BERAMAL LEWAT TULISAN

Jumat, 02 Oktober 2015

SURGA DUNIA, KARIMUN JAWA (1)



Setelah eksplor Surakarta, Wonogiri dan Museum Kereta Api Ambarawa. Sore hari, setelah ngopi-ngopi, aku dan dua orang sepupuku main ke Kali Garang di kaki Gunung Ungaran. Dulu, mungkin lima belas tahun yang lalu suasana sekitar Kali Garang sangat alami. Namun sekarang, keadaannya sungguh berbeda. Hunian ada di mana-mana. Suasana hawa segarnya sudah jauh berkurang dibanding sebelumnya. Sekarang terasa panas, mandi pun berani kapan saja. 


JELAJAH KE CANDI GEDONG SONGO

Batu-batu yang menghiasi aliran Kali Garang sudah jauh berkurang jumlahnya. Dulu belum ada jembatan permanen dan jalanan masih tanah. Ya, originalitas dan keasriannya sudah tidak seperti dulu lagi. Padahal Kali Garang ini sangat penting keberadaannya sebagai sumber kehidupan warga sekitarnya. Kali ini alirannya sampai ke Kota Semarang.

Ke Kali Garang hanya acara nostalgia, karena dulu aku sering mandi di sini. Esok harinya, sebelum meluncur ke Semarang, aku bersama adik sepupuku jelajahi Candi Gedong Songo '9 candi'. Lokasinya dekat Bandungan, 25 km dari Ungaran. Kami ke sana pakai sepeda motor biar cepat manuvernya.

Ada angkutan umum menuju Candi Gedong Songo, dari Babatan Ungaran - Bandungan atau pernah aku lihat ada angkutan yang lewat Bandungan – Sumowono - Ambarawa. Perlu pakai jasa ojek untuk sampai ke pintu masuk Candi Gedong Songo. Kalau sudah tiba di kawasan candi, suasananya sangat berbeda. Maksudnya luar biasa keindahannya. Karena letaknya di dataran yang tinggi, di sekelilingnya tampak jelas hamparan pemandangan pegunungan seperti Gunung Merapi, Sindoro, Sumbing dan Bukit Telemoyo. Senangnya, kawasan Candi Gedong Songo ini sudah teratur baik pengelolaannya, bersih dan terawat.



Inilah candi-candi Hindu warisan pendahulu kita sejak abad ke sembilan yang masih bisa disaksikan hingga kini. Lokasinya berada di kaki Gunung Ungaran pada sisi yang berbeda. Tepatnya hanya beberapa kilometer dari pusat (pasar) Kecamatan Bandungan. Candi Gedong Songo berada dalam satu kawasan yang luas antara yang satu dengan yang lain.



Menuju Candi Gedong Songo jalannya menanjak terus dan berkelok-kelok. Kebetulan saja aku datang masih terlalu pagi, jadi loketnya belum buka. Lokasi candi terpisah-pisah yang jumlahnya Sembilan buah, ada yang berada di bukit sana dan ada di bukit lainnya.

Lumayan juga ke kawasan ini karena cukup menguras tenaga. Kalau mau ke sini sebaiknya bawa air minum, tubuh dalam kondisi fit dan bawa jaket. Kalau tidak kuat, bisa sewa kuda yang taripnya sesuai syarat berlaku.

Sebelum pukul Sembilan pagi, kami meninggalkan kawasan Candi Gedong Songo melewati jalan yang sama. Di Bandungan banyak hotel, penginapan dan karaoke yang keberadaannya ada nilai plus minusnya bagi masyarakat.

Ada tempat wisata lainnya yang cukup lagi naik daun, yaitu Umbul Sidomukti. Kami berdua harus cepat pulang ke Ungaran, karena masing-masing punya urusan. Kembali ke Ungaran, jalannya yang semula naik terus kini kebalikannya, terus menurun.


JELAJAH KE KOTA TUA SEMARANG

Tepat pukul sepuluh pagi, aku pamit pada keluarga budeku untuk meninggalkan Ungaran. Dari rumah, aku cukup naik angkot ke Terminal Ungaran dekat alun-alun (3K). Di situ sudah menunggu Bus Trans Semarang Koridor II, jurusan Ungaran – Pemuda - Terminal Terboyo Semarang.



Bus Trans Semarang mirip Bus TransJakarta, tapi yang ini lebih kecil hanya seukuran metromini. Tidak ada jalur khusus seperti busway tapi tetap ada halte khususnya. Ongkosnya 3,5K dan bisa transfer sekali saja tanpa harus bayar lagi. Aku turun di halte depan SMU 5 dekat Lawang Sewu.

Teman sekerja dulu menjemputku dan langsung menuju Masjid Agung Jawa Tengah. Kami tiba bertepatan dengan berkumandangnya adzan Jumat. Mendengarkan khutbah dan Shalat Jumat di masjid terbesar, termegah dan sangat artistik di Jawa Tengah ini membuat diri terasa kecil. Namun kesejukan jiwa semakin bertambah besar. Selepas Shalat Jumat, kami semua melaksanakan Shalat Ghaib buat para korban wafat peristiwa robohnya crane di Makkah.

Maklum, aku datang dari tempat yang jauh dan baru sekali melihat dan shalat di masjid ini. Makanya aku tidak lewatkan kesempatan ini untuk mendokumentasikannya.

Selanjutnya, temanku mentraktir makan di Rumah Makan Padang dan singgah sebentar ke rumahnya. Karena aku tidak mau mengganggu waktu kerjanya, aku pamit dan minta didrop di Lawang Sewu. Terima kasih teman atas segala kebaikanmu.

Kini, aku masuk ke Lawang Sewu (10K) yang artinya pintu seribu. Itu adalah gedung besar bekas kantor kereta api masa kolonial. Sekarang dibuat museum untuk umum. Gedung dan sekitarannya saja yang tampak bagus, namun kontennya perlu dilengkapi dan harus ditingkatkan lagi.


Yang punya hobi photograpy tentu tidak akan melewatkan momen ini untuk mengambil gambar terbaiknya. Dan bagi yang sedikit takut masuk ke dalam gedung ini pastinya ada perasaan merinding menghantuinya. Menurutku, di siang hari suasananya biasa saja, tapi tidak tahu lagi kalau melihat  bagian lain di malam hari ?

Yang perlu dilengkapi di sini adalah tempat penitipan barang yang belum tersedia. Terjadi padaku, membawa barang yang sedikit berat dan besar harus ditaruh begitu saja sambil bilang pada sekuriti, "Pak, saya titip barang di sini ya ?."



Puas di Lawang Sewu, aku bergeser ke Gereja Blenduk di kawasan Semarang kota lama. Kebetulan di situ sedang sibuk mempersiapkan acara Festival Kota Tua selama tiga hari.  Gerejanya masih dalam kondisi baik, terawat dan masih dipakai hingga kini.


Sedikit saja berjalan dari sini, aku sudah sampai di depan Stasiun Kereta Api Tawang. Hampir sama suasananya, yaitu nuansa kota tua. Serasa berada di masa kolonial tempo dulu.

STASIUN KA TAWANG, SEMARANG

PERSIAPAN MENUJU KARIMUN JAWA

Sedikit antri aku menunggu Bus Trans Semarang menuju Terminal Bus Terboyo yang berada di bagian timur kota Semarang. Rupanya, macet di sore hari ketika jam pulang kantor dan anak sekolah sudah biasa terjadi.

Ketika itu pkl 18.30, bus ke jepara sudah tidak ada lagi di dalam terminal. Kata petugas terminal, "Bus ke jepara setelah pukul lima sore adanya di depan pintu keluar terminal." Akhirnya aku ditolong oleh petugas menuju pintu keluar terminal dengan sepeda motornya.
Bus ke Jepara sebentar lagi siap berangkat dan bus terakhir masih ada sampai pukul 19.30 saja (15K). Di malam hari, bus di dalam terminal yang ada adalah bus jurusan Semarang – Solo (24 jam, 20K), Semarang – Surabaya Bungurasih  yang biasa (24 jam, 55K) dan yang patas sampai pukul 22.00 saja.

Bus ke Jepara melewati Demak, tapi jalannya sedikit tersendat  karena ada pengecoran jalan hingga separuhnya. Otomatis, aku tiba di jepara agak telat. Penumpang yang tersisa hanya aku, dan bus tidak sampai terminal.

Bus tiba di Kota Jepara sekitar pukul Sembilan malam. Aku diturunkan dekat alun-alun kota. Tidak langsung menuju pelabuhan, aku putar-putar dulu di sekitaran alun-alun dan mampir di Masjid Agung, depan Museum Kartini dan Kantor Bupati.




Di alun-alun banyak orang berjualan dan ada hiburan aneka macam odong-odong berlampu hias. Di situ aku cuma beli es teh dan ambil uang di ATM agar cukup buat di Karimun.
Akhirnya, aku menemukan tempat makan dan pesan es teh plus mie bihun kuah (12K). Lalu hampiri abang beca menuju ke Pelabuhan Kartini yang jaraknya sekitar tiga kiloan.

Yang kutahu dari internet, ongkos beca cuma 10 ribuan tapi ini minta 30K. Akh mudah saja bagiku untuk menurunkan taripnya. Ajak ngobrol pake jurus sok akrab dan kekeluargaan. Akhirnya, mahal sedikit tidak apa-apa untuk menghargai profesinya (20K).  Mas Solihin namanya, bapak asal Demak yang pulang seminggu sekali ke kampungnya. Banyak cerita yang ia sampaikan dengan penuh canda. "Pak, ongkos 20 ribu ini akan saya tulis lho di internet, biar teman-teman saya tahu itu harga baru di malam hari." "Iya tidak apa-apa Pak emang segitu kok, kalau malam bahkan bisa lebih" katanya. Memang kalau dari alun-alun ongkosnya lebih mahal dibanding dari terminal.

Dalam kegelapan malam aku tiba di depan salah satu homestay di dalam kawasan Pelabuhan Kartini (100K plus air mineral 600 ml dan krim anti nyamuk). Di kawasan ini bnyak hotel dan homestay sebagai tempat transit berangkat/tiba naik ferry.
Tarip hotel / homestay bervariasi, 100-250K. Tinggal pilih mana yang kita suka. Kuatir bangun kesiangan, aku segera berangkat ke peraduan.

Pukul empat pagi aku sudah bangun dan siap beli tiket ferry pada pukul 5.30. Ada sedikit antrian di muka loket. Beri nama dan umur berikut uang 59K, tiket aku terima tanpa hambatan apa pun.

Kebetulan ada penjual sate ayam yang mangkal di muka pelabuhan. Untuk mengganjal perut di pagi hari, aku pesan satu porsi sate plus lontong pada Mas Mulyadi, pria asal Madura itu (10K).




Saatnya kembali ke homestay untuk bersiap mandi dan menata barang bawaan. Untuk persediaan di atas ferry, kubeli air mineral kemasan besar (6K). Suara nyaring  bel terakhir ferry sudah berbunyi, berarti 30 menit lagi ferry siap berlabuh meninggalkan Pelabuhan Kartini.

Tidak setiap hari ferry berangkat ke karimun. Itu semua tergantung cuaca, kalau sedang bersahabat ya berangkat, kalau tidak ya ditunda keberangkatannya. Berikut jadwal tetapnya 




     Copyright© by RUSDI ZULKARNAIN 


Tidak ada komentar: