BERAMAL LEWAT TULISAN

Sabtu, 08 September 2012

DIALOG BERSAMA JTV MALANG, TEVE-NYA KERA NGALAM dengan TEMA ‘PEDULI ANAK NEGERI UNTUK NEGERI’




Di penghujung Bulan Agustus 2012, aku memenuhi undangan JTV Malang untuk mengisi Acara Bincang Bincang jam tayang 16.30 WIB. Ini adalah kali kedua kami (beserta putera) tampil di Acara Bincang-Bincang JTV Malang. Pada tampilan terakhir ini aku hanya seorang diri (tanpa putera) namun didampingkan dengan seorang Photographer professional asal Malang, Mas Bambang Sugiarto.


Aku dianggap media sebagai pelaku backpacking yang telah menjelajahi beberapa tempat di DN dan LN. Sedang Mas Bambang adalah Photographer handal spesial mengabadikan objek candi-candi di Indonesia, termasuk pernak pernik budaya dan panorama keindahan alam Indonesia.



Dialognya kurang lebih sebagai berikut :
Presenter Acara Bincang-Bincang, Mas Tio (JTV) : apa yang melatarbelakangi Bapak punya aktivitas seperti itu ?

Mas Bambang menjawab ‘Saya melihat banyak sekali peninggalan sejarah bangsa ini yang tersebar seantero nusantara belum tergali maksimal’, jawabnya. ‘Selama ini detail berbagai peninggalan sejarah di Indonesia banyak dieksplor oleh photographer asing sehingga mereka mempunyai data dan dokumentasi yang lengkap, sedangkan kita tidak’, katanya.

Kini giliranku menjawab, 'Allah menciptakan dunia beserta isinya ini untuk ditinggali umat manusia. Maka saya ingin menjelajahi bumi ini selain tempat dimana saya dilahirkan. Tentunya dengan biaya yang murah. Kemudian menikmati, mensyukuri dan men-share kepada orang lain'.

JTV : ‘Sejak kapan Bapak melalukan backpacker sebagai hobby ?’. Aku menjawab kalau tujuan domestik sudah saya lakukan sejak SMP, sedangkan untuk ke Luar Negeri ‘LN’ pertama saya lakukan pada tahun 1995.

JTV : ‘Bagaimana bisa Bapak melakukan backpackeran seperti ini ?’. Hal ini saya lakukan semuanya dengan mandiri, biaya saya kumpulkan sedikit demi sedikit, kemudian menentukan tujuan traveling sesuai dengan biaya yang ada. JTV : ‘Kapan Bapak terakhir melakukan backpacking dan kapan ada rencana lagi ?’. Terakhir pada bulan Juli 2012 kami (beserta anak dan isteri) traveling ke Manila dan Davao di Filipina. Pada Januari 2013 saya berencana akan ke Brunei, Kota Kinabalu, Sandakan dan ke Bongao Pulau Tawi-Tawi, Mindanao Filipina Selatan.  

JTV : ‘Apa suka dukanya backpacking ke LN ?’.  Semua urusan backpacking saya atur sendiri sehingga waktu dan budget harus sesuai dengan yang direncanakan, jangan sampai meleset atau kehabisan uang. Setelah itu selalu menjaga kebugaran tubuh jangan sampai sakit. Ada kalanya harus mencari dan memilih makanan yang halal di negara yang bukan mayoritas Muslim, itu merupakan seni tersendiri.  

JTV : ‘Apa saja yang Bapak lakukan untuk ikut mempromosikan Indonesia di manca negara ?’. Aku selalu ngobrol berbaur dengan berbagai kalangan di LN dan saling bertukar cerita sambil menyelipkan berbagai potensi wisata keindahan alam Indonesia. Kemarin sewaktu ke Filipina kami bawa kuliner khas Ngalam seperti kripik tempe dan bumbu pecel. Tak lupa juga membawa ratusan sticker keindahan Indonesia, Al Qur’an dan sajadah untuk Masjid-Masjid serta beberapa lembar uang kertas Rupiah. Semua itu  aku bagikan ke orang-orang di Filipina seperti kru pesawat, sopir taksi, turis, para pedagang dan petugas hotel termasuk Paspamres Istana Malacanang. Dalam perjalanan backpacking ke LN sedapat mungkin kami memakai batik karya anak bangsa. Semoga Indonesia lebih dikenal dunia.

JTV : ‘Kita ini kan dianggap negara dunia ke-3, bagaimana tanggapan orang-orang Negara yang Bapak kunjungi terhadap orang Indonesia ?. Tanggapannya biasa saja, kalau lihat wajah mereka kan sulit membedakan kita orang mana. Karena wajah kita hampir sama dengan wajah bangsa-bangsa Asia Tenggara, kecuali kalau ke selain Asia. Maaf tapi mereka lebih mengenal Malaysia daripada Indonesia. Mereka sering bertanya ‘Anda dari Malaysia ?’. Mengapa hal seperti ini bisa terjadi, mungkin saja Malaysia lebih intens mempromosikan negaranya di berbagai TV dunia seperti di National Geographic Channel. Oleh sebab itu, adalah tugas kita bersama memajukan pariwisata Indonesia baik pemerintah, swasta maupun perorangan.

Kebanyakan orang di luar sana memandang orang Indonesia adalah bangsa yang ramah. Sejak kecil saya sering mendengar hal ini sampai sekarang. Namun saya kuatir, mereka hanya ingin meninabobokan kita sehingga kita terlena dengan pujian tersebut. Kenyataannya mereka lebih ramah daripada kita dan mereka selalu melayani apa yang kita butuhkan, sehingga sebagai turis kita merasa puas.   

JTV : ‘Bapak kesulitan nggak ketika di LN dan mungkin kita dianggap ‘kampungan’ oleh orang sana ?’. Akh nggak lah negara kita kan juga sudah maju kecuali kalau dibandingkan dengan Singapura, Hongkong atau Jepang yang teknologinya lebih maju dari kita. Cukup belajar sekali dua kali aja sudah beres, misalnya bagaimana cara naik MRT atau lainnya. Setelah itu semua menjadi biasa dan tidak masalah, kita selalu bisa menyesuaikan diri. Apalagi kalau kita tinggal di perkotaan Indonesia, hal tersebut tidak terlalu sulit untuk beradaptasi.

Beberapa pertanyaan yang senada dilontarkan juga kepada Mas Bambang dan dijawab : ‘Suka duka sebagai Photographer yang banyak mengabadikan keindahan alam Indonesia, bangunan bersejarah khususnya candi-candi adalah memerlukan dana yang besar. Disamping itu masih sedikit sekali orang yang mau konsen mengabadikan, memelihara dan mengembangkan aset sejarah bangsa ini untuk dijual sebagai objek turisme’, katanya.

Mas Bambang selanjutnya mengisahkan pengalamannya ketika mau memotret di salah satu candi di Jawa, dia pernah dilarang memotret padahal sudah bayar tiket masuk. Petugasnya bilang harus ada ijin ini dan itu karena Petugas jaga melihat Mas Bambang banyak membawa peralatan photography-nya. Padahal tadi sebelumnya ada orang asing dibiarkan bebas masuk memotret candi dari berbagai angel. Ironis memang, sampai-sampai Mas Bambang harus bersitegang dengan Petugas.

Pengalaman lain adalah ketika dia ingin memotret candi pada waktu senja menjelang maghrib. Di sekitar candi tidak ada penerangan sama sekali, sehingga dia harus menarik kabel listrik sepanjang 300 meter untuk menerangi obyeknya.

Sarana kebersihan di sekitar candi juga sangat minim, misalnya pernah terjadi ketika turis asing bingung ingin membuang sampah kecil harus dibuang kemana karena sama sekali tidak ada tempat sampah. Terpaksa si turis menggenggamnya sampai ke dalam mobil.

Kemudian Mas Bambang menceritakan bahwa obyek turisme di Malang Raya sangat banyak dan bisa dijual lebih luas ke luar. Menurutnya, Malang raya pernah dianggap Belanda mempunyai konsep tata ruang yang bagus dan mereka malah mencontohnya untuk pembangunan di negerinya. Padahal tata ruang di Malang raya pada waktu itu mereka sendiri yang membangunnya.

Banyak bangunan bersejarah di Malang raya yang sangat berarti sebagai aset bangsa. Namun ada beberapa hal yang mengganggu, misalnya banyak kabel listrik dan telepon yang ada di depan obyek-obyek bersejarah tersebut yang mengganggu view aslinya. Hal tersebut sangat menyulitkan para photographer mengabadikan obyek tersebut walaupun mengambil dari beberapa angel, katanya. Berbeda dengan di Eropa semua instalasi ada di bawah tanah (underground) jadi obyek seperti bangunan bersejarah dapat dinikmati secara utuh. 
      
Pertanyaan JTV Terakhir : ‘Apa saran Bapak untuk memajukan pariwisata Indonesia di LN ?’. Mengutip nasehat JF Kennedy ‘Jangan tanyakan apa yang sudah negara berikan kepada anda, tapi tanyakan apa yang sudah anda berikan kepada negara’, inilah yang terus aku upayakan ketika di LN. Walaupun baru sedikit, misalnya hanya membagikan kripik tempe, bumbu pecel dan sticker saja, yang penting negara ini bisa lebih dikenal di manca negara. Saran saya adalah secepatnya perbaiki infrastuktur seperti akses jalan  dan ketersediaan listrik menuju spot-spot wisata di berbagai lokasi. Segala macam tarip juga harus ditentukan yang pasti sehingga semua hal tadi bisa membantu turis lokal maupun asing untuk merencanakan perjalanannya lebih akurat. 

Sebagai penutup aku sepakat bersama Mas Bambang untuk berkolaborasi mempromosikan Indonesia di LN. Aku akan minta foto-foto hasil karyanya dalam bentuk post card, kemudian akan aku distribusikan ke manca negara.

TERIMA KASIH JTV REK …..



copyright© by RUSDI ZULKARNAIN
email : alsatopass@gmail.com


1 komentar:

Arip Pudin Hidayat mengatakan...

wah keren banget.