BERAMAL LEWAT TULISAN

Selasa, 29 Juli 2014

KUNJUNGI MADURA, ITU INDONESIA KITA JUGA



Siapa yang tidak kenal KARAPAN SAPI, PULAU GARAM, SATE, CELURIT, SANTRI-ULAMA-KYAI, PAK SAKERAH, JEMBATAN SURAMADU, KERJA ULET dan KARAKTER SEDIKIT KERAS ? Tidak asing lagi dialah MADURA.

Tak kenal maka tak sayang, itulah ungkapan yang tepat untuk pulau yang satu ini. Ternyata dan ternyata potensinya luar biasa, rugi kalau tidak mengunjunginya. Kalau begitu ayo kita merapat ke sana.


TIDAK PERLU ADA YANG DITAKUTKAN

Memang sepintas kalau mendengar kata Madura, imej dalam otak kita langsung menuju yang sedikit negatif, terutama imej sifat kasar. Jangan pernah lihat luarnya, tapi coba lihat dalamnya. Durian aja kasar dan tajam kulit luarnya, tapi dagingnya sangat lezat dan bikin orang ketagihan menikmatinya.

Ketika itu di bulan puasa, aku berangkat dari Malang menuju Kota Sampang di Pulau Madura. Kota itu adalah salah satu kota cukup besar yang ada di Madura. Tidak Sampang aja yang cukup besar, tapi masih ada kota besar lainnya seperti Bangkalan, Pamekasan dan Sumenep. Kota-kota tersebut berada pada lintas selatan pulau ini. Ada kota lagi yang lumayan besar di lintas utara, Ketapang namanya.

Aku ambil ‘bus ekonomi’ dari Malang tujuan Terminal Bus Purabaya (Bungurasih) Surabaya. Ongkosnya 13 ribu saja, menempuh perjalanan selama dua jam. Selanjutnya harus over lagi pake bus jurusan Sumenep, tarip Ekonomi 35 K atau kalau Patas 53 K. Aku pilih yang Patas karena ada janji dengan teman di Sampang dan harus tiba di sana sebelum pukul dua belas siang. Bus patas ke Sampang kubayar 35 K dan turun di luar terminal.

Kalau pake bus patas lebih cepat tibanya, berangkat pukul 7 pagi dan pukul 9.22 sudah tiba di Sampang. Selain cepat, bus patas lebih nyaman karena ber-AC dan lewat jembatan Suramadu. Memang, semua ‘bus patas’ lewat Suramadu, sedangkan yang ‘ekonomi’ harus nyebrang pake ferry,  kecuali ada tulisan di kaca bus ‘Suramadu’. Semua bus dalam propinsi tujuan ke Madura dimonopoli oleh satu perusahaan bus saja, yaitu AKAS.












GESER KE PULAU MANDANGIN

Ketika tiba di depan Terminal Bus Sampang, sudah ada rekan yang menjemput, Ustazd Sholeh namanya. Setelah itu, kami ber-enam menuju pelabuhan di muara sungai dekat jembatan Tanglok. Biasa orang menyebutnya Pelabuhan Tanglok.

Pelabuhan ini khusus melayani penyebrangan ke Pulau Mandangin. Perahu motor tradisional plus layar yang mengangkut kami tidak begitu besar, lebarnya lebih kurang 4 meter dan panjang 12 meter. Perahu ini kira-kira hanya bisa membawa maksimum 30 an orang saja. Selain penumpang, perahu biasa mengangkut barang kebutuhan pokok, bahan bangunan, sepeda motor  dan hewan ternak. Umumnya, perahu bisa mengangkut 8000 batu bata ukuran besar, 80 batang es balok, 150 karung beras, puluhan jerigen solar plus 30 an orang penumpang tadi.

Pelabuhan Tanglok, Sampang

Perjalanan dari Tanglok ke Pulau Mandingan sekitar satu setengah jam, kalau ombaknya tidak besar atau cuacanya baik. Kalau cuacanya buruk, waktu tempuh lebih dari itu atau perahu bahkan tidak berlayar sama sekali. Kami hanya duduk di atas papan lantai perahu tanpa pelampung sedikit pun. Jadi semua penumpang harus menjaga keselamatan dirinya masing-masing.










Waktu pemberangkatan ke Pulau Mandangin ada dua kali, yang pertama pukul 11 siang dan yang kedua pukul 15 sore. Rata-rata pemberangkatannya sedikit molor menunggu penumpang, walau tidak sampai penuh. Dari Tanglok Sampang ke Pulau Mandangin ongkosnya 7.5 K dan sebaliknya 10 K Rupiah.

Perahu harus melewati kanal sempit menuju laut lepas. Mereka berangkat tiga sampai empat perahu beriringan. Ketika naik perahu, penumpang harus melewati titian balok kayu. Dan perahu harus didorong oleh beberapa orang hingga lepas dari hambatan lumpur. Pemandangan sampai mulut laut lepas yaitu perkampungan nelayan, hutan bakau dan ladang garam.

Tampak dari perahu, beberapa warna air laut menandai beda kedalaman, mulai warna lumpur, kehijauan dan biru tua. Perahu mulai terasa goyangannya karena ombak, semakin jauh semakin keras goyangannya, mengayun ke kiri dan ke kanan. Kalau semakin keras goyangannya, pengemudi kapal harus mahir memainkan kemudi untuk menembus gelombang laut.


Dari kejauhan mulai kelihatan Pulau Mandangin yang membentang dari kiri ke kanan. Menurut temanku, arti Mandangin adalah ‘mandi angin’ atau disebut juga Pulau Kambing. Mengapa Pulau Kambing ? kenyataannya memang benar, di mana-mana ada kambing yang hidup menggerombol. Kebanyakan kambingnya berwarna putih, sering disebut juga ‘kambing kacang’. Cerita lain tentang Pulau Mandangin, banyak penderita lepra kusta termasuk juga penderita tuberkulose nya. Namun hal tersebut sudah hampir tidak ada lagi.
Dari atas perahu yang masih jauh dari Pulau Mandangin, kelihatan atap-atap rumah penduduk berwarna merah bata memenuhi hampir semua permukaan pulau. Tampak pula dua tower telekomunikasi menjulang ke atas dan di sana ada tiga masjid besar berdiri tegak.

Setelah merasakan sport jantung berbaur dengan suasana takjub melihat indahnya panorama alam laut, kami sampai di bibir utara bagian tengah pulau ini. Di sini tidak tersedia dermaga, jadi semua penumpang harus turun melalui bantuan kano kecil. lalu harus menyingsingkan celana untuk turun ke laut menuju ke tepian.

PADATNYA PULAU MANDANGIN

Begitu turun dari perahu sambil menggendong ransel yang penuh beban, aku mulai memasuki ‘kota’ Pulau Mandangin lewat lorong yang sempit. Aku tidak mengira, ternyata hampir 90 % jalanan di pulau ini sempit seperti itu. Lebar lorong-lorongnya hanya bisa dilewati dua sepeda motor yang berpapasan pelan, kalau menikung tajam terpaksa harus berhenti sejenak. Klakson pun tidak ragu-ragu selalu dibunyikan oleh setiap pengendara sepeda motor di tengah-tengah pemukiman padat penduduk.

Sepuluh persen jalanan sisanya hanya empat meter lebarnya, termasuk jalan yang menuju dermaga utama pulau ini hampir sama lebarnya. Ya begitulah ‘kota’ kecil ini dipenuhi gang-gang sempit sebagai urat nadi  transportasi. Kendaraan roda empat hanya berupa pick up yang multi fungsi dan hanya ada satu dua saja jumlahnya. Alat transportasinya hanya sepeda motor dan sedikit saja yang ber plat nomor. Walaupun hampir tidak ada mobil, tapi mereka punya perahu yang harganya bervariasi bisa mencapai beberapa ratus juta Rupiah.

tanpa plat nomor

Untuk mengitari pulau ini cukup hanya sepuluh menit. Pulau ini sangat padat, namun kelengkapan hidup minimal di sini sudah ada. Kelengkapan tersebut berupa sekolah TK s/d SMK, Masjid, warung-warung, dermaga sederhana, telekomunikasi (Telkomsel) dan pemakaman umum.  Pasar dan SPBU tidak ada di sini, selebihnya dari hal tadi memang benar-benar tidak tersedia.










Kalau selalu melihat kekurangannya, ya pasti banyak sekali dibanding sebuah desa lainnya yang sudah mapan. Di sini bensin eceran dijual di dalam warung, bensin satu literan pake botol kaca, sedangkan yang setengah  literan pake botol bekas air kemasan. Harganya 7 K per liter. Air bersih masih mengandalkan tadah hujan, walaupun sudah ada instalasi pemprosesan air laut menjadi air tawar. Aku terkesima ketika wudhu dan mandi, semua airnya asin sekali bukan payau tapi memang benar-benar asin. Begitu juga sistem kelistrikannya masih menggunakan generator (genset). Pada waktu aku mengunjungi pulau ini, terjadi tiga kali ‘mati lampu’ di saat malam dan siang hari.

Mata pencaharian penduduknya mayoritas sebagai nelayan, sebagai tenaga kerja di dalam dan di luar negeri, atau berjualan pada warung-warung kecil. Makanan utamanya jagung, beras dan sebagai pendampingnya adalah aneka ragam ikan. Kalau cuaca sedang tidak bersahabat, ikan sulit didapat. Keadaan ini yang membuat susah hidup ‘orang pulau’ Mandangin. Hampir semua bahan pokok seperti sembako, bahan bangunan dan lainnya didatangkan dari Sampang.


Hidup jauh dari keramaian kota dengan fasilitas yang minim tidak mengurangi semangat hidup penduduknya. Mereka hidup rukun dalam tuntunan yang lebih Islami. Secara kasat mata dapat dilihat para lelaki kesehariannya pake sarung dan peci putih, sedangkan kaum wanitanya pake kerudung dan kain panjang khas yang hampir sama. Ada tiga masjid besar di pulau ini dan ada banyak mushala tersebar di berbagai tempat, madrasah Ibtidaiyah (SD), madrasah Tsanawiyah (SMP) dan SMK juga ada. Mayoritas penduduknya adalah kaum Nahdliyin, boleh dikatakan pulau ini adalah pulau santri.

Sangat mudah mengenali pendatang di pulau ini, karena pasti berbeda sikap dan penampilannya dengan penduduk asli. Hal unik lainnya adalah rumah-rumah dibangun dari batu bata berwarna putih. Batu jenis ini berasal dari batu besar yang dipotong-potong ukurannya seperti batu bata. Hampir semua rumah punya mushala atau tempat shalat berukuran kecil. Secara umum, tampaknya di sini tidak ada orang hidup terbelakang. Kata temanku, di pulau ini waktunya adalah WIB +30 menit.


Aku dari Malang ke sini tidak dengan tangan kosong, alhamdulillah aku membawa satu ransel besar penuh berisi pakaian baru, tas dan pakaian anak-anak layak pakai titipan tetanggaku. Puluhan celana panjang, gantungan kunci, tas dan pakaian anak-anak telah mereka terima dan didistribusikan kepada yang memerlukannya. Semoga bermanfaat.

Kunjungan ke Mandangin hanya sehari semalam saja, walau begitu kami sempatkan mengelilingi pulau ini dari ujung ke ujung. Blusukan ke lorong-lorong kecil dalam 'kota' sangat mengasyikan, pergi ke dermaga dan ke bukit karang yang berada di ujung timur pulau ini indah mempesona. Sekitar pukul dua tengah malam, kami masuk lagi ke gang-gang sempit menyaksikan parade kampung yaitu tradisi membangunkan orang untuk sahur dengan pengeras suara dan musik. Loudspeaker diangkut dengan sepeda kayuh dan soundsistem-nya diangkut dengan gerobak kecil. Penyanyinya juga ada, mendendangkan lagu-lagu bernuansa Islami. Anak-anak, orang tua dan muda mudi turun ke jalan konvoi patrol sahur keliling. Tradisi ini sangat membekas di hati.


Sebagai penutup kunjunganku ke Pulau Mandangin, adalah memenuhi undangan buka puasa di dua tempat yang berjauhan. Untuk menghormati tuan rumah, kami membagi dua group yang satu di rumah Fauzan dan yang lainnya di rumah Ubay. Begitu juga untuk makan sahur, kami diundang di dua tempat. Tapi keduanya bisa kami penuhi walau hanya mampu sedikit-sedikit menikmati hidangan sahur agar tidak terlalu kenyang. Mereka sangat menghormati tamu, apa yang mereka punya disajikan untuk menyenangkan tamunya. Kebiasaan ini terjadi dan berlanjut lagi ketika pergi dan kembali dengan perahu, semua ongkosnya dibayari mereka.


Terima kasih kawan, semoga segala kebaikanmu Allah akan membalas semuanya. Selanjutnya kami hanya berempat kembali ke Pelabuhan Tanglok di Sampang dengan perahu berangkat dari dermaga yang sangat sederhana itu.


GESER KE SUMENEP

Hanya kami berdua yang melanjutkan perjalanan dari Sampang ke Sumenep. Kami ambil bus jurusan Sumenep, naik dari depan pintu masuk Pelabuhan Tanglok. Bus Akas ke Sumenep ongkosnya 12 K melewati Pamekasan dan turun di Prenduan, waktu tempuh satu setengah jam. Desa Prenduan adalah desa yang cukup ramai yang berada 30 km sebelum Kota Sumenep.

LADANG GARAM
LADANG GARAM

Aku bermalam di Pondok Pesantren Al Amien Prenduan. Temanku anak muda ‘ponpres’, Ishlahudin repot-repot telah membantuku menyiapkan sebuah kamar yang cukup nyaman. Itu pun harus ijin dulu ke Kyai pengurus pondok. Dan selanjutnya aku sempatkan sowan bersilaturahim ke Beliau ketika mau pamit pulang.


Ponpres ini sangat besar, terdiri dari beberapa pondok yang tersebar pada lokasi yang berbeda. Pondok untuk putri, madrasah dasar, madrasah tingkat pertama, madrasah tingkat atas, SMK, Institut, minimarket dan beberapa sekolah kejuruan khusus lainnya dimiliki ponpres ini. Karena pada waktu itu akhir Bulan Ramadhan, suasana pondok sudah sepi. Padahal kalau tidak libur suasana pondok sangat ramai dipenuhi pelajar santri. Masjid besar berkubah hijau adalah adalah Masjid Al Amien yang berada di tengah-tengah pondok. Kapasitas Masjid ini bisa mencapai 6 ribu jamaah menempati lantai bawah dan lantai atasnya.

Di dalam pondok sebenarnya ada Guest House yang dikhususkan untuk para tamu yang berkunjung ke sini. Taripnya sangat murah, hanya 5 K per malam, namun kata temanku keadaannya begitu sederhana dan sedikit jauh dari kamarnya. Walau hanya sehari semalam di pondok, aku bisa buka puasa dan sahur di seberang jalan dari pondok ini. Untuk buka puasa dan sahur, masing-masing per porsi harganya di bawah 10 K plus minum. Malamnya, aku Shalat Tarawih di Masjid Al Amien, tarawih-nya 20 rakaat dan witir 2+1 rakaat. Sehabis itu coba menikmati kelapa bakar beramuan khusus  yang lokasinya tidak jauh dari pondok (25 K).


GESER LAGI KE KOTA SUMENEP

Cukup mencegat ‘taksi’ sebutan untuk angkutan sejenis minibus ELF dari depan pondok menuju Kota Sumenep, ongkosnya 5 K. Menuju Sumenep melewati ladang garam yang ada di kiri kanan jalan utama, kebun tembakau dan melewati bukit yang tidak terlalu tinggi. Ketika berada di ketinggian, tampak jelas hamparan laut biru pesisir Kabupaten Sumenep.

Dari pangkalan taksi, aku naik becak ke Keraton Sumenep, ongkosnya berdua 7 K.  Pertama masuk museum (tiket 2 K), selanjutnya ke seberang jalan ada Keraton dan pemandian Taman Sare (tiket free). Sungguh baik keadaan Keraton Sumenep sebagai warisan budaya bangsa. Hanya perlu penataan dan pengaturan lebih sistematis warisan budaya ini agar tetap terjaga keagungannya. Hindari pengelolaan yang asal jadi saja, karena ini aset sejarah bangsa yang berguna untuk pembelajaran masyarakat dan bisa ‘dijual’ sebagai obyek turisme lebih profesional. Yang tidak kalah penting adalah perawatan dan pemeliharaan rutin berkelanjutan. Bangga punya warisan seperti ini.

Keraton Sumenep
Aku teringat ketika masuk Kota Bangkalan di bagian barat Pulau Madura, ada teronggok jalur kereta api menuju kota-kota bagian timurnya. Berarti dulu pernah ada kereta api di pulau ini. Tapi sayang entah mengapa transportasi yang pernah ada ini sudah tidak beroperasi lagi. Sayang seribu sayang.

Sudah puas menyaksikan indahnya kompleks keraton, saatnya berjalan kaki menuju Masjid Jami Sumenep. Dari keraton, jaraknya paling-paling hanya 200 meteran saja. Sampai di alun-alun (taman kota), tinggal menyebrang jalan sudah tiba di mulut gerbang masjid (seperti gerbang Tiananmen). Melewati gerbang, halaman masjid dan masuk teras masjid, itu adalah langkah menuju ruang utama dalam masjid.


Masjid Jami Sumenep, warisan para saudara Muslim pendahulu kita, penuh dengan sejarah dan masih utuh bisa dimanfaatkan hingga kini. Masjid berwarna paduan antara putih dan kuning ini sangat kental menghiasi tembok-tembok kompleks masjid. Ada gerbang, pohon-pohon, beduk, pilar-pilar, atap, mimbar dan kaligrafi, semuanya tentu mempunyai cerita sejarah sendiri-sendiri yang perlu kita gali untuk diketahui.

Shalat Dhuhur berjamaah dan bersantai sejenak menikmati anggunnya arsitektur Masjid Jami Sumenep sangat menyejukan hati. Mengabadikan sudut-sudut keagungan masjid tidak aku lewatkan begitu saja. Kunjungan singkat berikutnya adalah menyusuri pasar, jalan kota dan memotong masuk ke perkampungan yang bersih berada di belakang masjid. Di situ aku beli miniatur celurit, harganya 5 K. Di bedak-bedak ini tersedia aneka souvenir khas Madura seperti pecut, klenengan sapi atau miniatur karapan sapi dari kayu juga ada.


Karena waktu yang terbatas, aku tinggalkan sumenep menuju ke barat (arah Pamekasan) dengan taksi (7,5 K). Kali ini ke Vihara Alokitesvara, di Kampung Candi, Desa Montok, Kecamatan Galis, tepatnya berada 13 km timur Kota Pamekasan atau 1,5 km dari pantai wisata Talangsiring. Vihara ini termasuk salah satu vihara yang besar di Pulau Jawa.


Dari Sumenep, aku berhenti di pertigaan masuk ke Kampung Candi. Dari situ, minta tolong pada penduduk untuk mengantarkanku ke vihara dengan sepeda motor. Permintaan tolong dikabulkan, di vihara hanya 5 menitan saja. Sebagai tanda terima kasih aku berikan 10 K sebagai pengganti jasanya.

Panas terik menyengatku, di saat puasa Ramadhan. Aku menyetop kembali taksi menuju sederetan penjual kelapa muda dan buah siwalan. Aku berdiri bergelantungan, karena taksi sudah penuh sesak penumpang. Berdua, ongkosnya aku bayar 3 K. Di Desa Pragaan, aku beli 4 bungkus kelapa muda (@ 4 K) dan 5 bungkus buah siwalan (@ 1 K) untuk buka puasa nanti.

Kali ini kembali dengan taksi ke Desa Prenduan (berdua 3 K). Aku serahkan semua kelapa muda dan siwalan sebagai buah tangan di rumah temanku yang sedang pulang kampung di Prenduan. Malam itu aku tidur di rumahnya. Buka puasa dan sahur disediakan oleh keluarga temanku. Malamnya Shalat Tarawih bersamanya di salah satu masjid dekat rumahnya, 8 rakaat Shalat Tarawih dan 2+1 Shalat Witir. Selepas itu panggil tukang pijat langganan keluarga temanku untuk mengendurkan urat-urat yang kaku menjelajah selama tiga hari lalu.

Untuk mengakhiri traveling singkat di Pulau Madura, sebagai oleh-oleh aku beli aneka kerupuk dan rengginang asli asal Desa Prenduan untuk keluargaku di rumah. Selanjutnya naik Bus Akas ekonomi ke Terminal Purabaya Surabaya (35 K) dan dan dari situ sambung bus lagi menuju Malang.

Aku, baru sebagian saja menjelajahi Pulau Madura. Sesungguhnya Madura banyak sekali memiliki pulau-pulau kecil atau yang berukuran sedang, tersebar mulai dari barat hingga timur. Andai saja pemerintah bersama masyarakat mau mengelola pulau-pulau tersebut menjadi obyek wisata untuk turis, hasilnya tentu sangat luar biasa. Yang penting dikelola sesuai kultur tanpa mengikis atau menghilangkan sendi-sendi kehidupan yang sudah ada. BRAVO MADURA.



TERIMA KASIH KAWAN, TERIMA KASIH MADURA, JASA BAIK dan KEINDAHANMU TIDAK PERNAH BISA AKU LUPAKAN.


Copyright© by RUSDI ZULKARNAIN 
email  : alsatopass@gmail.com 



Tidak ada komentar: