut pelatihan haji ‘Manasik Haji’. Kami sekeluarga rutin mengikuti manasik ini sebagai bekal di Tanah Suci nanti, walaupun aku harus datang dari Denpasar dan anak isteriku datang dari Malang Jawa Timur.

Ilmu lain yang didapat dalam manasik adalah beberapa strategi positip tentang menjaga kesehatan, mengatur waktu, keamanan dan melakukan ibadah setiap hari. Persiapan lainnya adalah membuat baju seragam haji beserta atributnya. Kloter Bali waktu itu punya seragam batik khas Bali  warnanya bernuansa biru.

Pada umumnya Calhaj tergabung dalam KBIH ‘Kelompok Bimbingan Ibadah Haji’, namun aku tidak ikut KBIH. Iya aku mau coba sebagai haji mandiri ….

Seiring waktu berjalan, pemeriksaan kesehatan dilakukan di salah satu Puskesmas Kabupaten, medical recordnya ditulis dalam Buku Kesehatan Haji. Kemudian setiap Calhaj harus disuntik vaksin meningitis untuk mencegah penyebaran virus di Arab Saudi (syarat dari Saudi bersama WHO).

Waktu semakin dekat, kami menerima kopor haji, tas ukuran sedang, buku panduan haji dan tas kecil untuk tanda identitas. Kopor dan tas perlu diisi berbagai barang untuk keperluan di tanah suci, pakaian, obat-obatan, beberapa makanan kering, perangkat shalat dll.


PEMANTAPAN DIRI

Selain intens mengikuti Manasik Haji, perlu juga mencari sendiri apa-apa saja yang diperlukan untuk ibadah haji. Yang tidak kalah pentingnya adalah berolah raga rutin dan makan minum yang halalan thoyiban.

Beli buku tambahan panduan haji yang lengkap dengan sejarahnya, masjid-masjidnya, mata uangnya dan diagram ritual haji. Selanjutnya rajin mengikuti siraman rohani atau pengajian, shalat berjamaah di masjid dan semaksimal mungkin untuk setiap saat berbuat baik.

Pembagian Regu sudah ditetapkan, masing-masing regu beranggota 10 orang yang dipimpin oleh seorang Karu ‘Kepala Regu’. Dalam satu Kelompok terdapat 4 Regu yang dipimpin oleh seorang Kapok ‘Kepala Kelompok’. Dan satu Kloter terdiri dari sampai 10 Kelompok, jadi total jumlahnya sekitar 400 orang. Kami berada di Regu IV, aku ditunjuk sebagai Karu-nya, anggotanya terdiri aku, isteri dan anakku sedangkan anggota yang lain aku belum tau ada dimana, dari mana dan siapa saja ? Katanya anggota yang lain ketemu di Asrama Haji Sukolilo.

Beberapa hari menjelang berangkat, kami Calhaj dari Tabanan dilepas oleh Bupati dan MUI setempat. Acara yang sama juga dilakukan di Denpasar yang dihadiri oleh kedua Kloter 58 dan 59.


ASRAMA HAJI SUKOLILO SURABAYA
  
Calhaj dari Bali semua berangkat menuju Surabaya, rombongan ada yang naik pesawat, ada yang naik bus dan ada yang berangkat sendiri-sendiri. Kami ber-3 berangkat dari Malang menuju Asrama Haji Sukolilo Surabaya.

Semua dikumpulkan dan didaftar satu persatu menuju kamar-kamar yang telah disediakan. Disinilah aku baru bertemu dengan semua anggotaku, ternyata mereka semua dari Jember. Bermalam di asrama dan selama disitu mengikuti beberapa  kegiatan seperti pengarahan, siraman rohani, pembagian Paspor Haji (warnanya coklat berlaku setahun 18 Agustus’04 s/d 18 Agustus’05), pembagian living cost masing-masing orang 1500 Riyal, uang untuk Karu 100 Riyal dan beberapa tanda pengenal diri.

Perlu diketahui, sejak beberapa tahun yang lalu paspor coklat untuk haji tidak ada lagi. Pemerintah Arab Saudi mengharuskan semua jamaah menggunakan paspor hijau. 

Suasana di Asrama Haji sangat ramai, fasilitasnya lengkap, ada ruang pertemuan, masjid, halaman peragaan manasik, kamar jamaah, restoran prasmanan dan ruang pelepasan keberangkatan jamaah. Petugasnya banyak sekali ….  Di sekitar asrama ada banyak penjual pakaian untuk haji, minyak wangi, modifikasi tas, trolley dan masih banyak lagi lainnya.

Keesokan harinya sehabis shalat Shubuh dan sarapan, kami semua berangkat ke Bandara Juanda Surabaya. Sebelum berangkat semua barang bawaan diperiksa dengan seksama, tidak semua barang boleh dibawa. Barang-barang yang dilarang akan diamankan, berat maksimum koper utama adalah 35Kg, tas jinjing maksimum 10 Kg, kalau menyalahi aturan akan ditertibkan.

Semua sudah siap, segera antri naik bus menempati kursi yang telah ditentukan. Sekitar 20 armada bus yang dikawal oleh Polantas jalan beriringan. Disini aku menangis  terharu akan menjadi tamu Allah di ‘rumahnya’ Baitullah. Lambaian tangan pengiring  dan isak tangis sanak saudara, rekan dan sahabat yang mengiringi keberangkatan kami semakin menambah suasana haru. Rasa haru tidak berhenti sampai disitu,  berlanjut disepanjang perjalanan ke Bandara, banyak masyarakat yang melambai-lambaikan tangannya seakan turut melepas keberangkatan kami. Sangat mengharukan, aku sempatkan berdoa untuk mereka yang ada di luar sana agar bisa menunaikan Ibadah Haji seperti kami, amin.

Tiba di sektor khusus pemberangkatan jamaah di Juanda dan menunggu untuk naik pesawat. Ketika berada di atas bus menuju pesawat, aku sangat sedih menyaksikan ada salah satu Calhaj tiba-tiba sakit dan dibawa keluar dengan ambulance. Memang semua ini adalah kuasa dan kehendak Allah, Dia yang menentukan segalanya ….


TERBANG MENUJU JEDDAH

Pesawat Boeing 747-400 Saudi Arabia Airlines dengan lambang ‘dua pedang’ sudah stand by di apron Bandara Juanda Surabaya. Satu persatu Calhaj menaiki tangga pesawat dan mencari seat-nya masing-masing. Menunggu sampai keadaan beres dan rapi membutuhkan waktu yang lama. Perlu dimaklumi, banyak Calhaj yang sepuh dan diantaranya banyak berasal dari berbagai desa. Bahkan banyak  Calhaj yang baru pertama kali naik pesawat sebesar Boeing 747. Namun semua itu tidak jadi masalah, keadaan ini bisa diatasi berkat kesigapan dan kesabaran para kru haji yang setia memandu jamaah.

Take off di pagi hari 6 Januari 2005 menuju Jeddah dan mengangkasa selama 10 jam non stop. Dalam penerbangan, kami semua dilayani beberapa kali makan, diberi selimut, melihat panduan manasik haji di big screen, mengisi beberapa form dan terus berdoa agar semua selamat di tujuan.




Roda pesawat menyentuh landasan Bandara Jeddah, semua antri menuju Terminal Khusus Haji King Abdul Aziz Airport ‘KAAA’ untuk pemeriksaan imigrasi. Antri sangat panjang dan lama disitu, akhirnya selesai juga. Namun anakku masih diperiksa lama dan dibawa ke ruang khusus. Sempat kuatir, namun akhirnya anakku muncul sambil menunjukkan uang 200 Riyal (waktu itu sekitar 500 ribu rupiah) dari Pemerintah Saudi. Katanya kalau anak-anak berhaji dapat semacam ‘subsidi’ dari pemerintah, alhamdulillah kekuatiran diganti dengan senyum bahagia.

PUTERAKU masih 1 SMP
Terminal Udara Khusus Haji KAAA berbentuk payung-payung raksasa. Bagaimana ya kalau hujan ? kan basah semua, arsitektur itu sengaja dibuat karena iklim di Jeddah hampir  sepanjang tahun nyaris tanpa hujan.

Terminal khusus haji ini disediakan space khusus sebagai transit sebelum memasuki kota Makkah. Semua tahapan berjalan dengan mudah karena dibantu oleh para pemandu haji. Mandi, shalat, mengenakan Ikhram dan berniat untuk umrah. Banyak jamaah yang ambil miqat disini sebagai syarat umrah. Kalau Jamaah Gelombang I ambil Miqat-nya di Bir Ali sedikit keluar Kota Madinah. Semua jamaah berkumpul dan berbaris rapi per kelompok siap memasuki bus menuju Makkah. Semua kopor dan barang bawaan utama sudah ada di atas atap bus ‘sebagai bagasi’.

Ketika sudah berpakaian Ikhram harus mentaati segala larangannya seperti, tidak boleh mencukur rambut, merontokkan rambut ketika bersisir, pakai wangi-wangian, berkata kotor, berbuat fasik, berbantah-bantahan, dilarang memakai penutup kepala dan mentaati larangan lainnya.

Mengumandangkan Talbiah, Labbaika Allahumma Labbaika, Labbaika laa syarikaa laa labbaika, Innal Hamda wa ni’mata laka wal mulka laa syarikaa laka. Selama perjalanan menuju Makkah kalimat ini tak henti-hentinya dikumandangkan para jamaah. Jarak antara Jeddah – Makkah kurang lebih 100 km dan jam tangan harus disesuaikan waktunya, dimundurkan 4 jam. 


MEMASUKI KOTA MAKKAH           

Memasuki Kota Makkah tidak semua orang boleh masuk sesuai hukum Saudi, hanya Muslim saja yang boleh dan ada beberapa larangannya (tanah haram), maka disebut Tanah Suci.

Menempati Maktab atau rumah tinggal sementara selama di Makkah yaitu daerah Azziziah, dengan nomor Maktab 66 untuk Kloter 59 Surabaya. Lokasi Azziziah sekitar 1 km dari Masjidil Haram dan harus melewati terowongan di bawah bukit batu. Untuk ke Masjidil Haram disediakan shuttle bus gratis 24 jam penuh.

Kumpulan bus tersedia di depan Maktab, ada yang namanya ‘Dallah’ , ‘Saptco’  atau ‘Hafiil’. Hilir mudik bus setiap saat terdengar khas, sampai sekarang suara tersebut masih terekam baik di otakku. Ada kalanya bus tidak mesti mengangkut penuh para jamaah, sering kali penumpangnya hanya Aku, isteri dan anakku … bener bener  istimewa.

Begitu pula kalau kami harus terpaksa berjalan kaki lewat terowongan, udaranya dingin karena semburan udara dari puluhan fan raksasa untuk senantiasa bekerja supplay oksigen. Suaranya sangat khas menderu-deru dan suara tersebut juga masih terekam baik di otakku.

Menjelang atau sesudah waktu shalat wajib, bus-bus selalu menjadi rebutan para jamaah. Banyak yang nggak kebagian dan harus menunggu bus berikutnya untuk rebutan lagi. Bagi jamaah yang Maktabnya agak jauh dari Masjidil Haram mereka banyak yang naik angkutan omprengan, sekali naik 1 Riyal (ada bantuan biaya dari panitia haji).


UMRAH

Setelah urusan kamar dan barang di Maktab selesai, kami segera berangkat dengan shuttle bus menuju Masjidil Haram untuk Umrah. Bus dari Azziziah melewati terowongan dan berhenti di belakang kompleks kerajaan dekat Masjidil Haram. Sedikit berjalan kaki maka tampaklah keagungan Masjidil Haram yang bermandikan cahaya di malam hari. Ini adalah kali pertama kami melihat langsung Masjid terbesar di dunia yang tercantum dalam Ayat Al Qur’an.  Ketika berada di dalam Masjidil Haram sulit membedakan antara siang dan malam karena jutaan lampu menyala sepanjang hari, terang benderang.

Jutaan orang mulai memadati seluruh bagian Masjidil Haram, di dalam, di setiap lantai, di halaman dan sampai ke jalan-jalan di sekitar Masjid. Suasana padat bisa disaksikan ketika menjelang shalat wajib. Masjidil Haram mempunyai luas kira-kira 400rb m² dan dapat menampung sampai 2 juta jamaah. Dan … ganjaran tiap kali shalat berjamaah di Masjid ini adalah 100.000 derajat kebaikan.

Namanya juga baru pertama kali datang, semuanya seperti mimpi. Masuk dari salah satu pintu Masjid diawali dengan doa, kemudian melihat Kabah untuk yang pertama, seolah tidak percaya bahwa di hadapanku itu adalah benar-benar Kabah. Sebelumnya kalau aku shalat hanya mengarah ke Kabah, tapi sekarang aku sudah ada di depannya sebagai titik pusat arah kiblat dunia.

Tentu saja keharuan, bahagia dan rasa syukur menjadi satu, tanpa terasa cucuran air matapun mengalir membasahi pipi berkali-kali. Setelah menginjakkan kaki di Masjidil Haram dan melihat Kabah seolah ketebalan iman semakin tambah. Tidak larut dalam  kebahagiaan dan keharuan, aku segera melakukan Umrah karena niat sudah dipasang ketika di Jeddah dan sudah ber-ikhram. Tahapannya adalah Tawaf kemudian Sai dan diakhiri dengan memotong rambut. Ini adalah cara Haji Tamattu, yaitu mendahulukan Umrah sebelum Haji.

Sebagai Haji Tamattu (bersenang-senang dahulu), maka diwajibkan membayar Dam (denda) 1 ekor kambing atau domba harganya sekitar 600 Riyal. Pembayaran Dam dapat dilakukan melalui Bank Al Rajhi.
Berikut detailnya …..


THAWAF

Bergerak mulai dari sudut lurus Hajar Aswad berlawan dengan putaran jarum jam sampai kembali ke sudut lurus Hajar Aswad, itulah Thawaf. Berjalan sebanyak 7 kali mengelilingi Kabah sambil membaca tuntunan doa setiap putarannya. Ritual ini melambangkan jalan hidup manusia mulai dari lahir ke muka bumi sampai kembali kepadaNya. Jalan hidup suka dan duka, baik dan buruk yang harus dilalui menuju kehidupan akhir manusia. Dan Allah menciptakan alam semesta termasuk dunia ini sebagai tempat manusia bernaung selama 7 hari 7 malam.

Suasana ber-Thawaf di musim haji sangat padat pada jam berapapun, tidak pernah sepi selama 24 jam penuh. Bagi jamaah yang udzur atau juga yang punya invalid, biasanya melakukan Thawaf di lantai atas dengan kursi roda sewaan lengkap dengan pemandunya. Waktu yang dibutuhkan untuk Thawaf di lantai atas lebih lama karena putarannya lebih panjang, dan harga sewa + pemandu cukup mahal.

Melakukan Thawaf harus berwudhu dan berusaha untuk menjaga kesuciannya, namun kalau batal dengan tidak sengaja misalnya bersentuhan dengan bukan mukhrimnya tidaklah mengapa.  

Setelah selesai Thawaf, berdoa di Multazam (salah satu tempat berdoa yang paling diijabah Allah) yaitu antara  Hajar Aswad dan Pintu Kabah. Kemudian lakukan shalat sunnah 2 rakaat di dekat Maqom Ibrahim (bekas telapak Nabi Ibrahim). Kemudian bisa ke Hijir Ismail yang bentuknya seperti pagar batu setengah lingkaran, di bawah talang emas. Kalau memungkinkan disunatkan mencium Hajar Aswad yang selalu menjadi rebutan para jamaah haji.

Thawaf yang sudah kami lakukan adalah Thawaf wajib untuk Umrah, sedangkan Thawaf sunah bisa dilakukan kapan saja, sebagai pengganti shalat tahiyatul masjid. Setelah rangkaian Thawaf selesai, kemudian menjauh menepi menuju kran-kran air zam-zam, sambil berdoa ketika meneguknya menghadap Kabah lebih afdol, kalau kurang puas minumlah berkali-kali mumpung di Tanah Suci.


SAI    

Menuju Bukit Shafa untuk memulai Sai, berjalan dan berlari kecil menuju Bukit Marwa. Pergi menuju Marwa dihitung 1 kali, kemudian kembali Shafa dihitung 1 kali, sampai 7 kali dan berakhir di Marwa.

Ikuti tuntunannya dengan seksama agar ibadah ini diridhoi dan diterima Allah SWT. Ritual ini melambangkan daya upaya Siti Hajar, Ibunda Nabi Ismail yang berjuang berlari kesana kemari memperjuangkan kelangsungan hidup untuk Beliau dan Putra tercintanya. Kemudian Beliau mengetuk-ngetukan batu ke tanah, sehingga keluarlah air pemberian Allah SWT. Air ini dikenal sebagai air zam zam, sumurnya tidak pernah kering sampai sekarang. Oleh sebab itu manusia wajib berusaha mencari risky untuk dirinya dan keluarganya, agar bisa selalu beribadah kepadaNya.

Air Zam Zam, air yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak ada rasanya merupakan air yang diberikan Allah pertama kali keluar untuk Ibunda dan Nabi Ismail. Sebelum meminumnya berdoa apa saja yang baik-baik kepada Allah, Insya Allah mempunyai hasil yang baik. Pengalaman kami menyimpan Air Zam Zam dalam jerigen selama bertahun-tahun, kondisinya tetap sama tidak berubah. Air mukjizat dari Allah SWT.

Pada musim haji seluruh instalasi Air Zam Zam di Makkah difungsikan sampai beberapa kilometer, tersedia banyak kran, tinggal tekan Air Zam Zam siap diminum. Jutaan gelas plastik (cup) selalu ada tidak pernah habis, setelah minum langsung buang. Itulah negeri yang makmur dan penuh barokah sesuai doa Nabi Ibrahim As supaya negeri ini diberi segala macam kemakmuran termasuk buah-buahan.    


TAHALUL

Setelah menyelesaikan Thawaf dan Sai sesuai tuntunan, maka sebagai tanda sukses dilakukan pengguntingan beberapa helai rambut atau dicukur gundul sekalian. Ritual ini disebut Tahalul pertama. 

Di mulai dari tempat Miqat, Niat Umrah, Thawaf, Sai dan Tahalul, selama itu wajib pakai pakaian Ikhram. Selepas Tahalul sudah diperbolehkan atau bebas mengenakan  pakaian biasa.  Kemudian memakai Ikhram lagi pada saat pelaksanaan Haji yang dimulai dari Niat Haji,  Wuquf di Padang Arafah, transit di Mudzdalifah, Melontar Jumrah (Aqabah, Ula, Wustha), Mabit (bermalam) di Mina dan terakhir Thawaf Ifadah dan memotong rambut, itu Tahalul kedua.


SUASANA @ MAKTAB

Maktab untuk Kloter 59 terdiri dari 11 lantai, paling atas untuk menjemur pakaian. Menuju antar lantai bisa pakai lift atau dengan tangga, biasanya lift selalu penuh juga antri. Dalam tiap lantai Maktab ini tersedia beberapa kamar yang ukuran dan kapasitasnya berbeda-beda. Jamaah pria dan wanita menempati kamarnya sendiri-sendiri, dilarang bercampur.

Setiap kamar ada yang berisi 4, 6, 8 dan 10 bed. Kamar mandi dan dapur jumlahnya ada beberapa pada setiap lantai. Pada lantai paling bawah terdapat lobby dan receptionis untuk melayani para jamaah antara lain menitipkan kunci. Petugas kebersihan Maktab berkerja setiap hari membersihkan kamar-kamar jamaah.

Di Regu-ku ada salah satu anggota yang sudah 38 kali berhaji sejak tahun 1967 tanpa putus. Sedangkan anggota yang lain sudah beberapa kali berhaji, beliau merupakan satu keluarga, anak, isteri dan keponakan. Beliau-beliau inilah yang membimbingku dan selalu mengawal ibadahku. Subhanallah … Subhanallah ... aku tidak bisa berkata apa-apa, Allah telah memudahkan kami sekeluarga. Terima kasih ya Allah ….

Seorang Ketua Regu yang belum pernah berhaji namun anggotanya sudah puluhan kali berhaji. Tidak masuk akal,  ‘tidak percaya tapi nyata’

Kesedihanpun tidak luput ketika di Tanah Suci, kami semua telah ditinggalkan oleh Pembimbing kami. Beliau wafat setelah melakukan semua rukun dan kewajiban hajinya, berarti Beliau sudah berhaji 39 kali. Kena serangan stroke, aku bersama keluarganya menandu Beliau sampai ke ambulance menuju ke rumah sakit di Makkah. Beberapa hari dirawat Beliaupun dipanggil Allah, Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Banyak media cetak meliput berita ini ‘Seorang Haji 39 kali dari Jawa Timur Indonesia, wafat’. Sebetulnya Beliau pernah bertutur kepadaku ingin berhaji sampai 40 kali namun Allah berkehendak lain. Selamat jalan Bapakku semoga semua kebaikan dan hajinya diterima Allah SWT, amin YRA.


MAKAN dan MINUM

Hal yang sangat penting adalah makanan dan minuman agar phisik selalu prima. Mulai dari Asrama Haji sampai tiba di Jeddah dan Makkah, makan, minum dan buah-buahan selalu diberikan gratis selama beberapa hari. Untuk hari-hari berikutnya jamaah mencari sendiri-sendiri memakai living cost yang ada. Makanan dan minuman bisa dibeli di banyak tempat, ada juga yang masak beramai-ramai di Maktab, ada yang ikut catering, dan ada juga yang membuka bekalnya dari tanah air seperti abon, rendang, dendeng atau sambal.












Segala bahan baku untuk masak banyak tersedia di supermarket, sebut saja ‘Bin Dawood’ supermarket ini sangat lengkap, seperti kerupuk Sidoarjo juga ada di sini. Sehabis Shalat Dhuhur, Shubuh atau malam hari di depan Maktab banyak yang menjual makanan Indonesia seperti soto ayam, pecel, ikan, perkedel dan lainnya. Yang jualan adalah tenaga kerja Indonesia yang diijinkan berjualan selama musim haji. Berbagai restoranpun ada dimana-mana, masakan Turki, Timur Tengah, Indonesia dan Eropa semua ada. Soal makanan jangan kuatir melimpah di Tanah Suci, uang saku ‘living cost’ sangat cukup untuk dipakai selama haji.

Harga makanan bervariasi, nasi putih 1 Riyal (dari jaman dulu sampai sekarang harganya tetap segitu), soto dan lainnya mulai 2 Riyal namun tidak lebih dari 5 Riyal.    Kebab Kambing 1 Riyal, Kebab ayam 2 Riyal, Ayam paket ada yang 5 sampai 10 Riyal. KFC dan Pizza juga ada namun harganya mahal dan rasanya ‘taste’ Timur Tengah. Buah-buahan Subhanallah sangat banyak dengan kualitas baik dan harganya murah. Kami sangat puas dan banyak mengkonsumsi buah-buahan dibanding di Tanah Air. Penjual buah anggur, aneka jeruk, kurma, mangga, roti dan susu bertebaran dimana-mana. Mereka menawarkan dagangannya dalam bahasa Indonesia, ‘Murah … murah … 5 Riyal … 5 Riyal …’

Sering minum air zam zam akan lebih baik daripada minum yang lain seperti aneka minuman dingin / es atau minuman bersoda. Minuman bersoda atau es dapat berdampak pada kesehatan terutama flu atau batuk. Hal ini sudah menjadi penyakit umum di Tanah Suci.

Makanan gratis dan gift dari Kerajaan Saudi sering didistribusikan kepada siapa yang mau. Satu container penuh stand by di jalanan membagikan ribuan box yang berisi nasi plus ½ ekor ayam atau box gift berisi kue, buah, kurma, susu dan juice. Kalau kita nggak bosan, makanan tersebut dengan mudah didapat asal mau antri. Biasanya oleh ibu-ibu makanan tersebut diolah lagi di dapur maktab menjadi nasi goreng ayam. Bisa bisa aja ibu-ibu ini …

Mulanya aku senang aja dapat makanan gratisan, tapi lama-lama bosan. Lebih jauh aku renungkan,  aku kuatir jadi bakhil (pelit) karena tidak mau keluarkan uang. Bantuan itu lebih mengena untuk para jamaah mandiri, seperti yang datang overland dari negara tetangga di Jazirah Arab. Mereka membawa tenda sendiri, tidak tinggal di Maktab seperti kami. Untuk merekalah lebih mengena dan jangan sampai mereka kekurangan, jadi aku harus rem segala keinginan yang tidak sesuai.

Ada kalanya segala makanan basah, kering atau minuman kemasan tetap aku ambil, kemudian aku distribusikan kepada para kaum dhuafa dan para sopir di Tanah Suci. Sempat juga memberi hadiah beberapa kopiah hitam yang sengaja aku bawa dari tanah air untuk para sopir. Kopiah hitam ‘peci’ adalah penutup kepala khas Indonesia untuk kaum lelaki, mereka sangat senang menerimanya dan setelah itu mereka berdoa untuk kami. Senang sekali kami telah berbagi …


KEGIATAN SEHARI-HARI

Setelah melakukan Umrah, bagi calhaj Tamattu (selain Haji Qiran dan Haji Ifrad) sudah bebas berpakaian yang santun menurut Islam. Sambil menunggu waktu Wuquf yang datang beberapa hari lagi, waktu diisi dengan shalat jamaah di Masjidil Haram, kemudian baca Al Qur’an mulai habis Dhuhur sampai Maghrib atau mulai habis Maghrib sampai Isya.

Atau kami beramai-ramai berziarah ke berbagai tempat histori Islam sekitar Arafah Mina ‘ARMINA, Jabal Nur, Gua Hira, Jabal Tsur, Jabal Rahmah, Ma’la dan Jeddah. Kalau ada waktu yang longgar kupakai untuk istirahat yang cukup atau mencuci pakaian dan mengunjungi teman-teman yang tinggal di Maktab lain.

Isteri & Puteraku
Di sekitar Masjidil Haram banyak ditemui peminta-minta, hampir semua mereka ‘invalid’, asal mereka dari negara tetangga atau Afrika. Kalau anda suka berikan beberapa Riyal dengan ikhlas tanpa banyak dibahas atau tidak sama sekali. Walaupun namanya Tanah Suci tidak semua orang berkelakuan baik, itu semua tergantung pribadi masing-masing. Tidak disangka ada berbagai modus untuk menipu para jamaah demi keuntungan pribadi.
 
Sering Thawaf dan Shalat di Masjidil Haram harus memperhatikan masalah kapasitas isi perut. Hindari kekenyangan atau penuh dengan air, bagaimana kalau tiba-tiba mau buang hajat besar atau kecil sedangkan kita berada di depan atau di tengah-tengah Masjid ? ini masalah karena letak toilet sangat jauh.

Aku sengaja membeli sejumlah Al Qur'an untuk diwakafkan di Masjidil Haram. Isteri dan anakku juga melakukan hal yang sama, sebelumnya berniat mewakafkan Al Qur'an dan memohon pahalanya agar dilimpahkan untuk diri sendiri dan kepada siapa saja yang kita sebutkan. Semoga diterima oleh Allah SWT, amin ....
  
Mau Umrah lagi ? lakukan saja. Umrah bisa dilakukan berkali-kali, syaratnya datangi Miqat Jironah, Tan im atau yang lain berpakaian Ikhram dan niat Umrah, bertalbiah ketika menuju Masjidil haram, Thawaf, Sai dan Mencukur rambut. Umrah selesai, mudah bukan ?  Dari Masjidil Haram ada omprengan atau taxi menuju Miqat di Tan’im, kalau naik omprengan sekali jalan kalau nggak salah 1 Riyal, kalau naik taxi pergi pulang sekitar 20 Riyal (bisa patungan).

Ke Masjidil Haram aku tidak selalu pergi bersama anak isteriku. Awalnya sama-sama tapi sering saling tunggu jadi agak merepotkan. Selanjutnya kami sepakat boleh pergi sendiri-sendiri tapi harus pamit, begitupun pulangnya.

Sering shalat wajib berjamaah di Masjidil Haram amat tenang, khusuk dan menyejukkan hati. Apalagi di-imami oleh seorang Imam Masjidil Haram seperti Syeikh Dr. Aburrahman As Sudais yang bacaan jelas dan tartil seperti yang sering kita dengar di kaset atau VCD bacaan Al Qur'an.
  
Jangan kaget kalau setiap habis shalat wajib tiba-tiba datang beberapa jenazah yang diusung masuk melewati para jamaah untuk dishalatkan, jumlahnya tidak tentu rata-rata 5 jenazah. 

Cuaca panas di Makkah bisa mencapai 45 C, sedangkan pada malam hari berubah menjadi dingin. Perubahan cuaca yang ekstrim ini membuat jamaah sering menderita sakit. Mengatur waktu ibadah dan istirahat adalah sangat penting agar tubuh tetap prima.

Bagaimana kalau kehabisan uang Riyal ?  jangan kuatir disini banyak money changer bisa tukarkan Rupiah menjadi Riyal. Biasanya uang Rupiah 100 ribuan nilai tukarnya lebih tinggi dibanding pecahan di bawahnya.


WAKTU WUQUF TELAH TIBA

Pada tanggal 8 Dzulhijjah jutaan Calhaj berbondong-bondong menuju Padang Arafah. Jamaah Indonesia berangkat dari masing-masing Maktab menggunakan bus. Dari Makkah ke Padang Arafah jaraknya tidak begitu jauh, tapi membutuhkan waktu yang lama karena kemacetan terjadi dimana mana. Semua jamaah dalam waktu yang bersamaan menuju ke satu titik, Arafah.

Wuquh di Arafah
Jutaan jamaah memakai pakaian Ikhram serba putih berkumpul bersatu di bawah ribuan tenda raksasa, atau tinggal dengan tenda sendiri. Semua tertib, semua menunduk berdzikir dan berdoa bermunajat kepada Allah yang Akbar, manusia itu sangat kecil tidak berarti apa-apa. Disini adalah gambaran kelak semua manusia akan dibangkitkan dan dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk menunggu timbangan (raportnya) masing-masing, surga atau neraka ?

Wuquh merupakan inti Ibadah Haji, tanpa Wuquf maka hajinya tidak sah atau  belum bisa disebut haji. Semua jamaah tua muda, sehat atau sakit semua harus berada di Arafah karena ini Rukun Haji. Para jamaah yang sakit dibawa dengan ratusan ambulance ke Arafah untuk Wuquf. Pada musim haji tahun 2005 jumlah perkiraan jamaah yang wuquf di Arafah mencapai 4 juta orang.

Merenungi kehidupan mulai dulu hingga kini dan nanti, muhasabah diri atau introspeksi bertekad merubah segala keburukan menjadi kebaikan. Banyak berdoa memohon yang baik-baik untuk kehidupan di dunia untuk bekal di hari akhir kelak. Berdoa ketika Wuquf di Padang Arafah merupakan salah satu tempat yang paling diijabah Allah SWT, seperti di Multazam dan Raudah.


MUZDALIFAH dan MINA 

Rangkaian berikutnya adalah dari Arafah bergerak menuju Muzdalifah pada tanggal 9 Dzulhijjah sehabis Maghrib. Jarak Arafah ke Muzdalifah tidak jauh tapi macet cet, bus jalannya seperti keong. Berbagai macam kendaraan digunakan untuk ke Muzdalifah, tapi banyak juga jamaah yang jalan kaki, mungkin sampainya bisa lebih cepat dari pada naik bus.

Transit sementara hingga berganti hari (lewat tengah malam) adalah yang disyaratkan dalam ibadah di Muzdalifah. Hawa dingin menusuk ke dalam tubuh yang hanya berbalut kain Ikhram. Tanpa atap dan tanpa lantai semua berkumpul menjadi satu untuk menunggu pemberangkatan selanjutnya ke Mina.

Salah satu anggota regu kami sebelum berangkat ke Arafah sengaja membeli beberapa lembar karpet besar untuk digelar di ARMINA. Semua karpet tersebut kami panggul agar bisa dimanfaatkan banyak jamaah, lumayan beratnya tapi semua itu tidak terasa karena masih mempunyai semangat yang tinggi.

Sebelum berangkat ke Mina para jamaah mengumpulkan batu kecil (kerikil) sebanyak yang diperlukan untuk jumrah Aqabah, Ula dan Wustha. Kemudian antri cukup lama menunggu datangnya bus menuju Mina.

Ketika tiba di Mina, setiap jamaah menempati tenda-tenda yang telah ditentukan sebagai persiapan esok melempar jumrah yang pertama (10 Dzulhijjah) atau hari Nahar.  Bertepatan jamaah haji melempar jumrah Aqabah, Umat Islam di seluruh dunia melaksanakan Shalat Idul Adha dan menyembelih qurban.

Mabit (bermalam) di Mina syariatnya boleh memilih antara cara Nafar Awal (10, 11, 12 Dzulhijjah) atau Nafar Tsani (10, 11, 12, 13 Dzulhijjah). Setiap menuju jamarat dari tenda harus melalui terowongan, dulu cuma ada satu terowongan dan pernah terjadi ‘Insiden Terowongan Mina’ yang banyak memakan korban. Setelah kejadian tersebut sudah dibuat satu terowongan lagi untuk pergi dan pulang, alhamdulillah keadaan nya sudah lebih baik. 

Nafar Awal
Tanggal 10 hanya melontar 7 kerikil ke Jumrah Aqabah.
Tanggal 11 melontar Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah @ 7 kerikil (=21 buah).
Tanggal 12 melontar Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah @ 7 kerikil (=21 buah).
Sehingga untuk Nafar Awal membutuhkan 49 batu kerikil dan harus meninggalkan Mina sebelum Maghrib.

Nafar Tsani
Tanggal 10 hanya melontar 7 kerikil ke Jumrah Aqabah.
Tanggal 11 melontar Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah @ 7 kerikil (=21 buah).
Tanggal 12 melontar Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah @ 7 kerikil (=21 buah).
Tanggal 13 melontar Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah @ 7 kerikil (=21 buah).
Sehingga untuk Nafar Tsani membutuhkan 70 batu kerikil dan harus meninggalkan Mina sebelum Maghrib.

Waktu melontar jumrah khusus untuk Jamaah Haji Indonesia ditentukan waktunya untuk menghindari benturan dengan jamaah haji dari Jazirah Arab dan Turki yang bertubuh besar dan kuat. Mereka selalu melakukan jumrah pada waktu yang dianggap paling afdol. Demi keamanan jamaah dan menghindari jatuhnya korban, maka disepakati pelaksanaan jumrah untuk jamaah Indonesia dilakukan setelah mereka.

Habis melaksanakan Mabit, kami meninggalkan Mina menuju Makkah untuk melaksanakan Thawaf Ifadah. Jamaah sangat padat, jalanan penuh sesak, mencoba berjalan kaki tapi di tengah perjalanan ada anggota yang kelelahan. Susah payah naik bus yang penuh sesak, dilanjutkan dengan menyewa pick up, semua duduk di belakang menuju Masjidil Haram. Diakhiri dengan memotong rambut, maka selesailah sudah seluruh rangkaian Ibadah Haji. Kata orang sudah bisa dipanggil Pak Haji atau Hajjah. Baju Ikhram sudah bisa dilepas dan boleh memakai pakaian biasa. Hubungan suami isteripun sudah dihalalkan, tapi tempatnya dimana ? Ada seribu jalan menuju Roma, Hhee ….












dari MAKKAH ke MADINAH

Kurang dari 9 hari waktu pulang ke Tanah Air, kami meninggalkan Makkah menuju Madinah. Tinggalkan Makkah diakhiri dengan Thawaf Wada (Thawaf Perpisahan), setelah melakukannya setiap jamaah dilarang memasuki Masjid Haram lagi karena sudah memberi ‘salam perpisahan’. Sudah tidak bisa lagi ke Masjidil Haram dan melihat Kabah, air matapun jatuh bercucuran karena sebentar lagi benar-benar Makkah akan kami tinggalkan.   

Kloter kami sekitar 450 jamaah meninggalkan Makkah Al Mukaramah dengan bus ke Madinah Al Munawarah menempuh sekitar 400 Km atau 6 jam perjalanan. Sepanjang perjalanan ke Madinah melewati ruas tol yang lebar dan sepi, di kiri kanan jalan hanya hamparan batu dan bukit yang gersang. Terlihat juga sekawanan unta yang sedang berjalan dan onggokan mobil rusak yang ditinggal pemiliknya begitu saja. Akhirnya bus berhenti di daerah Wadi untuk memberi kesempatan jamaah istirahat, makan dan shalat.

Waktu berangkat dari Makkah sudah diberi makanan kotak, kemudian istirahat di Wadi diberi kotakan lagi sampai memasuki Kota Madinah diberi lagi. Soal makanan, buah, kue dan minuman memang tidak ada habisnya.

Sama seperti ketika masuk Makkah, akomodasi ‘Maktab’ telah dialokasikan untuk kami, jarak dari Masjid Nabawi sekitar 800 m. Kamar-kamar di Madinah lebih bagus disbanding Makkah, semua disini lebih teratur. Setiap kali pergi atau pulang shalat di Masjid Nabawi disediakan shuttle bus, busnya kuno dan adakalanya jamaah naik di atap bus. Selain akomodasi yang bagus, makan minum selama di Madinah ditanggung panitia haji. Ini layanan yang pertama kali diberikan panitia, walaupun menunya sederhana dan sering kami dapat menu olahan daging unta yang lezat.

Selama 8 hari di Madinah kami melaksanakan ‘Arbain’ yaitu mengikuti shalat wajib di Masjid Nabawi sebanyak 40 kali tanpa jeda. Berziarah ke makam Rasulullah, ziarah ke pemakaman Baqi, berdoa di Raudah, ziarah ke tempat-tempat sejarah Islam seperti Jabal Uhud (lokasi perang Uhud), Masjid Quba, Masjid Kiblatain, beli oleh-oleh di Pasar Kurma, percetakan Al-Qur’an, Jabal Magnit dan ke situs Perang Khandaq. Ketika di Baqi aku pernah ikut memakamkan jenazah penduduk Arab disitu, prosesnya amat cepat tidak bertele-tele.


Tidak seperti di Masjidil Haram, Masjid Nabawi di dalamnya terbagi dua kiri dan kanan. Sebelah kiri untuk kaum wanita dan yang kanan untuk kaum lelaki, semua lebih teratur dan rapi. Di sekitar masjid di terdapat puluhan hotel, mal dan restoran. Kotanya lebih dingin dari Makkah. Ganjaran dari Allah tiap kali shalat berjamaah di Masjid ini adalah 1000 derajat kebaikan.

Menjelang kepulangan ke tanah air kegiatan sehari-hari adalah menyiapkan apa saja yang akan dibawa ke tanah air. Yang utama adalah air zam-zam sudah dipacking khusus dalam koper besar agar tidak tumpah dan kemasan lainnya yang dijinjing. Mengemas oleh-oleh untuk sanak famili dan kerabat sudah siap dibawa. Namun koper-koperku tidak kelihatan penuh sesak, semua kelihatan datar, kami tidak menambah tas ataupun koper baru. Karena berangkatnya niat Ibadah Haji jadi bukan shoping, tapi di tanah air sudah kami siapkan bingkisan utama untuk mereka tinggal menambahkan item yang khas dari Tanah Suci.

Oleh-oleh yang sering dibawa oleh jamaah haji Indonesia biasanya kurma, coklat, kacang arab, karpet, VCD Qur'an, aneka mainan atau yang berduit biasanya membeli perhiasan emas.



Waktunya telah tiba untuk meninggalkan Madinah menuju tanah air (Surabaya). Sebelum masuk ke dalam airport semua barang di seleksi oleh panitia, barang yang dilarang harus ditinggal, apapun itu jenisnya mahal atau murah. Prinsipnya kalau dilarang tidak boleh diangkut, banyak barang yang sudah dibeli dan dikemas harus dibongkar dan direlakan untuk ditinggal. Maksimum barang bawaan dalam koper besar adalah 35 Kg.

Jamaah berjalan menuju scanner/detector terakhir, melalui imigrasi dan akhirnya menuju ke pesawat sambil diberi bingkisan masing-masing 1 buah Al Qur’an cetakan Madinah. Pesawat Saudi Airlines Boeing 747-400 take off meninggalkan Airport Prince Mohammad Bin Abdul Aziz, Madinah.


TIBA di TANAH AIR

Hampir sama dengan ketika berangkat dari Surabaya ke Jeddah begitulah suasananya. Selama 10 jam di angkasa non stop, akhirnya roda pesawat menyentuh landasan Juanda Surabaya di pagi buta.

Haji Termuda 2004
Menumpang bus yang telah disiapkan menuju Asrama Haji Sukolilo untuk pelepasan terakhir ke tempatnya masing-masing. Zam-zam dibagikan tiap jamaah dapat 1 jerigen isi 5 liter. Setelah itu boleh meninggalkan Sukolilo yang disambut oleh ratusan penjemput di luar pagar. Alhamdulillah sujud syukur atas nikmatMu ya Allah.


PERISTIWA, SUKA DUKA DAN SEJUTA KENANGAN DI TANAH SUCI

Tak terhitung suka duka dan kenangan sebelum, ketika dan sesudah berhaji. Sebut saja misalnya kami sekeluarga diberi kemudahan memperoleh biaya, mendaftar dan berangkat ke Tanah Suci. Nikmat besar lainnya adalah nikmat kesehatan pada waktu pelaksanaan Rukun Islam ke-5, berikut kami potret gambarannya ;
  • Ujian kebahagian dan duka mendalam adalah dinamika hidup yang aku terima. Ibunda tercinta berpulang ke rakhmatullah 6 bulan sebelum kami berangkat ke tanah suci. Sebetulnya, pada saat pendaftaran haji, ibuku akan kuajak serta. Tapi beliau bilang, "Ibu nanti aja karena kesehatan ibu yang belum mendukung". Akhirnya kami hanya bisa berangkat ber-tiga, aku, isteri dan anak lelaki kecilku.
  • Rasa bahagia dan kenikmatan dari Allah tidak pernah putus aku terima, misalnya mulai berangkat sampai kembali selalu didampingi dan dikelilingi oleh orang-orang yang sangat mengerti tata cara berhaji. Didampingi oleh orang yang sudah 38 kali berhaji bersama isteri, anak dan keponakan beliau yang juga sudah beberapa kali ke Tanah Suci. Uniknya, aku adalah ketua regunya. Kami adalah Kloter 'Kelompok Terbang' asal Bali, sedangkan anggota yang lain adalah dari Jawa Timur yang digabung dengan Kloter kami. Semua menjadi mudah, bukan itu saja kami sering ditraktir dibelikan ini dan itu. Soal komunikasi berbahasa Arab tidak perlu kuatir, mereka sangat menguasai termasuk marah-marah dalam bahasa Arab. Hhee...
  • Anakku diperiksa Imigrasi Jeddah cukup lama dan dibawa ke ruangan khusus, sempat kuatir juga namun hatiku cukup tenang. Ternyata anakku dapat hadiah 200 Riyal (sekitar 500 ribu) dari Pemerintah Saudi karena berhaji di bawah umur. Alhamdulillah ...
  • Pengalaman lain yang mengesankan adalah ketika tidak dapat rebutan bus buat pulang ke Maktab. Akhirnya jalan kaki lewat terowongan sepanjang 2000 m. Isteri dan anakku sudah kelelahan, sebetulnya sangat terpaksa lewat terowongan. aku tanya kepada mereka, "Apa mau naik bus ?" Iya, kata mereka. Maka aku serta merta berdoa. Begitu doa selesai tiba-tiba datang sebuah bus kosong berhenti di dalam terowongan (padahal bus dilarang berhenti di dalam terowongan), sopirnya berteriak memanggil kami untuk segera naik. Kami semua terheran-heran tidak percaya tapi nyata, terima kasih ya Allah, Engkau telah mengabulkan doa kami.
  • Bertemu dengan saudara Muslim dari seluruh dunia. Semua bersatu bersama beribadah menjalankan perintahNya dan meninggalkan laranganNya. Kompak dalam mengatasi masalah-masalah keseharian. Alhamdulillah bisa sering membantu jamaah yang tersesat, memberi petunjuk atau mempertemukan dengan kelompoknya. Hanya niat untuk menolong sesama jamaah tapi aku sering dipaksa untuk menerima imbalan berupa uang, tentu aku menolaknya dengan sopan.
  • Kebersamaan, saling menghargai, saling menghormati dan toleransi adalah pelajaran yang berharga selama di Tanah Suci.
  • Ujian lain dari Allah SWT, bencana massal terjadi ketika di Mina, hujan dan angin besar melanda ARMINA (Arafah dan Mina) begitu juga Makkah. Sebagian besar karpet dan tenda basah bahkan tergenang, batu-batu berjatuhan dari atas bukit. Sekitar Makkah jadi lautan sampah, banyak jatuh korban meninggal dunia dan banyak jamaah yang suaranya tidak keluar, batuk dan serak. Syukur alhamdulillah kami terhindar musibah itu dan semua sehat wal afiat.
  • Dipercaya sebagai Ketua Regu, alhamdulillah bisa aku laksanakan dengan baik. Dapat bantuan 100 Riyal dari Pemerintah RI (sesuai aturan) sebagai Ketua Regu, membantu untuk anggota misalnya meminta obat-obatan kepada Tim Kesehatan, mengangkat makanan dan minuman atau memonitor anggota ritual Umrah dan Haji apa saja yang sudah dilakukan.
  • Berdoa bertiga sehabis shalat Jumat di Masjidil Haram, kemudian berdiskusi kecil dan bertanya, 'Andaikata kita diberi rezeki lebih, siapa yang kamu akan ajak ke Tanah Suci ?'.  Jawaban isteri dan anakku, kita semua dan kita ajak adik atau kakakku dan dari keluarga Abang (aku)'. Ternyata ucapan tersebut diijabah Allah SWT, tahun berikutnya kami ber-5 melakukan Umrah, bahkan sampai beberapa tahun berturut-turut. Disamping keluarga ada orang lain yang aku ajak untuk ikut berbagi kebahagian yang kami rasakan.  Subhanallah kami sekeluarga sudah 4 kali ke Tanah suci, 1 kali Haji dan 3 kali Umrah. Kalau dipikir aku dapat dari mana uang sebanyak itu, entahlah tidak percaya tapi nyata. Allah telah memberi rakhmatNya dari arah yang tidak disangka-sangka. Alhamdulillah ...
  • Pernah beberapa kali Thawaf hanya ada beberapa orang saja. Itu aku lakukan antara adzan dan iqamah, merinding juga karena jutaan jamaah ada disebelahku yang sedang duduk menunggu pelaksanaan shalat. Jadi thawaf-nya tanpa halangan apapun. Untuk melakukan ini harus punya nyali yang besar. Ketika iqamah, thawaf-ku selesai kemudian aku masuk ke dalam barisan shaf shalat paling depan. Kalau ingat itu, sampai sekarang aku masih merasa merinding .... Subhanallah.
  • Ketika di Madinah selama 8 hari, makanan dan minuman diberikan gratis dari Penyelenggara Haji (pertama kali diterapkan). Bantuan tersebut cukup membantu para jamaah untuk menekan pengeluaran sehari-hari.
  • Baru pertama kali menyaksikan Team Cleaning Service di Masjidil Haram begitu kompak dan bekerja sangat cepat membersihkan lantai marmer di seluruh bagian masjid. Sehingga kebersihan lantai selalu terjaga setiap saat untuk shalat para jamaah. Setiap bagian lantai yang dibersihkan mencapai luas 50 x 50 m, dengan anggota team sekitar 50 orang. 
  • Bertemu beberapa saudara, teman dan kerabat yang sudah lama tidak jumpa. Pertemuan yang tak terduga  justru berjumpa di Tanah Suci, Subhanallah sangat menyenangkan.
  • Tepat hari terakhir di Madinah ketika mau kembali ke tanah air, isteriku berulang tahun. Benar-benar sangat istimewa.
  • Sisa living cost aku belikan handycam di Madinah, alhamdulillah akhirnya aku punya juga dokumentasi ketika haji.
  • Apabila ada DANA, selagi SEHAT dan ada KESEMPATAN, jangan tunda-tunda untuk berhaji sebelum datang kebalikannya tadi. Apalagi menunda-nunda dengan alasan yang dibuat sendiri, sangat menakutkan ancamanNya.
Yang paling utama adalah apabila sudah melaksanakan perintah Allah untuk menjalani Rukun Islam yang ke-5 dengan lancar. Tinggal mengamalkannya ketika di tanah air, amin. Semoga negeri tercinta Indonesia bisa menjadi negeri yang lebih baik. Semoga 200 ribu Calhaj tiap tahun dapat menjadi teladan yang baik dalam hidup bermasyarakat. Amin YRA.



copyright© by RUSDI ZULKARNAIN 
email: alsatopass@gmail.com

3 comments:

Debi Imran said...

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh,

Gaya Tulisan dalam artikel ini sangat sederhana namun sangat jelas dan lengkap.
Saya belum berhaji namun ketika membaca artikel ini beberapa kali airmata menetes ikut tenggelam dengan kebahagiaan penulis selama berhaji.
Barakallahufiik, wajazakallahukhoiron katsiro.
Wassalamu'alaykum.
Debiyarto.
26 Ramadhan 1433H.

seratusnegara said...

Alaikumsalam wr. wb, Tksh Saudaraku. Niat baik insyaAllah berbuah kebaikan. Kmi seklga mendoakan Mas Debi semoga Allah memberi segala kemudahan utk menjalankan Rukun Islam yang ke-5. Amin YRA

Wassalam

Andri Surya said...

Waah sangat detail dan lengkap tulisannya Pak. Semoga saya juga ketularan menunaikan ibadah haji/umroh setelah membaca ini. Aamiin...