BERAMAL LEWAT TULISAN

Sabtu, 07 Juni 2014

PANTAI KONDANG MERAK, nggak PERLU BIAYA MAHAL UNTUK NIKMATI YANG ORISINIL


Ada yang senang nikmati indahnya alam pegunungan. Ada yang senang nikmati hiruk pikuk ramainya kota. Ada yang senang keluar masuk mal untuk shoping. Atau ada yang senang nikmati obyek wisata peninggalan warisan budaya. Itu semua menjadi pilihan masing-masing para penikmatnya.

Kalau aku adalah penikmat banyak obyek yang ada di darat, laut atau bahkan yang ada di udara. Kali ini waktunya menikmati indahnya salah satu pantai yang masih 'orisinil' asli yang ada di Kabupaten Malang Selatan, pengunjungnya masih sedikit dan murah meriah, KONDANG MERAK namanya.

Untuk lebih dekat mengetahui keindahannya, ayo kita berangkat ke sana.



DEBURAN OMBAK KONDANG MERAK

Tidak seperti pantai-pantai lain yang ada di pesisir Selatan Kabupaten Malang Jawa Timur yang lebih populer dikenal masyarakat, seperti Balekambang, Ngliyep atau Sendang Biru. Tapi ini adalah pantai yang lain namun tidak begitu jauh dari Balekambang. Itulah Pantai Kondang Merak.

Pantai Kondang Merak sejajar nasibnya dengan Pantai Goa Cina, Pantai Bajul Mati, Pantai Tamban, Pantai Sipelot, Pantai Licin, Pantai Sidoasri atau Pantai Kondang Iwak yang kurang dikenal masyarakat.  Semua pantai-pantai ini memiliki hempasan ombak yang besar dan berada di tepian Samudera Indonesia.

Pantai Kondang Merak sendiri berada sekitar 60 Km dari Kota Malang, tepatnya ada di dalam wilayah Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Mengapa disebut Kondang Merak ? Konon, dulu di dekat pantai ini terdapat kondang atau kolam atau laguna atau lagoon yang sering disinggahi burung merak untuk minum di sana. Laguna ini masih nyata ada yang dikelilingi hutan mangrove di pinggiran kampung nelayan. Itulah asal usul nama Kondang Merak.


JALUR MENUJU KONDANG MERAK

Aku hanya menentukan titik berangkat awal dari Kota Malang. Selanjutnya menuju Gadang - Bululawang - Gondanglegi - Bantur - Kondang Merak. Jarak dari Kota Malang sekitar 60an Km bisa pake sepeda motor, mobil (jangan sedan) baik milik pribadi atau sewaan.

Aku sendiri cukup berangkat dengan sepeda motor bebek (karena punyanya cuma itu, hhe), bensinnya full tank bisa untuk perjalanan (pp). Beruntung cuaca baik, tidak hujan jadi perjalananku aman-aman saja. Pastikan kendaraan dalam kondisi normal, syukur-syukur keadaan prima. Lengkapi tools untuk antisipasi kondisi emergency seperti ban serep atau pompa. Ini sangat penting karena jalannya agak sepi dan 5 km terakhir masih makadam (batu-batu yang tidak beraturan). Sehari sebelum berangkat ke Kondang Merak,  aku sempatkan ganti ban luar dalam karena kondisinya sudah tipis dan aku servis mesinnya di bengkel.

Menuju Kondang Merak, aku sama sekali tidak bingung. Papan arahnya sangat jelas dan membantu membawaku ke arah sana. Aku cukup memperhatikan arah Balekambang saja, karena arahnya sejalan dengan Kondang Merak. Kemudian arahnya baru terbagi menjelang 10 Km terakhir, selanjutnya aku hanya perhatikan petunjuk arah Kondang Merak.













Jalanannya cukup baik kecuali 5 Km terakhir yang masih bebatuan. Sepanjang perjalanan aku disuguhi pemandangan kebun tebu dan tanaman jati. Tikungan-tikungan tajam dan kontur naik turun perlu disikapi dengan hati-hati, terutama melintasi jalan makadam (bebatuan) harus bersabar dan harus sedikit pelan. Untuk kembali ke Malang, usahakan jangan lebih pukul 3 petang, karena jalanan sudah sepi. Keputusanku ini diantaranya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti kendaraan mogok atau kemungkinan terjadinya tindakan kriminal.


Waktu itu aku berangkat pada hari biasa, bukan hari libur. Hanya aku sendirian melintasi jalur ini. Sebetulnya ini sangat berisiko kuatir terjadi apa-apa. Tapi syukurlah perjalananku lancar-lancar saja. Di sepanjang jalan terakhir sudah tidak ada pom bensin lagi, namun bensin eceran (dalam botol) tersedia di desa-desa. Harga per liter mencapai 8 ribu rupiah.


APA AJA YANG ADA DI KONDANG MERAK ?

Perjalanan yang cukup melelahkan terbayar sudah dengan hadirnya deburan ombak Kondang Merak. Setelah melewati gerbang ‘Kondang Merak’ hamparan air berwarna biru sudah tampak dari kejauhan. Lega rasanya sudah bisa sampai di tujuan.



Pantai Kondang Merak terbagi dua, kampung nelayan dan kampung wisata. Di depan mata tampak pulau-pulau karang yang ikut menghalangi hempasan ombak besar ke daratan. Pada saat-saat tertentu ketika air surut, kita bisa menghampiri beberapa pulau tersebut dengan berjalan kaki. Sangat indah luar biasa pemandangan di sini. Alamnya masih orisinil dan belum banyak dijamah pengunjung.











Hamparan pasir putih menghiasi sepanjang pesisir pantai. Batu-batu karang, pohon kelapa, tanaman pantai dan hutan mangrove menjadi landscape pantai ini. Tidak saja itu yang lain juga ada seperti,

-  Penyu, pekik (anak penyu), habitat elang laut, lumba2, paus, kupu2 dan ikan hias
-  Terumbu karang, gua dan hutan
-  Snorkling (selam permukaan)
-  Menyusuri laguna dan hutan mangrove dengan kano
-  Mushala, rumah baca, warung makan, homestay, pos kesehatan dan toilet

Tidak jauh dari kawasan ini terdapat obyek lain seperti Sumur 7 'pitu', Jembatan Panjang dan Dali Putih. Tapi jalannya masih makadam.

Sangat menakjubkan dan sangat eksotis pemandangan di Pantai Kondang Merak ini. Suasana pantai yang asri dengan penduduk nelayan yang ramah siap sedia melayani setiap kebutuhanku. Ketika melewati pos gerbang Kondang Merak tidak ada petugasnya, sehingga aku tidak bisa membayar tiket masuk seharga 5 ribu nya, alias gratis karena hari biasa.














Aku berhenti di salah satu kedai milik Mak Sih. Pesan segelas kopi hitam sambil menikmati deburan ombak di depanku. Untuk makan siangnya, aku pesan sate tuna yang harga per tusuknya 5 ribu rupiah saja. Mak Sih juga menyediakan oseng-oseng gurita, gule pari asap, kakap garang asam dan tuna asam pedas.


BINCANG-BINCANG DENGAN NELAYAN

Pak Edi namanya, senior di kampung nelayan Kondang Merak. Beliau sudah menetap 15 tahun di sini, sebelumnya menjadi chef salah satu hotel di Bali dan sudah melanglang buana ke beberapa negara.

Kepada beliau aku banyak bertanya dan berdiskusi tentang keluhan, harapan serta usaha untuk memajukan kawasan Kondang Merak. Apabila jalan sepanjang 5 Km terakhir menuju Kondang Merak itu diperbaiki menjadi mulus,   ada jaringan listrik (saat ini pakai solar sel) dan ada BTS (base Tranceiver Station) telekomunikasi, bukan tidak mungkin Kondang Merak akan diserbu para pelancong dari dalam dan luar negeri.

Mungkin saja beberapa pihak saling menunggu untuk menggarap kawasan ini, atau bagaimana ? Pihak Perhutani, Pemerintah Kabupaten, Propinsi atau Pemerintah Pusat harusnya sama-sama bertanggung jawab untuk memajukan obyek wisata ini. Ayo jangan saling tunggu !  Mari bahu membahu membangun kawasan ini untuk masyarakat banyak dan mengangkat taraf ekonomi para nelayan Kondang Merak (27 KK).

Keindahan pantai-pantai selatan di Kabupaten Malang tidak kalah dengan pantai-pantai yang ada di manca negara. Hanya infrastruktur dan pengelolaannya yang harus dipaksakan untuk segera diperbaiki / dibangun lebih baik. Bila kawasan wisata ini sudah tertata baik, semua potensi pendukung akan tumbuh dengan sendirinya. Transportasi akan tumbuh, begitu juga hotel, kuliner, pernak pernik dan potensi lainnya pasti tumbuh berkembang. Dengan begitu, secara ekonomi masyarakat bisa menikmati langsung dan bisa hidup lebih sejahtera. Selanjutnya menjaga dan melestarikan kawasan ini agar tetap utuh.


Syukurlah banyak pemerhati lingkungan yang tergabung dalam suatu komunitas atau pribadi-pribadi datang kemari membantu, sharing untuk mengembangkan dan melestarikan kawasan Kondang Merak.


Itulah diantaranya diskusiku dengan Pak edi demi perkembangan obyek wisata Kondang Merak ini. Jangan kalah dengan Singapura, Malaysia atau Thailand yang sudah berhasil menata apik obyek wisata pantainya dan selalu dipenuhi oleh para pelancong termasuk dari Indonesia. Ayo kita bangkit sekarang !


HARAPAN UNTUK KONDANG MERAK

Sebagai pengalaman di beberapa tempat, jangan sembarangan ambil investor, kecuali ada hitung-hitungan yang jelas. Semua yang terlibat sepantasnya turut diuntungkan, masyarakat, investor dan pemerintah. Masyarakat setempat jangan hanya sebagai pekerja atau bahkan hanya sebagai penonton saja atas pengelolaan Kondang Merak. Semua pihak harus diuntungkan, biar masyarakat bisa hidup lebih sejahtera. Semoga terwujud, Amin 3X YRA.















Copyright© by RUSDI ZULKARNAIN 
email  : alsatopass@gmail.com 

1 komentar:

niko mengatakan...

beberapa tempat wisata di indonesia saking sepinya kadang loket tidak dibuka pada hari biasa, saya di sangiran malah yang nguber2 penjaga loket yg hilang entah kemana.. hahaha.. mak nyus pak'e, kapan cobaiin solo dan karanganyar, banyak candi loh pak'e...