BERAMAL LEWAT TULISAN

Jumat, 02 Oktober 2015

SURGA DUNIA, KARIMUN JAWA (2)



Beruntung sabtu pagi ini ferry dinyatakan boleh berlayar ke Karimun. Karena sejak kamis kemarin tidak ada pelayaran yang diijinkan beroperasi karena cuaca buruk. Banyak calon penumpang terpaksa harus menginap di beberapa homestay pelabuhan menunggu kepastian berangkat.

Akhirnya, tepat pukul tujuh pagi ferry Siginjai meninggalkan dermaga Pelabuhan Kartini. Tiga jam pertama ferry berjalan nyaris tanpa guncangan dan dua jam terakhir baru ada guncangan yang lumayan terasa.


DARI PANTAI KARTINI ke KARIMUN JAWA

Tepat lima jam, ferry Siginjai (sebelumnya Muria) merapat di dermaga Karimun Jawa, hampir berbarengan tibanya dengan Kapal Cepat Express Bahari di dermaga sebelahnya. Penumpang, barang dagangan, kendaraan roda dua/roda empat dan truk keluar satu per satu. Ada juga para penumpang yang dijemput oleh keluarga atau dijemput oleh operator tour.

Aku jalan kaki menuju 'kota' Karimun Jawa yang kecil mungil. Banyak juga yang melakukan sepertiku, baik turis domestik maupun asing. Ketika jalan menuju kota, aku berkenalan dengan empat orang anak muda dari Yogja. Aku berbicara pada yang paling senior, Mas Inung 'Manunggal' namanya. Dia bertanya padaku, "Bapak sudah dapat penginapan ?" Belum jawabku. "Bareng saya aja Pak, nanti Bapak bisa stay di sebelah rumah kenalan saya". Ok kataku.

Mas Inung memang sudah beberapa kali ke karimun dan selalu tinggal dikenalannya itu. Lokasinya berjarak tujuh ratus meter dari pelabuhan atau tegak lurus jalannya dengan alun-alun.

Aku stay di homestay ‘Salami’ tepat di sebelah rumah Mas Inung tinggal. Sekamar aku dapat 80K per malam, dengan fasilitas TV flat, AC, dapur, tempat shalat dan ruang tamu. Kamarnya yang besar plus dua bed menjadi sangat murah kalau ditanggung dua orang. Jadi suasananya seperti hidup di rumah sendiri. Aku ambil tiga malam stay di situ. Kalau mau teh atau kopi tinggal bikin sendiri di dapur. Dan kalau mau makan, tinggal jalan kaki ke alun-alun (malam hari), ke pasar (pagi hari) atau ke tetangga sekitar. Kalau mau makan setiap saat, bisa datang ke Warung Ester dekat ujung selatan alun-alun (s/d sembilan malam).



Sepintas tentang kota mini Karimun dilengkapi pom bensin (kondisi rusak), kecamatan, sekolah, masjid, pasar, ktr pos, sebuah ATM bersama, Telkom (ada Wifi corner), Koramil, Polsek dan Bandara kecil Dewandaru (dilayani Susi Air).

Ada beberapa resort dikelola oleh orang asing yang lokasinya sedikit terpencil. Penduduk asli Karimun mayoritas dihuni oleh suku Jawa, Madura dan Sulawesi. Di sini, ada dua puluh tujuh pulau dan hanya lima pulau yang berpenghuni.

Menuju ke Karimun Jawa bisa datang sendiri atau pesan melalui tour travel. Kalau datang sendiri, hampir semuanya dilakukan secara mandiri. Atau bisa saja bergabung dengan tour ketika tiba di Karimun. Bagi yang sebelumnya pesan tour travel, biasa semuanya diurus oleh travel. Mulai dari pemberangkatan di Pelabuhan Kartini, penjemputan di Karimun, homestay dan tur harian sampai kembali lagi ke Jepara. Ingin sewa sepeda motor untuk mengelilingi Pulau Karimun juga bisa. Per hari harga sewanya 70K tanpa bensin (bensin per liter eceran 11K). Silakan pilih yang mana, tentu setiap pilihan harganya berbeda-beda.



SUNSET DI BUKIT JOKO TUWO

Cuma istirahat sebentar, aku bersama rekan asal Yogja yang lain menuju Bukit Joko Tuwo untuk lihat sunset (matahari terbenam). Masuknya bayar 10K. Letaknya tidak begitu jauh dari homestay-ku. Di situ banyak pohon mente yang buahnya dibiarkan berjatuhan begitu saja. Di beberapa kios sekitaran alun-alun atau pasar banyak yang jual biji mente kupasan siap digoreng. Kini hampir semua spot di Karimun Jawa mulai harus bayar, seperti ke Pulau Menjangan (10K), Mangrove, Joko Tuwo (10K) atau lihat penangkaran hiu (25K).



Spot Joko Tuwo tergolong baru dan melihat sunset dari sini sekitaran 25 orang saja. Tempatnya juga masih seadanya saja. Di situ terdapat kerangka ikan paus yang cukup besar. Pemandangan kota, pelabuhan dan hamparan laut sangat indah dilihat dari atas sini.
Di sini, hanya bisa menyaksikan sunset saja dan setelah langit gelap sudah tidak ada apa-apa lagi yang bisa dilihat. Sebelum gelap datang, kami harus cepat-cepat turun karena treknya sudah tidak kelihatan lagi.

Habis Maghrib, lampu-lampu sudah menyala semua. Karena di Karimun listrik menyala hanya duabelas jam saja, dari 18.00-06.00 dan selebihnya tidak ada listrik lagi. Oleh sebab itu banyak warga yang memiliki genset sendiri untuk memenuhi kebutuhan listrik di siang hari.



Pusat keramaian di malam hari hanya ada di alun-alun saja sampai pukul sepuluh malam. Keramaian yang lain ada di café-cafe yang banyak tersebar di Karimun, namun tingkat keramaiannya di bawah alun-alun. Di Alun-alun dominan menjual ikan, udang, kerang dan cumi-cumi bakar (s/d 50K). Selain itu ada bakso dan aneka minuman yang panas, dingin atau juice buah.


SNORKELING DI P. CILIK dan P. GOSONG

Besoknya, sekitar pukul delapan pagi, kami ber-sembilan plus tiga orang kru menuju Pulau Cilik, Pulau Gosong dan penangkaran hiu. Sebelum berangkat, kami memilih sepatu kaki katak yang pas dengan ukuran kakiku, membawa perlengkapan snorkeling dan pelampung.

Untuk tur ini, masing-masing dari kami membayar 150K sudah termasuk makan siang di Pulau Cilik. Kurang dari dua jam, perahu motor membawa kami ke Pulau Cilik di bagian Timur Pulau Karimun Berenang sepuasnya dekat dermaga dan snorkeling melihat keindahan alam bawah laut. Selanjutnya masing-masing menyelam sambil narsis dalam berbagai gaya. Pada waktu menyelam, ikan-ikan hias yang indah ikut menemani kami berfoto ria. Kadang-kadang, wajah kami ditutupi oleh ikan-ikan nakal.

Puas sudah snorkeling di Pulau Cilik. Saatnya menunggu matangnya puluhan ikan yang sedang dibakar untuk santapan siang hari. Di Pulau Cilik terdapat homestay yang jumlahnya mugkin hanya empat buah saja. Biasanya, pelancong paket tour singgah di homestay tersebut. Sebelum melanjutkan aktivitas selanjutnya, semua peserta dan kru beristirahat selama satu jam.



Persiapan berikutnya adalah ke Pulau Gosong, yaitu pulau karang yang sudah tenggelam. Namun dalamnya hanya sedengkul saja. Di sekeliling atol ini kami snorkeling lagi dan narsis bersama. Kami senang dengan kesabaran, keramahan dan candanya para kru selama mendampingi kami di Karimun.



Hari sudah menjelang senja, boat mampir di penangkaran hiu. Di sini ada peraturan yang kurang jelas, boleh dikatakan sedikit ada 'jebakan'. Kalau turun dari boat ke dermaga untuk ke toilet atau apa pun, nanti dikenakan biaya 25K. Kalau mau lihat hiu silakan, bayarnya per orang 25K atau jangan turun sama sekali meski toilet sekali pun.



Tour laut bagian timur Pulau Karimun sudah selesai, tinggal istirahat dan merelakskan tubuh yang sudah eksplor seharian.


SNORKELING DI P. CEMARA KECIL, P. CEMARA BESAR dan P. MENJANGAN

Keesokan harinya rencana eksplor laut bagian barat. Pesertanya hanya 5 orang saja. Pagi-pagi sekali, aku ke pasar cari sarapan. Di situ santap bubur ayam (8K) dan minum jamu beras kencur plus air jahe (2K). Dan di homestay masih aku sempatkan buat kopi panas.

Seperti kemarin, peralatan snorkeling kami siapkan. Dan tepat pukul delapan pagi kami ber-lima plus tiga orang kru siap mengarungi lautan Karimun.
Pertama, ke Pulau Cemara Kecil, ke Pulau Cemara besar dan ke Pulau Menjangan. Semuanya berenang, snorkeling dan menikmati berjalan di atas karang dan pasir yang luas terendam sedikit air laut. Dari boat tingginya hanya sepinggang, kemudian menuju ke pantai yang semakin dangkal.



Seperti biasa di tengah hari, teman seperjalanan asal Yogja yang dimotori Mas Inung membawa sendiri bekal dari rumah penginapannya. Nasi goreng menunya. Terasa nikmat makan bersama walau yang ada cuma sederhana. Kalau perut sudah terasa kenyang, kini mata yang ngantuk tidak mau kompromi. Terpaksa tidur leyeh-leyeh di atas tikar tepi pantai beratap langit biru disertai deburan ombak dan angin laut sepoi-sepoi.

Kemudian boat meluncur ke Pulau Cemara besar untuk snorkeling. Di sini, ikan hiasnya lebih banyak dari sebelumnya. Tidak di permukaan atau di bawah laut, selalu ada ikan yang bermain-main dengan kami. Gemes rasanya melihat ikan-ikan ini yang sulit ditangkap meski sudah ada di depan mata.

Ketika menuju pulau lain, Pulau Menjangan. Tampak sekumpulan burung camar bermain-main dengan ikan tongkol di permukaan laut. Kontan saja, para kru mengambil alat pancing sederhana dengan umpan bulu ayam saja. Boat memutari kumpulan tongkol dan mulai memainkan alat pancingnya. Usahanya tidak sia-sia, kami dapat seekor ikan tongkol besar.

Akhirnya tiba juga Pulau Menjangan. Di sini masuknya bayar tiket 10K. Kebetulan di situ ada tiga cewek bule  sedang main voly pantai yang hanya berbikini sangat minim. Kami pun bergabung main bersama mereka, sehingga suasananya semakin seru. Di sini, terdapat beberapa buah bungalaw yang taripnya sekitar 350K. Aku mencoba pesen segelas kopi instan, harganya 8K.

Proses sunset hampir tiba. Kami merapat ke pantai yang lebih ujung untuk mrnyaksikannya. Sungguh luar biasa sunset di Pulau Menjangan ini, sempurna. Berbagai gaya narsir kami lakukan hingga waktu maghrib tiba.

Boat kembali dalam gelap. Semuanya puas meski kecapaian. Begitu merapat, aku memisahkan diri utk makan malam di Depot Ester dekat pelabuhan nelayan (10K - 15K).


     Copyright© by RUSDI ZULKARNAIN 

Tidak ada komentar: