BERAMAL LEWAT TULISAN

Wednesday, 23 April 2014

Bangkok, Ubon Ratchathani, Pakse, Don Det, Savannakhet, Mukdahan, Khon Kaen, Kranuan, Udon Thani, Nongkhai, Vientiane, Bangkok





Tiga belas hari jelajahi pelosok dua negara perlu persiapan phisik yang prima. Ya pelosok Thailand dan Laos yang menjadi sasaranku kali ini. Di sana banyak potensi wisata yang masih terpendam. Perjalanan ini, bagiku yang berusia 52 tahun masih terasa enjoy-enjoy saja, yang penting jangan ngoyo, jangan lupa makan minum dan cukup istirahat. Pastinya, trip ini harus sambil memperkenalkan Indonesia, misalnya selalu pake batik dan kaos Arema. Ayo kita mulai petualangan ini.


NAIK KERETA API BERTEMPAT TIDUR

Hanya aku orang Indonesia kala itu yang berkunjung ke Don Det di wilayah Laos Selatan. Ini gugusan pulau kecil-kecil yang berbatasan dengan negara Kamboja. Dari Pakse (kota terbesar di Laos Selatan),  jaraknya dua setengah jam dengan minibus,  wilayah ini termasuk dalam Propinsi Champasak.

Aku masuk Kota Pakse dari Bangkok, Thailand. Pas pesawat murah asal negeri jiran landing di Don Mueang Airport, aku langsung melewati jembatan penghubung menuju Stasiun Kereta Api kecil Don Mueang. Kemudian bertanya pada petugas penjual tiket, apa ada tiket ke Nongkhai (ujung timur laut Thailand-red) atau ke Ubon Ratchathani (paling timur Thailand-red) ? Petugas bilang, “Tujuan Khon Kaen, Udon Thani atau Nongkhai habis, tapi kalau ke Ubon Ratchathani sisa satu seat”. Tanpa pikir panjang kesempatan tersebut langsung aku ambil. Tiket Kelas-2 sleeper upper (tempat tidur atas) kubayar 665 Bath atau setara 235 ribu rupiah. Kereta akan menempuh perjalanan sejauh 610 Km dalam waktu sebelas jam. Keputusan ini aku ambil karena sebelumnya aku sudah beberapa kali ke Thailand Selatan, ke Thailand Utara mulai dari Ayutthaya, Chiang Mai, Chiang Rai, Chiang Kong, Golden Triangle sampai ke Mae Sai dekat perbatasan Myanmar, Tachileik, termasuk ke Bangkok tentunya. Sedangkan ke wilayah Thailand Timur dan timur laut belum pernah sama sekali.


BISA NGINTIP ORANG MANDI

Tiba di Stasiun Kereta Ubon Ratchathani pukul delapan pagi dan langsung tanya di mana ada guest house murah ? Beruntung, tukang tuk-tuk tau yang kumaksud, dia membawaku ke guest house ‘Rivermoon’.  Ongkos tuk-tuk  ini cuma 20 Bath karena letaknya tidak begitu jauh, sebenarnya kalau aku mau, bisa saja aku jalan kaki ke sana. Guest house yang bertarip hanya 200 Bath ini cukup nyaman ditempati. Semua bagiannya terbuat dari kayu. Aku tinggal di lantai dua. Di sini ada hal  yang mengejutkan, apa itu ? Posisi kamarku persis di atas kamar mandi, sedangkan lantai kamarku terbuat dari papan-papan yang punya beberapa celah. Mau ngintip orang mandi, gadis Thailand ? bisa aja kalau aku mau. Hhe.

Seharian aku jelajahi kota Ubon pake songthew (angkot Thailand) yang rata-rata taripnya 10 Bath. Kalau aku ragu dan  untuk memudahkan penjelajahan, aku biasa minta tolong orang guest house menuliskan tujuanku dalam Bahasa Thai termasuk nama dan alamat guest house yang aku tinggali. Keesokan harinya, aku tinggalkan Ubon menuju Pakse (wilayah selatan Laos) dengan International Bus Thai-Lao namanya. Tiketnya 200 Bath berangkat pukul 9.30 pagi dan ada juga yang 15.30.


BUS ANTAR NEGARA PENUH DISESAKI BARANG

Namanya saja keren, International Bus Thai – Laos. Begitulah nama jurusan bus yang melayani rute Ubon Ratchathani, Thailand  -  Pakse di propinsi Champasak, Laos. Jarak kedua kota beda negara itu sekitar 130 Km atau tiga jam perjalanan dengan bus.

Sebelum bus meninggalkan Terminal Ubon, sangat banyak barang bawaan penumpang yang sudah dijejer di sisi kiri kanan bus. Barang berupa tas-tas plastik besar yang warnanya sama semua, harus bisa masuk  bus bagaimanapun caranya. Tas-tas besar tersebut semua diberi label oleh crew bus supaya tidak tertukar. Tentu saja para pemiliknya harus membayar lebih atas barang bawaannya itu. Warga Laos membawa barang tersebut dari Bangkok untuk dijual lagi di kampungnya masing-masing. Uniknya yang menjalankan bisnis ini adalah kaum muda mudi Laos.

Ruang bagasi di kiri kanan bagian bawah bus telah penuh diisi barang penumpang, sedangkan barang yang lain masih banyak yang belum terangkut. Saatnya memasukkan barang-barang tersebut ke dalam bus bagian belakang. Harus bisa masuk, karena semua harus terangkut. Tentu saja, ini sangat berpengaruh pada kenyamanan penumpang. Ya terpaksa, semua harus maklum. Aku senyum-senyum saja bersama Neil, sejarahwan asal Uruguay yang baru saja aku kenal.

Bus sudah meninggalkan Terminal Ubon. Tapi baru melaju  kurang dari satu jam, petugas imigrasi memberhentikan bus dan men-sweeping untuk menjaring penumpang yang dokumennya tidak lengkap. Semua diperiksa, termasuk aku. Bagi yang  dokumennya tidak lengkap, diturunkan dan dibawa ke Kantor Imigrasi border dekat Laos. Bus tiba di Border sisi Thailand, semua penumpang turun dan melewati pos imigrasi.  Border kedua negara ini dikenal dengan Chong Mek atau Vang Tao Border. Dari pos pemeriksaan Imigrasi Thailand menuju Imigrasi Laos harus melewati lorong bawah tanah (tunnel) dan berjalan kaki lagi setelahnya.

Kantor Imigrasi Laos tidak sebagus Thailand. Di dekat situ ada Duty Free Shop, money changer dan bedak-bedak penjual makanan minuman serta barang lainnya. Oleh petugas imigrasi, aku diminta bikin visa (Visa on Arrival). Aku bilang ASEAN country tidak perlu visa, buktinya ini aku pernah masuk Laos tanpa visa, sambil tujukkan stempel pada lembaran lama di pasporku. Akhirnya, pasporku dikembalikan lengkap dengan stempelnya dan petugas minta 50 Bath (17,500 rupiah) tanpa bukti pembayaran. Kalau orang Laos masuk ke negaranya sendiri lewat pos ini harus bayar 200 Bath. Nggak jelas aturannya.


Setelah menempuh perjalanan tiga jam lebih, aku tiba di agen bus Pakse. Dari situ harus naik tuk-tuk lagi menuju guest house. Untuk perjalanan kali ini, aku sengaja tidak dan agak malas menyiapkan data guest house di mana harus menginap. Biasanya aku nempel-nempel aja sama turis asing, dia pasti lebih siap dan pasti bawa buku traveling. Benar saja, Neil bilang pada sopir tuk-tuk minta diantar ke Guest House Sabadie 2. Nah, selanjutnya ikutin dia aja, mudah bukan ?  Karena tuk-tuk sudah disewa oleh penumpang bus asal Laos untuk angkut penuh barang-barangnya,  aku dan Neli harus duduk di atas tumpukan barang dan  harus membayar 80 Bath per orang. Padahal sebelumnya sudah disepakati ongkosnya 60 Bath per orang. Cerdiknya sopir tuk-tuk, ketika aku bayar pake 100 Bath, kembaliannya pake uang Laos Kip sebesar 5000 (7,500 rupiah). Ya kalau dihitung-hitung jadinya tetap 80 Bath juga.

Jalanan di berbagai penjuru dalam Kota Pakse sedang dibetonisasi, semua diselimuti debu-debu yang berterbangan. Tuk-tuk tidak langsung mengantar kami ke guest house, tapi harus mendrop barang-barang ke terminal dan kembali lagi ke agen bus untuk ambil sisanya, selanjutnya baru mengantar kami ke guest house. Itu pun diantar tidak sampai di Sabadie 2, karena alasan ada perbaikan jalan. Kami harus berjalan lagi mencari letak Guest House Sabadie 2. Akhirnya ketemu tapi sayang semua kamar full. Selanjutnya kami keluar masuk cari guest house yang lain, alhasil dapat juga yang sesuai budget. Hotel Lankham, satu kamar taripnya 60,000 Kip (85,000 rupiah) kamar mandi di dalam, free wifi, dapat toiletary dan dua air mineral. Itu yang aku ambil.

Kebetulan dekat lobby hotel terdapat money changer, aku tukar 100 US$ menjadi 803,000 Kip (1 US$ = 8,030 Kip). Sebelumnya, aku juga tukar uang di Airport Don Mueang, 100 US$ menjadi 3,160 Bath (1 US$ = 31,6 Bath). Uang dollar tidak kutukarkan semua, kalau perlu saja kutukarkan lagi. Uang Bath dan Kip harus diatur / diperhitungkan dengan cermat agar tidak meleset pemaikaiannya, kekurangan atau kelebihan.

Waktunya istirahat sebentar di kamar, setelah itu cari makan di Restoran Halal India, “Restoran Hasan”, namanya. Perut sudah terisi dan siap menjelajahi Kota Pakse di Laos bagian selatan ini.


DON DET, POTENSI WISATA YANG TERPENDAM DI LAOS

Melanjutkan perjalanan ke Don Det. Aku dijemput minibus yang tiketnya kubeli sehari sebelumnya 60,000 Kip. Sepanjang perjalanan dari Pakse menuju Don Det sepi sekali, hanya ada satu dua kendaraan saja yang berpapasan atau berjalan searah. Jalan beraspalnya pun kualitasnya berada satu tingkat dari jalanan hotmix. Minibus tiba di Ban Nakasang, kota kecil di pinggiran Sungai Mekong setelah menempuh 2,5 jam perjalanan. Aku adalah satu-satunya orang Indonesia diantara sekian banyak turis mancanegara yang datang ke Don Det atau sering juga disebut 4000 Islands,  dalam Bahasa Laosnya disebut Si Phan Don. Kami semua diangkut dengan perahu klotok kecil menuju Pulau Don Det.

Kalau sudah tiba di Don Det harus siap hidup terpencil, tidak ada ATM dan tidak ada kemewahan lainnya seperti yang ada di kota. Walaupun demikian, pulau-pulau kecil di sini menjajikan ketenangan, bebas polusi dan kenyamanan jauh dari hiruk pikuk kesibukan kota. Bisa berolah raga, makan minum di cafe, bisa kayaking, tubing, sepedaan, berenang atau jalan kaki menikmati keindahan alam lainnya yang masih perawan.

Aku tinggal di rumah kayu yang disebut bungalaw dengan tarip hanya 30,000 KIP (45,000 Rupiah). Sayangnya, hanya aku sendiri tamunya dan cafe-nya masih tutup karena kokinya libur. Ownernya pun tidak tinggal di situ, jadi benar-benar seperti milik sendiri. Bungalaw dan cafe yang menggantung di bibir potongan sungai-sungai kawasan Don Det sangat bebas dari kebisingan. Yang terdengar hanya suara tokek atau suara deru mesin sampan-sampan kecil yang sedang melintas.

Kesempatan ini aku gunakan sebaik-baiknya untuk memanjakan diri dengan tidur-tiduran di teras cafe yang berlantai kayu, bersepeda atau berkeliling jalan kaki menyusuri jalan tanah di pulau kecil ini. Berinteraksi dengan penduduk lokal sangat mengasyikan. Melihat cara membuat arang, merapikan jala penangkap ikan atau menemani memperbaiki perahu-perahu nelayan. Interaksi semakin akrab, kami ngobrol tentang kehidupan sehari-hari atau tertawa bersama ketika menceritakan sesuatu yang menarik.

Pagi-pagi sekitar pukul setengah tujuh, aku pinjam sepeda kayuh yang diberikan tanpa sewa untuk mengelilingi Don Det dan menyebrangi jembatan peninggalan Perancis menuju Don Khon. Dulu semasa Laos menjadi koloni Perancis, mereka sempat membuat jalur dan mengoperasikan kereta api uap di Don Det dan Don Khon. Namun sekarang, hanya ada sisa-sisa peninggalannya saja.


Kawasan 4000 Islands ini sangat disukai oleh turis kaum tua muda untuk menyepi dan bergembira bersama teman-teman atau pasangannya. Rata-rata dari mereka berbusana seadanya saja dan  sangat minim sekali bahkan bertelanjang dada. Disamping bergembira bersama, mereka juga bisa menikmati indahnya sunset menanti hadirnya malam. Pulau-pulau kecil di sekitaran sini berbatasan langsung dengan wilayah Kamboja. Sebetulnya banyak sekali potensi alam seperti ini di negeri sendiri, asal ada komitmen bersama pasti bisa memajukan wisata untuk kesejahteraan masyarakat.

Namanya juga pulau impian sebagai surga dunia. Di sini banyak cafe yang menyediakan aneka makanan, minuman, bir dan agen wisata, semuanya siap melayani tamunya dengan caranya sendiri. Pelayanannya belum semua memiliki standar pelayanan yang sesungguhnya, kadang-kadang masih sesukanya saja. Keramahan sesekali tidak tampak, karena sibuk harus melayani dan mengatur banyak orang.

Ketika bersepeda di pagi hari, aku hanya mengenakan kaos singlet, celana pendek dan sendal jepit, melewati jembatan sisa buatan Perancis yang masih utuh. Melewati jembatan ini untuk masuk ke Don Khon harus bayar tiket 25,000 Kip, namun karena masih pagi, petugasnya belum ada, jadi free. Keringat bercucuran habis mengayuh sepeda, saatnya istirahat di restoran pinggiran sungai dekat jembatan. Pesen secangkir kopi hitam dan roti banquet isi sayuran, semuanya aku bayar 21,000 Kip.

Ya sudahlah cukup menikmati kawasan Don Det sampai hari ini saja, aku harus siap-siap meninggalkan pulau kecil ini pada pukul sebelas siang. Tiket pulang seharga 50,000 Kip sudah aku beli semalam, itu sudah termasuk boat dan bus ke Pakse. Berbeda dengan ketika berangkat, harga tiket 50,000 Kip berupa bus, bukan minibus (van), di Pakse harus sewa tuk-tuk lagi 10,000 Kip menuju guest house. Dan kami harus menunggu lama di terminal kecil Ban Nakasang sebelum diberangkatkan ke Pakse.

Sama ketika aku pertama kali tiba di Pakse, tiba dari Don Det pun begitu, tuk-tuk tidak mengantarkanku sampai tujuan karena jalanan sedang diperbaiki. Akhirnya aku sedikit jalan kaki menuju Restoran India milik Hasan, pesan nasi goreng ayam plus air mineral besar, kubayar 21,000 Kip. Lalu menuju Hotel Lankham sama seperti sebelumnya, dapat kamar dorm (3 bed), taripnya hanya 40,000 Kip. Beruntung, sampai check out aku hanya tinggal sedirian di kamar tersebut.

Aku beli tiket bus untuk menuju kota yang lain, yaitu Savannakhet. Kota ini berada di utara Pakse yang jarak tempuhnya sekitar empat jam dengan bus. Tiket aku beli di agen di sebelah Hotel Lankham, harganya 65,000 Kip termasuk penjemputan.

Dalam perjalanan dari Pakse ke Savannakhet tidak ada pemandangan yang luar biasa. Namanya juga  bus lokal, jadi sering menaikan dan menurunkan penumpang di jalan raya. Satu hal yang menarik adalah sepeda motor bisa diangkut ke dalam bus ini, dengan bayaran yang disepakati, kadang-kadang diikat di belakang bus atau kalau banyak, akan ditaruh di atap bus.

Ketika bus tiba di Terminal Savannakhet, aku mengamati sebentar suasana dan melihat tarip-tarip bus ke segala jurusan. Dari Terminal Pakse, bisa menuju Ibukota Laos  Vientiane, kota-kota di Vietnam atau bisa ke Thailand. Agar tidak repot, aku memilih tinggal di guest house dalam terminal, harganya 50,000 Kip per malam. Kalau sudah tinggal dekat terminal, semuanya terasa lebih mudah, bisa jalan kaki atau naik apapun untuk menjelajahi Savannkhet.

Kota Savannakhet sangat strategis posisinya karena dekat dengan border Thailand, Mukdahan namanya. Cukup 15 menit sudah sampai di wilayah Thailand, atau lamanya satu jam kalau dari terminal ke terminal. Walau punya waktu yang sempit, aku sempatkan menjelajahi Kota Savannakhet yang sangat berkembang belakangan ini. Bagian kota tua, ada di pinggiran Sungai Mekong yang berhadapan langsung dengan wilayah Thailand. Dari sini, bisa menuju ke segaIa penjuru Laos seperti Vientiane, Vang Vien, Luang Prabang, Thakek, atau Pakse.

Mencari makanan halal di kota-kota kecil wilayah Laos memang agak sulit, tapi tidak ada rotan akar pun jadi. Misalnya ada yang jual roti goreng aku beli, ada yang buah-buahan seperti pisang atau semangka aku beli, roti tawar, jagung rebus atau makanan pengganti lainnya harus bisa siap aku konsumsi.


SAVANNAKHET ke MUKDAHAN

Tiap jam bus-bus mengangkut penumpang dari/ke Savannakhet (Laos) dari/ke Mukdahan (Thailand) dari pagi hingga malam. Tidak mengherankan, karena kedua wilayah beda negara ini hanya dibatasi oleh Sungai Mekong, jadi sangat dekat.  Kalau tidak salah ada empat jembatan ‘Friendship Bridge’ yang menghubungkan Thailand dan Laos. Hanya dengan uang 13,000 Kip (17,500 rupiah) aku sudah bisa sampai di Terminal Mukdahan, Thailand. Ketika itu tanggal 12 April 2014, masyarakat Laos lebih dulu merayakan tahun barunya. Di mana-mana ada pesta dansa sambil minum bir, diikuti oleh semua kaum tua dan muda mudi. Pesta semprot-semprotan air juga ada di sini, sama seperti Songkran di Thailand. Aku sempat mengambil video pesta mereka, malah aku disambut suka cita dan mengguyurku dengan air. Sebotol bir pun diberikan kepadaku, tapi aku menolaknya dengan sangat halus dan bilang kalau perut ini sudah penuh dengan minuman dari tempat lain. Ketika aku pamit meninggalkan pesta, dia memberi satu kaleng bir untuk dibawa pulang. Sambil ucapkan selamat, aku permisi pergi. Bir tadi aku berikan pada ibu penjual asongan, dan dia tidak percaya atas pemberianku ini.

Saat tiba di Terminal Bus Mukdahan, aku sempatkan isi perut dengan seporsi besar pempek berbahan ikan. Pempek panas dimasukkan ke dalam plastik bening, kemudian diberi sambal Bangkok. Cara makannya tinggal ambil saja dengan tusukan sate (30 Bath). Tidak lupa, habis itu perlu makanan berserat, beli nanas dan  semangka yang manis rasanya (40 Bath). Perut sudah nyaman, baru siap berangkat dengan bus ke Khon Kaen (Timur Laut Thailand). Perjalanan ini memakan waktu empat jam, sedangkan ongkosn dari Mukdahan ke Khon Kaen 170 Bath.

Khon Kaen termasuk jajaran kota-kota besar di Thailand disamping Bangkok, Hadyai (di selatan), Chiang Mai (di utara), Ubon Ratchathani (di timur), Udonthani (di ujung timur laut). Kota ini memiliki airport, mall besar dan hotel-hotel berbintang. Aku nginap di lantai enam Ponginn Mantion, taripnya hanya 300 Bath,  kamarnya besar dan lengkap.  Letaknya juga hanya 300 meteran dari Terminal Bus Khon Kaen.

Malam ini adalah malam tanggal 13 April, esok hari mulai libur Songkran sampai tanggal 15 April. Pesta semprot-semprotan air sudah dimulai, jalanan basah di mana-mana. Tua muda turun ke jalan saling guyur air.  Semua bersuka cita menyambut gembira datangnya Songkran, tidak ada yang marah atau menggerutu kalau disiram air, apalagi marah-marah karena jalanan menjadi macet. Tidak saja saling semprot air pakai ember, selang, gayung atau senjata air dari plastik, tapi juga saling mengusapkan tepung yang belakangan ini memakai bedak bubuk wangi.

Tujuan aku ke Khon Kaen adalah transit untuk menuju Kampung King Cobra di Desa Kranuan, sekitar 60 Km dari Khon Kaen. Sedang asik-asiknya lihat Songkran, aku iseng buka dompet, ternyata uang hanya tersisa 120 Bath. Ini sudah malam, semua money changer sudah tutup, apalagi tiga hari ke depan libur semua. Wah  gimana ya, harus cari akal nih.

Akhirnya, aku mengadu ke sekelompok orang yang lagi nongkrong di sekitar hotel. Aku bertanya, di mana letak Kampung King Cobra ? Salah satu dari mereka bilang, “Dari sini sekitar 50 kilometer, namanya Kranuan. Besok pagi naik bus aja dari terminal”. Oke, terima kasih. Kataku. Ngomong-ngomong, di mana ya letak money changer ? Ni uangku sudah limit, jadi perlu beberapa ribu Bath lagi untuk besok. Pura-pura pasang aksi kalau aku ini punya cukup uang. Dengan ringan tangan, Doi nama salah satu dari mereka bersedia mengantarku ke salah satu mall besar di Khon Kaen, Central Plaza. Dia bilang di sana banyak berderet mesin ATM dan bank yang buka sampai malam.

Mengendarai mobil double cabin miliknya yang mewah, Doi membawaku ke Central Plaza dan berbicara dengan petugas bank sesuai kebutuhanku. Aku dipersilakan untuk mengisi form sebagai syaratnya, padahal aku hanya menukar 150 US$ saja, dan dapat 4700 an Bath. Kebetulan petugasnya hampir semuanya wanita yang sangat minim bisa berbahasa Inggeris. Diawali oleh mereka, kami saling bercanda, itu juga setelah percaya membuka-buka pasporku yang hampir penuh dengan stempel-stempel imigrasi dari beberapa negara. Mereka bilang dalam Bahasa Thai, “Bawa aja satu nih untuk menemani Bapak Traveling”. Kami pun tertawa bersama.

Aku tidak bisa bilang apa-apa atas bantuan Doi, semua jadi serba salah. Mau bayar jasanya, sepertinya kurang enak rasanya, karena dia orang cukup. Kalau salah sikap, aku takut dia malah tersinggung. Akhirnya, aku terus terang kepadanya, “Brother, jadi aku harus bagaimana nih sudah ditolong ?”. Santai aja Pak, hidup harus tolong menolong, katanya. Serta merta aku sodorkan kartu namaku sambil bilang, “Terima kasih brother, jangan lupa mampir kalau ke Jawa, semoga Tuhan membalas kebaikan Brother”. Oke oke katanya sambil mengendarai mobilnya membawaku kembali ke hotel.


MASUK KE PELOSOK KAMPUNG KING COBRA

Informasi yang kudapat dari hasil tanya-tanya sudah cukup jelas. Mumpung masih pagi, saatnya  berangkat ke King Cobra Village di Kranuan, sekitar 60 Km dari Khon Kaen. Sebelum naik bus, aku sempatkan isi perut dulu. Kebetulan di terminal yang ada cuma jagung rebus, sebungkus isinya empat buah. Aku langsung makan tiga buah sebagai pengganti nasi, sisanya aku berikan pada lelaki yang sedang duduk di sebelahku.

Bus jurusan Kranuan (dekat King Cobra Village) sudah parkir sejak tadi, tapi penumpangnya masih sangat sedikit. Setelah menunggu satu jam, baru bus diberangkatkan. Ongkosnya kubayar 38 Bath, busnya bagus dan interiornya sangat menarik, namun jalannya sangat lambat. Hampir dua jam perjalanan baru sampai di Kranuan, itupun terlanjur kelewatan lokasinya, padahal aku sudah pesan pada kondektur nanti turun di Kranuan.  Terpaksa aku harus balik lagi, kali ini naik minibus yang lebih cepat jalannya, ongkosnya 30 Bath. Karena sudah dipesankan oleh sopir bus, van berhenti di pertigaan menuju King Cobra Village, dari situ jaraknya masih 3 Km lagi. Tidak ada kendaraan umum menuju King Cobra Village, untung saja ada pengendara sepeda motor yang berbaik hati mengantarku gratis sampai ke sana. Sering kali aku dapat bantuan seperti ini, aku hanya bisa membungkuk sebagai tanda hormat sambil mengucapkan terima kasih kepadanya.

Masuk ke lokasi pertandingan manusia Vs King Cobra harus bayar, khusus untuk kendaraan bermotor saja, pejalan kaki tidak perlu bayar. Buru-buru aku menuju ke ring pertandingan yang sudah dipenuhi penonton. Riuh rendah suara penonton terdengar keras, kemudian terdengar juga teriakan histeris tanda takut dan cemas. Maklum saja, ini pertandingan manusia Vs King Cobra yang penuh resiko bagi pemain dan penontonnya.

Berbagai ukuran King Cobra satu persatu dikeluarkan dari puluhan peti kayu yang ada di sekitar ring. Rata-rata ukurannya sangat besar dan panjang. Host / announcer (pemandu acara-red) telah membacakan siapa saja yang akan naik ring. King Cobra dikeluarkan oleh wasit dari kotak kayu dan lonceng pun dibunyikan sebagai tanda pertandingan dimulai. King Cobra berdiri setengah badan dan berusaha mematuk ke kiri dan ke kanan, mencoba dan mencoba lagi menyerang lawannya. Tapi lawannya sangat tangkas menghindari patukan King Cobra, bahkan beberapa kali bagian atas kepala cobra dapat di colek sehingga menambah ganasnya dan emosi cobra. Beberapa kali wasit ikut melerai dan mengarahkan jalannya pertandingan ini.

Lonceng berbunyi lagi, tanda pertandingan berakhir. Kemudian, announcer membacakan lagi siapa lawan berikutnya dengan King Cobra yang berbeda. Anak-anak pun diberi kesempatan sebagai kader-kader pengganti seniornya, tentu saja melawan cobra yang lebih kecil. Cobra beberapa kali mematuk baju anak-anak yang belum 100% tahu bagaimana trik melawan cobra. Sesekali King Cobra terlempar melesat ke arah penonton, namun karena lawannya sangat cekatan, maka ekor King Cobra dapat ditangkap dan ditarik masuk ke ring pertandingan lagi. Ketika hampir saja King Cobra melompat melesat ke arah penonton, di situlah penonton teriak histeris. Sangat menegangkan pertandingan ini.


Saking ramainya penonton, pertandingan diadakan dua kali. Dan acara ini diliput oleh dua Stasiun TV Thailand. Banyak turis yang menyaksikan pertandingan ini, termasuk aku satu-satunya penonton dari Indonesia. Setelah pertandingan selesai, aku sempatkan ngomong-ngomong dengan para atletnya dan foto bersama sebagai kenang-kenangan.

Daerah Kranuan ditetapkan sebagai tempat konservasi King Cobra. Tempat ini sangat ramai dikunjungi oleh warga Thailand dan turis mancanegara, aku merasa puas dan kagum berada di sini. Pertandingan telah usai, saatnya kembali meneruskan perjalananku dalam suasana Songkran yang meriah.

Aku terpaksa bicara dengan pemilik mobil double cabin untuk permisi menumpang mobilnya sampai ke pertigaan jalur jalan raya Khon Kaen – Udon Thani, yang jaraknya sekitar 20 Km dari sini. Alhamdulillah, permintaanku dikabulkan dan mempersilakan untuk naik di bagian belakang mobil jenis double cabin bersama dua anaknya.

Di sepanjang perjalanan ini, pakaianku basah kuyub disiram air oleh penggembira pesta Songkran. Ada yang saling siram dari atas kendaraan, ada juga dari pinggir jalan yang sudah siap siaga menyiram ketika kami lewat. Akhirnya, sampai juga aku dipertigaan. Aku permisi turun dan mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya sambil menyampaikan selamat Songkran. Aku diberi sebotol air mineral oleh isterinya sambil berkata, “Hati-hati ya di jalan”.


MENUJU UDON THANI

Dari  pertigaan, aku melewati jembatan penyebrangan untuk meneruskan perjalanan ke Udon Thani. Kebetulan ada bus ke Udon Thani yang lewat, seraya aku stop dengan tanganku dan lari menghampirinya. Walau harus berdiri tidak mengapa karena ke Udon Thani dari sini hanya 100 an Km saja, dengan ongkos 65 Bath. Tapi tidak lama, alhamdulillah ada penumpang yang turun, jadi bisa duduk.

Memasuki Terminal Udon Thani hampir pukul lima sore. Tepat di depan terminal ada sebuah guest house, aku menuju ke sana ingin tau taripnya. Pemiliknya bilang, ada kamar besar dan lengkap per malam 390 Bath. Memang bagus, aku sempat melihatnya. Karena taripnya di luar budget, aku permisi cari yang lain dan titip tas ranselku di situ sambil bilang kalau tidak ada yang lain, kamar tersebut akan aku ambil. Berjalan beberapa puluh meter, ada beberapa hostel yang taripnya 600 – 1000 Bath. Tapi beruntung, tidak jauh dari situ ada guest house khusus backpacker. Udon Backpackers namanya, aku nego dapat harga 250 Bath dan langsung aku ambil untuk dua malam. Aku segera kembali ke guest house pertama untuk ambil ransel, kemudian bilang kalau aku bertemu dengan temanku yang sedang menginap di hostel dekat sini. Pemilik guest house ikut bersyukur kalau aku sudah dapat penginapan. Kop Khun Kah mama, kataku.


SONGKRAN MENGGUYUR BASAH TUBUHKU

Festival Budaya Songkran resminya dimulai tanggal 13 s/d 15 April 2014. Suasana pesta air sangat terasa di Udon Thani. Mulai sore hari semua turun ke jalan, mulai anak-anak, muda mudi sampai orang tua ada di jalanan. Mereka bersorak sorai menyambut gembira pesta air ini, berdansa diiringi dentuman musik irama masa kini, minum bir sampai mabuk dan semua mengeluarkan ekspresinya yang luar biasa. Pakaian wanitanya super minim, tentu ini sangat disukai oleh lawan jenisnya. Ya begitulah semaraknya pesta air ini.

Mereka berjoget di atas cold box ukuran besar dengan gerakan sedikit erotis bersama lawan jenisnya. Berjoget tanpa henti dalam keadaan basah kuyub tidak menjadi halangan untuk meneruskan hingga larut malam. Semua minum bir, mulai dari orang muda belia sampai orang tua. Semprot-semprotan dan siram-siraman air terus berlangsung tanpa henti dan saling berbalas. Tidak jarang, beberapa ruas jalan terpaksa ditutup dan patroli polisi pun mulai bergerak menertibkannya.

Tidak juga denganku, aku juga menjadi target siraman mereka dan berusaha mengoleskan bedak di pipi kiri kananku. Yang lucunya lagi, ketika aku duduk di stasiun kereta api, ada petugas yang permisi ingin menyiram air satu gayung ke bagian belakang kerah bajuku. Kontan saja lantai stasiun menjadi basah, karena bukan aku saja yang disiram, turis asing pun sama nasibnya seperti aku. Masuk jalan tol juga begitu, petugas loket tol menembakkan pistol airnya kepada para sopir yang mau membayar karcis tol.

Setelah puas memperhatikan tindak tanduk mereka, waktunya untuk istirahat di guest house sambil menyempatkan mencuci beberapa potong pakaian kotor. Untuk makan malam, aku beli nasi putih dan kentang goreng di gerai fried chicken. Sebagai lauknya aku beli mie instant seafood (udang) dan salad sayuran campur buah-buahan.

                              
SEMPATKAN KE IBUKOTA LAOS, VIENTIANE

Lokasi Guest House Udon Backpackes sangat strategis, dekat dengan terminal bus, stasiun kereta api, pusat jajanan dan mal. Sekitaran pukul sepuluh pagi keesokan harinya, aku ke Nongkhai pake kereta api. Nongkhai adalah kota dekat perbatasan Laos. Sambil menunggu keberangkatan kereta ekonomi yang tiketnya hanya 11 Bath (4,000 rupiah), aku mampir ke pusat jajanan beli nasi putih 5 Bath dan ikan goreng 50 Bath, minumnya air mineral 600 ml 10 Bath.

Pada kesempatan itu juga, aku beli tiket kereta api untuk esok hari tanggal 15 April ke Bangkok. Semua tiket ke Bangkok habis, kecuali seat kereta ekonomi masih ada. Terpaksa harus aku beli, karena sedikit menunda saja resikonya bisa kehabisan, karena ini masih libur Songkran. Tiket kereta ekonomi dengan fan harganya 245 Bath (85,000 rupiah). Walaupun dapat tiket seperti itu, hati terasa tenang karena tiket ke Bangkok sudah di tangan.

Kereta ke Nongkhai sudah tiba, aku masuk ke dalam kereta bersama sepasang gaek asal Amerika yang juga mau jalan-jalan ke Nongkhai. Jarak Udon Thani ke Nongkhai hanya 50 Km saja, pakai kereta ini cukup 35 menit. Sebenarnya ingin melanjutkan ke wilayah Laos (Tanaleng) dengan kereta terusan Nongkhai – Tanaleng melewati friendship bridge antara Thailand dan Laos selama 15 menit saja. Dengan kereta ini harus melewati pintu imigrasi masing-masing negara. Namun sayang, kereta ini berangkatnya masih sekitar dua jam lagi. Padahal kalau pas waktunya sangat praktis naik kereta ini, yang taripnya hanya 20 Bath atau ada yang 30 Bath.

Akhirnya, aku bersama orang Korea Selatan jalan kaki menuju Pusat Kota Nongkhai. Dia masih harus menunggu lima jam lagi untuk naik kereta ke Bangkok. Karena ingin ke Vientiane ibukota Laos, aku naik bus menuju perbatasan Laos. Tiket busnya hanya 20 Bath, sedangkan kalau mau pakai minibus (van) taripnya 250 Bath. Seperti biasa keluar masuk suatu negara harus lewat pemeriksaan imigrasi, begitu juga di sini. Hanya 15 menit saja aku sudah sampai di wilayah Laos. Jadi, kali ini aku sudah beberapa kali keluar masuk wilayah Thailand dan Laos, menuh-menuhin stempel di pasporku saja.

Bus hanya sampai di border Laos, ke Vientiane aku harus pakai bus warna hijau muda no 14 jurusan ‘Friendship bridge – Vientiane Bus Terminal’. Tarip bus ini 6,000 Kip (8,000 rupiah). Untung saja aku masih punya sisa Kip sebesar 21,000. Dan akhirnya uang KIP hanya tersisa 4,000 setelah dipakai untuk beli klepon 5,000 Kip dan Bus kembali ke border 6,000 Kip.

Aku pernah ke Vientiane pada tahun 2012, setelah dari Luang Prabang dan kembali ke Kualalumpur lewat International Airport Wattay. Jadi perjalanan ini hanya sekedar nostalgia saja. Kembali ke Udon Thani dari Nongkhai, aku pakai minibus (van) yang taripnya 50 Bath. Tiba di guest house sangat terlambat, karena masuk Udon Thani jalanan macet total karena ini hari terakhir pesta Songkran.

Suami pemilik guest house dan teman dari Jepang mengajakku untuk foot massage yang taripnya 150 Bath sambil melihat hebohnya pesta Songkran dari dalam ruangan. Karena masih libur, pemijatnya hanya ada satu, jadi harus menunggu giliran antri dipijat. Untung saja teman lainnya ada yang datang membantu memijatku. Pijatan harus selesai sebelum aku berangkat ke Bangkok pada pukul 18.40 hari itu juga. Peristiwa ini menjadi kenangan kami bertiga, dan masing-masing telah menukar kontak address. Aku bilang ‘sayoonara’ pada Mr. Nakano rekan asal Jepang dan bilang ‘Thank you for your guest house’ pada pemilik penginapan, kami pun saling berpelukan.


KERETA EKONOMI MEMBAWAKU KE BANGKOK

Sebelum kereta berangkat, aku mampir ke pusat jajanan yang letaknya tidak jauh dari stasiun. Aku beli nasi putih 5 Bath dan ikan goreng 50 Bath. Kacang rebus yang besar-besar juga tidak luput dari targetku, roti tawar dan beberapa minuman kemasan juga aku beli.

Rangkaian kereta sudah datang, penumpang belum boleh naik karena masih dibersihkan oleh cleaning service. Setelah itu, aku duduk di rangkaian pertama (Car 1) kursi nomor 29. Ya maklum saja, ini kereta ekonomi dengan kipas angin (fan). Nikmati saja kekurangan dan kelebihannya sampai pukul 5 esok pagi di Bangkok.

Alhamdulillah, semua berjalan lancar dan tiba sesuai jadwal. Aku shubuhan dulu di Mushola stasiun di lantai dua bersama jamaah yang lain. Tidak ada perbedaan waktu antara Bangkok dan Pulau Jawa, begitu juga jadwal shalatnya hanya berbeda menit saja (lihat : http://www.islamicfinder.org/). Kemudian menunggu matahari sedikit muncul, barulah aku mencari guest house sekitar Hua Lamphong. Akhirnya dapat guest house yang paling murah, yakni Baan Hua Lamphong Guest House, letaknya hanya 250 meteran dari stasiun. Kalau ke stasiun lewat jalan biasa memang agak sulit karena trafiknya padat dan banyak persimpangan. Yang paling mudah adalah lewat lorong (tunnel) bawah tanah dengan eskalator area BTS Hua Lamphong.

Untuk mencari makanan halal di sekitar sini tidaklah sulit, karena banyak pilihannya. Yang pertama di food court stasiun (Halal food). Yang kedua ada di depan stasiun, masuk lorong dekat Hotel Stasiun namanya. Di sini banyak sekali menunya, ada soup daging, ikan, kare ayam, aneka sayur dan minumannya juga banyak pilihannya.

Tentang makanan dan minuman di Thailand atau Laos, harganya hampir sama. Sebotol air mineral 1500 ml harganya 20 Bath, yang 600 ml harganya 10 Bath. Es kopi, es lemon tea, es susu, es soft drink atau jenis es lainnya, harganya rata-rata 20 Bath. Kebiasaan minum es di pagi hari sangat lazim di sini. Potongan es kecil-kecil diisi penuh dalam gelas plastik, kemudian baru dituang aneka jenis minuman pilihan kita.

Potongan buah-buahan segar (dingin) juga ada, seperti semangka, nanas, melon, jambu atau mangga rata-rata harganya 20 Bath. Gorengan pisang, onde-onde, klepon, roti goreng, jagung rebus rata-rata harganya 20 Bath per porsi. Sedangkan aneka nasi goreng atau soup plus minumnya, rata-rata harganya sampai dengan 100 Bath (30,000 rupiah). Kalau ingin makanan junk food seperti di KFC atau Mc Donald, harganya berkisar 100 – 150 Bath. Ada sesuatu yang baru di Thailand, booth air isi ulang seperti ATM bisa dicoba. Dengan uang koin 1 Bath, bisa dapat air 1500 ml. Caranya, masukkan koin, lalu tekan tombol hijau, maka air akan keluar sesuai pembelian kita.


HARI TERAKHIR DI BANGKOK

Cuaca di Bangkok terasa panas, mencapai 36°C. Kebutuhan air minum sangat banyak untuk menghindari dehidrasi tubuh. Kebetulan anggota keluarga pemilik Baan Hua Lamphong Guest House sangat baik denganku, namanya Fauzy. Ia sering mengajakku makan di cafe guest house, dibuatin ini dan itu, semuanya gratis. “Ambil saja sendiri yang Bapak mau, silakan”. Katanya begitu.

Dua malam di guest house ini sangat menyenangkan, karena lokasinya strategis. BTS (kereta bawah tanah), bus, taksi, tuk-tuk, ojek semuanya mudah dijangkau. Aku sering naik bus keliling kota dengan ganti-ganti jurusan, ongkosnya antara 6,5 – 8 Bath saja. Kalau pagi, aku sempat jalan kaki sampai sepuluh kilometer ke China Town atau India Town. Menikmati suasana lain tanpa harus mengarungi Chao Phraya atau memasuki Grand Palace dan Wat-Wat yang lain, aku coba lakukan. Pada kali ini, aku menikmati Chao Phraya dari atas jembatan yang melintasinya. Sungguh indah pemandangannya. Sesekali aku masuk ke pasar-pasar tradisional, itu adalah kesukaanku. Dan ke MBK (Maak Bong Krang), mal kesukaan warga Indonesia untuk berbelanja yang katanya murah. Memang, tidak semua tempat bisa aku datangi karena sebelumnya sudah pernah.

Akhirnya tiba juga harus mengakhiri perjalanan ini. Tengah hari selepas check out dari guest house, aku menuju Stasiun Hua Lamphong untuk makan siang di Food court (halal food) plus minum es teh, semunya hampir 80 Bath. Di sini caranya harus beli kupon dulu, beli banyak kupon tidak apa-apa. Kupon nominalnya 5 Bath, 10 Bath dan 20 Bath. Aku pilih menu makanan sesuai keinginan dan tanya  berapa harganya, lalu aku berikan kupon sesuai harganya. Selesai makan, kupon yang tersisa kemudian aku tukar dengan uang di kasir. Begitulah caranya.



Shalat dulu di mushola lantai dua stasiun, kemudian beli tiket kereta komuter jurusan Don Meang, harganya 20 Bath (7,000 rupiah). Karena Stasiun Don Mueang letaknya tidak begitu jauh dari Bangkok, aku tidak mau lengah takut kelewatan. Kira-kira hanya setengah jam an kereta sudah tiba  di Stasiun Don Mueang. Lalu dari situ, melalui jembatan koridor tertutup (ramp) aku menuju Bandara Don Mueang yang ada di seberangnya. Simple sekali dan murah meriah.

Uang Bath masih ada sisa, aku tukar menjadi 50 US$, lumayan bisa buat bayar listrik dan air yang belum sempat aku bayar. Di Tangan masih ada 335 Bath, semuanya aku habiskan untuk membeli kopi espresso Thailand di duty free shop dalam Bandara. Lumayan buat oleh-oleh di rumah walaupun cuma sedikit.

Pukul satu dini hari pesawat mendarat di International Juanda Airport Terminal 2. Travel sudah nggak ada lagi yang ke Malang. Akhirnya ngojek ke Terminal Bungurasih 25 ribu, trus naik bus ke Malang 13 ribu dan harus naik ojek lagi ke rumah 25 ribu. Pukul tiga shubuh sudah bertemu anak isteriku lagi. Alhamdulillah.

Berbeda ketika berangkat ke Juanda, aku dari Malang naik bus ke Terminal Bungurasih 13 ribu, kemudian naik Damri ke terminal 2, ongkosnya 20 ribu. Tapi kali ini aku kena airport tax tarip baru sebesar 200 ribu. Hufff, lumayan.


Ni bocoran biayanya :  lama traveling 13 hari; biaya total jenderal tiket (pp) plus oleh-oleh, hanya 3 juta rupiah saja. Mau ... ? mau ... ?


Copyright© by RUSDI ZULKARNAIN 
email  : alsatopass@gmail.com 

6 comments:

kukin said...

ngiler lihat foto-foto bapak.. maksutnya jadi pengen mejeng2 juga... hahaha..

Ishlahuddin Sariboni said...

cerita perjalanannya runut dan bisa membawa fantasi di kepala... suatu saat harus ikut gabung sama Ammu...

Deka_Ajah said...

murah juga yah om biayanya ..
oh ia klw mau ke thailand desa pong khon kaen kita harus bisa berbahasa inggris yh om . . aku mau ksana nih tpi kira-kira harus bawa budget brpa yah biar egak keteteran
bls om terima kasih

rusdi zulkarnain said...

Halo Deka,

Kalo udah punya tiket pp, siapin aja per harinya 500rb.
Segitu juga sdh sangat2 aman buat seorang backpacker. Bawa uang cukup itu lebih baik daripada kurang. Nanti pengeluarannya yang disesuaikan. Kalo ada sisa, kan bisa dibawa pulang untuk perjalanan berikutnya. Hhe ..

Cheers,
rusdi

mia said...


Pak..nama terminal bus internasional ubon-pakse apa yaa?? Rencananya saya mau ke pakse lewat ubon. Apa sopir taksi langsung paham kalo kita bilang mau beli tiket bus internasional??? Beli tiket pas sore hari masih bisa??
Thanks pak...

Mia

rusdi zulkarnain said...

Halo Mia,

Itu terminal antar propinsi (nama ga tau). Bus Thai - Lao ada di terminal tsb. Sopir taksi tau itu. Bilang aja Bus ke Lao.
Happy traveling Mia.

Cheers,
rusdi