BERAMAL LEWAT TULISAN

Minggu, 29 April 2012

Jadi Backpacker, Berkeliling Murah Meriah ke 12 Kota di 4 Negara (2)






IKUT BERMAIN FESTIVAL AIR TERBESAR DUNIA

Begitu mendarat di Bangkok, wartawan Radar Malang Kholid Amrullah langsung menuju Khao San Road (KSR). Di situlah berlangsung Songkran Festival, permainan semprot air terbesar di dunia.

SAYA dan Rusdi Zulkarnain (owner distro Alsatopass di Jalan Soekarno-Hatta) beruntung bisa sampai Khao San Road (KSR), Bangkok, saat Songkran Festival masih berlangsung. Bahkan, malam itu (15/4) adalah puncaknya.

Sebenarnya, badan terasa capai karena menempuh perjalanan udara empat jam dari Surabaya. Apalagi, kami berdua sudah berjalan sekitar satu kilometer sambil membawa dua tas yang lumayan besar.

Dengan sedikit terseok, kami menyusuri jalanan di KSR. Kawasan ini mirip dengan kawasan Legian, Bali, yang banyak disinggahi turis mancanegara.

KSR juga menjadi pusat backpacker dunia. Karena itu, di kawasan tersebut juga banyak ditemui tempat penginapan murah. Namun, Minggu malam itu, kami kesulitan mencari tempat penginapan karena banyak hotel yang fullbooked karena adanya Songkran Festival.

Untuk sedikit menghilangkan rasa penat, kami berbaur dengan ribuan muda mudi yang sedang berpesta air. Perlu diketahui, Songkran atau tahun baru Thailand adalah festival pertandingan menggunakan air terbesar di dunia yang diadakan pada April, bulan terpanas di Thailand. Orang-orang akan menyemprot temannya atau bahkan orang yang tidak dikenal dengan selang, balon air, atau pistol air.

Dulu, festival ini berbentuk seremoni. Tetapi lama kelamaan menjadi festival yang besar yang bertahan tiga sampai sepuluh hari, tergantung masing-masing daerah.

Dalam festival itu, banyak orang yang membawa senapan air berbagai ukuran, lalu saling menembak siapa saja yang ditemui di jalan. Yang disemprot pun tidak marah, meski basah kuyup. Selain semprot, mereka juga saling mengusap pipi dengan serbuk semacam tepung putih. Siapa saja boleh mengusapkan tepung itu kepada yang diinginkan.


Dari pengamatan Radar, yang paling banyak mengusapkan tepung adalah para pemuda kepada gadis-gadis yang ditemui di jalan. Tanpa permisi, seorang pemuda menghampiri gadis cantik berkulit kuning langsat, lalu memegang pipinya dan mengusapkan tepung ke pipi mulus itu. Si gadis hanya membalas dengan senyuman. Jika kebetulan yang diusap juga membawa tepung, dia akan balik membalas mengusap pipi orang yang mengusapi.

Selain itu, di sepanjang jalanan juga diputar musik disco yang menghentak keras. Ribuan muda mudi bergoyang. Ada yang semprot-semprotan air dan saling mengusap tepung. Banyak juga yang menenggak minuman beralkohol. Hampir semua pemudinya berpakaian serba minim dan seksi. Malah banyak yang sampai terlihat (maaf) buah dadanya. Tak sedikit pula pasangan yang berpelukan dan berciuman sambil bergoyang. Seakan malam itu malam bebas bagi mereka.

Masih di kawasan Khao San Road, tepatnya di dekat sound system besar, disediakan panggung kecil. Di atas panggung, tampil seorang waria yang bergoyang seksi bersama-sama seorang lelaki. Lelaki itu memeluk tubuh si waria yang (maaf) buah dadanya besar sekali. Thailand memang dikenal dengan warianya yang suka membesarkan buah dada melalui suntik silikon.

Goyangan dua penari itu menjadi pusat perhatian malam itu. Para penonton laki-laki dan perempuan mengikuti irama musik, bergoyang sambil berteriak serta saling menyemprotkan air. Jalan pun menjadi becek karena air dan berwarna putih karena tepung.

Sejumlah gadis yang bergoyang seksi menarik tangan Radar untuk ikut bergoyang diiringi musik menghentak. Sesekali semprotan air mengarah kepada Radar hingga membuat pakaian yang tadinya kering menjadi sedikit basah. Tak ingin kamera basah dan badan semakin kuyup, kami meninggalkan area itu untuk melanjutkan mencari penginapan.

Setelah mencari ke sana kemari, saya dan Rusdi mendapatkan hotel kecil bernama Green House dengan tarip yang murah. Satu malam THB 550 atau sekitar Rp. 175 ribu. Hotel ini berada di Khao San Road. Selain lokasinya strategis, hotel sederhana ini dilengkapi AC, kipas angin, free wifi, air panas, air dingin, dan dua bed. Sampai di hotel, jam menunjukkan pukul 23.30

Begitu sampai di kamar, kami langsung merebahkan tubuh yang kelelahan. Puas beristirahat kami mencoba jaringan wifi dan ternyata koneksinya sangat cepat.

Di luar, dentuman musik masih terdengar keras dan tiada henti. Itu menandakan pesta belum selesai. Maklum, itu Songkran Festival malam terakhir sehingga biasanya banyak yang merayakan sampai pagi. Meski sekitar pukul 00.00 polisi sudah membubarkan, muda mudi di sana masih tetap berlalu lalang di jalan. Sebagian masih menyetel musik keras-keras dan bergoyang sampai pagi.


Santos, salah satu petugas hotel, mengatakan, setiap tahun Songkran Festival selalu berlangsung meriah. Banyak tamu manacanegara yang datang. Imbasnya, hotel dan penginapan di kawasan Khao San Road selalu padat. "Turis-turis asing banyak yang datang untuk merayakan festival ini", ungkapnya.


Note : Tulisan ini diambil dari sumber Radar Malang Jawa Pos dan dilengkapi oleh saya sebagai pelaku perjalanan bersama wartawan Radar Malang

Tidak ada komentar: