BERAMAL LEWAT TULISAN

Sabtu, 05 Mei 2012

Jadi Backpacker, Berkeliling Murah Meriah ke 12 Kota di 4 Negara (7)






SEHARI KE MYANMAR, DIKENAI TARIF

RP. 150 RIBU  

Kami memasuki Tachileik, kota kecil di wilayah Myanmar yang berbatasan dengan Thailand. Di sana bertaburan barang-barang murah dari China.

PAKET one day tour yang mengantar kami tidak sampai masuk ke Myanmar meskipun ada lokasi wisata yang berada di perbatasan. Jika dihitung waktunya, memang tidak cukup untuk memasuki wilayah Myanmar. Padahal, kami ingin masuk ke Kota Tachileik, Myanmar, yang berbatasan langsung dengan Kota Mae Sai, Thailand. Bersama agen travel itu, kami hanya bisa melihat perbatasan kota itu dari atas bukit.

Akhirnya kami memutuskan tetap ke Tachileik. Saya dan teman seperjalanan, Rusdi Zulkarnain (warga Perum Permata Jingga yang juga pemilik Distro Alsatopass Jl Soekarno-Hatta), pun harus menginap dua malam di Diamond Inn, Chiang Rai. Tentunya, menginap dua malam di Chiang Rai juga mengurangi isi kantong kami meski tarif hotelnya hanya THB 600 atau sekitar Rp 180 ribu. Kami menilai, itu lebih baik daripada kami harus membatalkan perjalanan ke Tachileik. Sekalian, malam itu kami ingin istirahat lebih lama di hotel untuk membuang rasa lelah setelah beberapa hari keliling Thailand. Begitu sampai di Hotel, seperti biasa, kami menanak nasi, makan, lalu tidur.

Pagi harinya, saya dan Rusdi melanjutkan perjalanan menuju Myanmar dengan naik bus antar kota. Untunglah hotel tempat kami menginap berada tak jauh dari terminal bus dan angkutan kota. Kami cukup berjalan kaki menuju terminal, lalu naik bus umum jurusan Chiang Rai - Mae Sai dengan tarif THB 39 atau Rp 12 ribuan untuk lama perjalanan sekitar 1,5 jam.

Bus dari Chiang Rai menuju Mae Sai yang kami naiki cukup nyaman. Meski modelnya lawas dan tanpa AC, semua kipas anginnya berfungsi baik dan busnya bersih. Sopirnya juga tidak ugal-ugalan dan kondekturnya seorang wanita yang ramah.

Saat kami amati, hampir semua kondektur bus di sana adalah wanita yang ramah. Bisa jadi, itu sengaja dilakukan agar mampu memberikan kesan yang ramah kepada semua penumpang. Terutama wisatawan dari luar negeri. Begitu sampai di terminal Mae Sai, kami langsung disambut awak angkutan kota yang disebut songthew untuk menuju perbatasan, hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit dengan tarif THB 15 atau Rp 4.500.

Perjalanan kami lanjutkan menuju kantor Imigrasi Thailand di perbatasan. Oleh petugas imigrasi, paspor kami hanya diperiksa, lalu distempel dan langsung bisa go to Imigrasi Myanmar. Di sana, kami diharuskan membayar THB 500 atau sekitar Rp 150 ribu untuk kunjungan satu hari penuh bagi satu orang. Kemudian paspor kami ditinggal di Imigrasi Myanmar dan diganti dengan entry permit untuk masuk Myanmar.

Proses di imigrasi kedua negara itu berjalan sangat cepat dan menyenangkan. Semua petugas Imigrasi Thailand dan Myanmar di perbatasan itu cukup ramah dalam melayani pengunjung. Begitu selesai pemeriksaan, kami langsung berkeliling ke kota Tachileik, terutama di pasar yang banyak menjual barang-barang dari China. Saat berkeliling Tachileik, kami melihat perbedaan yang mencolok dibandingkan Mae Sai, tetangganya di Thailand. Tachileik masih kumuh. Fasilitas umumnya seperti trotoar juga kurang baik. Itu berbeda jauh dengan Mae Sai yang hanya terpisahkan oleh sungai kecil. Mae Sai seakan sengaja tak ingin kalah dengan kota tetangga beda negara itu. Jalan-jalan raya di Mae Sai sangat lebar dan halus sehingga kendaraan bisa melaju dengan lancar. Pusat perbelanjaan di Mae Sai juga ditata rapi.

Selama di Tachileik, saya dan Rusdi tak lupa mencari masjid, sebagaimana kunjungan kami ke kota-kota sebelumnya. Untunglah, masjid di Tachileik tak jauh dari perbatasan. Hanya sekitar 15 menit berjalan kaki. Kami menemukan Masjid Nurul Islam yang lumayan megah. 

Pagi menjelang siang itu, suasana masjid cukup ramai. Sejumlah anak kecil sedang belajar mengaji dengan dibimbing seorang Ustadz. Mereka yang melihat kami datang dan befoto-foto mengalihkan perhatiannya kepada kami. Malah, saat kami ingin befoto dengan background  mereka yang sedang mengaji, anak-anak itu malah berakting. Di masjid itu, kami melaksanakan shalat dhuha.

Sayang, di masjid itu kami tidak sempat berbincang-bincang dengan pengurus masjid. Soalnya, mereka sedang sibuk mengajar ngaji. Yang jelas, umat Islam di Tachileik lebih mudah ditemukan daripada di Chiang Rai atau Mae Sai. Begitu juga dengan masakan halal. Di Tachileik, banyak warga Melayu dan India. Kami pun lalu mampir untuk makan siang dengan nasi biryani yang dimasak orang Myanmar.

Selesai makan, kami melanjutkan untuk berjalan kaki di seputar kota itu. Kami mencoba masuk ke sejumlah toko grosir untuk menihat-lihat barang beserta harganya. Untuk harga, barang-barang di Tachileik tidaklah mahal. Hampir sama dengan Indonesia. Bahkan ada yang lebih murah. Maklum, semua barang yang dijual di Tachileik adalah barang-barang dari China.

Selain itu, meski pasarnya berada di Myanmar, transaksi di Pasar Tachileik banyak menggunakan mata uang Bath Thailand, bukan mata uang Kyat Myanmar. Maklum yang berbelanja di sana kebanyakan wisatawan yang baru berlibur di Thailand. Perbedaan lain yang kami amati di Tachileik adalah cara simpangan moda angkutan umum yang menggunakan sisi kanan. Padahal, setir mobil di sana berada di sebelah kanan.  Biasanya, jika simpangan menggunakan sisi kanan, posisi setir berada di kiri. Demikian juga dengan selisih waktu. Antara Thailand dan Myanmar selisih 30 menit lebih cepat dibandingkan Thailand. Padahal, dua wilayah ini bersebelahan.

Sementara, suasana di perbatasan dua negara tersebut juga terlihat ramai. Orang Thailand maupun orang Myanmar bebas keluar masuk kedua negara itu hanya dengan menunjukkan kartu atau formulir imigrasi. Tapi kebanyakan masyarakat tidak menggunakan paspor. Mereka yang keluar masuk itu dari berbagai kalangan, mulai pedagang kaki lima yang sepeda maupun yang menggunakan mobil mewah.

Menuju Chiang Kong

Setelah dua malam menginap d Diamond Inn Chiang Rai, kami melanjutkan perjalanan menuju Chiang Kong. Pukul 07.00 kami dijemput dengan mobil Honda City yang lumayan bagus dengan sopir anak muda yang pandai berbahasa Inggris. Dengan begitu, kami banyak ngobrol selama perjalanan. Mulai hal-hal kecil seputar keluarga sopir itu hingga soal politik negara.

"Saya suka Thaksin (mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra yang juga kakak Perdana Menteri Thailand sekarang : Yingluck Shinawatra)," kata sopir yang bernama Koi itu. Menurut dia, sosok Thaksin adalah politikus yang sangat memperhatikan rakyat. Thaksin membagi uang langsung kepada rakyat. Sedangkan lawan politiknya, mantan Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva, hanya mementingkan para pegawai negara.

Mobil yang kami tumpangi terus melaju dengan kecepatan rata-rata 80 kilometer per jam di jalanan yang serba mulus dan lebar. Ya, hampir semua jalan yang kami lalui dengan angkutan darat adalah jalan yang mulus dan lebar, bahkan tak sedikit yang memiliki dua lajur. Pemerintah Thailand sangat memperhatikan akses jalan menuju titik-titik lokasi wisata meski tempat wisata itu hanya sederhana. Hal itu berbeda dengan di Malang. Di sini masih banyak ditemui jalan menuju tempat wisata yang rusak dan sempit. Tak heran, banyak wisatawan yang kapok untuk kembali.

Sekitar pukul 09.00, kami sampai di Chiang Kong yang terletak di pinggir Sungai Mekong sisi Thailand. Praktis perjalanan kami Chiang Rai ke Chiang Kong memakan waktu sekitar dua jam. Di Chiang Kong, kami sengaja melanjutkan perjalanan dengan perahu atau slow boat untuk menuju Kota Luang Prabang di wilayah People Democratic Republic (PDR) Laos.

Begitu sampai di Chiang Kong, kami menuju penjual tiket slow boat. Kami diberi stiker yang ditempel di baju. Selanjutnya, kami menuju imigrasi Thailand di pinggiran Sungai Mekong untuk pengecekan paspor keluar Thailand. Proses pemeriksaan sangat cepat. Paspor hanya distempel. Setelah itu, kami menyebrangi Sungai Mekong dengan boat kecil yang hanya butuh waktu dua menitan untuk sampai di Houay Xai di wilayah Laos. Tiket untuk menyeberang ini hanya THB 40 atau sekitar Rp 12.500.

Meski berada di perkampungan, suasana Houay Xai cukup ramai. Banyak wisatawan mancanegara yang menyeberang. Lalu juga ada kapal sejenis feri untuk menyeberangkan barang, termasuk mengangkut mobil dan truk. 

Sampai di wilayah Laos, kami mengisi lembar imigrasi dan paspor yang distempel arrival. Kami tidak perlu membayar visa karena paspor kami adalah paspor Indonesia yang menjadi anggota ASEAN. Kondisi itu tidak seperti waktu yang lalu-lalu. Sebelum kesepakatan ASEAN soal penghapusan biaya visa, pengunjung mesti bayar visa sekitar USD 30 atau sekitar Rp 255 ribu.

Sambil menunggu calon penumpang slow boat yang lain, kami dibawa menuju kantor perwakilan travel. Di sela-sela menunggu keberangkatan, kami berjalan-jalan di kawasan itu, lalu menukar USD 100 yang nilainya menjadi KIP 797.000, mata uang Laos. Sedangkan uang Bath Thailand terakhir yang kami miliki juga kami tukarkan menjadi KIP.

Satu jam kemudian, para pelancong mulai berdatangan. Mereka adalah para wisatawan dari berbagai belahan dunia seperti Amerika Serikat, Prancis, Iran, Inggris, Jepang, dan Irlandia. Dari Indonesia, hanya saya dan Rusdi.

Tujuan slow boat dari Houay Xai ke Luang Prabang dengan lama perjalanan tujuh jam dan harga tiket THB 1.000 atau sekitar Rp 315 ribu. Namun, kami harus menginap terlebih dahulu di Pak Beng. Sebab, di malam hari tidak ada slow boat yang beroperasi mengingat jalurnya yang rawan.





Note : Tulisan ini diambil dari sumber Radar Malang Jawa Pos dan dilengkapi oleh saya sebagai pelaku perjalanan bersama wartawan Radar Malang

Tidak ada komentar: