BERAMAL LEWAT TULISAN

Sunday, 19 May 2013

.MENJELAJAHI NEGERI MENGUAK POTENSI, JAVA



Source : google


Setelah pamitan dengan anak dan isteri, aku meluncur dengan angkot CKL ke Landungsari, Terminal Barat Kota Malang. Angkotnya cuma 2500 Rupiah, sedangkan Bus Mini ‘Puspa Indah’ ke Jombang 14 Ribu Rupiah. Perjalanan 2,5 jam ke Jombang cukup menyenangkan melewati liku-liku celah gunung dan perbukitan di sekitar Kota Batu, Pujon sampai Kandangan dan akhirnya melalui jalan datar di Ngoro kemudian sampai di Kota Santri, Jombang. Kali ini aku ingin menjelajahi beberapa spot di Jakarta, Bekasi, Slawi-Tegal, Purwokerto, Yogjakarta dan kembali ke Malang. Waktunya cuma 4 harian. Let’s go guys ….


JOMBANG KOTA SANTRI

Bus tiba di dalam Kota Jombang sekitar pukul sebelasan. Untuk menuju Stasiun Kereta Api ‘KA’ Jombang perlu angkutan lain seperti becak atau angkot. Aku pilih naik angkot yang cuma 2 ribu, kalau pake becak 5 ribuan. Udara terasa berbeda dengan Malang, di sini panasnya cukup menyengat. Apalagi aku harus antri di loket yang minim atap untuk menukarkan tiket sementara yang kubeli di Alfamart menjad tiket asli. Tiket asli udah di tangan selanjutnya hanya menunggu KA datang yang akan berangkat pukul 13.09.

Hari ini hari Jumat. Jam di handphone menunjukkan pukul sebelas lewat, saatnya menuju masjid yang letaknya tidak jauh dari Stasiun KA Jombang. Nikmatnya luar biasa bisa Jumatan di Masjid Agung dekat Alun-Alun Kota Santri ini, arsitektunya sangat indah dengan pilar-pilar yang kokoh berukir nuansa emas. Begitu juga pintu-pintu besar dari jati tebal dengan pegangan dari besi cor berukir. Masjid ini dilengkapi dua menara tinggi di bagian kiri dan kanannya.

Sebagai Kota Santri, Jombang juga disebut Kota BERIMAN 'Bersih, Indah dan Nyaman'. Kota ini  mempunyai Pondok Pesantren 'Ponpes' yang sangat terkenal yaitu Tebuireng yang didirikan oleh Pahlawan Nasional KH. Hashim Asy’ari. Kemudian ada Ponpes Darul Ulum yang didirikan oleh KH. Tamim Irsyad. Masih banyak lagi para tokoh nasional berasal atau semasa hidupnya dibesarkan di Jombang misalnya KH. Wahid Hasyim, Widjojo Nitisastro, mantan wakil presiden RI Sudharmono SH, mantan Jaksa Agung RI Sukarton Marmosudjono dan mantan Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang makamnya juga ada di dalam Ponpes Tebuireng.

Jumatan selesai menjelang pukul satu siang. Aku bergegas kembali ke stasiun. Sebelum masuk aku sempatkan membeli roti dan sebotol green tea. Tiket dan KTP-ku diperiksa petugas saat masuk area dalam stasiun untuk menunggu KA tiba. 

GAYA BARU MALAM SELATAN (GBMS)

GBMS adalah KA ekonomi (K3) yang perlu dicoba karena sudah banyak perubahannya. Kemajuan pengelolaan perkeretaapian tanah air patut diacungi jempol. Beberapa hal sudah dibenahi, sebut saja system ticketing, perbaikan fasilitas gerbong yang lebih baik, semua penumpang dapat duduk tidak ada yang berdiri. Setiap stasiun juga sudah dibenahi lebih baik. Toiletnya gratis, lebih bersih, orang yang masuk ke dalam stasiun diseleksi (steril), jadwal KA sudah terdisplay  di layar monitor, tersedia colokan listrik gratis, dan masih ada hal lain yang sudah dibenahi Manajemen PT. KAI.

Rangkaian KA GBMS memasuki jalur satu sesuai jadwal. Aku dapat di gerbong nomor satu persis di belakang lokomotif. Walaupun ini adalah KA ekonomi (K3) yang harganya hanya 110 ribu (note : mulai september 2013 tarip turun s/d 50%), namun di setiap gerbong dilengkapi 6 unit AC split yang telah dimodifikasi. Colokan listrik juga ada di sekitar tempat duduk. Pendek kata naik KA ekonomi saat ini terasa lebih nyaman dibandingkan sebelumnya. Toilet yang bersih dan suplai air yang lancar serta larangan merokok bagi penumpangnya menambah betah naik KA ekonomi saat ini.

GBMS berangkat dari Stasiun Gubeng Surabaya sekitar pukul dua belas siang. Jalur perjalanannya melewati Mojokerto, Jombang, Kertosono, Madiun, Solo, Yogja Lempuyangan, Kebumen, Purwokerto, Cirebon, Jatinegara, Senen dan terakhir di Stasiun Jakarta Kota. Kereta ini tidak berhenti di Cikampek, Karawang dan Bekasi, oleh sebab itu bagi penumpang yang ingin ke Karawang misalnya paling dekat harus turun di Stasiun Jatinegara. Kemudian harus kembali lagi ke Karawang dengan KA atau bus.

AREA JAKARTA KOTA

Pukul setengah tiga pagi KA GBMS mengakhiri perjalanannya di Stasiun Jakarta Kota atau disebut juga Beos. Hanya penumpang GBMS saja yang ada di sekitar stasiun ini karena kereta yang lain belum ada yang masuk. Para penumpang ada yang langsung keluar stasiun dan ada juga yang duduk-duduk menunggu waktu pagi.

Stasiun Beos merupakan stasiun KA peninggalan kolonial Belanda yang cukup terpelihara dan perlu dijaga kelestariannya sebagai warisan bangsa. Arsitektur gaya tempo dulu yang sangat indah banyak menghiasi bagian dalam dan luar stasiun ini. Untuk menyempurnakan Stasiun Beos perlu sentuhan lebih lanjut seperti memisahkan dan memperluas toilet dan mushala yang kurang nyaman. Ruangan tersebut dibuka mulai pukul empat pagi dan sebelum waktu tersebut, ruangan ini dikunci. Walaupun free tapi ada penjaganya yang duduk di sekitar pintu keluar, jadi sungkan juga kalau nggak bayar.

Stasiun Beos melayani pemberangkatan dan kedatangan KA Gumarang ke Surabaya, Srayu Pagi ke Kroya, Gajayana ke Malang, GBMS ke Surabaya Gubeng, Tegal Arum ke Tagal dan KA Komuter ke beberapa jurusan pendek area Jabodetabek.

Situasi di sekitar Stasiun Beos cukup aman walaupun berada di utara Jakarta yang katanya orang rada rawan. Untungnya, saat ini di dalam stasiun hanya boleh dimasuki para calon penumpang. Orang yang tidak bekepentingan dilarang masuk oleh petugas sekuriti.

Di depan pintu keluar sebelah kanan stasiun sejak subuh sudah ada penjual makanan dan minuman untuk sarapan. Sebut saja soto ayam, bubur ayam, ketoprak, siomay dan aneka gorengan juga ada di situ. Semangkuk soto ayam dihargai 10 ribu dan segelas kopi instan harganya 2 ribu Rupiah. Sambil sarapan aku bisa memandangi gedung-gedung tua yang menawan dan penuh kisah historisnya. Memandangi Stasiun Beos saja sudah takjub belum lagi Museum Bank Mandiri, Museum Fatahilah dan bangunan perkantoran peninggalan masa penjajahan. Kawasan kota tua ini cukup luas mulai dari Glodok, sekitaran Stasiun Beos, Kampung Bandan, Pasar Ikan sampai mendekati kawasan Ancol. Semoga Pemerintah Pusat dan Pemprov DKI bisa merehabilitasi dan menjaga warisan bangsa ini.


BUSWAY JAKARTA

Di depan Stasiun Beos banyak sekali angkutan umum yang beroperasi sejak pagi hari termasuk Busway. Di situ ada Busway yang melayani beberapa koridor seperti koridor Kota – Blok M dan Kota – Tanjung Priok lewat Pluit, Kemayoran dan Sunter. Ongkosnya bervariasi antara 2 ribu sampai dengan 3500 Rupiah. Kalau mau naik bisa beli tiket dulu atau pakai tiket elektronik. Enaknya, bila transfer ke koridor lain tidak perlu bayar lagi.

Busway di Jakarta yang dominan berwarna kemerahan terdiri dari armada tunggal dan gandeng (couple), namanya TransJakarta. Menurutku moda ini sangat membantu pemakainya karena bisa lebih cepat sampai di tujuan. Memang karena busway mempunyai jalur sendiri. Kalau saja awalnya dulu jalan biasa dibuat bersama-sama dengan jaur busway tentu Jakarta tidak semacet sekarang. Sayangnya jalur busway saat ini adalah mengambil bagian jalan biasa yang sudah ada lebih dulu, sehingga jalan biasa menjadi lebih sempit.

Disamping lebih cepat, busway mempunyai keunggulan dibanding dengan moda angkutan umum lainnya. Kelebihannya mempunyai jalur khusus, ber AC, ada pemandunya, murah, bebas pengamen dan pastinya lebih nyaman kalau semua fasilitas pedukungnya sudah selesai. Kekurangannya adalah harus berhati-hati tatkala melangkah dari / ke pintu busway menuju halte, karena harus melangkahi lubang yang menganga. Disamping itu peralatan audio visual di dalam armada harus difungsikan agar tidak mengandalkan suara pemandu busway. Ini sangat berguna bagi penyandang disabilitas seperti penyandang buta atau tuna rungu.

Mengelilingi Jakarta dengan busway pada hari libur lebih nyaman karena penumpangnya tidak begitu banyak. Melihat-lihat icon ibukota sangat menyenangkan hati seperti Museum Fatahiah,  Monas   dan     Kawasan  Istana, Bundaran HI atau Kawasan Senayan. Sebagai orang yang pernah tinggal lama di Jakarta tentu ngetrip ini akan membuka kenangan lamaku.


KE SLAWI TEGAL YUK

Setelah menjelajahi beberapa bagian Kota Jakarta, saatnya menuju Kota Slawi Tegal di Jawa Tengah. Ada banyak cara menuju Slawi dari Jakarta, bisa pakai bus atau KA. Kalau pakai bus bisa naik dari berbagai terminal seperti Tanjung Priok, Lebak Bulus, Bekasi atau terminal bus lainnya. Kali ini aku memilih Terminal Bekasi, kalau dari Tanjung Priok ambil Bus Patas AC Nomor 25, ongkosnya 6500 Rupiah. Untuk melihat informasi berbagai moda transpprtasi silakan browsing di situs tetangga http://teamtouring.net/jadwal/bus/

Enaknya di Terminal Bus Bekasi tiketnya beli di agen resmi. Pilihan jatuh ke Bus Sinar Jaya. Ambil bus AC jurusan langsung ke Slawi. Harga Tiketnya 45 ribu dan berangkat sekitar pukul tujuh malam. Selain Bus Sinar Jaya ada juga pilihan lain Dewi Sri, Laju Prima atau Dedy Jaya.

Sinar Jaya armadanya banyak walaupun kondisinya tidak begitu istimewa. PO ini memiliki berbagai jurusan khususnya ke Jawa Tengah di bagian utara dan selatan seperti Tegal, Slawi, Purwokerto, Kebumen, Wonosobo, Purworejo, Purbalingga, Cilacap, Banjarnegara dan Pekalongan.

Melewati pantai utara mulai dari Cikampek, Cirebon, Brebes, Tegal dan Slawi. Waktu tempuhnya sekitar tujuh jam dan beristirahat makan di daerah Losari. Di restoran yang mempunyai area parkir yang luas ini terlihat puluhan Bus Sinar Jaya parkir  berbaris rapi. Ratusan penumpang ada yang langsung makan dan ada juga yang ke toilet dulu. Keluar toilet setiap penumpang wajib bayar 2 ribu Rupiah. Dapat dibayangkan berapa uang pemasukan dari jasa toilet saja, mungkin bisa sejutaan dalam sehari semalam. Luar biasa … Tiket Bus Sinar Jaya ada undiannya, tulis nama dan identitas lainnya lalu masukan ke dalam kotak undian. Di sini juga terlihat petugas bus memeriksa manifes penumpang, memotret dan melaporkannya ke posko lewat HT.

SEKILAS MENGENAL KOTA SLAWI

Sekitar pukul dua pagi aku tiba di  Terminal Slawi. Aku sangat beruntung waktu ke rumah sahabatku, aku diantar oleh teman sebangku dengan sepeda motor yang ia titipkan di terminal. Mas Imam namanya yang punya kios sembako di Pasar Trayeman dan mengantarkanku sampai alamat sahabatku ketemu. Terima kasih ya mas, semoga Allah membalas segala kebaikan Mas Imam. Uniknya, ketika tiba di alamat yang kucari Mas Imam rupanya kenal dengan sahabatku itu. "Dunia ini kecil ya mas", kataku.

Andai saja tidak Mas Imam tentu aku akan memilih naik ojek. Namun katanya kalau tidak tau triknya tarip ojek bisa mahal, mungkin jalannya diputar-putar dulu. Dari Terminal Tegal menuju Slawi ada angkot berwarna kuning, taripnya 3 ribuan.  Jarak Tegal – Slawi lebih kurang 15 km atau 20 menitan saja.

Esok paginya udah tersedia nasi uduk dan secangkir kopi untukku. Kemudian meninjau furniture dan rumah joglo dari jati tua kemudian meninjau pengembangan Lele Sangkuriang, ternak kambing, pohon sengon  (albasia) dan tanaman buah di dalam kebun sahabatku. Sambil sekilas mempelajari seluk beluk pengembangan lele aku juga mencoba mendalami hal lainnya.

Siangnya sudah disajikan lotek asli Tegal yang katanya cuma 3 ribuan sebungkus. Bersamaan dengan lotek telah tersedia juga segelas teh asli Tegal yang sepet-sepet natural. Terima kasih ya Allah betapa Engkau telah memberi kenikmatan yang begitu banyak kepadaku. Alhamdudillah.

Seperti diketahui, Kabupaten Tegal dengan ibukota Slawi mempunyai beberapa potensi unggulan di wilayahnya. Industri logam sudah sangat terkenal sebelumnya, pengusaha ‘Warteg’ Warung Tegal dan industri teh seperti Gopek, Tong  Tji, Sosro, 2 Tang dan puluhan merk merupakan produk unggulan lainnya. Kalau melewati pabrik 'Teh Gopek' misalnya, bau harum aroma teh sangat menyengat hidung dan rasanya ingin berlama-lama menciumnya. Kulinernya yang terkenal disamping teh poci gula batu, ada juga sate kambing ‘Batibul’ bawah tiga bulan atau ‘Balibul’ bawah lima bulan, tahu plethok, lotek (Seperti pecel) dan mendoan tempe. Sedangkan siapa saja tokoh dari Tegal yang terkenal saat ini, dialah Menteri Pertanian Pak Suswono dari Desa Kalisapu, Master Limbat dari Desa Dukuhsalam dan Dalang Ki Enthus Susmono. Yang mengasyikan sesungguhnya adalah memperhatikan gaya bahasa orang Tegal ‘Ngapak’atau 'Banyumasan'. Kota Tegal sendiri yang berbatasan langsung dengan Slawi mempunyai julukan Kota Bahari, karena posisinya ada di tepi pantai utara Jawa. Di kota inilah asal usul terbentuknya Korp Marinir.


Slawi sebagai ibukota Kabupaten Tegal, pada saat musim mudik menjadi tempat aliran lalu lintas sebagai jalan alternatif dari Brebes – Slawi kemudian ke selatan menuju arah Purwokerto. Aku sempatkan melihat Monumen Poci yang berada tepat di depan Masjid Agung Slawi Jalan A. Yani. Kemudian ke Taman Rakyat letaknya di depan Terminal Bus Slawi. Sempatkan juga ke Alun-Alun Sawi ‘AAS’ yang berada berhadapan dengan Kantor Bupati Tegal. Alun-alun yang hijau dengan penataan taman yang apik menambah indah kota ini. Menurut informasi yang kudapat mengendarai mobil atau sepeda motor harus ekstra hati-hati karena tidak sedikit orang berkendara agak sembrono. Masak sih ?

Menikmati sate kambing bersama teh poci gula batu sangat populer di mata para pengunjung. Sate Batibul atau Balibul dijual per  kodi (20 tusuk), namun bisa juga kalau mau beli setengah kodi (10 tusuk). Harga per kodi kisarannya 50 ribu. Bumbunya adalah kecap yang dilengkapi irisan bawang merah, tomat hijau dan cabai. Setelah menyantap sate khas Tegal, lalu menyeruput teh  poci gula batu. Oh surga dunia.


Sewaktu ke kolam pengembangan lele sangkuriang, aku dapat gambaran kalau lele dapat dipanen dalam masa 4 bulan. Perinciannya adalah dari yang paling kecil sampai dengan berukuran 3 – 5 cm (Rp. 100 / ekor) atau 4 – 6 cm (Rp. 150 / ekor) membutuhkan waktu 1,5 bulan. Kemudian dari ukuran tersebut dibesarkan selama 2,5 bulan menjadi ukuran yang lebih besar untuk siap jual, yaitu 8 – 10 ekor / Kg. Total waktu yang dibutuhkan dari bayi lele sampai siap jual adalah 4 bulan, harganya Rp. 12.500 / Kg (harga di petani). Pak Giat yang mengurus semuanya ini menceritakan bahwa untuk menghasilkan bayi-bayi lele yang baik, membutuhkan indukan yang berumur 1 s/d 4 tahun.

MENUJU PURWOKERTO

Selepas sarapan dan menyeruput teh Slawi, aku diantar Pak Giat ke tempat lewatnya bus jurusan Purwkerto. Padahal sahabatku sudah menangkap seekor ayam jago dan telah dimasaknya untukku. Namun apa mau dikata aku harus meninggalkan Slawi agar tidak ketinggalan bus di Purwokerto.

Ke Purwokerto aku naik bus kecil yang ongkosnya 18 ribu, contohnya bus kecil AC 'Alvin Jaya' jurusan Cirebon - Purwokerto. Ada juga yang lebih mahal misalnya pake bus besar AC jurusan Cirebon - Yogja via Slawi, tapi di Ajibarang kita akan dioper dengan bus kecil ke Purwokerto. Perjalananku akan menempuh jarak sekitar 75 an kilometer selama kurang lebih 2,5 jam. Bus melewati kota-kota kecil seperti Lebaksiu, Bumiayu, Ajibarang dan Purwokerto.

Tibalah aku di Kota Satria Purwokerto sekitar pukul satu siang. Di Terminal aku bertanya kepada salah satu penjual depot makanan, "Bus ke Malang pukul berapa ?" Ternyata bus ke Malang berangkat pukul dua siang. Wah udah mepet nih waktunya, aku harus segera beli tiket di loket. Aku masuk ke agen Bus Zena, ahamdulillah tiket masih ada. Harga tiketnya  

90 ribu dan berangkat pukul dua siang. Disamping Zena ada Handoyo (92 ribu, 40 seat 2 x 2, LCD, toilet, AC, Selimut / bantal, 1 x makan gratis, pokoknya yang ini lebih bagus) dan Rosalia (sekitar 120 ribu, fasilitas sama cuma makannya aja ini di resto Padang). Bus Zena dan Handoyo sama-sama berangkat pukul dua sedangkan Rosalia berangkat sekitar pukul sembilan pagi dan pukul empat sore.
Sebenarnya aku ingin bertemu teman di Purwokerto yang sudah lama tidak ketemu tapi waktunya tidak memungkinkan. Aku cuma pamit lewat telepon kalau aku nggak bisa mampir. Sesaat sebeum bus berangkat aku sempatkan makan siang di depot dalam terminal, nasi campur dan dua gelas es teh botol aku bayar 13 ribu. Di area terminal yang hijau, besar dan bersih, aku sempatkan beli beberapa besek getuk goreng buatan Sokaraja. Satu besek beratnya 1/2 Kg dan harganya 11 ribu, di sekitar Purwokerto getuk ini ada juga yang harganya 25 ribu per kilo. Di sekitar Terminal Bus Purwokerto tidak ada locker penitipan tas, kalau mau titip tas bisa di masjid yang letanya di ujung terminal. Jasa penitipan tas ini bayarnya suka rela dan kita sendiri yang memasukkan uangnya ke dalam seperti kotak amal. Di sini juga disediakan peminjaman sarung atau mukena untuk shalat. Akhirnya waktu berangkat telah tiba, tepat pukul dua bus meninggalkan Kota Purwokerto melewati Banyumas, Gombong, Kebumen, Kutoarjo, Purworejo menuju Yogjakarta. Perjalanan memakan waktu 5 jam untuk sampai di Yogjakarta.
Menjelang pukul tujuh malam Bus Zena sampai di Terminal Bus Giwangan, Yogja. Para penumpang dipersilakan beristirahat dan bus akan berangkat lagi pada pukul delapan. Waktu istirahat ini aku gunakan untuk Shalat Maghrib dan Isya di Jamak Qashar. Kemudian makan malam di depot dalam terminal, nasi rames plus rendang dan es teh, aku bayar 15 ribu adalah pilihanku.

Aku sengaja tidak mengeksplor kawasan Yogja karena ada urusan di Malang yang harus aku selesaikan. Sepintas aku perhatikan kalau ingin ke Borobudur bisa langsung naik bus dari Terminal Giwangan ini. Yang lagi populer saat ini adalah Bus Efisiensi trayek Yogjakarta – Purwokerto, Kebumen, Purbalingga dan Yogjakarta – Cilacap. Bus ini boleh dikatakan super executive dan sangat banyak peminatnya. Taripnya mulai 40 – 50 ribu, fasilitasnya seperti showroom berjalan.

Kalau mau naik bus ini harus ke petugas lebih dulu untuk minta nomor kursi kemudian bayar tiketnya di atas bus. Setelah bus meninggalkan Kota Yogja selanjutnya bus akan berhenti di garasi sekitar Jl. Raya Wates desa Gamping untuk mengambil dan pemeriksaan penumpang. Begitu juga di sekitar Kebumen, bus berhenti untuk memberi kesempatan awak bus dan penumpang istirahat, beli oleh-oleh atau ke toilet.

Kondisi bus yang bersih, seat yang empuk, LCD monitor mini 3 buah di deretan kiri dan 3 buah di deretan kanan serta LCD besar di samping sopir. Setiap penumpang akan diberi air mineral kemasan kecil dan dari dari garasi ada fasilitas antaran gratis di dalam Kota Yogja atau ke Bandara Adi Sucipto. Dengan jadwal keberangkatan setiap 30 menit, bus ini selalu tinggi kepadatan penumpangnya. Bus yang tersedia adalah ber-seat 45 (2 x 2) dan bus ber-seat 2 x 1. Ini adalah terobosan pelayanan bus antar kota yang baik yang bisa dijadikan standar pelayanan transpotasi bus di kota lain. Bravo Efisiensi.

Banyak cara dari Yogja menuju Malang, bisa pake bus, travel atau KA.  Dengan bus seperti yang aku sebutkan tadi yakni Zena, Handoyo atau Rosalia. Dengan travel juga bisa pilih Rosalia, Surya atau travel lainnya. Sedangkan KA ada Malioboro (ekonomi / executive), Gajayana (executive), Malabar (ekonomi / bisnis / executive) atau Matarmaja (ekonomi). Untuk KA, silakan lihat di  http://teamtouring.net/jadwal/bus/

Bus Zena melanjutkan kembali perjalanannya dari Yogjakarta menuju Malang. Route yang dilewati adalah Klaten, Solo, Sragen, Ngawi, Madiun (Saradan), Nganjuk, Kertosono, Jombang, Mojosari, Japanan, Pandaan kemudian Malang. Perjalanan selama 8 jam dengan istirahat makan gratis dari Zena di RM Surya di daerah Saradan. Sedangkan Bus Handoyo fasilitas makan gratisnya di RM Kurnia Jawa Timur di Ngawi.

Akhirnya sekitar pukul 4 pagi aku tiba di Terminal Bus Arjosari, Malang. Anakku sudah menunggu menjemputku dengan sepeda motornya. Dan kami semua bisa berkumpul kembali dengan keluarga untuk bercengkerama lagi. Sebagai tanda terima kasih pada anakku, uang 50 ribu aku berikan padanya sebagai uang pengganti ojek. Itu adalah 3 x lipat ongkos naik ojek. Dia tersenyum menerimanya. "Terima kasih Bapakku", katanya.

Sebelum aku mengakhiri kisah perjalananku ini, ada alternatif lain menuju Malang dari Slawi  Tegal. Rutenya lewat Utara Jawa dengan bus. Anda bisa mencoba pakai bus EZRI yang pool-nya ada di Jl. Gajah Mada, Tegal tepatnya di depan Bank Bukopin. Tarip dari Tegal ke Malang Rp. 180.000 dan berangkat pukul 19.00.
Dengan KA juga bisa dilakukan, seperti KA Majapahit (Ekonomi AC) yang dulu namanya Senja Kediri kemudian berubah menjadi Senja Singosari dan akhirnya menjadi KA Majapahit. Rutenya dari Malang - Blitar  - Kediri - Kertosono - Madiun - Semarang (Tawang) - Pekalongan - Tegal - Cirebon dan Jakarta (Pasar Senen).






 



 









 








 













Copyright© by RUSDI ZULKARNAIN 
email  : alsatopass@gmail.com

1 comment:

angger pratama said...

salut salut pak, keren.. :D