BERAMAL LEWAT TULISAN

Selasa, 30 Oktober 2012

LIBYA YANG AKU TAU



Bicara tentang Libya, pikiran kita pasti tertuju pada mantan pemimpinnya Muammar Al Qaddafi. Negera besar di Afrika Utara yang sangat terkenal ini memiliki kekayaan melimpah, keunikan mantan pemimpinnya, Gurun Sahara dan potensi minyaknya yang besar. Negara di wilayah Maghribi ini memiliki Kota Tripoli sebagai ibukotanya.

Secara geografis, posisi negeri ini tidak begitu jauh dengan negara-negara di Eropa seperti Malta dan Italia. Atau dengan negara-negara tetangganya di Asia Afrika, antara lain Mesir, Tunisia, Chad, Niger, Sudan dan Algeria. Namun sungguh disayangkan belakangan ini telah terjadi perang saudara yang memaksa pemimpinnya melarikan diri dan bahkan sampai terbunuh. Akhirnya, Libya sekarang harus menata kembali negaranya yang morat marit dan masih menyisakan berbagai masalah besar diantaranya bagaimana harus menyatukan rakyatnya yang tercerai berai itu.

Negara berpenduduk 100% Muslim ini sebelumnya banyak membantu pendidikan gratis bagi students asal Indonesia dan membantu pembangunan masjid di seluruh dunia. Namun kini negara ini harus berada di bawah ‘control’ negara-negara barat yang gemar ikut campur urusan kedaulatan negara lain  dengan dalih demi ketertiban dan demokrasi dunia.

Itulah LIBYA ….

NARSIS DENGAN SHAWL INDEPENDENT

PERSAUDARAAN YANG KUAT

Seperti Ummat Muslim pada umumnya, sesungguhnya antar mereka (orang Libya) mempunyai rasa persaudaraan yang kuat dan mempunyai toleransi yang tinggi. Tetapi semua itu sangat tergantung kepada pribadi masing-masing.

Rasa persaudaraan sering mereka tunjukkan, misalnya kumpul berdiskusi di teras masjid dengan posisi duduk melingkar selepas shalat berjamaah. Atau mengundang kerabat dan tetangganya untuk makan bersama, dengan menu khas Libya. Atau saling berkunjung ke rumah-rumah sahabatnya.

Aktifitas seperti ini kebanyakan dilakukan oleh kaum lelakinya, sedangkan kaum hawa-nya berada di belakang layar mengurus rumah tangga dan menjaga anak-anaknya. Hanya sesekali saja mereka (isteri) diajak suaminya berkunjung atau plesir ke luar rumah.

Silaturahim yang tulus tanpa pamrih, itulah yang selama ini kurasakan dari mereka. Aku bergaul sudah hampir 8 bulan belakangan ini. Banyak sudah ilmu yang kudapat tentang Libya lengkap dengan pernak pernik dan lika likunya.

Berbeda dengan orang Saudi Arabia yang ditugaskan mengajar di Indonesia, mereka kebanyakan tidak mengerti bahasa Inggris. Sedangkan orang Libya banyak yang cukup mampu berbahasa Inggris, apalagi penguasaan bahasa Arabnya sangat baik karena memang itu bahasanya.

Bagaimana kalau kita bicara dengan orang Libya ? Biasanya mereka sangat memperhatikan lawan bicaranya (face 2 face). Mata mereka pasti kontak dengan mata kita. Berdasarkan pengalaman, dengan saling kontak mata saja mereka tau gambaran tentang kita. Kalau kita ada maksud-maksud yang kurang baik kepada mereka, sepertinya mereka tau hanya dengan melihat mata kita.

Perkenalan dengan kesan yang baik (Moment of Truth) adalah sebagai kepercayaan awal, itu sangat penting buat mereka. Selanjutnya kami masih bisa saling percaya sambil tetap memperhatikan kekonsistenan masing-masing dari hari ke hari. Kalau sudah saling ada cacat sangat sulit untuk mendapatkan kepercayaan lagi. Oleh sebab itu apabila ada masalah atau ada yang salah, di antara kami segera lakukan klarifikasi dan clear-kan dengan penuh keterbukaan.

Kebanyakan orang Timur Tengah termasuk Libya, kalau dia punya mau semuanya ingin cepat (tidak sabar). Sebut saja misalnya kalau minta tolong, mereka ingin cepat dibantu tanpa memikirkan kita sedang punya urusan lain atau tidak. Namun belum tentu sebaliknya. Oleh sebab itu kalau mereka minta tolong dan kita masih sibuk bilang aja terus terang.  

Arogan, itulah yang kadang-kadang muncul dari mereka. Kita harus pandai-pandai mengingatkannya agar tidak bersikap demikian. Bicaranya juga cukup keras kelihatannya seperti berkelahi, sekali waktu aku suka bilang “Hallo jangan bicara keras-keras, ini bukan padang pasir yang sepi nggak ada orang lain”, lantas mereka tertawa mendengarkan peringatanku.


BUSANA SEHARI-HARI

Mungkin sama dengan di negaranya sana dalam cara berpakaian. Umumnya di negara-negara Timur Tengah dan Afrika, pakaiannya adalah jubah panjang atau ‘gamis’ baik untuk pria maupun wanitanya. Warna yang umum dipakai adalah putih (terang) untuk pria dan warna hitam (gelap) untuk wanita.

Bagi kaum wanita Libya disamping memakai gamis, mereka juga memakai jilbab tampak muka atau jilbab penuh (hijab) hanya mata yang terlihat. Kedua cara berhijab tersebut tidak dipertentangkan, silakan pilih mana yang disukai. Yang utama adalah pakaian harus menutup aurat. Sedangkan  berpakaian untuk di dalam rumah (internal) hampir sama dengan kebanyakan cara berpakaian orang Indonesia. Di dalam rumah sendiri pakai yang minim juga nggak masalah, yang tahu dan yang boleh melihat hanya pasangannya masing-masing.

Bagi kaum prianya disamping sering pakai gamis, tidak jarang mereka juga pakai pakaian biasa seperti kaos, celana panjang, celana training atau celana pendek yang panjangnya sampai di bawah lutut.

Pada hari-hari special seperti hari raya Idul Fitri atau Idul Adha mereka menambah pakaian gamisnya dengan rompi tradisional Libya (farmala) bersama kopiah khasnya.


MENGENDARAI SEPEDA MOTOR

Hampir semua laki-laki Libya dewasa bisa mengendarai mobil, dan hampir tidak ada yang bisa mengendarai sepeda motor. Oleh sebab itu di sini mereka banyak yang belajar naik sepeda motor agar bisa pergi kemana-mana, seperti ke kampus atau ke pasar. Ada juga yang rental mobil, bayarnya bulanan. Lucu dan kuatir melihat mereka yang sudah amat dewasa masih belajar naik motor.

Mereka sering sedikit ngebut mengendarainya seperti terburu-buru. Tidak jarang dari mereka menggunakan jalur jalan sebelah kanan, mungkin ingat seperti di negaranya. Kalau ini terjadi dan aku tau, langsung aku tegur dan bilang "Anda harus hati-hati dan taati peraturan di sini". Hanya beberapa orang saja dari mereka yang mempunyai SIM Internasional (International Driving License).


BERTAMU KE RUMAH ORANG LIBYA

Jangan bertamu ke rumah orang Libya yang ada di Indonesia pada pagi hari, biasanya mereka masih tidur hingga menjelang Dhuhur. Mungkin ini karena perbedaan waktu antara Libya (Tripoli) dengan Indonesia (Malang) sekitar 6 jam lebih dulu Malang. Oleh sebab itu sebelum bertamu, buat janjian dulu, jam berapa kita mau datang.

Ketika berkunjung biasanya ada jeda waktu antara mengetuk pintu sambil salam sampai dibukakan pintu. Mereka akan membukakan pintu setelah segala sesuatunya siap.

Kalau laki-laki yang berkunjung akan ditemui dan ditemani oleh laki-laki, begitu juga sebaliknya. Sedangkan kalau kita datang berpasangan, laki-laki dan perempuan akan ditemui menurut jenisnya. Kemudian disediakan tempat yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Inilah menurutku sesuai yang diajarkan Islam sebagai antisipasi dini bertindak bebas yang akan menimbulkan nafsu liar panca indera kita. Mungkin saja angka pelecehan seksual di negaranya sangat kecil karena semua mentaatai ajaran agama. Hal seperti ini baru sangat berarti tatkala kita atau keluarga sendiri mengalami pelecehan dari orang lain, bagaimana perasaan kita ? pasti sakit kan. Biasanya kalau hal jelek terjadi pada orang lain, kita biasa aja, namun kalau terjadi pada keluarga kita sendiri seperti pada adik, kakak, anak atau orang tua, baru kita merasakan tidak enaknya.

Setelah itu, kita akan disuguhi apa saja yang dia punya dan mempersilakan untuk menikmatinya. Saling menghormati dan menghargai tamu itulah yang kita rasakan dari mereka. Menanyakan kabar dan mendoakan itu hal yang biasa mereka lakukan pada tamunya. Dan akhirnya kita semua mengucapkan terima kasih atas penerimaannya dan sebaliknya mereka membalas terima kasih atas kunjungan kita.
  

MAKANAN DAN MINUMAN ORANG LIBYA

Kebanyakan orang Libya yang aku tau sangat jarang mau makan di luar rumah, mereka masak sendiri. Hasil masakannya dinikmati bersama-sama keluarga atau sahabatnya.

M'BATEN
Yang mereka masak adalah makanan yang sesuai aslinya di Libya. Seperti roti maryam dari gandum, olahan susu, spaghety, teh rasa mint atau kopi.

Berbagai macam bahan baku untuk membuat masakan mereka simpan di rumah. Bahan-bahan tersebut mereka dapatkan dari pasar atau supermarket.Sebut saja misalnya sekarung terigu / gandum, susu sapi segar (halib), keju, mozzarella, bahan spaghety, tomat, bawang bombay, cabai hijau besar, daun ketumbar, daging sapi, domba, ayam, kentang, minyak zaitun, buah-buahan dan kacang-kacangan.

KUSKUSI atau COUSCOUS
Kalau kita diundang makan, perlu waktu lama untuk menunggu hadirnya makanan utama, kecuali kalau kita datang terlambat malah bisa langsung makan. Pertama datang kita disuguhi buah, kudapan dan minuman soft drink. Sambil menunggu makanan utama datang, kita semua saling ngobrol topik yang lagi hangat atau topik apa saja bisa dibicarakan di sini. Tidak seperti kebanyakan kita, diskusinya sedikit, cepat makan dan terus permisi pulang ‘SMP’ Sudah Makan Pulang. Cara mereka makan adalah beramai-ramai yang disajikan di atas hamparan karpet yang digelar di dalam rumah atau di taman luar rumah.

Mengapa di seluruh Jazirah Arab selalu minum dengan gelas kecil ? alasannya karena teh atau kopinya yang disajikan sangat kental dan pure. Sehingga kalau minum dengan gelas besar kuatir kepala bisa ‘nggeliyeng’ pusing. Tapi menurutku sih kalau minum pake gelas besar bisa-bisa hidung mereka tercelup ke dalam gelas, karena hidungnya panjang-panjang. Hhee ….

ANEKA KUDAPAN LIBYA
Yang sering dimasak para isteri orang Libya ketika mengundang tamu adalah masakan favorit seperti ‘KUSKUSI atau COUSCOUS’ olahan tepung semolina, ayam, domba, ikan, bawang bombay, acar (salad), cabai hijau dan kacang-kacangan. Ada juga aneka kue yang serba manis, olahan kentang dengan daging yang namanya ‘MBATEN’ plus saus sambal terung hijau atau kuliner seperti roti yang disebut ‘HUBeZ dan disantap bersama Libyan Soup ‘SHURBA’


Cara makannya, biasa pakai sendok atau kombinasi pakai tangan. Sajian satu piring besar dimakan oleh 4 orang. Etika makannya, menyendok makanan pada sektor piring di depannya masing-masing. Artinya kurang sopan kalau mengambil makanan bukan pada wilayahnya. Makan bersama cara begini akan menambah keakraban. Dan jangan kuatir makan cara begini juga bisa dipertanggung jawabkan soal kebersihan dan higenitasnya.

MAKAN BERSAMA

Melihat piring raksasa yang begitu besar, rasanya tidak mungkin bisa menghabiskan makanan di dalamnya walau dimakan oleh 4 orang. Makanan-makanan tersebut hanya dimakan oleh para lelaki, tidak satupun ada wanita disitu, ‘gentleman only’.

Dalam menyajikan makanan, semua laki-laki bahu membahu melakukannya. Menyuguhkan dan membereskan kembali ketika selesai semua tetap dilakukan kaum lelaki. Sedangkan wanitanya ada di bagian belakang tidak terlihat sama sekali.

KUSKUSI & ACAR

Setelah menyantap hidangan utama, dilanjutkan dengan sajian aneka minuman soft drink, laban (seperti yoghurt) dan sebagai penutup menikmati teh atau kopi panas.  
    

DENGAN APA KE LIBYA ?

Menuju Libya yang ada di Afrika Utara ini, dari Jakarta misalnya ke Tripoli tidak bisa langsung tapi harus transit. Itu semua tergantung pakai maskapai apa dan transitnya akan berbeda-beda.

Dari Jakarta bisa menggunakan Turkish Airlines yang transit di Istambul kemudian menuju Tripoli, ibukota Libya. Bisa juga pakai Etihad, Emirates atau Qatar Airways. Dari Jakarta sampai Tripoli pada umumnya memakan waktu total 20 jam lebih.

1 DINAR LIBYA (Muka)
1 DINAR LIBYA (Belakang)
Mata uang apa yang dipakai untuk bertransaksi di seluruh Libya ? jawabannya adalah Dinar. 1 Dinar (LYD) posisi akhir Oktober 2012 setara dengan 7.900 Rupiah.

AKTIVITAS MEREKA SELAMA DI INDONESIA

Orang-orang Libya khususnya yang ada di Malang, yang aku tau mereka mempunyai dokumen imigrasi yang lengkap. Visanya khusus untuk study di Indonesia. Program pendidikan yang mereka ambil adalah Tingkat Master dan Doktoral pada beberapa Perguruan Tinggi di Malang. Datang kemari ada yang bersama keluarga dan ada juga yang sendiri karena masih single. Range umur mereka antara 20 s/d 45 tahunan. Mereka mengontrak rumah plus perabot selama study di Malang dengan range harga kontrak antara 25 juta s/d 40 juta rupiah setahun.

Walaupun mereka disini sebagai mahasiswa, mereka harus mempunyai Visa dan KITAS (Kartu Ijin Tinggal Terbatas) yang harus diperbaharui secara berkala di Kantor Imigrasi. Adakalanya mereka harus keluar Indonesia dulu seperti ke Malaysia atau negara lainnya, kemudian masuk lagi untuk dapat ijin tinggal baru di Indonesia. Kasihan juga melihatnya, mereka harus mondar mandir dengan urusan Visa dan KITAS-nya dan yang pasti memerlukan biaya yang besar, apalagi sekeluarga. Beberapa orang Libya di Malang sudah memiliki KTP untuk orang asing yang dikeluarkan Dispenduk (Dinas Kependudukan). Alhasil, jika sudah memiliki KTP tersebut, mereka kemana-mana tidak perlu lagi membawa paspor.

Pada waktu-waktu perkuliahan, mereka rajin berangkat ke kampus. Sesekali mereka mengundang rekan kuliahnya dari berbagai daerah di Indonesia untuk belajar bersama di rumahnya.

Hal lain adalah setiap datang waktu shalat, mereka bersama-sama ke masjid untuk shalat berjamaah. Selepas itu ngobrol bareng dan berdiskusi dengan rekannya di teras masjid. Di luar waktu tersebut mereka sempatkan untuk futsal bersama, shoping atau berdiam diri di rumah sambil menunggu datangnya waktu shalat berikutnya.

Kalau datang waktu holiday seperti hari Jumat, Sabtu dan Minggu kadang-kadang mereka sekeluarga dan temannya menyewa mobil berekreasi ke tempat-tempat wisata di sekitar Malang.
    

SYMBIOSIS MUTUALISM

Itulah kata-kata yang pantas disebut selama bergaul dengan mereka. Sebagai warga asing yang tinggal di Indonesia, pastinya mereka mempunyai berbagai keterbatasan untuk beraktifitas.

Keterbatasan menyesuaikan diri dengan kebiasaan hidup orang Indonesia, keterbatasan bahasa dan ada keterbatasan lainnya yang mereka alami setiap hari. Oleh sebab itu mereka membutuhkan kawan orang Indonesia untuk saling membantu dalam beraktifitas selama di Indonesia.

Itulah kami sekeluarga menyempatkan diri kenal lebih dekat dengan mereka. Pikirku, saling membantu sesama makhluk Tuhan itu adalah kewajiban. Apalagi kami sekeluarga sering backpackeran keluar negeri, terasa menderita kalau punya kesulitan yang belum ada solusinya atau kalau merasa dicuwekin orang-orang disana.

Persahabatan dengan mereka dan keluarganya sudah menjadi bagian kehidupan kami, disamping hidup bermasyarakat dengan para tetangga dan teman di sekitarku sehari-hari. Yang wajib aku ambil dari mereka adalah belajar ngomong bahasa Arab dan bahasa Inggris. Melihat Syariat Islam yang mereka laksanakan atau apa saja tentang Libya. Men-supplay susu sapi segar, pulsa dan bantuan lain untuk mereka, itulah yang aku kerjakan. Tentu saja ini dalam koridor bisnis  yang wajar dan saling menguntungkan.

Alhamdulillah upayaku selama ini telah membuahkan hasil, terutama dalam bertutur kata dalam bahasa Arab dan Inggris. Terbukti kalau aku bicara, mereka mengerti maksudku. Begitu juga sebaliknya mereka sering bertanya kepadaku berbahasa Indonesia dan Jawa. Mereka sudah tahu dan bisa mengucapkan beberapa kata-kata dalam bahasa Indonesia. Misalnya kemana, berapa, uang, pulsa atau susu dan beberapa kata dalam bahasa Jawa seperti ora opo-opo (tidak apa-apa), matur nuwon (terima kasih), wani piro (berani berapa) dll.


KESIMPULAN & HARAPAN

Tinggal di Indonesia khususnya Malang selama ini mereka sangat senang. “Ini surga di dunia”, katanya. "Di sini banyak air, buah-buahan, sayuran, hujan dan cuaca yang bersahabat, masyarakat Muslim yang baik, aman dan tenteram. Tidak seperti di negara kami, di mana-mana hanya gurun pasir, air terbatas, perbedaan cuacanya sangat ekstrim kadang-kadang cuacanya sangat panas atau sangat dingin. Terlebih lagi negara kami masih dalam masa transisi.  Hanya ada minyak yang cukup, itu kelebihan negara kami", tambah mereka.

Katanya lagi, "Air minum (PDAM) di negara kami gratis, beras lebih murah di Libya padahal semua import, pengobatan juga banyak yang gratis". Memang sebelumnya Libya adalah negara yang makmur walaupun berada di garis pantai dan gurun pasir.

Sebagai ekspatriat yang tinggal di Indonesia, kami berharap mereka bisa menjaga sopan santun dan saling menghormati sebagai warga antar bangsa. Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Hanya itu harapan kami.

Kalau mereka selesai menuntut ilmu di sini, banyak yang mengundang kami untuk datang ke negaranya. Semuanya akan diatur oleh mereka, bahkan diantara mereka ada yang menawarkan diri memberi tiket gratis untuk berangkat dan yang lainnya berebutan  memberi tiket untuk pulangnya. Mungkin saja itu cuma sebuah basa basi. Ambil positipnya aja. Thanks a lot Brothers.

TOLONG MENOLONG dan BERBUAT BAIK SANGAT DIANJURKAN KEPADA SETIAP ORANG. SEMOGA KAMI SEMUA SELALU BERADA DALAM LINDUNGAN ALLAH SWT. AMIN 3X YRA.   



Copyright© by RUSDI ZULKARNAIN 
email  : alsatopass@gmail.com   


Tidak ada komentar: