BERAMAL LEWAT TULISAN

Sabtu, 01 Februari 2014

SITUS ISLAM SEWULAN


Tersembunyi dan jarang orang yang tahu ada Situs Islam di Madiun. Ditandai oleh bangunan masjid tua berarsitektur Jawa yang sebagian besar dikelilingi oleh makam keluarga, semakin terbukti nyata adanya situs sejarah Islam di Madiun.

Menurut kesaksian masyarakat sekitar, Area Masjid Sewulan yang ditetapkan pemerintah sebagai situs yang dilindungi undang-undang adalah masjid tertua di Madiun. Masjid ini didirikan oleh generasi pertama keluarga KH. Abdurrahman Wahid  ‘Gus Dur' mantan Presiden RI ke-4 , yaitu Kiai Ageng Basyariyah. Dari silsilah yang ada, Gus Dur adalah generasi ke-7 dari keturunan keluarga ini.

Situs ini terletak di Dusun Sewulan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun. Dari Kota Madiun arahnya menuju Ponorogo, jaraknya tidak sampai 10 Km dan cukup 20 menitan saja aku sampai di masjid ini.




MASJID TERTUA DI MADIUN

Menurut sejarah, ternyata masjid tertua di Madiun ada di Dusun Sewulan. Tidak disangka-sangka dari sinilah Eyang Buyut Gus Dur berasal, Raden Mas bagus Harun atau Kiai Ageng Basyariyah. Beliau yang mendirikan Masjid Sewulan pertama kali dan menyebarkan Islam dari desa ini. Bangunan phisik masjid semuanya masih lengkap dan terawat baik. Keberadaannya saat ini dilindungi pemerintah sebagai situs sejarah cagar budaya. Dari prasasti yang ada, masjid ini pernah direnovasi oleh penerusnya. Rumah Allah ini sering disebut sebagai Masjid Sewulan atau Masjid Basyariyah.



Pada umumnya, orang tahu Gus Dur berasal dari Jombang. Dari penuturan masyarakat sekitar, ketika kecil Gus Dur sering main mengunjungi keluarganya di Sewulan ini. Katanya, beliau sering main di sekitar masjid dan mandi-mandi di kolam yang ada persis di muka masjid. Sebagai  keturunan orang-orang yang shalih, pada akhirnya Gus Dur pun terbukti menjadi pemimpin tertinggi negara ini, sebagai Presiden RI ke-4.

Masjid Sewulan ini tidak terlihat jelas dari jalan raya, karena areanya tertutup oleh sekolah di depannya. Menyusuri jalan desa yang cukup mulus, aku bersama sahabat mengunjungi masjid ini. Sahabatku sebelumnya pernah ke sini, sehingga menemukan Masjid Sewulan tidak sesulit dibanding kalau aku pergi sendirian. Nah, ini pas hari Jumat, jadi aku bisa sekalian Jumatan dan bisa mengetahui tentang masjid ini lebih dalam lagi.

Kuucapkan salam ketika memasuki area makam tua di samping hingga bagian belakang masjid. Di balik mimbar masjid ada suatu ruangan dimana Kiai Ageng Basyariyah dimakamkan. Di bagian luar ruangan, dindingnya ada silsilah keluarga besar Kiai Ageng Basyariyah hingga Gus Dur. Di sini, aku tidak lupa memanjatkan doa kepada Allah untuk kebaikan ahli kubur yang dimakamkan di sini.


PERSIAPAN JUMATAN

Waktu Jumatan masih dua jam lagi, aku sempatkan ngobrol dengan pengurus masjid dan masyarakat yang sedang ngopi-ngopi di warung dekat masjid. Aku pun ikut nimbrung menikmati segelas kopi panas. Enak tinggal di desa seperti ini, terasa nyaman dan tenteram.

Belum sempat membayar dua gelas kopi hitam yang kupesan. Ibu warung berkata, “Kopi bapak sudah dibayar oleh Mas yang ikut ngobrol tadi”.  Ternyata Mas yang aku ajak ngobrol di warung tadi, diam-diam telah membayar kopiku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa bilang terima kasih melalui ibu warung sambil mendoakan semoga Allah memberi barokah kepada Mas tadi.

Sebelum tiba waktu Jumat, aku diberi kesempatan pengurus masjid untuk ambil foto area luar dan dalam masjid. Beliau juga menerangkan tentang keberadaan Masjid Basyariyah. Berada pada area yang cukup luas, masjid ini berdiri diantara sekolah, gerbang gapura, rumah penduduk, makam, kolam dan area parkir yang dibuat belakangan.

Kata beliau, masjid ini sering dikunjungi orang-orang penting negeri ini. Suasana masjid akan bertambah ramai pada saat Acara Mauludan (Rabiul Awal), apalagi di Bulan Ramadhan.



Di kiri depan masjid, ada tempat wudhu. Di depannya ada dua kolam, kamar mandi putra putri dan ada beduk di terasnya. Pada dinding bagian luar ditempel prasasti sejarah berdirinya masjid, ada dua bilah pintu masjid bernuansa hijau dan di sampingnya terdapat jendela menghadap pemakaman keluarga. Pada bagian dalam, terlihat ada empat tiang utama penyangga atap, lantai ubin tempo dulu dan mimbar. Semuanya masih terpelihara baik dan sangat kentara itu adalah buatan masa lalu.


Beduk ditabuh bertalu-talu sesuai irama yang berlaku. Tabuhan berirama dilakukan selama hampir 20 menit, sambil menyambut jamaah datang. Dan akhirnya adzan pertama dikumandangkan sebagai tanda awal waktu shalat telah tiba dan memberi kesempatan jamaah untuk shalat kobliah. Setelah itu khotib naik mimbar dan adzan kedua pun dilantunkan sedikit pelan. Khutbah disampaikan dalam Bahasa Jawa, hal ini lebih mudah dimengerti dan dipahami oleh jamaah yang datang dari sekitar Desa Sewulan. Dua khutbah dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama, diakhiri dengan doa dan Shalat Jumat pun dimulai.



Pelajaran singkat yang dapat kupetik ketika shalat di masjid ini adalah, beribadah dan berbuat baik untuk persiapan hidup yang lebih abadi senantiasa harus diwujudkan. Hal ini ditandai dengan jendela masjid menghadap area makam yang ada di sampingnya. Itu mengingatkan kami semua harus siap setiap saat menghadap keharibaanNya dengan membawa bekal yang cukup.


MADIUN TIDAK BOLEH DILUPAKAN

Setelah secara khusus mengunjungi Situs Sewulan, selanjutnya dengan waktu yang singkat aku akan mengeksplor Kota Madiun. Sebagai kota yang sering mendapat julukan 'kota pecel’, 'kota brem', 'kota sejarah pemberontakan komunis' atau 'kota industri kereta api INKA’, semuanya akan ku-eksplor lebih dalam.

Madiun hanya sering dilewati berbagai kereta api dari barat maupun timur dan bus-bus dari Yogya ke Surabaya, dan jarang dikunjungi sebagai destinasi akhir. Makanya, kota ini lebih pantas disebut Kota Transit. Banyak orang dan kendaraan barang singgah di kota ini, kemudian meneruskan perjalanannya ke barat, ke selatan atau ke timur Jawa.


Sebagai kota transit, Madiun banyak hotel dan rumah makannya untuk melayani pergerakan orang yang melewati daerah ini. Kota yang berada di jalur tengah Jawa, udaranya cukup panas dan sesekali ada musim angin yang cukup kencang. Di sini juga banyak sisa-sisa peninggalan kolonial Belanda yang masih berfungsi dan beroperasi baik sampai saat ini, seperti stasiun dan jalur kereta api, pabrik gula, gereja dan kantor sipil maupun militer.



Ketika aku berkunjung pada akhir Januari 2014, kotanya cukup menyenangkan. Jalan-jalan yang mulus dan bersih serta penduduk yang tidak begitu padat, menjadi magnet untuk mampir ke kota ini. Kota yang berjarak 150 an kilometer dari Surabaya, 100 an kilometer dari Solo atau 25 an kilometer dari Ponorogo jalur ke Pacitan, banyak orang telah mengenal kota ini. Apalagi ketika aku kecil selalu diingatkan dengan sejarah kelam pemberontakan Partai Komunis Indonesia ‘PKI’ 1948 terjadi di kota ini. Peristiwa kelabu itu diabadikan dalam Monumen di Kresek.

Pangkalan militer Angkatan Udara RI, juga ada di dekat sini. Pangkalan Udara Iswahyudi, namanya. Terletak di Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan, namun lebih dikenal dengan Bandara Iswahyudi Madiun. Disamping itu wilayah Madiun terlihat hijau, karena banyak dikelilingi hutan jati seperti di Saradan, Caruban, Ngawi dan di Madiun sendiri.


Keramaian kota sedikit longgar setelah ada jalur pintas Caruban - Ngawi, bus-bus patas tidak lagi masuk Kota Madiun. Hanya bus-bus ekonomi dan jurusan ke Ponorogo saja yang masuk dalam kota. Berbeda dengan kereta api, yang dari Malang atau Surabaya Gubeng hampir semuanya lewat Madiun. Begitu juga yang datang dari barat, kalau lewat Yogja pasti Stasiun Kereta Api Madiun dilewati.


AYO KELILING MADIUN

Sebagai kota yang banyak memiliki beberapa julukan. Inilah yang ingin aku tahu, mulai dari pecelnya, kereta api-nya atau brem-nya. Selain itu aku mau tau Terminal Bus Purboyo, Masjid Agung Baitul Hakim, Taman Makam Pahlawan, Alun-alun Madiun, Gereja Katolik ST. Cornelius, Klenteng Hwei Eng Kiong atau pabrik gulanya.




Selesai mengelilingi kota, aku mencoba beberapa kuliner yang ada di Madiun. Selain sering makan pecel di di pagi hari, aku juga mencicipi durian dari Ngebel. Masakan khas Jawa Timur yang lain juga tidak luput kucoba, mulai dari gule kambing, tahu telor, gado-gado, nasi rames atau soto ayam. Akhirnya, sebelum meninggalkan kota ini, aku nikmati kuliner ikan gurame bakar di Lesehan Afifah milik pasangan Pak Suradi dan Ibu Rini di Jalan Bumijaya no. 37 Madiun. Ikan guramenya digoreng dulu lalu dibakar. Hhm ... rasanya nyam nyam, lembut dan fresh karena langsung diambil dalam keadaan hidup. Harganya murah tapi memuaskan, makan dan minum ber empat yang mengenyangkan hanya seratus ribuan saja.





Sampai jumpa Madiun, keramahanmu akan selalu kukenang. Ketika pulang, aku dioleh-olehi sahabatku 1 pak (isi 10) Roti Bluder Kresna khas Madiun, produksinya di Jalan Pringgodani No. 68 atau merk lain seperti 'Cokro'. Selanjutnya Bus Jaya AC tarip biasa membawaku ke Surabaya dengan ongkos 25 ribu menempuh empat jam perjalanan.




Copyright© by RUSDI ZULKARNAIN 
email  : alsatopass@gmail.com 

1 komentar:

nick mengatakan...

pak.. bapak.. kapan jalan2 ke solo..