BERAMAL LEWAT TULISAN

Selasa, 25 Februari 2014

MOUNT KELUD MUNTAH NGGAK BILANG-BILANG



Malam itu  malam jum'at, tanggal tiga belas, bulan pebruari, tahun dua ribu empat belas, malam valentine, ada suara menggelegar menghentak dan mengagetkan penduduk Pulau Jawa, khususnya di kawasan Kediri, Malang dan Blitar. Kilatan cahaya dan dentuman yang menakjubkan disaksikan oleh banyak orang, sementara itu belum disadari oleh mereka, sebenarnya apa yang sedang terjadi. Ternyata Gunung Kelud meletus.

Allah turunkan satu lagi bencana ke negeri ini sebagai peringatan buat kita semua bahwa Allah Maha Kuasa. Manusia kecil, tidak ada apa-apanya dan tidak berdaya sedikitpun, bingung, panik dan penuh ketakutan. Masihkah kita mau sombong, serakah dan jahat pada sesama ? Semoga peringatan ini akan menyadarkan kita semua.


TENGAH MALAM YANG TAK TERDUGA

Hampir tengah malam tepatnya sekitar pukul sebelas, sebagian orang dikagetkan bunyi gelegar dan gemuruh. Suara tersebut didengar oleh sebagian penduduk yang berada mulai dari Kabupaten Malang sampai ke Kabupaten-Kabupaten di Jawa Tengah. Gunung Kelud meletus.

Aku sendiri tidak tau kejadian itu, karena aku baru saja beranjak tidur lima belas menit yang lalu. Informasi meletusnya Kelud baru aku dengar setelah selesai Shalat Shubuh di masjid. Teman-teman jamaah banyak yang cerita, Kelud meletus. Peristiwa ini sangat mengejutkan kami, karena terjadinya begitu mendadak dan statusnya pada waktu itu masih berstatus siaga. Namun tiba-tiba setelah satu jam ditetapkan statusnya menjadi awas, Kelud meletus dengan dahsyatnya. Kelud cirinya memang seperti itu, kata orang yang tau tentang gunung ini. Berbeda dengan gunung-gunung berapi pada umumnya, selalu didahului oleh erupsi kecil atau ‘keluarnya magma dari dalam gunung berapi’ atau getaran ‘gempa tremor’ beberapa kali, kemudian meletus. Karena tiba-tiba, banyak penduduk tidak sempat mengungsi atau diungsikan.

Lava pijar dan kilatan cahaya disertai dengan suara dentuman keras bergemuruh dapat disaksikan dari area Malang dan banyak yang tidak menyangka kalau itu adalah letusan Kelud. Kilatan yang membelah kegelapan malam menjadi tontonan gratis warga yang tidak mengerti kalau itu bencana. Dan bagi warga yang mengerti kalau itu letusan Kelud, semua menjadi panik dan takut berusaha menghindar ingin menyelamatkan diri.


LETUSANNYA MENYEBAR KE MANA-MANA

Pastinya, malam itu penduduk yang berdampak langsung akibat letusan Kelud panik. Suasana di luar juga gelap gulita karena aliran listrik padam, udaranya pekat oleh debu yang berterbangan. Mau nggak mau hanya bisa bernaung sementara di rumahnya masing-masing menunggu dan berharap semoga keadaan cepat mereda. Semua genteng hancur, parabola hancur dan atap yang tidak kuat konstruksinya roboh tidak kuat menahan beban batu dan pasir.

Alhamdulillah, tidak ada korban yang meninggal karena bencana ini. Namun ada korban karena jatuh dari atap rumah yang tidak kuat menahan beban ketika dibersihkan. Tim satuan evakuasi pun tiba dari TNI dan dari BNPBD ‘Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah’ setelah diperintahkan oleh komando di atasnya. Mereka dibawa ke tempat pengungsian yang lebih aman, seperti di Pujon, Batu, Kasembon, Pare atau Blitar.

Aku bersyukur, khususnya bagi yang tinggal di Kota Malang benar-benar terbebas dari dampak letusan Kelud. Ini ketetapan Allah yang harus terus kita syukuri. Secara geografis, Kota Malang dari Kelud terhalang oleh Gunung Butak (Gugusan Puteri Tidur). Sehingga dampak letusan Kelud tertahan oleh gunung ini, namun untuk wilayah Sidoarjo, Surabaya, Jombang dan Madura masih tetap kena dampaknya.


Handphone-ku terus berbunyi, banyak yang menghubungiku, menanyakan dan memastikan apakah kami aman dari letusan Kelud. Semua terheran-heran, kok sama sekali bisa terbebas dari dampak letusan Kelud, padahal jaraknya hanya satu jam lebih saja dari Malang.

Puluhan Posko ‘Pos Komando’ dan dapur umum didirikan menampung ribuan pengungsi dampak letusan Kelud. Mereka hanya membawa yang hanya mereka bisa bawa, termasuk membawa anggota keluarganya. Karena situasinya amat mencekam dan panik, ada saja anggota keluarganya yang terpisah dengan orang tuanya.

Debu terus berterbangan dibawa angin ke mana ia mau. Sebagian Malang Raya, Blitar dan Kediri adalah daerah-daerah yang berdampak langsung kena letusan. Namun tanpa diduga sebelumnya, yang lebih parah justru bagian tengah dan barat Pulau Jawa. Di Jawa tengah khususnya Solo dan Yogja menjadi korban terparah hadirnya debu yang tebal selama hampir seminggu. Beberapa hari kemudian debu juga hadir di Jawa barat, seperti Tasikmalaya, Bandung dan Bogor.

Tujuh Bandara pun harus ditutup hampir seminggu, Juanda Surabaya, Abdul Rakhman Saleh Malang, Adi Sucipto Yogjakarta, Adi Sumarmo Solo, Achmad Yani Semarang, Tunggul Wulung Cilacap dan Husein Sastranegara Bandung. Hampir semua badan atas pesawat tertutup abu yang tebalnya beberapa sentimeter.

Calon penumpang pesawat udara menumpuk di mana-mana tidak bisa diterbangkan ke tujuannya. Tiket Kereta Api ludes habis terjual diserbu calon penumpang sebagai transportasi pengganti pesawat udara. Beberapa acara besar yang semula direncanakan akan dihadiri artis atau pejabat pemerintah, batal dilaksanakan karena Ybs. tidak bisa hadir. Apalagi buat kawula muda yang sudah siap-siap valentinan, rencananya bubar semua.


POS KOMANDO dan DAPUR UMUM

Puluhan Posko dan dapur umum didirikan di mana-mana. Ada Posko dari TNI, BNPB, PMI, LSM, Mahasiswa atau Posko dari anggota masyarakat yang peduli menangani bencana. Lokasinya dipilih dan ditetapkan yang bebas dari dampak Kelud. Sebut saja misalnya di Kota Batu, Poskonya ada di Gedung Kesenian, Kantor Samsat, Gedung Olah Raga Ganesha atau di depan Masjid Agung An-Nur.

Posko Masjid Abdullah
Pada Posko-Posko yang besar disamping menampung para pengungsi, di situ juga menerima berbagai bantuan dari berbagai pihak seperti makanan minuman (Sembako), pakaian dan obat-obatan. Pos Kesehatan dan Dapur umum juga ada di sini, yang dikelola oleh Satuan TNI AD dari Bekang ‘Perbekalan dan Angkutan Angkatan Darat’ dibantu oleh masyarakat sipil.

Dari omong-omong santai dengan petugas dapur umum, menyiapkan makanan setiap harinya mencapai ribuan bungkus, tergantung berapa jumlah pengungsi yang ada. Para petugas di dapur umum harus memasak terus menerus hampir dua puluh empat jam dan melayani makan para pengungsi tiga kali sehari. Solar atau minyak tanah untuk kompor per harinya perlu dua juta rupiah, sayur-mayur sekitar dua jutaan juga, telur sepuluh peti dan beras puluhan karung. Setiap kali makan perlu tujuh ribu bungkus, berarti tiga kali makan perlu dua puluh ribuan bungkus.

Disamping untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi, petugas dan relawan, Posko di Gedung Kesenian Batu juga harus mendistribusikannya ke Posko-Posko yang lebih kecil. Mereka tentunya sudah punya Prosedur Tetap ‘Protap’ penanganan bencana, agar semuanya berjalan lancar.

Tidak itu saja, para relawan berupaya menghibur anak-anak pengungsi dengan bernyanyi, didongengi atau disuguhi beberapa permainan. 


BANTUAN TERUS MENGALIR

Tidak ada yang menyuruh, setiap warga yang dekat maupun yang jauh serta merta mengirim bantuan secara pribadi, institusi atau instansi ke Posko-Posko bencana. Di dalam kota banyak terdapat Posko menerima bantuan masyarakat berupa uang tunai, Sembako, pakaian layak pakai dan obat-obatan. Setelah terkumpul, kemudian bantuan dikirim ke Posko yang menampung para pengungsi.




Kami pun di Malang mendirikan Posko selama tiga hari saja. Alhamdulillah berkat kekompakan dan kepedulian warga di Perumahan Permata Jingga Malang, telah terkumpul uang tunai sebesar Rp. 79,216,675 dan puluhan koli pakaian baru / pakaian layak pakai, Sembako dan obat-obatan. Posko kami tempatkan di Teras depan Masjid Abdullah, Permata Jingga.


Semua telah kami salurkan ke Posko pengungsian dan Posko di TKP, sisa uang tunai sekitar 20 jutaan lagi rencananya akan kami distribusikan langsung ke TKP untuk merehabilitasi tempat ibadah. Pengelolaan penerimaan dan penyaluran bantuan dari warga kami lakukan secara transparan. Semua tercatat dan disaksikan oleh orang-orang secara terbuka. Ini benar-benar yang berbicara adalah kejujuran dan ketulusan untuk membantu sesama yang sedang dirundung kesusahan.

Semua bergerak cepat secara non formal tapi formal (bingung khan ?). Membuat banner, kotak dan daftar penerimaan bantuan, kontak person, mobil dan memonitor kebutuhan pengungsi dilakukan dengan bahu membahu. Dengan koordinasi yang intens, saling ketemu langsung, telepon, sms atau BBMan group, semua pekerjaan menjadi lebih lancar. Sebenarnya, kami sebagai ‘relawan’ dadakan masing-masing mempunyai tugas atau pekerjaan di kantor, walau demikian semuanya bisa kami atur dengan baik.


Pembagian tugas dengan tulus ikhlas bisa berjalan dengan lancar. Kami pun tau batas-batas etika secara syariat agama Islam, tidak akan memanfaatkan sedikitpun bantuan yang kami terima. Sebut saja misalnya, untuk makan selama perjalanan ketika mengirim bantuan, itu semua dikeluarkan dari uang masing-masing pribadi. Seluruh keperluan makan, pulsa, bahan bakar, kendaraan dan lain-lain sebelum berangkat ke TKP adalah dari kantong pribadi. Semua progresnya kami share lewat sms atau BBMan group.

Berdasarkan pengamatan kami, jumlah bantuan yang masuk ke Posko-Posko sudah lebih dari cukup. Langkah yang paling penting adalah bagaimana merehabilitasi tempat tinggal dan sarana desa para pengungsi.

picture by Mr. Andi


KIRIM BANTUAN LANGSUNG KE PUSAT BENCANA

Kami telah mengirim bantuan ke Posko utama di Gedung Kesenian Batu pada hari keempat setelah bencana. Jumlahnya  satu truk dan dua mobil box. Kemudian mengirim bantuan lagi pada hari ke tujuh langsung ke TKP pusat bencana di Ngantang Desa Pandansari. Gerak cepat yang kami lakukan adalah membeli segala kebutuhan untuk pengungsi di salah satu super market terbesar Kota Malang. Ordernya via telepon di siang hari dan super market menyiapkan barangnya berikut perkiraan jumlah yang harus dibayar. Malamnya, kami pinjam mobil box untuk mengangkut barang yang telah kami pesan. Semua barang kami tempel dengan sticker identitas dari panitia supaya barang itu lebih tampak bertuan.


Tepat pukul tujuh pagi, kami berangkat membawa barang bantuan ke Ngantang. Semula hanya membawa satu mobil box dan dua panther, namun ada ibu-ibu yang memaksa ikut. Alasannya, mereka ingin tau langsung korban Kelud dan ingin berbuat baik mencari pahala. Kami pun tak kuasa melarang mereka turut serta. Alhasil, team kami yang semula ada tiga mobil, sekarang menjadi lima mobil. Salah satu dari ibu-ibu ada yang membawa 'Fortuner' yang masih mulus. Mereka sangat ikhlas, apabila mobilnya babak belur ketika masuk ke lokasi bencana karena medan yang berat.




Kami sempat mampir di Pujon untuk melihat pengungsian di rumah-rumah penduduk. Hari itu, para pengungsi mulai ditarik oleh TNI dan secara bertahap dipulangkan ke desanya masing-masing. Alasan pengungsi mulai dipulangkan adalah berkenaan dengan penurunan status bencana.


Team kami menggunakan orang setempat untuk memandu sampai ke pusat bencana di Ngantang, tepatnya di sebelah Bendungan Selorejo. Pemandu dari Pujon menuju Ngantang menggunakan sepeda motor, sedangkan kami mengikutinya dari belakang.

Sampai di TKP, kelihatannya kami tidak bisa masuk sampai pusat bencana, karena aksesnya masih terbatas dan masih sedikit berbahaya. Kami harus melewati lembah di mana sebelumnya lahar dingin mengalir deras di sini. Jembatan sudah tidak ada lagi, tiang-tiang listrik roboh semua. Team harus antri masuk lembah yang masih ada aliran air yang cukup deras. Satu dua mobil berhasil melewati aliran sungai, kemudian kami pun menyusul memberanikan diri menyebranginya. Semua ini dibantu oleh TNI dan Polri yang sudah siap siaga di lokasi.


Jalur lahar dingin
Sampai juga kami di TKP yang paling parah kena bencana letusan kelud. Semua lokasi warnanya hampir sama ‘abu-abu’ dampak dari hujan abu dan batu. Porak poranda sudah desa ini, walaupun bangunannya masih berdiri tapi bagian lainnya sudah hancur tanpa atap. Bahkan banyak juga bangunan yang roboh. Ya Allah beri kekuatan dan kesabaran pada kami semua.




Abu pasirnya masih sangat tebal, untung saja sebelumnya sudah sebagian disingkirkan petugas dan relawan. Team kami alhamdulillah masih bisa mendekat dengan warga yang baru sehari ini diperbolehkan pulang ke desanya. Bantuan kami turunkan di Posko Masjid dan membagikan langsung ke ‘koordinator’ di setiap gang desa itu, sisanya kami distribusikan lagi ke beberapa tempat di sekitar situ. Dan terakhir di Posko Kantor Kecamatan Pujon dan Posko di depan Masjid An-Nur, Batu.




Semua yang terjadi adalah pelajaran hidup buat team kami. Semoga kami semua tidak menjadi lalai, jauh dari perintah Allah, tidak sombong, dholim kepada sesama atau sengaja merusak alam. Terima kasih Ya Allah, Engkau telah mengingatkan kami semua betapa besar kekuasaanMu. Kami berdoa semoga warga korban Kelud dapat membuka lembaran hidup yang lebih baik.

Tugas hampir selesai, tapi dari pagi sampai petang kami belum sempat makan. Team baru bisa makan di Kota Batu tepat pukul empat sore. Kami harus bersyukur bisa makan dengan pilihan yang kami mau, tapi bagaimana dengan saudara kita yang jadi korban Kelud, mereka makan apa ? satu pelajaran lagi kami dapat dari peristiwa letusan Kelud.


Akhirnya, kami tiba di rumah masing-masing dengan selamat. Sebagai anggota team, aku mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan leader atas kerja keras dan tulus ikhlas membantu para korban bencana Kelud. Setiap pekerjaan tentu ada hal-hal yang tidak luput dari salah, kusampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Special thanks for Bung Andi, Bung Agus, Bung Teguh, Bung Heni dan para Senior, Pengembang serta semua warga Permata Jingga yang telah menyumbangkan bantuan material dan moril kepada kami demi saudara kita yang kena musibah Kelud.

BRAVO PERMATA JINGGA



Copyright© by RUSDI ZULKARNAIN 
email  : alsatopass@gmail.com 

Tidak ada komentar: