BERAMAL LEWAT TULISAN

Senin, 30 April 2012

Jadi Backpacker, Berkeliling Murah Meriah ke 12 Kota di 4 Negara (3)




BERKUNJUNG KE MASJID JAWA DI BANGKOK

Setelah puas menikmati pesta permainan air Songkran Festival pada Minggu (15/4) malam, besoknya kami berkunjung ke Masjid Jawa di Bangkok.

SENIN (16/4) lalu adalah hari libur nasional di seluruh Thailand untuk menyambut tahun baru Negeri Gajah Putih itu yang dikenal dengan Songkran Festival. Jantung Kota Bangkok yang biasanya sangat padat dan macet Senin itu lengang. Semua perkantoran tutup. Juga banyak toko yang tutup. Kendaraan di jalanan melaju dengan lancar.

Di stasiun kereta listrik yang menghubungkan antar titik penting di Bangkok, arus penumpang juga tidak terlalu padat. Penumpang di atas kereta juga tidak sampai penuh, apalagi yang sampai berdiri. Itu membuat perjalanan kami sangat nyaman dan menyenangkan.

Tujuan pertama kami pagi itu adalah mencari Masjid Jawa di Bangkok. Masjid Jawa merupakan masjid yang dulu didirikan perantau dari Jawa ratusan tahun silam. Sampai saat ini, masjid itu masih berdiri kukuh. Di sekitar masjid banyak warga keturunan Jawa.

Untuk menuju ke sana, kami berdua berangkat dari Stasiun Hua Lamphong Bangkok, lalu naik MRT dan turun di Silom dengan harga tiket THB 16. Jika 1 Baht Thailand Rp. 315, ongkos dari Hua Lamphong ke Silom hanya Rp. 5.040.


Kami lalu pindah ke Stasiun BTS Sala Daeng dan membeli tiket jurusan Saphan Taksin, lantas turun di Stasiun Surasak dengan harga tiket THB 20 (sekitar Rp. 6.300). Dari Surasak, kami turun mengambil pintu keluar sebelah kiri dan menuju arah yang berlawanan hingga menemukan sebuah gang. Setelah itu, kami masuk gang  menuju Masjid Jawa yang jaraknya dari gang sekitar satu kilometer.

Bagi  anda yang ingin ke Masjid Jawa bila ke Thailand, jika masih bingung dengan jalan menuju masjid itu, ketika turun dari kereta api bisa langsung bertanya  kepada para tukang ojek. Semua akan tahu di mana Masjid Jawa.
Saya dan Rusdi Zulkarnain (pemilik Distro Alsatopass Jl Soekarno-Hatta) juga mencari tahu lokasi masjid itu dengan bertanya kepada tukang ojek.

Mereka lalu memberikan petunjuk arah. Di sebuah gang di pinggir jalan besar, kami bertanya lagi kepada tukang ojek yang lain, lalu ditunjukkan arah yang menurut dia tidak jauh.

Kami pun melanjutkan perjalanan menyusuri gang dengan berjalan kaki seperti yang diarahkan tukang ojek itu. Jalanan gang itu juga lengang. Padahal penduduknya padat. Mungkin penduduk Thailand kelelahan setelah mereka mengadakan pesta semalam suntuk.

Dari gang utama kami belok kiri, lalu belok kanan dan lurus terus sampai kami bertemu seorang ibu penjual makanan kecil. Dia menunjukkan bahwa Masjid Jawa masih lurus lantas belok ke kanan di sebuah gang kecil.

Di pertigaan sebuah gang ada seorang yang sedang mencuci mobil. Kami pun bertanya lagi tentang Masjid Jawa. Orang ini bersemangat menyambut kehadiran kami. "Are you Moslem ?" Assalamualaikum, I am Java too," jawab seorang lelaki yang kemudian menunjukkan lokasi masjid. Orang itu lalu mengabarkan kepada temannya bahwa ada orang Jawa datang. 

Orang kedua itu juga sangat bangga. Sambil menepuk dadanya dia juga mengatakan dirinya orang Jawa yang muslim. "I am Javanese, moslem," sambutnya dengan bahasa Inggris seadanya. 

Saya dan Rusdi kemudian masuk gang kecil yang menuju bagian belakang masjid. Sebenarnya ada jalan lewat depan, sebuah gang yang bisa dilalui kendaraan roda empat. "Assalamualaikum," kami menyapa sejumlah orang yang ada dalam kompleks masjid. Mereka pun dengan semangat menyambut kami layaknya keluarga. Apalagi begitu tahu kami orang Jawa, binar mata mereka menunjukkan rasa yang amat senang dan bangga.

Di masjid itu, kami yang sedari tadi kehausan disuguhi air dingin. tanpa banyak kata, langsung kami minum saja air yang baru dituang dari alat pendingin itu.

Kami disambut sejumlah pengurus masjid. Antara lain Sumaji bin Hidayat dan Alwi. Kami juga bertemu sesepuh masjid Abu Qosim. Mereka orang-orang keturunan Jawa. Bahkan, masih ada saudara mereka di Jawa.


Selanjutnya, kami bercerita singkat seputar perjalanan kami selama di Thailand. Kami juga mengutarakan bahwa kami berniat menyerahkan dua Al Qur'an dan sajadah yang kami bawa dari tanah air. Mereka menyambut dengan senang sekali meski barang itu juga sudah ada di masjid. "Ini bisa menjadi kenangan baik bagi kami ," tutur Abu Qosim. 

"Kenangan adalah sesuatu yang mahal harganya, apalagi untuk sebuah kenangan Indah. Terima kasih banyak. Semoga bermanfaat," Sambung Sumaji yang menerima secara simbolis pemberian kami.

Secara arsitektur, masjid ini persis dengan masjid di Jawa yang berkubah model lancip. Pilar di dalam masjid memiliki empat soko guru dan dilengkapi beduk. Tetapi tempat wudhunya berbeda. Di sana tempat wudhunya dilengkapi tempat duduk yang terbuat dari semen. Sehingga, saat berwudhu tidak dengan berdiri membungkuk, tetapi sambil duduk. Selebihnya, secara umum bangunan masjid tersebut masih sangat kukuh dan terawat.


Usai berwudhu, kami melanjutkan dengan shalat tahyatul masjid dua rakaat di masjid yang telah berumur ratusan tahun itu. Saat kami bersujud, pikiran ini melayang pada kampung halaman. Bercampur antara bahagia dan rasa rindu kampung halaman.

Abu Qosim menyampaikan, di kompleks masjid itu, tepatnya di halaman, juga ada ruang untuk madrasah. Setiap malam di tempat itu ada sekitar 60 anak yang belajar agama. Mereka anak-anak orang muslim di sekitar masjid. Selain madrasah diniyah, juga ada satu unit ambulans milik masjid.

Di depan masjid di seberang gang, juga terlihat pemakaman muslim sebagaimana pemakaman yang ada di Jawa. Suasana semacam itu melengkapi landskap sebuah kompleks sosial kemasyarakatan kawasan muslim di Jawa.

Saat kami tanya soal orang Jawa yang berkunjung ke Masjid Jawa, Abu Qosim menyampaikan selama ini sangat jarang. Biasanya orang Kedutaan Indonesia di Bangkok yang berkunjung ke Masjid Jawa. "Kami sebenarnya sangat senang jika ada orang Jawa berkunjung ke sini," ungkap Qosim.

Meski hanya sebentar di Masjid Jawa, bagi kami sangat berkesan karena sambutan yang ramah dan bersahabat itu. Malah, saat pamitan dan hendak melanjutkan perjalanan, kami diantar gratis naik sepeda motor ke tujuan kami berikutnya yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari Masjid Jawa.


Note : Tulisan ini diambil dari sumber Radar Malang Jawa Pos dan dilengkapi oleh saya sebagai pelaku perjalanan bersama wartawan Radar Malang

Tidak ada komentar: