BERAMAL LEWAT TULISAN

Thursday, 4 December 2014

MENEMBUS JALUR BRUNEI SARAWAK


PLANNING SEMULA SEBELUM BERUBAH



Dari T2 ke KLIA2

Berangkat dari T2 Bandar Udara ‘Bandara’  baru hasil renovasi di Juanda Surabaya menuju Bandara yang benar-benar baru juga, KLIA2 Kualalumpur.  KLIA2 adalah pindahan dari seluruh operasional LCCT di Sepang khusus budget flight.  Itulah yang mengawali perjalanan kami berdua, aku dan anak lelakiku ‘anakku’ menjelajahi Semenanjung Malaysia, Serawak Malaysia, Brunei dan Singapura selama dua belas hari.



Berbeda dengan T2 Surabaya, KLIA2 memang telah dipersiapkan matang sebagai Bandara  masa depan untuk melayani dan mengantisipasi pesatnya penerbangan dunia. Kami senang dengan sistem yang  terintegrasi di LCCT (ex. terminal budget), KLIA1 dan KLIA2 antara sistem moda transportasi  bus ke kota, kereta KLIA Express, taxi, bus antar kota dan fasiltas pendukungnya, menjadi satu kesatuan yang bisa diandalkan.

Bukan itu saja, Bandara ini bukan seperti sebuah Bandara, karena banyak outlet (gerai) yang menyediakan segala kebutuhan untuk memanjakan pengunjungnya. Moving walkway (eskalator horizontal) yang panjang sangat membantu bagi calon penumpang yang malas jalan kaki dan ini cocok untuk orang tua usia lanjut. Boleh dikatakan, Bandara ini mirip sebuah mall daripada disebut sebagai Bandara. Bayangkan, di dalamnya terdapat sekitar 100an outlet makanan dan 200an outlet retail yang buka 24 jam. KLIA2 sangat luas, mempunyai beberapa apron (tempat parkir pesawat), antara gedung terminal, satu sama lain dihubungkan dengan ‘jembatan gedung’.


 

Beberapa maskapai budget ada di sini, seperti Air Asia, Cebu Pasific, Malindo dan Tiger Airways. Jangan pernah takut atau kuatir bagi pemula sekali pun berada di KLIA2, karena Bandara ini akan menuntun anda dengan mudah apa saja yang diperlukan tanpa harus bertanya kepada siapa pun. Papan informasi arah ada di mana-mana dan sangat informatif memandu anda. Bagi kami traveler murahan perlu tempat untuk berdiam diri istirahat dalam waktu yang agak lama, di sini kami bisa  memilih sisi-sisi  yang dianggap nyaman.


MEMONITOR EMPAT TIKET PESAWAT

Penerbangan dari Bandara Juanda Surabaya menjelang tengah malam membawa kami tiba di KLIA2, bandara baru pusat penerbangan murah di Kualalumpur. Di situ kami hanya menunggu beberapa jam saja untuk kemudian check in menuju Miri, sebuah kota kecil di Serawak Malaysia dekat perbatasan negara kaya minyak, Brunei.

BANDARA MIRI
Sempat menginap sehari semalam di sebuah hostel di Kota Miri, Homestay namanya. Transportasi dari airport ke Hostel hanya ada taksi, taripnya 25 Ringgit Malaysia ‘RM’ ditempuh dalam tempo 20 menit saja. Hostel ini sangat strategis berada di tengah kota, di Jalan Merpati. Posisinya, tepat di depan Hotel Permaisuri dan mall terbesar di Kota Miri. Kami pesan kamar via booking.com, price-nya 50 RM berdua. Bayarnya on the spot dan ada uang titipan (deposit) 50 RM, dikembalikan ketika check out. Sekarang price-nya naik jadi 55 RM, tapi beruntung kami masih dapat harga lama. Meski begitu, hostel ini sangat rekomendid. Ada breakfast-nya, room AC, free wifi, toiletary (handuk, sabun, shampo & sandal dalam kamar), staf yang ramah bernama Christine+Nora, letaknya strategis dan sangat bersih.



Menjajal keliling Kota kecil Miri cukup menyenangkan, pergi ke pinggiran laut, Masjid At Taqwa, mall atau melihat bangunan-bangunan lama yang terawat baik. Kotanya sepi, hampir tidak ada kemacetan. Mall nya juga sepi, bus kota hanya ada ke beberapa jurusan saja yang jumlahnya tidak banyak. Terminal bus nya ada dua, terminal bus dalam kota (bandar) dan terminal bus untuk jurusan luar kota yang ada di Pujut. Sebenarnya aku ingin ke Mulu, yang ditetapkan sebagai World Heritage. Namun dari Miri harus terbang lagi pake pesawat baling-baling, Wings Air (Biasanya pake paket tour). Taripnya mahal, hampir dua jutaan untuk tour 2 hari lebih. Begitu juga Bukit Niah, berupa goa purbakala yang letaknya kira-kira di tengah antara Miri dan Bintulu. Sayang seribu sayang, kalau pun aku ambil paket tour ini tidak akan efektif karena setiap hari turun hujan. Apa sih ikon Kota Miri ? Kuda Laut jawabannya, itu lho seperti logonya Pertami*a.

Sepertinya, Kota Miri banyak masyarakat Cina-nya. Ini terbukti di mana-mana ada aksara Cinanya, di tempat-tempat usaha perdagangan, hotel, rumah sakit dan di tiket bus pake tiga bahasa : Mandarin, Melayu dan Inggris. Soal makanan, hampir sama dengan daerah lain di seluruh Malaysia, baik di Semenanjung, Serawak atau Sabah. Lalu, apa sih yang dihasilkan Miri ? minyak jawabnya, namun hasilnya tidak sebanyak yang dihasilkan Brunei.

Bandara Miri  tidak terlalu besar. Dulu, dari / ke Bandar Miri ada bus kota yang lewat depan airport, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Kalau ingin ke bandara, tidak mesti harus pakai taksi yang harga resminya 25 RM itu. Caranya, tanya orang hotel, mereka tau informasi mobil private buat ke bandara. Tentu harganya di bawah 25 RM.

Tiket dari Surabaya ke Kualalumpur (Tiket ke-1) dan dari Kualalumpur ke Miri (Tiket ke-2) sudah kami pakai. Masih tersisa tiket dari Kuching ke Kualalumpur (Tiket ke-3) dan dari Kualalumpur ke Surabaya (Tiket ke-4). Sisa tiket ini harus selalu aku monitor di sms handphone maupun di email-ku. Sebab, bisa saja ada perubahan waktu terbang. Jadi harus waspada bila sewaktu-waktu ada perubahan.


'SAKITNYA TUH DISINI'
MENEMBUS BRUNEI LEWAT DARAT

Udah ga sabar lagi ingin masuk Brunei lewat darat. Beberapa tahun lalu, aku masuk Brunei langsung lewat bandara Bandar Sri Begawan ‘Bandar’ dari Kualalumpur. Sebenarnya ingin masuk ke sana dengan cara sambung-sambung bus. Namun cara ini tampaknya sekarang agak sulit, terutama dari Kota Miri ke border di Sungai Tujoh. Agak ribet juga kalau menempuhnya dengan cara sambung-sambung. Pertama, dari Miri harus ke Border Sungai Tujoh, kemudian ke Border Kuala Belait, lalu ke Seria dan akhirnya ke Bandar. Bakalan lama dan ribet.

TERMINAL PUJUT @MIRI
Saat ini, ada beberapa perusahaan bus yang langsung dari Miri ke Bandar-Brunei. Bus PHLS dan Bus Bintang Jaya misalnya. Daripada berisiko makan waktu, aku memilih pake bus direct. Tentu saja dari hotel, aku harus menuju Terminal antar kota di Pujut. Aku ambil taksi, ongkosnya 15 RM. Bus ke Brunei ada yang berangkat pukul 8 pagi dan 15.45 petang. Karena sudah kesiangan aku ambil bus yang terakhir. Dari Miri, bayarnya pake Ringgit, 50 RM. Tarip ini adalah baru, sebelum harga minyak Malaysia naik, taripnya hanya 40 RM. Kalau dari Brunei semula 18 BND menjadi 20 BND. Sambil menunggu pemberangkatan, waktu luang aku gunakan untuk makan siang di Pasar Pujut yang ada di sisi terminal dan melihat-lihat suasana terminal yang sangat sederhana itu.

MASJID MIRI @SERAWAK
Meski ada tiket ke Brunei dijual di loket, tapi harganya lebih mahal dan waktu jualnya terbatas. Jadi, beli dan bayarnya biasa di atas bus. Siapa cepat dia dapat, itulah kira-kira ungkapan yang pas buat pergi ke sana. Tempat duduknya bebas dipilih. Setelah dapat tempat duduk, serahkan paspor dan ongkosnya pada kondektur. Uniknya, hampir 90% penumpang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Luar biasa, kami ini seperti sedang ada di negeri sendiri. Bukan itu saja yang luar biasa, sepanjang perjalanan lagu-lagu yang lagi ngetren pun  mendominasi musik di dalam bus seperti ‘Sakitnya tuh di sini’ atau ‘Goyang Caesar’.

Dari Miri ke border Sungai Tujoh ditempuh kurang dari satu jam (sekitar 60 Km) kemudian melewati imigrasi Brunei, Kuala Belait namanya. Di tengah jalan sebelum border, banyak penumpang TKI naik bus ini (ada yang mengkoordinir). Di Imigrasi kami ditanya, “Mau apa di brunei dan bawa uang berapa ?”, tanya petugas perempuan. Saya melancong bersama anakku dalam masa tiga hari saja dan bawa uang banyak, kataku kepada petugas. Dia membolak balik pasporku, dan terdengar bunyi 'jedok' stempel didaratkan di atas paspor.

Semua barang bawaan harus diturunkan untuk diperiksa aparat bea cukai Brunei, namun pemeriksaannya  tidak detail. Melihat begitu, diam-diam kami mencoba masukkan kembali bag ke dalam bagasi bus. Jalannya bus agak lambat sehingga kami masuk di Waterfront Bandar-Brunei sekitar pukul delapan malam (Kuala Belait – Bandar Sri Begawan 127 Km). Alhasil, perjalanan kami dari Miri ke Bandar memakan waktu hingga empat jam lebih.

Kalau sudah malam begini, geliat Kota Bandar sudah tidak ada lagi, yang tersisa ramainya cuma ada di daerah Gadong, kurang lebih 10 Km dari Bandar. Apalagi Asrama Pusat Belia milik negara Brunei, yang semula menjadi jujukan pertamaku, pasti sudah tidak ada petugasnya lagi. Terpaksa harus siap-siap rogoh kocek lebih dalam, karena selain Pusat Belia aku tau pasti taripnya di atas tiga ratus ribuan. Benar saja, tidak jauh dari Waterfront kira-kira dua blok dari Terminal Bus Bandar, ada KH. Soon Hostel, yang sudah familiar dikenal para backpacker. Taripnya sekarang 40 Brunei Dollar ‘BND’ atau bisa bayar pakai Dollar Singapore dengan nilai yang sama untuk dua orang. Fasilitasnya, kamar mandi sharing, tanpa breakfast, tidak ada AC tapi fan, tidak ada wifi dan tanpa toiletary. Sekitar 380 Ribu Rupiah aku harus bayar per harinya. Meski begitu, kami sangat senang dengan keramahan petugasnya. Arifin, Wati dan Nila sangat membantu kami memberi informasi apa saja yang kami tanyakan.



Apa boleh buat terpaksa harus diambil. Untung saja aku bersama anakku, meski tetep aku yang harus bayar. Yang penting sekarang sudah bisa taruh bag dan sejenak bisa rebahan di tempat tidur. Waktunya isi perut sudah mengundang, coba hunting tempat makan di sekitar hostel. Keluar hostel cuma pake celana pendek yang panjangnya sedikit di bawah lutut. Kami teringat aturan baru Syariat Islam di Brunei dan kuatir kalau-kalau tidak boleh pake celana pendek di tempat umum. Daripada harus kembali ke hostel, aku coba tanya pada seseorang di pinggir jalan. Ternyata dia orang Bogor. Katanya, “Nggak apa-apa, yang penting masih terlihat sopan”.

Akhirnya, dapat juga resto ‘Ayamku’ di depan lapangan besar muka Masjid Omar Ali Saifuddin. Harganya masih bisa kami jangkau, berdua 5,8 BND. Perut sudah cukup terisi, kami balik ke hostel untuk istirahat.


PUTER-PUTER KELILING BANDAR

Bangun pagi, sebelum mandi kami jalan kaki ke Pasar Tamu Kianggeh cari sarapan. Tahun lalu, kedai-kedai makanan ada di dalam pasar, kini pindah ke tepian sungai Kianggeh. Namun Alhamdulillah, penjual langgananku masih jualan di situ. Seperti biasa, kami memilih aneka makanan yang sudah kami kenal. Semuanya masakan Jawa, jadi sangat cocok untuk lidah kami. Pilih menu apapun semua harganya sama rata, dipatok 1 BND atau 1 Ringgit Brunei. Begitu juga untuk minumnya sama 1 Ringgitan.



Selesai saling melepas rindu dengan penjual makanan, kami meluncur dengan boat menuju Kampung Ayer. Ongkos boat 1 BND per orang. Menyaksikan dan menikmati kampung apung di seberang Bandar sangat mengasyikan. Bangunan dari kayu tersusun rapi di atas Sungai Brunei, satu sama lain dihubungkan dengan jalanan dari papan tebal menyerupai jembatan. Setiap hari penduduk Kampung Ayer ‘wira-wiri’ ke Bandar untuk berbagai keperluan salah satunya, berangkat kerja. Konon, kampung ini adalah kampung apung terbesar di dunia, karena ada 10% penduduk Brunei tinggal di sini.






KAMPUNG AYER
Hanya cukup berjalan kaki, kami menuju Masjid Omar Ali Saifuddin yang didominasi warna putih berkubah warna emas. Kami berdua shalat di situ, kemudian menikmatinya dari berbagai sudut. Masjid ini hanya boleh diabadikan dengan kamera pada bagian luarnya saja. Ada larangan untuk mengambil foto di dalam masjid. Terdengar sayup-sayup kaum ibu sedang belajar meningkatkan membaca dan membedah Surat-Surat Al Qur’an.

MASJID OMAR ALI SAIFUDDIN
Pada jurusan yang sama, kami mampir ke Pusat Belia yang merupakan penginapan idola para traveler seperti kami. Tidak dapat disangkal lagi, bahwa Pusat Belia adalah satu-satunya penginapan yang paling murah di Brunei, per orang per bed hanya 10 BND. Namun sayang, hingga desember tempat ini tertutup untuk umum karena dipakai para atlet Brunei untuk persiapan acara ‘sukan’ (pesta olahraga).

Aku sempat minta tolong pada pengelola asrama, Pak Cik Firdaus untuk bisa menginap di sini satu dua hari saja. Tapi dia minta maaf, semua kamar tertutup untuk umum. Meski begitu, dia mempersilakan kami untuk minum air mineral yang tersedia seberapa yang kami mau. Dan dia memberi nama akun beserta password nya pada kami agar bisa wifi an sepuasnya. Terima kasih brother, bantuanmu tidak pernah kami lupakan. Semoga Allah senantiasa membalas kebaikan Pak Cik.

Tidak mau kehilangan waktu, semuanya kami efektifkan. Berikutnya, mengunjungi spot-spot dalam kota sekitar Bandar. Lalu ke Mall Gadong naik Bus No. 1A. Ya masih sama seperti dulu, sopir dan kondektur bus ini semua asal Indonesia. Dan kondekturnya tetep kebanyakan wanita. Meski ongkosnya 1 BND, kelihatannya murah sebutannya cuma 1 BND. Tapi dengan tarip segitu itu terbilang mahal, apalagi jarak jauh dekat sama aja ongkosnya segitu (Kurs 1 BND = 9500 Rp).

Terpaksa harus naik Bus 1A lagi, karena kami mau ke Masjid Jame Asr Hassanil Bolkiah atau Masjid Kiu Lap yang letaknya tidak begitu jauh dari Gadong. Menaranya kelihatan dari Gadong berarti tidak jauh. Siapa bilang dekat ? Bulan juga kelihatan , tapi kan jauhnya minta ampun. Hhe.


Sengaja ingin Shalat Ashar berjamaah di Masjid ini, kami tiba beberapa saat sebelum masuknya waktu Ashar. Masjidnya berlantai dua, kami shalat pada ruang utama di lantai dua. Menuju lantai dua melalui anak tangga yang menyerupai jembatan dari marmer putih. Luar biasa indah dan anggunnya masjid ini. Tamannya tertata rapi, menaranya yang artistik, tempat wudhu yang mewah bersensor, kubah emas yang gagah, semuanya menambah komplit megahnya Masjid Jame Asr Hassanil Bolkiah ini.

Ketika Shalat Ashar selesai, kami tidak bisa melanjutkan perjalanan ke tempat lain karena hujan besar turun. Meski hujan turun, hanya kami yang tersisa di lantai pertama masjid, jamaah lainnya sudah tidak ada lagi. Mereka meninggalkan masjid dengan mobilnya masing-masing, sedangkan kami naik angkutan umum.

Menunggu hujan reda di masjid ada hikmahnya juga. Allah SWT telah mengatur semuanya, tiba-tiba ada pelangi melengkung indah di atas langit. Subhanallah, betapa indahnya, seolah-olah kami disajikan bak sebuah lukisan, masjid berpelangi. Kejadian yang langka ini tidak begitu saja kami lewatkan, jeprat-jepret pun kami lakukan sebagai kenang-kenangan.

Hari menjelang gelap, Bus 1A yang kami tunggu belum juga datang. Kuatir tidak dapat bus 1A, sebab kalau lewat Maghrib bus-bus di Bandar biasanya sudah tidak ada lagi. Untung saja yang dinanti sudah tiba, eee ... ternyata bus yang kami naiki adalah bus yang sama tadi kami tumpangi. Mbak Wulan senyum-senyum aja melihat kami berdua. Sebelumnya, ketika naik bus pertama tadi, kami sempat berkenalan dengannya sebagai kondektur bus. Wah, kalau nggak ada bus nya Mbak Wulan kami berniat mau jalan kaki aja ke hostel, karena kalau pake taksi pasti taripnya bisa 150 ribuan (15 BND).

Turun dari bus, kami tidak langsung ke hostel tapi mampir dulu di Pusat Belia untuk wifi an. Lumayan lah dengan wifi gratis, kami bisa online terus atau bisa kirim kabar lewat LINE, Path, Facebook, BBM atau Instagram. Sekali lagi terima kasih Pak Cik Firdaus yang telah membantu kami.

PUSAT BELIA

Ada nama makanan yang unik, yang menurut bahasa Jawa bikin orang tertawa geli. Itulah ‘nasi katok mama’.  Nasi sederhana plus ayam goreng yang dipatok hanya 1 BND itu laris manis setiap hari. Kedai Nasi Katok Mama berada di tengah Bandar, letaknya sangat strategis. Buka dari pagi hingga habis Maghrib saja. Bersih dan murah, itulah ciri Nasi Katok Mama yang menjadi idola siapa saja ketika melancong ke Bandar.

NASI KATOK MAMA
MENU DI PASAR TAMU KIANGGEH
Setibanya di hostel, aku sempatkan diri untuk mencuci sebagian pakaian kotor agar bisa dipakai di hari berikutnya. Jemurnya terpaksa di dalam kamar dan untuk mengeringkannya pake hembusan kipas angin.

Hari ini adalah hari terakhir kami di Bandar. Sekitar pukul enam pagi kami sudah menuju Pasar Tamu Kianggeh untuk sarapan. Tujuan berikutnya adalah mencari angin ke Tasek Lama, yaitu taman rekreasi alam yang dilengkapi jogging track, trekking, senam atau menikmati panorama air terjun yang sangat alami. Masuk ke sini semuanya gratis. Luar biasa, taman ini ditata apik dan bersih, disediakan untuk siapa saja. Konon, Sultan Bolkiah sering mengunjungi tempat ini untuk berolah raga. Beruntung, dari Bandar letaknya hanya sekitar satu kilometeran saja. Rutenya dari Bandar, menuju Pusat Belia, Hotel Radisson lurus kemudian bertemu papan arah Tasek lama, itulah jalan masuknya.

TASEK LAMA
Hampir setiap pagi kami berjalan kaki menyusuri spot-spot yang menarik, meski kami berdua belum ada yang mandi. Berada di negeri orang pun badan harus dijaga tetap bugar, setiap selesai olah raga jelajah pagi ditutup dengan sarapan, biar ada energi baru  yang masuk ke dalam tubuh.

Persiapan akhir meninggalkan Brunei mulai kami lakukan. Mandi, mengemasi barang bawaan dan berpamitan ke beberapa kenalan yang ada di sekitar Bandar. Tidak lupa, mengantarkan anakku beli souvenir kecil di toko khusus sekitaran dermaga jetty Bandar. Akhirnya kami benar-benar akan meninggalkan Bandar, selepas makan siang terakhir di Pasar Tamu Kianggeh sekalian pamitan dengan pemiliknya.

Bus PHLS sudah datang dari Miri hampir berbarengan dengan bus pahlawan jalanan tiga negara ‘DAMRI’ rute Pontianak – Sarawak – Brunei.  Semuanya parkir di pinggir jalan Waterfront yang sudah ditunggu banyak calon penumpangnya. Caranya hampir sama ketika berangkat dari Miri ke Bandar, semua bayar di atas bus. Kali ini bayarnya pake BND, taripnya 20 BND. Sebelum taripnya naik, hanya 18 BND. Kalau beli di loket (agen) 22 BND.


Pemberangkatan bus pada pukul 13.00 telah dipersiapkan kru. Satu diantaranya adalah Danny yang  lebih dikenal sebagai pemandu turis di Brunei. Namanya tercantum dalam buku Lonely Planet. Aku baru kenal beliau kemarin, sehari sebelum meninggalkan Brunei. Orangnya kelihatan garang dan tegas, tapi hatinya lembut. Kalau ada apa-apa jangan ragu minta bantuan Danny, pasti dia bisa bantu anda.

DANNY, PEMANDU BRUNEI
Meski penumpang membayar tiket di atas bus dan kelihatan penuh penumpangnya, tapi ada aja kursi bus yang kosong. Maklum ini bukan musim liburan atau hari raya, kalau hari raya pasti aturannya berbeda, resiko tidak dapat kursi. Menuju Miri melewati jalan yang sama ketika menuju Bandar. Satu dua penumpang tidak semuanya turun di Miri, ada yang turun di Serian (masih wilayah Brunei) dan ada juga yang turun sebelum masuk kota Miri.

Di Border Kuala Belait, stempel keluar negara Brunei berjalan lancar. Namun waktu di Imigrasi Sungai Tujoh wilayah Malaysia, pemeriksaannya lebih detil dan lama. Masing-masing paspor difoto copy di belakang form isian alasan masuk Brunei. Satu persatu penumpang dipanggil untuk mengisi form. Kemudian naik bus lagi, beralih antri untuk distempel masuk Malaysia. Tidak cukup itu saja, ada pemeriksaan lain yaitu pemeriksaan bebas virus Ebola. Setelah ini, barulah kami benar-benar bebas menuju Miri yang sebenarnya.

Dalam hati, ingin sekali mampir ke kota-kota kecil di sepanjang jalur Miri – Bandar. Meski kotanya kecil dan sunyi, namun setiap kota mempunyai ciri dan keunikan masing-masing. Seperti Kota Kuala Belait, ini adalah kota industri minyak di wilayah Brunei. Pompa-pompa minyak hidrolik, pipa instalasi jaringan minyak dan corong pembuangan bahan bakar dapat disaksikan jelas di kota ini. Begitu juga Kota Seria, kotanya kecil namun bersih, fasilitasnya lengkap disebut sebagai sebuah kota. Kalau mampir di setiap kota kecil, tentu harus punya waktu yang lebih panjang.


MAMPIR KE BINTULU

Bus PHLS tiba di Terminal Pujut Miri sekitar pukul lima petang. Malam ini, kami nggak mau bermalam di Miri, tapi ingin coba bermalam di Bintulu. Untung saja ada bus yang sebentar lagi akan berangkat menuju Bintulu (pukul 18.00). Aku beli tiketnya pada petugas bus, bukan di loket. Alhamdulillah beli di petugas bus harganya lebih murah 3 RM ketimbang beli di loket 23 RM.

Bus kapasitas 39 kursi, hanya terisi beberapa kursi saja. Itulah cirinya bisnis bus-bus di Malaysia, berapapun penumpangnya pasti berangkat. Di tanah air kalau penumpangnya sedikit, pasti akan di-over ke bus lain. Bus Suria menembus jarak 207 Km dari Miri ke Bintulu selama tiga jam. Jalanan yang mulus nan sepi kendaraan menghiasi sepanjang perjalanan kami. Pemandangan perkebunan sawit ada di mana-mana. Tiba sudah kami di Bintulu (21:00). Nongkrong dulu di Terminal Bus Medan Jaya dan menyempatkan diri mempelajari situasi di sekitarnya. Terminal Bus nya biasa aja, sedikit kotor, namun dari sini banyak jurusan yang bisa ditawarkan.  Di sekeliling Terminal ada mall, banyak hotel dan banyak kedai makanan. Kalau dibandingkan dengan Terminal Bus Miri, terminal ini lebih besar, strategis dan ramai hingga dini hari.

MILIAGE ANTAR KOTA @SERAWAK
Saatnya hunting hostel murah, tapi kami nggak tau mau pilih yang mana. Diberitahu driver taksi arah jalan menuju hostel murah, kami berjalan hingga 500 meter, alhamdulillah dari kejauhan sudah tampak signboard hostel. Ternyata, taripnya lumayan murah, berdua hanya 39 RM saja. Padahal untuk hostel setiap malam kami anggarkan 50 RM, kalau harga 39 RM berarti ada sisa budget yang bisa dipakai untuk berbagai keperluan berikutnya. O iya, nama hostelnya ‘Homey’ berada di sebelah My Bank. Fasilitasnya cukup oke, bersih, ada breakfast dan free wifi.

Mumpung inget nih, aku mau bilangin kalau setiap terminal bus di Wilayah Serawak ada free wifi nya dengan sinyal yang kenceng. Kondisi ini bikin betah traveler untuk terus berpetualang. Hhe. Kapan ya ada seperti ini di negeriku ?

Karena udah malam, kami cari makan yang gampang aja. Dari kejauhan tampak gerai ayam KF*, meski begitu, kami harus jalan kaki dulu sekitar 400 meteran. Kebetulan dari pukul 18:00 s/d 21:00 ada diskonan. Makanan yang kami pesan tidak kami habiskan semuanya, potongan utuh yang lain, kami bawa ke hostel buat sarapan esok pagi.

Kami tidur nyenyak sekali hingga shubuh. Mau keluar hostel pagi-pagi, tapi hujan turun menghadang.  Alhamdulillah sekarang sudah reda, kami keluar hostel agak siangan. Pertama yang dituju adalah Masjid Besar As Syakirin, bangunan megah berkubah kerucut warna biru. Kami  berdiam di situ sambil menunggu datangnya waktu Dhuhur. Hati dan pikiran sudah terasa plong dan terang setelah shalat berjamaah, saatnya makan siang di depan Terminal Bus Medan Jaya Bintulu.

MASJID AS SYAKIRIN @BINTULU
Mau coba bus kotanya akh, menunggu lama sekali untuk mendapatkan satu bus saja. Akhirnya datang juga bus nya, yang penting naik aja dan nggak tau jurusannya ke mana. Bayar 1 RM, ternyata bus ini menuju Pasar Utama Bintulu dekat Sungai Batang Kemena. Di sinilah kota lama Bintulu berada, pusat bisnis dan ramai, dilengkapi taman indah di pinggir Sungai Kemena tempat berlabuhnya kapal-kapal nelayan. Pada kesempatan lain, kami sempat berdialog dengan nelayan yang kapalnya sedang merapat. Berapa lama Abang melaut cari ikan ? tanyaku. “Sekitar satu minggu baru balik ke sini lagi”, jawabnya.

Blusukan ke dalam pasar dan bersenda gurau dengan para pedagang Pasar Utama Bintulu sangat mengasyikan. Cara ini sudah lama aku lakukan, jauh sebelum para pejabat melakukannya seperti sekarang ini. Hhee. Kelihatannya, harga-harga sayur mayur di Bintulu lebih mahal ketimbang di tanah air. Contohnya, seikat kacang panjang saja harus ditimbang untuk dihargai beberapa RM.

Bag sudah kami titipkan di agen bus Terminal Medan Jaya, sebelum kami keliling kota Bintulu. Waktu keluar tadi, kami sudah sekalian check out dari Hostel Homey, jadi tidak punya tanggungan apa-apa lagi. Dari pinggiran Sungai Kemena, kami kembali ke terminal dengan bus kota. Jumlah bus kota sedikit sekali, penumpangnya pun hanya satu dua saja. Kami turun di depan Pertokoan Sing Kwong (mungkin ini asal usul nama ‘Singkong’), kemudian ke terminal tinggal menyebrang saja.

Waktunya isi perut siang ini sudah tiba. Aku pilih menu masakan Melayu. Ya, cukup rendang saja yang aku pilih berikut sayur. Minumnya aku pilih coklit ais. Di sebelah kedai ini ada mall, aku mampir sejenak membeli roti tawar, kacang dan minuman untuk bekal di dalam bus menuju Kuching tengah malam nanti.


MELIHAT KUCHING-KU MEONG-MEONG

Tiket bus ke Kuching sudah aku beli siang tadi. Kalau Bus Biaramas dari Bintulu ke Kuching 70 RM. Malam nanti kami pake Bus Borneo, tiketnya hanya 50 RM. Lumayan, lagi-lagi surplus bisa buat keperluan hari berikutnya. Kenapa ambil pukul satu dini hari, karena waktu tempuh ke Kuching sekitar 5 – 6 jam. Jadi lebih baik kami tidur di dalam bus saja, bisa hemat nggak perlu untuk bayar hotel. Itulah traveler murahan, tidak mau memanjakan diri setiap saat. Susah sedikit di awal, tapi akan nikmat di akhir.  Dari Bintulu ke Kuching, bus melewati Sibu – Sri Aman dan Serian.

Benar saja, bus masuk Terminal Kuching Sentral pukul tujuh pagi. Banyak yang menawarkan taksi ke Bandar Kuching, tapi aku lebih memilih naik bus kota aja, taripnya hanya 2 RM. Ambil bus kota, dari terminal kami harus nyebrang jalan dulu menuju halte terdekat.

TERMINAL BUS @KUCHING SENTRAL
Wah, Kuching Sentral megah bener bangunannya. Ini sudah bisa dibilang terminal masa depan. Ticketing-nya sudah komputerisasi dengan harga yang standard. Fasiltasnya lengkap oke punya, bersih dan rapi. Kalau ada ‘terminal tax’ seperti airport tax, aku rela membayarnya.

Tempatnya kecil dan tidak begitu ramai, ada di depan Masjid Besar Kuching. Itulah Terminal Bus Kota Kuching, adanya hanya di pinggir jalan. Di situ ada bus yang modern, kondisinya baru dan ber-AC, ada juga bus jadul tapi nyenengin melihatnya. Bus-bus ini melayani hingga menempuh jarak 60 Kilometeran. Jelajah overland ini bikin hati seneng luar biasa, apalagi  traveling-nya berkolaborasi bersama anakku. Gimana gitu rasanya .... Beberapa kali aku traveling bersama anakku atau kadang-kadang kami traveling bertiga bersama isteriku. Pembagian tugas saling bahu membahu, masing-masing sudah tau standard-nya, jadi semuanya bisa berjalan lancar. 

Traveling kali ini, sepanjang perjalanan kami berdua membuat dokumentasi yang lebih selektif untuk kenang-kenangan dan untuk disajikan para pembaca blog ini. Hhe ... Yang paling terasa nikmat kali ini adalah, shalat berjamaah ketika di-jama’, aku yang jadi imam dan anakku jadi makmumnya. Alhamdulillah, dengan begini perjalanan jauh di negeri orang menjadi lebih tenang. Apalagi kami punya program shalat di 1000 masjid di manca negara. Insyaallah pelan-pelan bisa terwujud.

MASJID BESAR @KUCHING
Di Kuching, kami harus hunting hotel budget lagi, mulai dari terminal bus hingga di sekitaran Jalan Khoo Hun Yeang. Baru ada satu hostel yang aku tanyai. Hostelnya sempit dan semua ruangan bau asap rokok, meski di atas lobby yang kecil itu ada tulisan ‘no smoking’. Petugas hostel menawarkan harga 60 RM. Wah, menurutku itu masih terlalu mahal. Aku harus tertib anggaran, kecuali keadaannya darurat apa boleh buat. Aku berusaha cari yang lain, kebetulan aku diberitahu oleh pedagang martabak manis asal Jawa Tengah. Dia bilang cari aja di depan Waterfront (depan Sungai Serawak), di situ ada beberapa hotel budget. Hanya sedikit memutari blok, kujumpai Hotel Asian milik orang Chinese. Bangunannya terlihat sudah lama, tapi kamarnya ber-AC dan kamar mandinya ada di dalam. Tarip per hari 50 RM. Ini tarip weekend, Jum’at s/d Minggu jadi lebih mahal. Ya nggak apa-apa, memang budget-nya adanya segitu.

Ini hari Jum’at, kami siap-siap mandi dan berpakaian rapi untuk Jum’atan. Pakaian yang kami pilih adalah kemeja batik. Ya kami berdua pakai batik. Dari hotel ke Masjid cukup jalan kaki saja. Masjid Besar Kuching sudah ada sejak tahun 1830 an, meski bangunannya konon masih sangat kecil pada waktu itu dan sampai besar seperti sekarang ini. Masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi. Masjid berkubah emas, berada di ketinggian seperti ada di atas bukit dan di sekelilingnya ada jalanan yang membelah pekuburan.

Meski dipenuhi oleh pekuburan, tidak ada rasa takut sama sekali ketika melewati jalan ini di waktu siang maupun malam. Ya, tentu saja yang dikubur itu insyaallah orang-orang alim sehingga auranya tidak menakutkan. Assalamu ‘alaikum ya ahli kubur. Wudhunya di samping masjid, lalu tinggal pilih mau shalat di lantai bawah atau di lantai atas. Masjidnya luas bisa menampung jamaah yang banyak, semoga masjid ini bisa menjadi pemersatu Umat Islam di Tanah Serawak khususnya di Kuching. Amin 3X YRA.

Habis Jum’atan, kami mau isi perut dulu, kami mampir di kedai Jalan Khoo Hun Yeang. Di situ banyak kedai Muslim yang menjual aneka makanan olahan daging, ikan, telur, sayur bahkan sate juga ada. Tempat ini merupakan semi terminal yang amat kecil dan banyak calon penumpang atau drivers yang suka makan di situ. Makan di sini berkisar 6 RM dan 2.5 RM untuk minumnya, tapi antara keduanya dipisahkan pengelolaannya.

Dari semula datang ke Kuching kami ingin melihat ikon (landmark) kota ini, yaitu patung Kuching yang tersohor itu. Sambil menyusuri Waterfront, banyak spot yang bisa kami lihat diantaranya : Astana Fort, Brooke Memorial, Fort Margherita, Gedung Dewan Undangan Negeri dan Kuching Waterfront Bazaar.  Ya, memang kawasan Waterfront ini menjadi magnet masyarakat lokal maupun turis mancanegara. Pinggiran Sungai Serawak penataannya rapi. Trotoar pinggir sungai sangat lebar, dilengkapi dengan kursi-kursi taman, penjual makanan, souvenir, toilet, Kuching Waterfront Bazaar, information dan suguhan view yang menawan. Kalau yang ada di pinggir jalannya, ada hotel, lodge, Masjid India, Sarawak Tourism Complex (Ex Mahkamah Serawak), restoran, mini market, pedagang souvenir atau makanan khas Borneo.

KUCHING WATERFRONT
Menuju ke seberang Sungai Serawak tersedia boats dengan tarip 0,5 (50 cent RM). Bukan saja Fort Astana yang paling menonjol di seberang sana, selain itu ada juga yang menarik seperti Kampung Gresik, Kampung Surabaya atau nama-nama Kampung yang terdapat di Tanah Jawa.


Landmark Kota Kuching yaitu patung kucing-kucing yang sedang beraksi duduk, mencakar, saling bercanda atau seperti ada yang menangis. Semua patung itu berada di taman segitiga kecil persimpangan Jalan Tunku Abdul Rahman, depan Hotel Riverside Majestic dan Hotel Grand Magherita. Patungnya biasa saja, namun karena sudah terlanjur terkenal ya semua orang jadi penasaran ingin melihatnya. Bagi yang sedang berkunjung ke Kota Kuching, bisa dipastikan mereka akan mampir ke sini untuk mengabadikan diri bersama ikon Kota Kuching.


Kami mencoba menyaksikan ikon kota ini pada siang dan malam hari, ternyata suasananya sangat berbeda. Di malam hari ada spotlight yang menyinari patung kucing-kucing itu sehingga terlihat lebih hidup. Patung kucing yang lain salah satunya ada di ujung Jalan Padungan. Lucunya, patung kucing-kucing ini adalah jenis kucing kampung, bukan jenis Anggora atau Persia. 

Sabtu malam dan hari minggu suasana di Waterfront sangat ramai seperti Sunday Market. Gemerlapnya lampu-lampu di malam hari muncul dari beberapa hotel besar yang ada di pinggiran Sungai Serawak. Suasana malam seperti ini, terasa lebih romantis, apalagi kalau hadir bersama orang-orang yang dicintai. Banyak penjual membuka lapaknya untuk memanjakan para pelancong. Yang menarik adalah hadirnya seniman datang ke sini untuk menunjukkan kebolehannya masing-masing. Misalnya, di beberapa tempat ada yang bernyanyi solo maupun group. Lagunya Afghan, Ebiet atau penyanyi tanah air lainnya sangat biasa dinyanyikan di sini. Selain di Waterfront, kalau khusus ingin membeli aneka barang yang lebih murah, adanya di Medan Niaga Satok yang bukanya sabtu dan minggu atau sering disebut sebagai Sunday Market.

Sudah menjadi kebiasaan kami, hunting hostel lain yang lebih murah dan lebih baik. Ternyata ada, namanya Wo Jia Lodge. Lokasinya hampir di tengah-tengah sepanjang Waterfront, atau kira-kira di depan Kuching Waterfront Bazaar. Taripnya hanya 40 RM berdua (dorm 3 beds). Tapi bed yang satu lagi dibebaskan dan dijamin tidak akan diisi orang lain. Terima kasih Razzaq, yang telah membantu kami selama tinggal di hostel anda. Stay di Wo Jia, bikin betah, sebab seperti tinggal di rumah sendiri. Sarapan roti bakar dengan olesan selai kacang atau strawbery, free wifi, free coffee & tea sepanjang hari . Dapur yang bersih, boleh mencuci pakaian atau sekedar kongkow-kongkow di depan TV atau ingin membaca buku-buku, semuanya bisa dilakukan di sini. Pantas saja Lodge ini sudah meraih penghargaan tiga kali dari TripAdvisor. 

WO JIA LODGE @KUCHING
Penjelajahan overland kami hanya dari Brunei hingga Kota Kuching saja, tidak sampai ke Pontianak. Tapi pada saat itu, kami sempat melihat Bus DAMRI yang melayani jalur Pontianak – Serawak – Brunei. Menurut informasi  harga tiket dari Pontianak sampai ke Brunei 600 Ribuan. Kalau dari Pontianak ke Kuching sekitar 175 Ribuan, dan sebaliknya dari Kuching ke Pontianak 50 RM. Perusahaan bus selain DAMRI yang melayani rute ini antara lain : SJS,  Eva, Sri Merah, Sapphire Pacific express, Kirata express,  Asia,  ADBS, ATS ekspres dan Bintang Jaya Express.

Kami coba makan malam dekat Masjid Besar Kuching. Di situ ada pujasera yang buka mulai pukul tiga petang hingga tengah malam. Nama jalannya adalah Datuk Ajibah Abol, berada di sebelah Hotel Alif atau dekat dengan Hotel Dormani. Menu yang ditawarkan sangat lengkap, mulai dari nasi lemak, tom yam, laksa, ikan bakar dan masakan Melayu lainnya. Salah satu menu yang menonjol di sini adalah martabak roti channei dengan aneka pilihannya. Harga yang ditawarkan di sini masih terbilang wajar, rata-rata untuk seporsi makanan dipatok mulai 6 RM dan minumannya mulai 2 RM. Kecuali air mineral, ukuran besar 2 RM, ukuran kecil 600 ml 1 RM, soft drink 1.8 RM dan yang di botol 3 RM. Tom yam sayur dipatok 6 RM dan nasi goreng sosis 5.5 RM. 

Kalau mau sarapan yang murah meriah bisa beli di kedai rumahan. Berada di jalan yang sama, dekat Hotel Dormani ada penjual nasi lemak dan aneka kue, bukanya sehabis shubuh hingga pukul 9 pagi. Di sini, sepiring nasi lemak hanya 1 RM, minum 1 RM dan aneka kue 0.5 RM. Pembelinya banyak, sampai antri. Harganya murah sebab dijual di rumah sendiri bukan sewa tempat.


MENU DI @AJIBAH ABOL

CAT MUSEUM

Penasaran juga dengan Museum Kucing, ada apa aja sih di dalamnya ? Kami ke sana naik van umum dari terminal kecil Jalan Khoo Hun Yeang (Jurusan Petra jaya, Santubong, Bako, Matang, Kubah). Kebetulan van nya kosong, penumpangnya hanya kami berdua. Kereta Sewa atau ‘Angkot’ ini memang melewati jalan menuju Museum Kucing, ongkosnya kami bayar masing-masing 3 RM. Dari halte terdekat, kami harus jalan kaki menyusuri jalanan ke atas bukit di mana Museum itu berada. Museum ini letaknya satu bangunan dengan Dewan Bandaraya Kuching Utara (DBKU). Kami jalan kaki di bawah terik matahari sejauh 800 meteran dengan posisi mendaki. Maklum tidak ada angkutan umum menuju ke sana kecuali taksi.



Kucuran keringat terus membasahi tubuh kami yang mengalir deras dari atas kepala. Tenangkan diri sejenak  di lobby Museum untuk mendinginkan tubuh. Meski ketika itu hari minggu, namun pengunjung museum terbilang sepi. Kami mulai masuk ke dalam museum, melewati kolong patung kucing raksasa. Masuknya free, namun harus membayar  3 RM kalau bawa handphone berkamera.

Hadirnya museum ini sangat menarik perhatian banyak orang, ada museum kucing di Kota Kuching. Lengkap sudah antara nama sebuah kota dan nama isinya. Di dalam museum terdapat 1001 sejarah tentang kucing berikut foto-foto dan pernak perniknya. Jika ingin beli souvenir tentang kucing, semua tersedia di counter souvenir dalam museum ini.

Puas sudah, kami bisa ke mari. Kami belum shalat, beruntung di dekat museum tersedia mushala yang bersih, bagus dan tersedia beberapa botol minyak wangi untuk dioleskan sebelum shalat. Kami sempatkan menikmati indahnya Kota Kuching dari atas bukit ini, semuanya tampak jelas sebab kebetulan langitnya bersih tidak berkabut. Waktu pulang, kami tetap jalan kaki menuruni bukit menuju halte terdekat. Kebetulan saja, tidak lama menunggu ada mobil van ‘omprengan’ yang angkut penumpang. Bayarnya lebih murah dibandingkan ketika berangkat, hanya 2 RM. Tentu saja lebih murah, sebab ini angkutan tidak resmi.

Di hari yang lain, sekitar pukul sepuluh pagi selepas sarapan, kami mulai lagi menyusuri pelosok Kota Kuching. Mulai dari Wo Jia Lodge melewati  – Kuching Waterfront Bazaar – Tourism Complex (Ex Mahkamah Serawak) – China Town – Sarawak Craft Council - Museum Textile – Lapangan Padang Merdeka – Tun Abdul Razak Hall – Ethnology Museum – Art Museum – Aquaria dan menuju Civic center. Dari penjelajahan ini, banyak ilmu yang kami peroleh tentang sejarah Kuching, suku-suku Sarawak, adat istiadat dan pengaruh kolonial terhadap masyarakat Sarawak. Rute jalan kaki ini kami tempuh sepanjang  2 Kilometeran saja.  



Merasakan naik bus model lama juga enjoy rasanya. Bus yang kami coba emang jadul banget, milik perusahaan Sarawak Transport. Kami ambil jurusan Bandar ke Serian yang jaraknya sekitar 60 kilometeran, dengan ongkos 5 RM. Lumayan jauh dan lama perjalanan satu jam lebih. Uniknya kondisi bus masih prima dan bisa melaju kencang di highway Kuching – Serian. Dan yang mengherankan kami, bus besar itu paling-paling penumpangnya hanya 5 orang saja, termasuk kami. Bahkan ketika perjalanan pulang, penumpangnya cuma kami berdua.

Sebenarnya kami tertarik dengan banyaknya National Park di Serawak, namun di negeriku juga banyak seperti itu. Bagi yang tidak tau tentang National Park, melancong ke sini banyak yang salah kostum. Mereka ber-kostum seperti hendak pergi ke mall saja, padahal ini mau masuk hutan. Kami nggak mau begitu saja mengunjungi lokasi seperti itu, sebab ini cocoknya untuk para pelancong dari negara-negara maju.

Malam ini adalah malam terakhir kami berada di Kuching. Bersama anakku, aku makan bareng di Jalan Datuk Ajibah Abol. Aku pesan Laksa Sarawak dan anakku pesan roti channai berlapis keju kemudian ayam penyet versi Sarawak. Bye ... bye ... Ajibah Abol, kami pun menyempatkan mengunjungi Waterfront untuk yang terakhir kalinya. 


TERBANG KE KUALALUMPUR (TIKET KE-3)

Selepas shubuh, kami berkemas-kemas siap untuk terbang ke Kualalumpur. Karena wajib olah raga setiap hari, kami sengaja jalan kaki memanggul bagpack ke pangkalan taksi dekat Jalan Khoo Hun Yeang. See you next time, sister and thank you for your hospitality. Itulah kata-kata kami sesaat sebelum meninggalkan Wo Jia Lodge. Dapat menawar taksi jadi 25 RM yang seharusnya 26 RM. Kami berangkat lebih awal, karena kuatir terlambat check in, perjalanan ke Bandara berjalan lancar dalam 25 menit saja.

Semua tampak biasa-biasa saja seperti tidak akan terjadi apa pun di Bandara Kuching ini. Ketika diperiksa petugas Imigrasi, barulah kami tau kalo ijin tinggal di seluruh Wilayah Malaysia berakhir besok, 18 November 2014. Sekarang tanggal 17 November. Aku kaget, petugas menunjukkan stempelan dan tulisan tangan Imigrasi di Sungai Tujoh tertera jelas sampai tanggal 18 November. Ini semua gara-gara petugas Imigrasi Sungai Tujoh. 

Dua deret antrian imigrasi aku dan anakku macet sedikit panjang, ini karena pasporku. Dengan sopan aku meminta para pengantri pindah ke jalur imigrasi yang lain, karena urusan ini bakalan makan waktu lama. Sedikit berdebat dan minta pendapat tentang bagaimana jalan keluarnya, aku pun terus berpikir untuk memecahkan persoalan ini. Pasalnya, tiket kami dari Kualalumpur ke Surabaya pada tanggal 19 November. Mana mungkin bisa terbang tanggal 19 kalau ijin tinggal hanya sampai tanggal 18. 

Bisa saja kami beli tiket baru untuk meninggalkan Malaysia selambat-lambatnya tanggal 18 November. Tapi kan kami ini traveler murahan, mana mungkin mau beli tiket baru yang pasti harganya luar biasa tinggi. Aku bilang, jadi Pak Cik tidak bisa menolong kami ? “Kami bisa saja merubah tanggal sampai tanggal 19 atau lebih, tapi ini sudah ter-record di data base imigrasi dan kami tidak berwenang merubahnya kecuali imigrasi Sungai Tujoh”, jawabnya.



Walau demikian, kami sadar dia tidak sedang mempersulit kami. Malah dia yang memberitahuku kenyataan ini. Terima kasih telah memberitahu kami. “Lain kali tolong diperiksa paspornya, ya Pak Cik”, dia mengingatkan kami. Kami tidak menyangka imigrasi Sungai Tujoh hanya memberi 7 hari, kami dianggap transit sebagai kunjungan social. Kami baru ingat, sebab waktu itu di Imigrasi Sungai Tujoh kami bersama-sama puluhan TKI. Mungkin kami dianggap bukan melancong tapi sebagai pekerja jadi hanya diberi satu minggu saja. Kalau saja kami tidak diberitahu, mungkin kami bisa dideportasi, kena denda atau bahkan ditahan karena overstay. Ini menjadi suatu pelajaran bagi kami.


Hati sedikit gusar dan terus memikirkan jalan keluarnya. Alternatif pemecahan sbb : pertama beli tiket baru paling lambat untuk tanggal 18 dan yang kedua mendatangi Kantor Imigrasi di Kualalumpur. Yang pertama, pasti harus keluar banyak uang dan yang kedua bakalan ribet dan pasti ada biaya untuk bayar overstay satu dua hari. Aku nggak mau riwayat dokumen perjalanan kami cacat di mata imigrasi negara lain. Ini penting. Upaya terakhir masih aku lakukan di Bandara Kuching, yaitu mendatangi Kantor Imigrasi Bandara untuk meminta kebijaksanaan dan meminta solusinya. Rupanya, mereka memberi solusi yang sama seperti apa yang kami sedang pikirkan.

Meski di luar rencana perjalanan, aku putuskan harus segera ke Singapore setelah mendarat di KLIA2. Untung saja, ada bus direct dari KLIA2 ke Singapore yang akan berangkat satu jam lagi. Dua tiket aku beli dengan harga masing-masing 60 RM. Memang sudah ditentukan Allah begitu, kok enak bener hidup hambaKU yang satu ini tanpa AKU uji lebih dulu. Sengsara membawa nikmat, itulah kata-kata yang tepat pada kenyataan ini. Perjalanan nostalgia sedang kami lakukan, sebab kami sudah beberapa kali ke Singapore sebelumnya. Bus yang kami tumpangi sangat mewah, ada colokan listrik di setiap samping tempat duduk dan kursinya bisa difungsikan sebagai alat pijat.


Ternyata bus mampir dulu ke Melaka, suasana ini menggugah nostalgia kami sebab sebelumnya beberapa kali pernah ke Melaka. Penumpang bus ke Singapore hanya tersisa dua orang, aku dan anakku. Penumpang bus dari KLIA2 semua  turun di Melaka. Tak lama, ada beberapa penumpang baru ke Singapore naik ke atas bus. Beruntung, kami memilih bus langsung ke Singapore. Sebab kalau tidak, dari KLIA2 kami harus ke Kualalumpur dulu kemudian cari bus ke Johor Baru dan dari Johor Baru ke Singapore. Nyambung-nyambung seperti itu bakalan makan waktu yang lama dan berisiko dengan masa tinggal kami di Malaysia yang tersisa satu hari saja.

Keluar dari Melaka, bus sempat mengisi BBM di pom bensin. Di situ, kami diminta pindah ke bus lain tapi perusahaan bus-nya masih sama. Sebab kalau tetep pake bus yang ini, masuk Singapore sedikit terlambat. Betul saja, bus ini potong kompas dari Melaka ke Singapore tidak masuk Terminal Larkin (dalam Kota Johor Baru) dan masuk ke Imigrasi Malaysia yang lain. Alhamdulillah, pada tanggal 17 November malam paspor kami distempel keluar Negara Malaysia tanpa masalah.

Berikutnya masuk Imigrasi Singapore, antrian panjang tidak terelakan terjadi di beberapa jalur pemeriksaan imigrasi. Satu jam lebih kami baru dapat giliran di periksa. Oh my God, kami diperiksa dan dimintai keterangan pada ruangan lain Kantor Imigrasi Woodland. Di situ, paspor diteliti keaslian nya dan diperiksa riwayat perjalanan kami. Kami yakin, mereka pasti punya standard kerja, kalau keadaannya begini tindakannya harus begini. Itulah yang kami pikirkan, bukan berpikiran yang macam-macam. Dan kami percaya dengan apa yang kami bawa adalah legal, baik dokumen dan tujuan kami masuk Singapore.

Setelah ditanya berbagai hal, kapan pernah masuk Singapore ? tinggal di mana dan berapa lama di Singapore. Semua kami jawab dengan tenang dan jelas. Padahal, saat itu kami masuk ke Singapore cuma pegang 6 Sin$, itu pun bervariasi bawa 2 lembar uang kertas dua dollaran dan sisanya uang logam satu dollaran keluaran tahun 1988. Masih laku atau tidak, aku nggak tau. Pemeriksaan selesai, setelah atasannya lagi menelpon Bos-nya minta keputusan boleh tidaknya kami masuk Singapore. Dia dengan sopan mempersilakan kami melanjutkan perjalanan dan berkata, “Welcome to Singapore”. Terima kasih jawabku.

Kami diberi 30 hari boleh tinggal di Singapore. Ini adalah salah satu bagian untuk memecahkan persoalan kami. Ya, memang kami harus ke Singapore meski tanpa direncanakan. Soal budget, masih berada dalam koridor persediaan. Bagai main catur, harus punya strategi agar keuangan tetap cukup. Misalnya saja, yang semula harus tidur di Kualalumpur, tidurnya dipindah ke Singapore. Dan kembali ke Kualalumpur, ambil perjalanan tengah malam agar tidurnya bukan di hotel tapi tidur di atas bus. Dasarrrr traveler murahan.

Bus Smart Express  berhenti terakhir di Golden Miles, tempat pemesanan tiket bus-bus keluar Singapore. Uang yang ada hanya bisa kami belikan dua gelas besar coke di KF*, semuanya 4.6 Sin$, alhamdulillah uang logamnya berlaku. Check GPS lewat HP yang kebetulan di situ ada sinyal free wifi-nya. Tujuanku adalah Cozy Corner Hostel di Jalan North Bridge dekat Bugis Junction. Tidak begitu jauh jalan kaki santai dari Golden Miles ke Cozy Corner, kurang lebih 1 kilometer saja. Uang di dompet hanya tersisa 2 Sin$ tapi kami masih bisa tersenyum dan tidak merasa kuatir sama sekali, sebab kami percaya Allah SWT akan melindungi kami.


Check in di Cozy Corner, tapi bayarnya harus tunai nggak bisa pake credit card atau bayar pake Ringgit. Aku bilang ini sudah pukul 10 malam, tidak ada money changer yang buka. Bagaimana ? tanyaku pada petugas hostel. Kata petugas hostel, “Oke nggak pa pa, tapi paspor harus disimpan di kasir dulu dan bisa diambil ketika bayar besok pagi”. Alhamdulillah sudah ok, dia nggak tau kami sedang punya masalah, hanya bawa uang cupet dan selembar kartu kredit. Yang penting bisa tidur dulu, meski harus berhutang 50 Sin$ untuk satu kamar yang belum ada solusi bayarnya harus bagaimana. Esok paginya, jurus darurat aku terapkan. Mendatangi  salah satu ATM berlogo VISA, ada Bank OEC* yang paling dekat dengan Cozy untuk tarik tunai pake kartu kredit. Tariknya nggak banyak, hanya cukup untuk  bayar kamar, makan, balik ke Johor Baru dan keliling Singapore seharian aja. Masukan kartu, tekan PIN, pilih besarnya uang, CLING keluar tuh dua lembar Dollar Singapore dari mesin ATM. Tagihannya 40 hari lagi, kalo cuma sedikit ga pa pa daripada harus secara khusus melancong ke Singapore berdua dari Surabaya, pasti biayanya lebih gede.

Untuk stay di Singapore sudah tersolusi. Saatnya untuk explore ke salah satu ikon terbaru Negeri Kepala Singa ini, itulah Gedung Marina Bay Sands. Kami ambil MRT jalur biru dari Bugis ke Downtown. Ini adalah jalur yang paling singkat dari Bugis. Karena kunjungan kami di Singapore hanya sebentar, aku hanya beli tiket langsung di mesin tiket (tidak beli EZLink Card).  Klik-klik jurusan Downtown untuk dua orang, masukan uang kertas, dua tiket keluar dari mesin berikut uang kembaliannya. Begitu mudahnya, hightech dan cepat transaksinya.


Tiket aku tempelkan ke sensor pintu masuk, palang pintu pun terbuka. Saatnya menunggu MRT jurusan China Town. Dari Bugis, MRT hanya melewati Promenade dan Bayfront saja, kemudian tiba di Downtown. Setelah keluar station, tiketnya bisa kusimpan untuk kenang-kenangan. Melewati bagian dalam mall, keluar sedikit sudah tampak Marina Bay Sands. Aku pilih melewati pinggiran Jalan Fullerton agar seluruh bagian bagunan Marina Bay Sands bisa tampak utuh.  Ketika itu gerimis tak henti-hentinya membasahi Singapore, sehingga sedikit menghambat pergerakan kami.


Memang paling pas berada dekat Patung Singa Merlion, karena dari sini semuanya tampak jelas dan utuh, apalagi langit sudah bergerak terang. View patung kepala singa, Marina Bay Sands (tiga pilar gedung yang menopang papan selancar), Flyer Singapore, Art Science Museum yang bentuknya seperti bunga mekar dan Gedung Theatre Esplanade, semuanya berada dalam satu garis pandangan mata. Sungguh indah buah mahakarya yang berkelanjutan ini untuk dinikmati semua orang.

Meski habis hujan, banyak sekali pelancong manca negara yang melihat Ikon Singapore ini. Mereka saling berfoto, baik perorangan maupun group. Memang kalau segalanya dibuat serius, maka hasilnya sangat disenangi banyak orang, termasuk olehku. Kelihatannya sudah puas kami berada di sini, saatnya kembali ke Bugis untuk mampir di Kompleks Masjid Sultan dekat Arab Street.

Pada saat yang tepat kami tiba, azan Ashar pun baru dikumandangkan di Masjid Sultan. Ini termasuk masjid yang besar dan sudah lama berdiri di Tanah Singapore. Arsitektur bangunannya yang cantik, baik interior maupun eksterior tetap terpelihara dengan baik. Di depan pintu masuk tampak sejarah masjid ini bisa kami saksikan. Begitu juga pemandu informasi bagi tamu asing siap melayani mereka. Organisasi masjid ini kelihatannya sudah mapan dan baik, sehingga segala sesuatunya terlihat ditangani amat profesional.


Untuk masuk ke masjid ini bisa dari muka bisa juga dari belakang. Di depan dan belakang masjid berjejer restoran Muslim yang menyediakan masakan Melayu, India, Turki, Padang, Jawa Timur atau Timur Tengah. Hotel budget pun banyak terdapat di sekitar sini. Di belakang pintu masjid sangat ramai sekali dipenuhi penjual souvenir, makanan dan minuman. Semuanya ditata rapi membuat pengunjung makin betah berlama-lama di sini. Area masjid bersejarah dikemas terintegrasi sebagai tujuan ‘wisata religy’.


Hari menjelang gelap, kami bersiap mengambil bag yang kami titipkan di Cozy Corner Hostel. Sebagai bekal tubuh untuk perjalanan ke Johor, kami makan di resto yang owner-nya orang India, resto ini berada di samping hostel. Semuanya rampung, tapi anakku masih belum mau beranjak meninggalkan lobby hostel, karena masih asyik online mumpung masih ada free wifi dari hostel. Sedangkan aku sudah terlanjur angkat bag ke atas punggung untuk menuju Queen Street Terminal. Aku bilang, nanti nyusul ya ! Bapak jalan duluan ke terminal. Jarak dari hostel ke terminal sekitar 700 meteran.

Di Queen Street, sudah terbentuk antrian sepanjang 40 meteran untuk beli tiket bus jurusan Terminal Johor Sentral (atau biasa disebut Larkin). Dua puluh menitan anakku baru tiba dan kami segera masuk ke ekor antrian. Setiap bus masuk dari Johor, antrian bisa berkurang hingga sepertiganya. Begitulah seterusnya kami antri untuk mendapatkan bus berikutnya. Tiket ke Terminal Johor (Larkin) 3.3 Sin$, yang harus dibayar ketika akan naik bus. Maklumlah petang ini adalah jam pulang kantor, jadi banyak sekali calon penumpang yang akan kembali ke rumahnya di Johor.

Masuk Imigrasi di Woodland proses pemeriksaan paspor lancar-lancar saja, malah kami disambut ramah dan petugas mengucapkan selamat jalan. Memang makan waktu bila masuk keluar imigrasi kedua negara ini (Singapore – Malaysia atau sebaliknya), antriannya panjang meski jalurnya banyak. Pemeriksaannya di sini lebih detil, belum lagi harus turun naik bus dan harus antri lagi untuk mendapatkannya.

Inilah saat-saat yang menegangkan, yaitu masuk Imigrasi Malaysia di Johor. Pas giliranku, aku cuma ditanya petugas wanita, “Habis melancong ke mane saja, Pak Cik ?”. Keliling Brunei, Sarawak dan Singapore, ini kami nak ke KL untuk kembali ke Surabaya. “Ke mane saja di Serawak ?”. Mampir ke Kuching-lah, jawabku. “Saye asal dari Kuching pula”, ia menimpali. “Oke, selamat ya Pak Cik”. Same-same, kataku. Terdengar bunyi keras ‘Jedok ...’ pasporku distempel untuk masa tinggal 30 hari di Malaysia. Begitu juga paspor anakku dapat hal yang sama sepertiku. Berarti semua yang menjadi masalah kemarin sudah bisa teratasi dengan mulus, ini semua karena pertolongan Allah SWT. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah Engkau telah menguji kami dan menjadikan kami lebih waspada.

Hati senang dan plong serta tanpa cacat sedikit pun di mata imigrasi kedua negara. Sekarang saatnya menempuh sisa perjalanan dan meng-eksplor KL hingga besok sore. Akhirnya, kami tiba juga di Terminal Johor Sentral (Larkin). Ungkapan rasa syukur ada dalam hati, bisa menginjak lagi untuk yang kesekian kalinya. Kangen dengan suasana terminal, makanan dan minumannya dan kangen melihat kehidupan sekitar terminal. Hal pertama yang kami lakukan di sini adalah beli tiket bus ke KL (Terminal Pudu), aku minta yang berangkat pukul satu dini hari, agar tibanya pada saat Shubuh. Tiket ke KL oke, dapat harga 35 RM (Rp. 129.500; Kurs 1 RM =3700)

Jika kami mau, berangkat langsung dari Singapore ke KL juga bisa, tapi harga tiket busnya 35 Sin$ (Rp. 332.500; Kurs 1 Sin$=9500). Memang harga tiket dari Malaysia ke Singapore tidak sama taripnya antara pergi dan pulang. Maka dari itu kami memilih lewat Larkin aja, sebab harganya lebih murah dan bisa bernostalgia.


Acara balas dendam makan dan minum enak pun terjadi di Larkin. Ini mumpung terasa lebih murah dibanding di Singapore. Kami memilih menu yang sedikit lebih mahal untuk melengkapi kepuasan kami di hari-hari terakhir di negeri orang. Kekuatan keuangan di saat akhir traveling sudah bisa diukur jelas, jadi lebih berani sedikit longgar memakainya. Tepat sekali sesuai perkiraan, bus masuk KL (Terminal Pudu) pada saat waktu Shubuh sekitar pukul 05.30 waktu Malaysia. Semua penumpang turun di luar terminal, karena Terminal Pudu belum buka.

Singgah dulu ke rumah makan India, sekedar untuk minum coklat panas, menumpang ke toilet dan ijin nongkrong sebentar di situ. Waktu Shubuh masih ada, kami bergegas ke Mushala Terminal Pudu yang kelihatan sudah dibuka. Cuci muka dan mainkan tisu basah serta sikat gigi di tandas (toilet, bayar 30 cent RM) agar badan tetap segar untuk jelajah di hari terakhir. Aku sempat membantu pekerjaan mengepel lantai Terminal Pudu yang sifatnya iseng saja, tapi buah yang aku dapatkan dari dia (TKI asal Magelang) adalah memberi tempat untuk charge HP-ku yang batrenya sedang lemah dan dia memberi nama akun plus password free wifi buatku. Terima kasih saudaraku.

Bags kami titipkan di penitipan barang terminal, per bag besar dikenai 3 RM dan bisa diambil hingga pukul 23 malam. Menitip bag di sini lebih nyaman daripada menitip di Supermarket MYD*N, walau di MYD*N menggunakan koin tapi pelayanannya kurang baik. Pagi ini kami ingin ke Kampung Baru dengan LRT dari Station Masjid Jamek (1.5 RM). Beli tiket di mesin tiket, pencet jurusan dan masukkan uang, keluarlah tiket berupa koin. Sebelumnya, bukan tiket koin tapi kartu. Caranya, tempelkan koin pada sensor pintu masuk hingga palang pintu terbuka. Setelah tiba di tujuan, masukkan koin tersebut pada lubang mesin sensor, maka palang pintu terbuka. Easy toh .... Dan ini websitenya LRT KL http://www.myrapid.com.my/tickets-fares/lrt-monorail

Yang turun di Kampung Baru hanya kami berdua, station nya sepi sekali. Masuk di Kampung baru suasananya biasa saja, namun banyak yang menjual makanan, kudapan dan minuman khas Melayu. Kami sempat menanyakan di mana letak Kampung Baru yang sesungguhnya ? Kok tidak sesuai dengan informasi yang pernah aku baca sebelumnya. “Ya ini Kampung Baru, memang rumah-rumah asli banyak yang sudah dirobohkan dan diganti dengan gedung yang modern”. Kini, hanya ada beberapa buah rumah asli tradisional Malaysia yang tersisa. Perkampungan warga ini, letaknya ada di tengah kota dekat dengan Menara Petronas.


Ya sudahlah, sudah terlanjur ke sini. Kami mampir ke Kedai Nasi Lemak Antar Bangsa, nasi lemak di sini sudah terkenal di mana-mana. Dua porsi sudah aku habiskan (@ 4 RM + Tea Ais 1.5 RM), mau makan jajanan khas Malaysia perut kayaknya sudah tidak sanggup lagi untuk diisi. Kami pun beranjak dari tempat ini sambil melihat-lihat rumah asli di Kampung Baru yang masih tersisa. Satu jepretan kamera aku buat dengan background rumah tradisional berdampingan di belakangnya Menara Petronas. Kontras antara peninggalan masa lalu dengan modernisasi.


Kembali ke Station Kampung Baru menuju KLCC ‘Petronas’ (1 RM), baru saja naik LRT sudah ada announcement kalau sudah tiba di KLCC. Tidak ada station yang dilalui dari Kampung Baru ke KLCC. Sebenarnya kesini sudah bosan, karena sudah puluhan kali. Ke sini cuma sekedar ingin melihat barangkali ada perubahan yang berarti. Ternyata masih sama seperti dulu, ‘Engkau masih seperti yang dulu, menunggguku sampai akhir hidupmu”. Ungkapan yang pas buat Area KLCC yang belum ada perubahan sama sekali. Sempat makan dan minum di food court lantai atas, setelah itu cabut mencoba Bus Gratis ‘GO KL’ Line Ungu tapi rute yang dipakai adalah Line Hijau sbb :


KLCC, Suria Mall, Malaysia Philharmonic, Convention Centre, Aquaria, Wisma BSN, MaTiC, Concorde Hotel,  Hap Seng Tower, The Weld,  Wisma Lim Foo Yong, Pavillion, Starhill Gallery, Bukit Bintang, Raja Chulan Tower, Wisma Rohas, City Bank, Menara Atlan.

Yang naik bus ini, bukan cuma turis aja.  Masyarakat lokal juga menggunakan bus gratis ini. Bus yang gratis, nyaman, free wifi sepanjang rute dan sangat membantu pelancong untuk bergerak dari spot yang satu ke spot yang lain. Terima kasih GO KL.

Lihat waktu di HP sudah hampir petang, kami harus cepat-cepat kembali ke daerah Pudu. Yang paling praktis dan cepat tetep pake LRT, KLCC ke Masjid Jamek (1.6 RM). Cukup jalan kaki saja untuk menuju Supermarket MYD*N dari Masjid Jamek, ini salah satu tempat langgananku mencari berbagai kebutuhan oleh-oleh. Supaya lebih simple dan tidak overweight bawaan ke atas kabin, kami hanya membeli aneka coklat sebagai buah tangan untuk para tetangga dan sahabat. Ada sisa uang 250 RM (hampir 1 juta Rp), semua kami belanjakan untuk coklat. Masih ada sisa lagi 175 RM, ini untuk bus dari Pudu ke KLIA2 (@ 12 RM). Jadi praktis masih tersisa uang 150 RM (550 Rp), lumayan sebagai pengganti tarik tunai di Singapore. Itulah cara kami menggunakan budget dengan bijak. Biar sedikit pahit di awal tapi manis di akhir traveling, dan sisanya bisa buat oleh-oleh biar semuanya kebagian.




KLIA2 to T2 SURABAYA (TIKET KE-4)

Kami tidak mau ambil resiko terlambat ke KLIA2 untuk kembali ke Surabaya. Ambil Bus Star Shuttle (12 RM) pemberangkatan pukul 16:00 dan tiba di KLIA2 sekitar pukul 17:25 Waktu Malaysia. Kupikir aman,  sudah ada di KLIA2 tinggal menunggu counter check in buka. Karena masih ada waktu menjelang check in, kami mengelilingi Terminal KLIA2 yang masih baru ini. Banyak view yang bagus di kanan kiri terminal memandangi hiruk pikuk operasional Bandara.


Tampak di layar monitor pemberangkatan, check in tujuan ke Surabaya sudah dibuka. Semuanya tidak ada masalah berjalan sangat lancar, kami pun bisa istirahat sejenak sebelum beranjak ke step berikutnya. Lewat imigrasi juga lancar, berarti caraku ke Singapore memecahkan masalah keimigrasian kemarin itu BERHASIL MULUS.

Step terakhir pemeriksaan barang bawaan ada di bawah scanner berjalan. Di sini sedikit ada masalah yang tidak pernah kami duga sebelumnya. Ceritanya begini, pada saat menuju ke ruang tunggu pelepasan terakhir menuju pesawat, semua calon penumpang dan bawaannya harus discreening. Kalau tubuh kami berdua sudah bebas dari deteksi dan diperkenankan masuk, namun bag anakku yang diduga ada masalah. Pada layar scanner, tampak bungkusan persegi berwarna hitam. Bag discreening lagi, lalu petugas bea cukai menanyakan kepada kami, “Apa itu ?”. Saya tidak tau, jawab  anakku. “Coba buka bag nya”. Sebagian isi bag dikeluarkan dan di scan lagi. Pada layar masih tampak benda mencurigakan tadi. Lalu isi bag dikeluarkan lagi, pakaian bekas pakai, pakaian dalam yang belum dicuci dan benda-benda traveling lainnya tampak jelas dilihat mata. Belum lagi bau nya, pasti menyengat karena belum dicuci. Gulungan sebesar jempol berwarna putih pun dia tanya, "Kalau yang ini apa ?". Ini adalah (anakku hanya memperagakan dua tangannya bergerak-gerak di depan paha membentuk gerakan segitiga). Sebenarnya itu adalah gulungan celana dalam habis pakai buang. Rasain loe, gue kerjain. Kemarin loe ngerjain paspor gue, sekarang giliran loe. Hhe

Tapi yang menenangkan hati kami, adalah banyaknya oleh-oleh yang kami bawa, aneka coklat. Kebetulan benda yang mencurigakan itu ada di ujung bawah ransel kami. Setelah diambil dan di scan, warna gelap sudah tidak tampak lagi. “Coba buka itu !”, perintah petugas. Kami baru ingat kalau di dalam bungkusan plastik itu adalah hiasan magnet yang kami beli di Brunei. Setelah kami buka, mereka ‘petugas’ merasa kecewa, mungkin saja mereka merasa dikerjai oleh kami. Sedikit mencibir kecewa, akhirnya kami diperkenankan melanjutkan langkah berikutnya masuk ke ruang tunggu.


Intinya, jangan pernah coba-coba membawa barang yang dilarang ke atas pesawat karena resikonya kita tidak tau mungkin saja bisa fatal. Misalnya bawa pisau dapur yang tumpul, meski itu untuk dipakai di dapur, tapi urusan bisa jadi serius karena itu benda tajam. Di saat-saat terakhir ada saja ujian yang kami hadapi, tapi Alhamdulillah lulus semua. Dengan begitu, kami menjadi lebih matang dan lebih pengalaman menghadapi masalah untuk traveling berikutnya.

Barang bawaanku dalam bag meski tidak terlalu besar tapi beratnya melebihi 7 Kg, berarti tidak sesuai dengan ketentuan. Kami tau, di ruang tunggu biasanya ada petugas yang memeriksa barang bawaan dan diangkat-angkat (ditimbang-timbang) beratnya. Kalau mulai masuk meski barangnya besar, biasanya dibiarkan ‘sedikit dijebak’, tapi ketika di ruang tunggu mau naik pesawat di situ ada petugas lagi yang khusus memeriksa overweight. Kalau sudah kena begini, urusannya jadi mahal. Harus bayar overweight per kilo yang taripnya tidak seperti pesan bagasi biasa.

Calon penumpang sudah banyak memenuhi ruang tunggu khusus flight ke Surabaya, tapi kami duduk-duduk di luar saja kuatir diperiksa overweight. Sesekali aku masuk ke dalam barangkali ada pemeriksaan boarding pass tiap calon penumpang, sedangkan anakku menjaga bags di luar sambil ngenet. Ketika semua calon penumpang diminta naik pesawat, baru kami masuk ke dalam antrian yang sedikit berdesakan antara orang dan barang bawaan. Sampailah kami di tempat duduk masing-masing di dalam pesawat. Tindakan kami tadi sama sekali tidak membahayakan penerbangan, cuma membawa barang ‘sedikit lebih berat’ (? Kg) dari yang ditentukan. Maklum kami traveler murahan.

Di sebelahku, adalah warga negara Malaysia yang akan ke Blitar. Aku tanya kepadanya, pake apa ke Blitar ?. Dia bilang, “Saye sewa mobil bertiga bersame family”. Aku bilang kalau aku tujuan Malang dan menawarkan kepadanya, bagaimana kalau kami sharing (patungan) ? Kami mau bayar 150 Ribu berdua. Aku yakinkan mereka, kalau rumah kami berada di kota bukan menyimpang lagi ke luar Kota Malang. Alhamdulillah mereka setuju, alhasil kami jadi ber-lima di dalam mobil Ava*sa itu. Proses sharing ini tidak diketahui oleh driver karena kami pakai cara ‘silent moving’, jadi terlihat seperti keluarga atau teman dari Malaysia.

Kami tau, kalau di T2 Bandara Juanda Surabaya pada tengah malam agak sulit mendapatkan travel ke Malang. Apalagi baru tiga hari lalu, pemerintah menaikkan harga BBM menjadi 8500, pasti travel ke Malang yang semula 80 Ribu bisa jadi 90 atau 100 Ribu.

Alhamdulillah semua berjalan lancar, diberi kemudahan, kesehatan, panjang umur, kuat phisik dan semoga membawa manfaat bagi kami dan semua orang yang membaca blog ini. Peluk cium dari isteriku tercinta pun mendarat di pipiku dan anakku karena kangen dua minggu tidak berjumpa.


Copyright© by RUSDI ZULKARNAIN 
email  : alsatopass@gmail.com 

Falsafah hidup : Tampil apa adanya seperti bumi, tidak perlu pencitraan diri berlebihan yang akan memakan waktu, biaya dan penuh kepalsuan. Lihatlah dunia, nikmati dan renungkan, niscaya rasa syukur kita kepadaNya akan lebih dalam. Next ... sumbangkan pikiran & tenaga kita untuk kemajuan INDONESIA. by - rusdi z -

3 comments:

Noe TibiaMe said...

Telas pinten niku om biayane sedaya..

seratusnegara said...

Noe yth,

biasanya, kmi hampir ga pernah lbh dari 5Jt (All in).

cheers,
rusdi

Qumay said...

Lengkap sekali ceritanya pak, sangat bermanfaat bagi yang ingin traveling ke Malaysia dan Brunei. Mudah2an niat bpk dan keluarga untuk sholat di 1000 masjid di dunia cepat tercapai... Aminnn