BERAMAL LEWAT TULISAN

Sabtu, 05 Mei 2012

Jadi Backpacker, Berkeliling Murah Meriah ke 12 Kota di 4 Negara (8)








MENGUNJUNGI KOTA WARISAN DUNIA DI LAOS

Tujuan kami berikutnya adalah Kota Luang Prabang di Laos. Inilah kota yang sejak 1995 dinobarkan sebagai world heritage oleh UNESCO.

KAMI naik slow boat dari Houay Xai menuju Luang Prabang di wilayah Negara Laos. Sekitar pukul 12.00, kami mulai menyusuri Sungai Mekong. Dalam perjalanan itu, suasana di dalam boat sangat meriah. Para penumpang yang 90 prosen bule berpesta sambil minum Beerlao, minuman bir khas Laos atau bir bintang-nya Indonesia. Sebagian tertawa, menyanyi, dan berjoget di atas boat bersama pasangannya. Meski demikian, mereka tetap tertib dan tidak mengganggu penumpang lain.

Teman seperjalanan saya, Rusdi Zulkarnain (pemilik Distro Alsatopass di Jl Soekarno-Hatta), berkali-kali ditawari untuk menenggak bir. Namun, dengan sopan, warga Perum Permata Jingga, Kota Malang itu menolak sambil tersenyum. "Wah, kalau saya ikut minum, nggak sampai tujuan nanti," ujar Rusdi.

Pukul 19.00, slow boat merapat di dermaga kecil Pak Beng, Laos. Semua penumpang singgah semalam di kota kecil yang sepi itu. Di sana hanya ada penginapan murah dan warung-warung mirip di kawasan Payung, Kota Baru. Bedanya, Pak Beng berada di pinggir sungai.

Malam itu, kami makan di warung Hasan milik orang India yang menyediakan makanan halal dan menyediakan fasilitas wifi gratis. Kami memesan nasi vegetable biryani dan jus mangga. 
ri Keesokan harinya, perjalanan dilanjutkan lagi ke Luang Prabang dengan slow boat yang berbeda. Begitu semua penumpang naik, hiruk pikuk kembali mewarnai di dalam boat. Seratusan turis dari berbagai negara pesta miras di sepanjang perjalanan. Ada yang sengaja membawa peti dingin berisi miras. Mereka minum dan bergoyang tiada henti. Sesekali beberapa orang yang berpesta itu menyapa kami dan mengajak berbicara.

Pemandangan alami di alur Sungai Mekong masih asli. Di kiri dan di kanan tepian sungai dihiasi berbatuan seperti granit dan bukit-bukit yang menghimpit. Walaupun perjalanan di sungai cukup lama, semua seperti itu tidak terasa setelah melihat keindahan alam serta tingkah polah para bule yang berpesta dan hanya memakai pakaian seadanya itu. Slow boat juga beberapa kali menurunkan dan menaikkan penumpang di daerah-daerah yang tidak jelas namanya karena seperti tidak ada rumah di dekat situ.

Sekitar pukul 19.00, boat merapat di dermaga sederhana pinggir Sungai Mekong Luang Prabang. Keluar dari boat sambil membawa barang bawaan, kami berjalan mendaki menuju jalan raya. Di situ kami disambut dengan orang-orang yang menawarkan guest house dan paket wisata.


Pilihan kami jatuh pada guest house Soutikone yang taripnya KIP 80 ribuan atau sekitar Rp 85 ribu satu kamar untuk berdua. Seperti biasanya, malam itu kami memasak nasi. Beras dan lauk yang kami bawa belum habis. Hanya rendang kering yang telah habis di Chiang Rai. Lauk yang lain seperti sambel goreng kacang teri tempe, bumbu pecel, dan serundeng serta beras dua kilogram yang kami bawa masih ada sisa.

Malam itu kami lanjutkan dengan memasak nasi magic jar. Sambil menunggu nasi matang, kami beristirahat sejenak dan mandi. Selesai makan malam, kami keluar untuk menikmati suasana malam Minggu di kota tua Luang Prabang nan eksotik.

Kota ini tidak terlalu ramai oleh kendaraan. Di pinggir-pinggir jalan banyak tersedia kafe yang digunakan sebagai tempat nongkrong para wisatawan. Yang menarik, bangunan tua di kota ini tidak ada yang dirobohkan dan diganti dengan bangunan baru seperti di Malang. Maklum sejak 1995, kota ini dinobatkan sebagai world heritage (warisan dunia) oleh UNESCO. Semua bangunan tua masih terus dipertahankan, bahkan banyak bangunan yang catnya dibiarkan kusam. Hal ini justru menambah eksotisme kota yang berpenduduk sekitar 130 ribu jiwa dan menjadi salah satu provinsi terkaya di Laos tersebut.

Malam itu, kami tak lupa menyusuri night market (pasar malam) yang menjajakan berbagai souvenir khas Laos. Night market ini berada di jalan raya yang dipasangi tenda-tenda mirip dengan Pasar Minggu di Kota Malang. Puas berkeliling, kami kembali ke guest house untuk beristirahat.



Note : Tulisan ini diambil dari sumber Radar Malang Jawa Pos dan dilengkapi oleh saya sebagai pelaku perjalanan bersama wartawan Radar Malang


Tidak ada komentar: