BERAMAL LEWAT TULISAN

Tuesday, 21 May 2013

.DENGAN 25 RIBU RUPIAH BISA EKSPLOR 4+ CANDI DI MALANG



Source : google





Siapa yang tidak tau,  kota yang berhawa dingin dan banyak menghasilkan buah apel di Jawa Timur ? Itulah Ngalam 'Malang' yang belakangan ini menjadi destinasi utama para pelancong karena punya banyak daya tarik yang berbeda dengan daerah lain. Bukan saja pelancong domestik atau mancanegara tapi warga Ngalam sendiri sering melakukan hal yang sama menikmati potensi alam dan budaya yang sejak dulu ada sampai yang terkini. 

Apalagi sekarang banyak bermunculan potensi wisata baru, sebut saja mall, hotel dan berbagai tempat hiburan yang telah mempengaruhi pola hidup warganya. Untuk mengimbangi kecenderungan pelancong sering mengunjungi potensi wisata baru, maka masyarakat perlu disegarkan lagi agar mau melancong ke berbagai situs peninggalan kerajaan yang tersebar di Malang. 

Dengan begitu kita bisa menghargai maha karya para pendahulu yang pernah jaya di masanya. Tugas berikutnya adalah ikut menjaga dan memelihara situs-situs tersebut agar tetap lestari. Ayo rek bersamaku mengeksplor 4+ candi yang ada di sekeliling Kota Malang. Cukup bawa uang 25 ribu saja, semua bisa terlaksana. Candi-candi tersebut adalah Candi Kidal, Candi Jago, Candi Singosari dan Candi Badut plus Candi Sumberawan. 


@CANDI KIDAL (1)

Candi ini berada di Desa Rejokidal Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Dari Kota Malang jaraknya sekitar 19 Km di sebelah Timur Malang. Kalau dari rumahku hanya 11 Km saja melewati jalan pintas mulai dari Jl. Soekarno Hatta, Jl. Sulfat, Jl. Madyopuro, sebelum Sungai Amprong ambil jalan ke kanan memotong perkebunan sampai Desa Rejokidal. Untuk menuju kemari aku dan isteriku hanya menyiapkan uang 25 Ribu Rupiah dengan perincian 10 ribu untuk bensin sepeda motor dan 15 ribunya lagi untuk makan dan parkir di lokasi.

Di blog ini aku hanya mengulas secara dangkal sejarah candi-candi yang aku kunjungi karena aku bukan ahli sejarah atau ahli arkeologi. Candi Kidal dibangun pada masa Kerajaan Singosari di tahun 1248 Masehi. Tentunya candi ini berada di bawah kekuasaan Kerajaan Hindu. Candi kidal ditemukan Belanda pada tahun 1925 dan dipugar pada tahun 1926 kemudian dilakukan pemugaran kembali dari tahun 1986 s/d 1990.

Dimensi Candi Kidal adalah Panjang 10,8 m; Lebar 8,36 m dan Tinggi 12,26 m. Kawasan candi dikelilingi pagar sederhana dan berada pada perkampungan penduduk desa. Lokasi candi dijaga oleh petugas tidak resmi yang duduk di dalam pos penjagaan. Sebelum masuk aku mengisi buku tamu dan memberi sedikit uang suka rela pada petugas. Karena untuk masuk ke sini tidak ada tiketnya, kalau ingin memberi sifatnya hanya sukarela saja.

Menurutku, kondisi candi terlihat utuh walaupun sebenarnya sudah tidak seperti aslinya karena telah  beberapa dipugara. Di bagian utama dalam candi, tidak terdapat arcanya lagi, namun secara keseluruhan bangunan ini cukup lengkap. Taman di sekitarnya sangat terawat dan ada beberapa pohon rindang menaunginya. Sebagai pelengkap, papan informasi disediakan yang berisi sejarah Candi Kidal dan di sisi lainnya terdapat batu prasasti peresmian dari pejabat Departemen Kebudayaan Indonesia.

Yang perlu diperhatikan mengelola candi ini adalah selalu memelihara dan mejaga phisiknya. Hal lain adalah menyiapkan tiket masuk resmi (admition fee) yang berbeda taripnya antara domestik dan mancanegara dengan tarip yang terjangkau. Ini sangat penting untuk membiayai kelangsungan candi ini. Toilet dan tempat sampah perlu disediakan. Angkutan umum menuju ke lokasi ini juga harus diadakan agar mudah diakses. Terakhir adalah kualitas udara yang harus diperbaiki karena di sekitar lokasi terdapat peternakan ayam. Setelah mengunjungi Candi Kidal aku bersama isteriku melanjutkan perjalanan menuju Candi Jago yang jaraknya sekitar 6 Km dari sini.


@CANDI  JAGO (2)

Setelah menempuh perjalanan sejauh 6 Km dari Candi Kidal, kami sampai di Tumpang, Kabupaten Malang. Di sini ada Candi Jago yang letaknya di Dusun Jago pada pusat kota kecamatan Tumpang. Kalau dari Malang ke Candi Jago jaraknya sekitar 20 km di timur kota Ngalam.

Candi Jago ini juga dibangun pada masa Kerajaan Singosari. Rajanya saat itu Wishnuwardana yang beragama Syiwa Buddha, begitu sejarahnya menurut penuturan petugas di pos Candi Jago. Situs sejarah yang bernilai tinggi ini diperkirakan dibangun pada tahun 1280 Masehi dan dipugar pada tahun 1343. Letak candi ini sangat strategis berada di ketinggian berbentuk lahan segi tiga. Kalau kita berdiri di puncak candi, seluruh Kecamatan Tumpang bagian selatan hampir semuanya kelihatan.

Dibandingkan dengan Candi Kidal, kondisi Candi Jago cukup memprihatinkan. Bentuknya sudah tidak utuh lagi, banyak batu –batu candi yang berserakan tidak terurus. Membayangkan bentuk aslinya seperti apa, aku belum bisa meraba-raba. Begitu juga semua arca yang ada sudah tidak berkepala. Tamannya yang mungil cukup terawat, namun kondisinya hampir sama dengan Candi Kidal yakni tanpa admition fee (sukarela), tidak ada toilet dan hanya ada sebuah tempat sampah.

Kelebihannya, lokasi candi ini lebih mudah diakses karena ada angkutan umum yang lewat dekat sini. Naik angkutan umum 'Angkot TA' warna putih dari Terminal Bus Arjosari Malang ke Tumpang taripnya sekitar 6 ribu. Apabila anda kebetulan mau ke Gunung Bromo lewat Tumpang, bisa singgah dulu ke Candi Kidal dan Candi Jago.

Kalau aku perhatikan di sepanjang tepi jalan dari Blimbing menuju Tumpang terdapat bekas-bekas jalur Kereta Api ’KA’. Ternyata sebelumnya memang benar ada jalur KA, yaitu jalur Blimbing – Wendit – Pakis – Tumpang. Dan jalur Malang – Kebon Agung – Bululawang – Gondanglegi – Kepanjen. Disamping bisa dilihat sisa-sisanya, kenyataan ini bisa dilihat juga di peta lama Malang area.

Setelah mengunjungi dua candi, waktunya buka bekal makanan dan minuman yang sengaja aku bawa dari rumah (ngirit betul nih orang … ).


@CANDI SINGOSARI (3)

Candi yang ke-3 adalah Candi Singosari, berada di bagian barat Singosari. Habis mengunjungi Candi Jago berarti harus kembali ke arah Malang melewati Pakis, Wendit, Blimbing lalu ke utara menuju Karanglo kemudian Singosari.

Letaknya kira-kira sekitar 10 Km dari pusat Kota Malang dan berada tidak begitu jauh dari Pasar Singosari. Hal ini cukup memudahkanku untuk menemukan candi ini yang berada di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Candi Hindu yang dibangun pada tahun 1300 an dan ditemukan di awal abad ke-18 pada masa Kerajaan Singosari dengan rajanya Kertanegara. Pemugaran candi baru dilakukan pada tahun 1930 an. Nama Candi Singosari banyak disebut dengan nama lain seperti sebutan Candi Kendedes, Candi Menara, Candi Renggo atau Candi Cungkup.

Menuju ke lokasi ini cukup mudah kalau pakai kendaraan sendiri. Jika pakai kendaraan umum turun di sekitar Pasar Singosari yang berada di jalan poros Surabaya – Malang. Selanjutnya masuk ke Jl. Kertanegara dengan ojek atau becak. Andaikata mau jalan kaki ke sana juga bisa, jaraknya sekitar 500 meteran.

Letak Candi Singosari berada di tepi kanan (utara) Jalan Kertanegara. Secara phisik kelihatannya berdiri cukup utuh dan berada di dalam area yang dikelilingi pagar besi. Terlihat di dekat pintu masuk terdapat pos petugas jaga. Aku berjalan ke barat dari tempat ini jaraknya sekitar seratus meteran melewati perempatan jalan, di kiri kanan jalan tersebut terdapat dua arca dan beberapa tumpukan batu yang dinamakan Arca Dwarapala (penjaga pintu).

Karena jarak Candi Singosari dan Arca Dwarapala tidak begitu jauh, dugaanku kedua situs ini dulu berada pada satu hamparan luas dan satu sama lain bisa terlihat langsung. Perkembangan dan kepadatan penduduklah yang memisahkan kedua situs ini, sebab sudah banyak rumah dan jalan yang tumbuh di antara keduanya.

Di Singosari tidak hanya ada Candi Singosari dan Arca Dwarapala, aku tertarik juga dengan candi yang lain yaitu Candi Sumberawan. Jaraknya kurang lebih 5 Km dari Candi Singosari, berada di kaki Gunung Arjuno. Inilah candi yang tersulit di akses dibandingkan dengan 4 candi lainnya di Malang area. Disamping tidak ada angkutan umum dari Singosari, kesulitan lainnya adalah jalannya rusak di kilometer terakhir menuju candi ini. Beberapa ratus meter terakhir menuju Candi Sumberawan jalannya menanjak, berbelok, menurun dan berbatu. Ketika hujan harus berhati-hati karena jalannya semakin licin bebatuan bercampur lumpur.

Aku tidak menyangka kalau ada candi di Desa Toyomerto ini, karena bangunan candi berada di dalam hutan yang masih terlihat lebat. Walaupun lokasinya cukup jauh dengan candi lainnya, namun alam sekitarnya masih cukup perawan hijau. Ini adalah seperti taman di tengah hutan lebat, pepohonan yang tinggi, gemericik aliran air dan telaga yang bening airnya.

Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke 14 dan ditemukan pada tahun 1904. Bangunan candi berupa stupa ini adalah satu-satunya yang ada di Jawa Timur. Di lokasi ini sering digunakan Umat Budha untuk merayakan Hari Waisak di Malang.
Menuju Candi Sumberawan, aku harus melewati desa home industri pembuatan sandal atau sekitar 1,2 Km dari candi. Karena hari hampir gelap aku berpamitan dengan juru kunci candi, Bapak Nuriadi.


@CANDI BADUT (4)

Perjalanan aku akhiri di candi ke-4+ yakni Candi Badut. Lokasi candi ini berada di Dusun Badut, Desa Karang Widoro/Karang Besuki, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Kalau dari Dinoyo ke Jl. Sumbersari kemudian masuk ke Jl. Tidar menuju arah Universitas Ma Chung. Angkutan umum ke Candi Badut adalah Angkot AT ‘Arjosari – Tidar’ kemudian turun di ujung Jl. Himalaya. Karena aku naik sepeda motor pastinya lebih mudah menemukan lokasinya.

Candi yang terletak di kawasan perumahan ini agak sulit ditemukan karena tidak tampak langsung dari jalan umum, jadi harus masuk jalan kecil lebih dulu. Lokasinya berbatasan langsung dengan Southeast Asia Bible Seminary ‘SEABS’. Menurut sejarahnya Candi Badut dibangun pada masa Kerajaan Hindu Kanjuruhan dengan rajanya saat itu Gajayana di tahun 760 Masehi atau diabad VIII. Candi ini merupakan candi yang tertua di Jawa Timur dan pernah mengalami dua kali pemugaran di tahun 1925 dan tahun 1990.

Disamping banyak dikunjungi para pelancong domestik dan mancanegara untuk melihat keindahannya, candi ini kerap dipakai untuk sesi pemotretan pre wedding atau modelling. Memang cukup beralasan karena candi ini di kelilingi taman yang indah dan tumpukan batu yang tersusun rapi.

Akhirnya selesai juga perjalananku selama 5 jam mengunjungi 4+ candi sekitar Ngalam, yakni Candi Kidal, Candi Jago, Candi Singosari dan Candi Badut plus Candi Sumberawan. Sebetulnya kalau diniatkan perjalanan murah ini mudah dilakukan dan pasti banyak manfaatnya.




 












 


























Sebagai penutup jalan-jalan murah ini aku simpulkan bahwa ke-4+  candi tersebut dibangun dengan batu andhesit dan hampir semuanya pernah dipugar oleh Belanda dan Pemerintah Indonesia. Berikut aku urutkan tahun berdirinya 4+  candi dimaksud : 

a..Candi Badut               tahun 760 Masehi
b. Candi Kidal                tahun 1248 Masehi
c. Candi Jago                 tahun 1280 Masehi
d. Candi Singosari          tahun 1300 an Masehi
e. Candi  Sumberawan   tahun 1300 an Masehi

PR pemerintah dan masyarakat untuk menjaga dan memelihara kelestarian 4+ candi di kawasan Malang kiranya sbb :

*  Perlu disediakan toilet dan tempat sampah di setiap lokasi.
*  Perlu dibuat tiket masuk lokasi yang terjangkau untuk tamu domestik
    dan mancanegara.
*  Perlu dibuat trayek kendaraan umum menuju candi-candi dimaksud.
*  Perlu dikembangkan ekonomi kreatif berikut pernak-perniknya di setiap lokasi.
*  Perlu mengajak pihak swasta (travel) menjual paket wisata ke candi-candi dimaksud.

Saranku, pelajarilah sejarah lebih dalam tentang kerajaan-kerajaan di Tanah Jawa melalui litelatur-litellatur sejarah yang terpercaya, untuk menambah wawasan diri sendiri dan berarti telah mencintai warisan budaya bangsa sendiri.



Copyright© by RUSDI ZULKARNAIN 
email  : alsatopass@gmail.com


2 comments:

Ishlahuddin santri said...

informasi yang sangat bagus sekali..! Jazakumullah khairan atas ilmunya ^^

Anonymous said...

Dari penuturan singkat penulis, ada bbrp info yg aku simpulkan yaitu kepedulian masyarakat dan pemerintah perlu ditingkatkan akan penghargaan nilai2 sejarah yg sangat berharga, atas jerih payah penulis aku syukuri Alhamdulillah Jazakumullahu khoiron