BERAMAL LEWAT TULISAN

Minggu, 29 April 2012

Jadi Backpacker, Berkeliling Murah Meriah ke 12 Kota di 4 Negara (1)







Naik Taksi, Sopirnya Pemabuk

Rute pertama wisata backpacker wartawan Radar Malang Kholid Amrullah adalah Surabaya - Bangkok. Inilah laporannya.

PERJALANAN kami dari Malang menuju Bangkok, Thailand, terbilang lancar. Sekitar pukul 10.00, kami berangkat dari rumah Rusdi Zulkarnain di Perum Permata Jingga naik travel menuju Bandara Juanda, Surabaya.

Sebenarnya pesawat yang membawa kami ke Bangkok baru berangkat pukul 15.20. Namun, kami tidak mau mengambil resiko di jalan yang kadang sering macet. Apalagi di Porong, Sidoarjo. 

Namun, perjalanan ke Surabaya ternyata lancar. Maklum, jalan arteri Porong sudah difungsikan. Pukul 11.30, kami sampai di Juanda. Kami masih punya banyak waktu untuk istirahat. Waktu yang panjang kami gunakan untuk shalat Dhuhur dan Ashar yang dijamak takdim serta menata barang dalam tas (packing).  

Selama menunggu di Juanda, kami minum dan makan roti yang kami bawa dari Malang. Sebelum berangkat, kami memang berniat tidak akan membeli makanan atau minuman di bandara atau di pesawat karena semua tahu harganya berlipat ganda dibandingkan membeli di warung biasa.

Nah, saat para calon penumpang yang menunggu makan, misalnya membeli roti atau makan di kafe bandara. Kami berdua makan roti sisir dan minum air mineral serta teh dalam kemasan. "Rasanya kan sama saja toh, Mas," gurau Rusdi, lalu terseyum.

Karena sudah bertekad menggunakan biaya murah meriah dalam perjalanan ke luar negeri ini, kami tidak mau membeli minuman atau makanan di bandara dan pesawat. Padahal, jadwal pesawat masih lama dan penerbangan ke Bangkok ditempuh empat jam. Jadi, kami tetap butuh makanan dan minuman.

Rusdi, punya trik yang cerdas. Dia tetap membawa dua botol air mineral dalam tas. Setelah melewati scannerpetugas bandara mengetahui jika di dalam tas itu ada dua botol minuman. "Pak, dua botol air tolong dikeluarkan," ujar petugas bandara.

Dengan santai, Rusdi mengeluarkan minuman itu dan berniat tetap membawa. Namun, buru-buru petugas melarang. Lalu, Rusdi mengatakan bahwa pesawat masih lama sehingga dia butuh minum. Seorang petugas perempuan membolehkan wartawan Radar Malang dan Rusdi membawa dua botol air itu. "Tapi tutupnya jangan dibawa, Pak. Ditinggal di sini saja", ujar petugas itu. Kami pun dengan santai membawa dua botol tanpa tutup itu dan duduk di kursi tunggu sambil memandangi pesawat yang datang dan pergi. Disitulah Rusdi beraksi, dia mengeluarkan dua buah botol kosong dari dalam tasnya lengkap dengan tutupnya. Seketika itu juga air dipindahkan dari botol tanpa tutup ke botol kosong yang dia bawa. "Lumayanlah untuk bekal minum di pesawat", ujarnya. Maaf ya para petugas.

Di pesawat, seorang penumpang yang duduk di deretan kursi kami memesan nasi. Tak lama kemudian, pesanan itu datang dan orang itu makan. Kami lirik nasinya adalah nasi goreng dan segelas air mineral. Saat penumpang itu mulai makan, Rusdi dengan santainya mengeluarkan satu kotak kue kroket buatan istrinya, Mardiana. Kami pun makan kue kroket yang dituangi saus sambal dengan lahapnya. 

Menurut Rusdi yang telah mengunjungi lebih dari 25 negara itu, banyak cara untuk bepergian ke luar negeri. Apakah mau yang mahal atau dengan yang murah, semua tergantung selera. Jika yang ingin bepergian adalah orang-orang yang sibuk dan tidak punya banyak waktu, lebih baik mengikuti agen travel. Sebab, oleh travel, semuanya telah diatur dengan jadwal rapi. Jadi pelanggan travel tidak perlu susah-susah mencari tempat penginapan, tempat makan, dan tujuan wisata. Hal semacam ini banyak dilakukan oleh warga Malang yang tidak punya banyak waktu.

Tetapi, peserta tur dengan travel juga harus mengikuti aturan, tertutama terkait jam. Yakni tidak boleh terlambat karena akan mempengaruhi perjalanan selanjutnya. 

"Lain kalau pergi sendiri. Bebas mau apa saja," ungkap Rusdi. Ya, bagi yang menyukai petualangan, pergi ke luar negeri secara mandiri akan lebih menyenangkan dan memuaskan serta menambah banyak pengalaman. Menurut warga bapak satu anak ini, selama ini dirinya telah membuktikan bepergian ke puluhan negara, baik sendirian maupun bersama istri dan anaknya. "Kalau orang dengan uang satu juta rupiah mungkin hanya Juanda-Jakarta, saya bisa Thailand-Malaysia pulang pergi (PP)," ungkap Rusdi.

Sekitar pukul 19.30, kami sampai di Bandara Internasional Suvarnabhumi, Bangkok. Pengecekan paspor oleh petugas imigrasi berjalan cepat dan lancar. Kami tersenyum puas bisa sampai di bandara dengan arsitektur yang sangat indah itu.

Di Suvarnabhumi, kami menuju airport rail link. Di airport rail link, ada tiga kereta yang beroperasi. Yaitu City Line, Makkasan Express Line, dan Phaya Thai Express Line. Malam itu, kami menaiki City Line menuju Stasiun Phaya Thai.


Soal kondisi stasiun yang berada di kompleks bandara itu jangan disamakan dengan stasiun-stasiun kereta api di Indonesia. Jauh bedanya. Stasiun bandara di Bangkok sangat bersih. Bangunannya megah. Kereta api juga datang dan pergi sesuai jadwal.

Kami menuju Stasiun Phaya Thai yang berada di tengah kota. Untuk menuju ke Phaya Thai, kami harus merogoh kocek 45 Thailand Baht (THB) 45. Jika satu THB 1 sama dengan Rp. 315, harga tiket menuju Phaya Thai sekitar Rp. 14 ribu untuk ditukar koin yang berfungsi membuka pintu masuk ke dalam stasiun. Cukup menempelkan koin warna merah di atas sensor, pintu langsung terbuka. Di beberapa pintu masuk itu, tidak banyak penjaga.

Tak lama menunggu, City Line datang. Kami pun langsung masuk bersama puluhan penumpang lainnya. Tempat duduknya di pinggir, sebagaimana kereta listrik di Jakarta atau komuter di Surabaya. Kereta City Line ini juga sangat bersih, baik luar dan dalamnya. Jadi, duduk di kereta tersebut terasa nyaman sekali. Tak heran, perjalanan selama 20 menit yang kami tempuh serasa singkat.

Sekitar pukul 21.00, kami sampai di Stasiun Phaya Thai. Stasiun ini berlantai tiga. Masing-masing lantai juga terdapat jalur kereta api. Sama seperti stasiun yang berada di kompleks bandara, Stasiun Phaya Thai ini juga bersih dan nyaman. Tidak terlihat pedagang asongan, gepeng, atau orang-orang yang tidak berkepentingan di dalam stasiun itu. 

Turun dari stasiun, kami langsung disambut sopir taksi yang datang menanyakan tujuan kami. Ketika kami sebut tujuannya ke Khao San Road, sopir taksi yang sudah berumur 60-an tahun itu menawarkan ongkos THB 200. Kami menawar THB 80. Tapi sopir taksi itu tidak mau dan kami juga tidak mau.

Selanjutnya, kami berdua menuju taksi lain yang baru datang. Tetapi, saat posisi kami sudah dekat dengan taksi yang baru itu, sopir taksi yang lama berbalik arah. Pak sopirnya turun sambil menawarkan harga yang lebih murah. Dia menyebut THB 150. "Maunya berapa ?" tanya sopir itu. Lalu kami menyebut angka THB 100. Dia pun langsung setuju. 

Sebenarnya kami mau ngotot menolak karena dalam informasi yang kami ketahui dari internet, biaya dari stasiun menuju Khao San Road hanya THB 80. Namun, sopir taksi itu beralasan karena malam itu adalah puncak perayaan Songkran  Festival. Yaitu pesta tahunan semprot air yang berlangsung mulai 13-16 April. Jadi jalanan relatif ramai. Khusus Khao San Road bahkan ditutup untuk festival tersebut.

Begitu tawar menawar selesai, kami langsung masuk ke taksi warna hijau dan kuning itu. Kami pun tersentak saat mengetahui sopir tua itu berkali-kali menenggak minuman berakohol merk Leo. Untuk memastikan apakah minuman itu beralkohol, kami memasukkan jari ke botol terbuka yang diletakkan di antara kursi sopir dan kursi penumpang depan. Karena di dalam taksi gelap, sopir tidak melihat ulah kami. Benar saja. Saat kami cium, jelas-jelas minuman beralkohol. "Lho, berarti dia mabuk," tanyaku yang diiyakan Rusdi.

Saat itulah, kami terasa spot jantung. Khawatir jika sopir ini tidak konsentrasi dan terjadi apa-apa. Kekhawatiran kami semakin bertambah saat merasakan cara dia menyetir yang kasar. Saat memindah perseneling, laju terasa menyendat-nyendat. Selain itu, sopir tersebut menyetir dengan kecepatan yang lumayan. Kami sempat curiga, saat perjalanan baru beberapa ratus meter, tiba-tiba sopir itu memberhentikan taksinya, lalu dia turun. Kami terus mengamati apa yang dia lakukan. Ternyata dia membuang botol minuman alkohol itu ke taman yang berada di tengah pembatas jalan. Saat itulah kami melihat apa saja yang dia bawa. Kami menemukan beberapa minuman dalam botol yang masih disegel, lalu ada es batu yang diletakkan di tas kresek, pembuka botol, dan banyak tutup botol di ruang kemudi.

Setelah membuang botol, dia masuk mobil dan langsung membuka botol lagi lalu menuangkan minuman ke dalam gelas dan mencampur dengan es batu. Aroma alkohol begitu menyengat. Kekhawatiran kami semakin bertambah saja. Namun, dengan santainya dia menenggak lagi satu gelas ukuran sedang hingga habis, lalu tancap gas menuju Khao San Road.
Dalam perjalanan kami sempat mencoba mengajak bicara. Meski pemabuk, rupanya sopir itu enak diajak ngobrol. Dia menyebut di Thailand ada dua minuman beralkohol yang sangat memasyarakat, yaitu merk Leo dan merk Singha. "Kalau merk Singha lebih mahal THB 10. Leo harganya THB 50, Singha THB 60," ungkapnya lalu menenggak minuman lagi.

Sekitar dua kilometer setelah berhenti yang pertama, tiba-tiba sopir itu membanting setir di jalur kanan dan merapat di pinggir jalan. Dia keluar lagi dari taksi, lalu menuju taman. Lagi-lagi dia membuang botol minuman beralkohol di taman di pinggir jalan. Bukan hanya itu. Dengan santainya dia kencing sambil berdiri di taman.

Melihat kelakuan sopir ini kami semakin dag dig dug, karena khawatir kami tidak diantar sampai tujuan. Lagi-lagi, beberapa ratus meter setelah menyetir, sopir itu berhenti dan keluar lagi dari taksi, dia setengah berlari menuju toko obat.

Tak lama kemudian, sampailah kami di kawasan Khao San Road. Sopir itu mempersilakan kami untuk turun. Rupanya sopir ini jujur dan baik meski suka mabuk. Dia juga menunjukkan arah yang benar. Dia juga mewanti-wanti agar kami memasukkan barang berharga ke tas plastik agar tidak basah kena semprotan air. Benar saja. Saat kami menuju di kawasan itu, ramai sekali oleh muda mudi yang sedang merayakan pesta tahunan semprot air ini. Malam itu mereka terlihat basah kuyup dan berjalan ke sana kemari. Sesekali kami juga disemprot dan disiram air.



Note : Tulisan ini diambil dari sumber Radar Malang Jawa Pos dan dilengkapi oleh saya sebagai pelaku perjalanan bersama wartawan Radar Malang

Tidak ada komentar: