BERAMAL LEWAT TULISAN

Selasa, 14 Oktober 2014



RESEPSI PERNIKAHAN ala DESA Vs KOTA

Esensi resepsi adalah merayakan suatu kebahagiaan dan berbagi buat keluarga, teman atau kerabat. Sedangkan besar kecilnya resepsi atau pesta sangat tergantung dari kesiapan biaya, keinginan dan seberapa besar orang yang diundang. Yang namanya resepsi, pada kenyataannya sangat berbeda antara yang ada di desa dan yang ada di kota. Mari simak liputannya.


UNDANGAN PERNIKAHAN

“Mak .. mak ... Ini ada yang nganter undangan”. Anakku bilang sambil sedikit berteriak. Undangan dari mana ? “Itu lho, kawinan anaknya Pak Bambang yang baru kerja di pabrik garmen”.

Aku segera buka undangan tersebut yang sangat sederhana dan tidak begitu tebal itu. Acaranya empat hari lagi dilaksanakan di Desa Durung Beduk, Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo di Jawa Timur.

Anaknya Pak Bambang adalah laki-laki, berarti acara di rumahnya dalam bahasa Jawa-nya disebut ‘Ngunduh mantu’. Acara akad nikah dan resepsinya sudah kemarin dilaksanakan di rumah pihak wanita, kemudian disusul acara ngunduh mantu di rumah pihak laki-laki.

Pada Bulan Dzulhijjah atau Bulan Haji, atau kalau orang Jawa bilang Bulan Besar, banyak undangan manten (pernikahan). Pada umumnya mereka mengambil hari Sabtu atau Minggu. Tentu saja karena ‘musim manten’ undangan datang silih berganti. Setiap hari Sabtu atau Minggu bisa ada tiga sampai empat undangan yang harus dihadiri. Biasanya, akad nikah di pagi hari , lalu siang atau malam acara resepsinya.


HARI ‘H’ pun TIBA

Lokasi acara ngunduh mantu ada di Desa Durung Beduk, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo. Tepatnya sekitar 5 km masuk arah barat jalan Raya Tanggulangin – Sidoarjo. Ya lumayan jauh masuknya.

Namanya juga di desa, segala macam hajatan atau acara warga, penduduk sekitar banyak yang tau. Apalagi acara pernikahan 'pesta' seperti ini gampang mencarinya. Dengarkan saja musik bersuara keras yang keluar dari speaker besar dan bertumpuk, di situ pasti ada yang sedang bikin acara.


Tentu saja acara macam begini perlu persiapan jauh-jauh hari sampai hari H tiba. Anggota keluarga dan saudara semua dilibatkan termasuk para tetangga. Sudah menjadi tradisi, semua dari mereka saling bantu membantu gotong royong untuk mensukseskan acara ini. Kaum ibu dan remaja perempuannya masak-masak di belakang. Sedangkan Bapak-bapak dan remaja laki-lakinya membantu menyiapkan meja kursi di bawah tenda dan kesiapan tempat acara.


Tenda, kursi, pelaminan dan sound system untuk cara ini mereka sewa. Meja kursi jumlahnya tergantung dari berapa orang yang diundang. Pada hari H, ada kalanya acara tidak ditentukan jam nya (bebas), jadi waktunya bisa panjang, untuk memberi kesempatan para tetamu dan sanak saudara leluasa hadir.


Satu per satu tamu mulai berdatangan memberi selamat pada orang tua pengantin yang berdiri di depan tenda acara. Kemudian para tamu dipersilakan duduk di kursi-kursi bawah tenda. Di situ telah tersedia air mineral kemasan gelas dan kue tradisional sebagai camilannya. Musik bersuara keras terus berjalan menyuguhkan lagu-lagu yang sedang hit dan lebih merakyat.





Rupanya, pasangan pengantin dijadwalkan meluncur dari Surabaya ke Desa Durung Beduk pada tengah hari. Kesempatan ini dipergunakan untuk menyiapkan segalanya agar semua berjalan lancar. Tapi sekali lagi acara ini tanpa EO-EO an ‘Event Organizer’ atau Jasa Katering seperti yang biasa dilakukan oleh ‘orang kota’. Semuanya dilakukan dengan cara gotong royong keluarga, kerabat dan para tetangga. Ini adalah bukti kerukunan di desa. Itulah yang menjadi asal usul nama 'RT dan RW' Rukun Tetangga / Rukun Warga. Bahkan rumah tetangga yang bersebelahan dengan yang punya acara, merelakan rumahnya terganggu ditutup sebagian atau dipakai untuk mendukung hajatan ini.


TRADISI YANG ADA SAMPAI KINI

Sangat berbeda dengan yang ada di kota, kalau di desa sudah menjadi kebiasaan gotong royong bahu membahu kalau ada tetangga atau saudara yang punya gawe (acara). Di Desa Durung Beduk, sebelum acara dilaksanakan banyak yang berdatangan membawa ‘sesuatu’ (titipan) atau Buwuh untuk tuan rumah. Apa saja yang dibawa, dicatat dengan seksama dalam buku khusus titipan. Semua warga mempunyai buku catatan ini.


Setiap ada acara seperti pernikahan, khitanan atau lainnya, tuan rumah tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk membeli bahan makanan. Cara ini seperti arisan dengan menitipkan bahan makanan. Suatu saat nanti, kalau ada warga yang punya gawe, mereka akan mengembalikan sebesar apa yang pernah mereka bawa (titip). Begitulah seterusnya.



Menghadiri undangan, sudah biasa membawa amplop berisi uang yang besarnya terserah dan tergantung kemampuan masing-masing. Tapi di daerah tertentu ada yang amplopnya dibuka oleh petugas penerima tamu, kemudian dicatat nominalnya. Di kemudian hari kalau warga tersebut punya acara, maka Ybs. akan memberi uang sebesar yang dulu mereka pernah berikan.

Amplop dimasukan ke dalam kotak (semacam celengan) yang bentuknya bervariasi. Ada yang menyerupai angsa besar, kotak berselubung kain satin, gentong, atau bentuk lainnya. Sebelum memasukkan amplop, lebih dulu menulis nama dan alamat pada buku tamu.

Iring-iringan pasangan pengantin tiba memasuki halaman rumah. Pembawa acara perempuan menyambutnya dengan Shalawat Nabi. Pengantin duduk di pelaminan yang telah ada sejak pagi tadi. Kemudian pembawa acara ‘MC’ pun memulai kata sambutannya dan diteruskan dengan pembacaan Ayat Suci Al Qur’an.

MC mempersilakan pimpinan rombongan dari Surabaya untuk memberi sambutannya. Isi sambutan yang intinya mengantarkan dan memperkenalkan mempelai perempuan yang telah dinikahi kepada Keluarga lelaki dan warga Desa Durung Beduk. Sekaligus menyampaikan nasehat berisi hal-hal penting dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Selanjutnya, MC mempersilakan yang mewakili tuan rumah untuk berbicara. Sambutannya hampir sama dengan yang pertama, sama-sama menasehati kedua mempelai ditambah dengan pernyataan menerima baik mempelai perempuan dan rombongan. Sambutan diakhiri dengan permintaan maaf bila ada kekurangan di sana sini atas penyambutan rombongan. Dan mempersilakan kepada rombongan dan tamu yang hadir untuk mencicipi hidangan yang telah disediakan.


Tidak lama sambutan selesai, piring-piring berisi nasi soto ayam pun diantarkan secara estafet dari tangan ke tangan. Sambil diiringi musik yang bunyinya ‘jedar jeder’ para tamu juga mencicipi irisan buah semangka yang segar di tengah teriknya panas matahari.

Makanan kecil masih asli dan dibuat sendiri oleh keluarga, seperti wingko, jenang (dodol), ketan uli, rengginang, kacang goreng dan masih banyak lagi lainnya. Sebagai penutup, tuan rumah menyediakan satu tas bungkusan ‘berkat’ untuk dibawa pulang.


Semua bergembira bisa bertemu dan bersilaturahmi dengan keluarga, tetangga dan kerabat.  Mereka masih bisa menjaga tradisi turun menurun yang belum pudar ditelan modernisasi sampai kini. Lain di desa lain di kota, tapi semua mempunyai tujuan yang sama, yaitu selamat dan lancar. Kalau mengadakan acara resepsi pernikahan seperti ini, katanya Pak Bambang sedikitnya perlu biaya dua puluh jutaan. Meski di desa, ada juga yang mengadakan acara seperti ini begitu mewah. Biasanya hajatan orang terkemuka atau Kepala Desa. Kalau di kota tentu acara beginian jauh lebih besar biayanya. Umumnya, mereka pakai acara pre-wedding, pakai jasa Event Organizer, jasa MC, undangan deluxe, seragam panitia, pakai thema acara, band live, pakai jasa Katering dan souvenir yang indah.

Wallahu A’lam.



Copyright© by RUSDI ZULKARNAIN 
email  : alsatopass@gmail.com 

Tidak ada komentar: