BERAMAL LEWAT TULISAN

Selasa, 05 April 2016

CATATAN PERJALANAN ANAK dan BAPAK ke SRI LANKA (Episode-1)


Alhamsa Dian Zulkarnain  dan Rusdi Zulkarnain


Inilah aktivitas untuk menguji kekompakan antara 'Anak dan Bapaknya' yang kukemas dalam sebuah petualangan. Apa yang terjadi selama petualangan ? Cekidot .... Dan akan aku evaluasi hasilnya


HARI PERTAMA, Sabtu 19 Maret 2016

Setelah mengantar istri berangkat ke Surabaya yang take off pukul 16.15 dari KLIA2. Kini giliran kami berdua mengurus check in menuju Colombo Sri lanka pada pukul 21.05 Waktu Malaysia.

Tidak kusangka 80% penumpangnya semua asal China dan bule yang akan liburan di Sri lanka. Sisanya, warga Sri lanka yang hendak pulang kampung dan kami sendiri satu-satunya Warga Negara Indonesia yang ada dalam penerbangan itu.

Pesawat kami mendarat mulus on time di Bandaranaike International Airport 'BIA' di Katunayake Negombo pada pukul 22.00 waktu Sri lanka. Penerbangan selama 3 jam 55 menit dari KLIA2 Kualalumpur ke Colombo (Katunayake) tanpa hambatan. Perbedaan waktu dengan Indonesia Bagian Barat adalah 1 1/2 jam.

Sekilas tentang Sri lanka dengan ibukotanya Colombo. Negara ini berada di tenggara India dan berbatasan dengan Maldives. Nama lain Sri lanka, dulu sering disebut Ceylon, Lankadwipa atau biasa disebut Lanka saja. Inilah negara pertama yang memiliki kepala negara seorang wanita, Bandaranaike. Saat ini namanya diabadikan untuk sebuah Bandara utama negara ini, BIA 'Bandaranaike International Airport'.

Sebuah pulau seperti hanya sekepalan tangan manusia itu, mayoritas penduduknya beragama Budha. Sisanya Hindu, Muslim dan Kristen.

Bahasa sehari-hari yang digunakan adalah Sinhala. Tetapi kemampuan berbahasa Inggris warganya cukup baik dan ada di semua strata masyarakatnya.

Perawakan dan warna kulit gelap yang mirip dengan India, itu yang menjadi cirinya. Ya, tanda respek kepada kita adalah menggoyang-goyangkan kepalanya. Sama dengan apa yang dilakukan India. Kini, warganya kompak membangun negara setelah beberapa lama mengalami perang saudara.

Dulu, ketika pesawat udara masih model lama. Kalau dari Barat ke Timur tengah misalnya, pesawat harus isi bahan bakar di Colombo atau di Bombay. Kini, meski pun pesawat udara sudah bisa terbang non stop tetapi Bandara Colombo masih dipandang sangat strategis untuk penerbangan dunia.

Ada yang menarik dari suasana Bandara BIA ini, sederhana seperti Bandara Juanda sepuluh tahun yang lalu. Tetapi kerja petugas imigrasinya cepat. Tanpa melihat visaku, paspor sudah selesai distempel dan ditempel sticker visa kecil.

Begitu keluar dari pemeriksaan imigrasi, tampak gerai-gerai menjual peralatan elektronik seperti mesin cuci dan kulkas. Jadi di airport yang dijual adalah barang-barang seperti itu, bukan seperti bandara-bandara yang lain. Cukup menggelitik hati.

Aku tukar uang AUD Dollar Australia menjadi Rupee Sri lanka 'LKR' atau 'Rupee'. Waktu itu 1 AUD dapat 106.2 LKR. Beruntung aku bawa AUD bekas persiapan ke Perth yang gagal itu karena visa ditolak. Jadi dapatnya lebih banyak ketimbang kujual AUD lalu dibelikan USD dan ditukar LKR di Sri lanka. Jangan kuatir dengan money changer. Di sini sangat banyak dan rate-nya sama yang satu dengan lainnya.

Kemudian kuminta turis map di 'tourist information' dan beli paket pulsa perdana 'Dialog' 1300 Rupee atau 120ribu Rupiah (9GB dan ada 344 gratis pulsa). Lumayan kartu perdana ini bisa dipakai untuk berdua. Share wify dari hp ke hp, sangat berguna untuk apa saja terutama Whatsapp-an baik untuk bicara atau chattingan.

Ada keunikan lainnya terjadi di sini,  kebetulan ada siaran langsung pertandingan Cricket. Hampir semua kru dan aparat bandara menonton TV yang ada di situ. Jadi kursi-kursi di ruang kedatangan penuh oleh mereka.

Kami sengaja keluar Bandara di tengah malam. Untuk sementara tampak tidak ada masalah dan aman-aman saja. Aku cari warung dekat terminal kecil 300 meter dari Bandara (Terminal Katunayake). Kami berdua menyatu dengan masyarakat lokal ngopi-ngopi di sana. Semua sangat ramah menyambut kedatangan kami. "Ayubowan" (Selamat Datang) katanya.

Enaknya, banyak dari mereka mampu berbahasa Inggris. Jadi pembicaraan bisa mudah kami pahami.

Pukul dua pagi, kami ambil bus umum AC seukuran  metromini di ujung terminal kedatangan menuju Colombo (200 Rupee = 20 Ribu Rp). Waktu tempuh sekitar 1 jam. Sebetulnya, ada bus umum dari Airport ke Terminal Pettah, Bus No. 187 yang lebih murah taripnya. Tetapi bus ini adanya mulai hingga pukul 9 malam saja.


Bus terakhir berhenti di Terminal Pettah. Perut kami belum terisi sejak tadi malam. Di dalam terminal ada 'hotel' Muslim yang bisa kami singgahi untuk bersantap.

Rumah makan atau restoran di sini itu namanya hotel. Sedangkan tempat menginap biasa dtulis rooms.

Kami pilih fried rice ayam Sri lanka. Sepiring besar plus dua gelas teh susu dipatok 280 Rupee (27.5 Ribu Rp).
Meski kami bukan orang bule, tapi kami dikerumuni banyak orang bak turis bule seperti di Indonesia. Kelihatannya saja mereka serem-serem berkulit gelap tetapi ramah baiknya luar biasa. Sampai-sampai aku menolak untuk dibayari makan oleh tamu yang baru kukenal.

Hampir tidak pernah booking hotel online dari tanah air bila traveling. Aku lebih  senang langsung di TKP. Seperti yang aku lakukan sekarang ini. Tidak jauh dari Terminal Pettah, tepatnya di depan Stasiun Kereta Api Colombo (Colombo Fort),  ada penginapan murah meriah. Kuambil yang 1200 Rupee berdua (120 Ribu Rp). Meski pun sederhana tetapi bersih, terutama toiletnya. Sangat lumayan bisa untuk istirahat menghilangkan pegal-pegal di badan dan pastinya tidak merobek kantong.


HARI KEDUA, Minggu 20 Maret 2016

Kami bangun agak siang lalu pergi ke hotel (restoran). Pilih menu biryani telur plus ayam dan minumnya juice mangga (780 Rupee).

Bus-bus jadul berbagai jurusan sudah menunggu kami untuk mencobanya. Akhirnya, kami mencoba rute Fort - Kiribathgoda (25 Rupee atau 2500 Rp). Bus seperti ini banyak membawa penumpang hilir mudik dari pusat kota ke berbagai pinggiran Kota Colombo.

Karena murah ongkosnya, kami mencoba rute-rute lainnya sambil menikmati suasana daerah masing-masing. Ternyata masih ada lagi tarip yang lebih murah, yakni cuma 15 Rupee (1500 Rp).


Di setiap daerah yang kami singgahi, kami cicipi kulinernya. Ternyata banyak makanan 'mewah' kelas hotel bintang malah di Sri lanka dijual di warung-warung kaki lima dengan harga murah meriah.

Menjadi santapan sehari-hari menikmati nasi biryani dan teh susu Sri lanka. Sajian porsi besar cukup pesan satu untuk berdua. Tetapi teh susu sajiannya secangkir pun tidak penuh.

Mangkuk atau menyerupai baki aluminium sebesar tatakan cangkir selalu ada di meja. Itu untuk menaruh uang ketika kita bayar. Ada bersama  secarik kertas kecil yang ditulis angka berapa yang harus dibayar. Pelayan akan mengambil dan membawanya  ke kasir. Kembaliannya juga diantar pakai mangkuk. Di sini ada kebiasaan memberi tips pada pelayan.

Di rumah makan tidak ada tisue, yang ada adalah potongan kertas koran atau potongan kertas buram seukuran 1/2 folio.

Akhirnya, kami bersantai menikmati sunset di tepi Pantai Galle face. Karena weekend suasananya ramai dipenuhi pelancong dan warga lokal. Stan-stan kecil berjajar sepanjang bibir pantai di bawah terik panasnya mentari sore hari. Penjual es krim yang paling banyak untung atau penjual minuman soft drink dan makanan khas lokal Sri lanka.

Kalau berada di tempat keramaian jangan berpisah menyendiri. Karena ada saja orang yang mengamati gerak gerik kita yang mencari kesempatan demi sebuah keuntungan. Meski kami sama-sama orang Asia, tetapi kami dianggap turis. Kenyataannya memang warna kulit yang berbeda.

Kalau sudah seperti itu, ada saja yang menawarkan jasanya. Seperti sopir tuk-tuk (bajaj) mengajak berkeliling kota dengan tarip per jam 100 Rupee. Kalau nggak sreg aku sering menolak tawaran mereka dengan cara yang baik agar mereka tidak tersinggung.

Siang, malam hingga pagi hampir 24 jam penuh suasana kota tetap ramai. Transportasi tampaknya ada hampir 24 jam. Bahkan pukul tiga pagi sudah banyak warga lokal tua muda yang berpakaian rapi ada di jalan-jalan. Entah mereka itu ingin pergi ke mana.

Yang paling ga enak ketika melihat bus-bus saling balapan satu sama lain. Klaksonnya dibunyikan keras-keras yang bikin pekak telinga. Sama saja kelakuannya dengan di Jakarta. Yang paling enak ketika melihat burung gagak ada di mana-mana dengan suara yang khas, "kwak ... kwak ... ".

Meski kotanya jadul tetapi 80% kelihatannya tampak bersih bebas dari sampah di jalanan. Toilet umumnya tampak bersih. Dan sungainya pun bersih.

Jalan raya di Ibukota Colombo mulus aspalnya. Begitu juga jalanan antar distrik di Sri lanka lebar dan mulus. Inilah yang sangat membantu meningkatkan arus barang, jasa dan manusia. Sehingga ekonominya bisa tumbuh. Apalagi sektor pariwisata yang tercatat terus naik angkanya.

Transportasi Sri lanka tidak perlu diragukan lagi. Semua kota, daerah dan desa dapat dijangkau jaringan bus. Yang paling on time adalah kereta api, sedangkan bus lamanya tergantung penuhnya penumpang dan kroditnya jalanan.


HARI KETIGA, Senin 21 Maret 2016

Pagi ini pilih sarapan yang ringan-ringan saja, yakni roti channai plus kari, roti isi bumbu dan segelas teh jahe (berdua @100 Rupee atau 10.000 Rp).

Suguhan minum teh atau teh susu di 'hotel' hanya setengah cangkir. Di samping kurang enak dipandang, kurang puas juga menikmatinya. Kebiasaan ini hampir sama seperti desa-desa di Bali. Karena merasa kurang puas, aku sering minta air panas lagi supaya cangkirku tetap penuh.

Setelah itu coba naik bus ke jurusan lain (15 Rupee). Dalam penjelajahan setiap di dalam kota banyak mengkonsumsi air dan buah. Lumayan besar cost untuk yang satu ini. Air kemasan 1.5 Liter harganya 80 Rupee. Dua potong pepaya harganya 40 Rupee. Es campur 60 Rupee. Dan sepotong kue atau roti 30 Rupee. Berikut adalah harga beberapa bahan penting di Sri lanka (1 Rupee = 100 Rupiah.) :

Bensin per Liter, 117 Rupee (11 ribu)
Ayam per Kg, 450 Rupee (42.5 ribu)
Beras per Kg, 110 Rupee (10 ribu)
Air mineral 1.5 Liter, 80 Rupee (7.5 ribu)

Cukup berjalan kaki dari hotel kami menuju pusat bisnis rakyat Kota Colombo. Ya, ini jalan first cross, pasar jalanan KQ5 dan toko yang sangat ramai menjual beraneka macam keperluan rumah tangga. Suasananya seperti Tanah Abang Jakarta, Pasar Baru Bandung atau Pasar Turi Surabaya.

Jalanan sangat krodit bercampur baur dengan pedagang KQ5, pejalan kaki, kendaraan dan lalu lalang arus barang.

Tidak jauh dari situ terdapat masjid bersejarah, yaitu Masjid Al Jamiul Alfar atau sering disebut Masjid Merah. Arsiteknya menakjubkan, terpelihara baik dan masih dipakai shalat hingga kini.

Masjid ini berlantai dua yang dihubungkan dengan beberapa unit tangga. Imam dan Muadzinnya ada di lantai dua. Turis mancanegara sering datang kemari. Mereka diharuskan menutup aurat dengan kain atau slayer.

Namanya juga manusia tentu ada capeknya. Ketika ada kesempatan untuk istirahat pasti aku lakukan untuk istirahat.

Malam harinya, aku beli tiket kereta api ke Kandy untuk besok berangkat pukul sembilan pagi. Ambil kelas dua, harganya 560 Rupee berdua. Karena besok (22 Maret) hari libur nasional, yakni Madin Full Moon Poya Day. Stasiun kereta api dipadati penuh penumpang. Apalagi hari Jumat juga libur, tanggalan merah 'Good Friday PB'.

Karena perlu makan malam, di pinggiran stasiun ada Hotel Muslim. Kami pesan dua porsi nasi goreng telur, berdua 260 Rupee.

Saatnya kembali ke penginapan untuk istirahat persiapan buat besok pagi ke Kandy.


HARI KEEMPAT, Selasa 22 Maret 2016

Persiapan ke Kandy dengan kereta api sudah kami lakukan. Kemas-kemas barang, mandi dan sarapan. Karena stasiun kereta sangat dekat dengan penginapanku, kami berangkat ke sana setengah jam sebelum waktunya.

Stasiun Colombo Fort sangat jadul sisa  peninggalan kolonial Inggris. Meski demikian pengelolaannya cukup profesional, bersih dan sesuai tarip.


Kondisi keretanya juga sederhana, sesuai dengan taripnya. Tapi cukup memuaskan kami. Ke Kandy berangkat pukul 09.00 pagi. Gerbong kami full ditempati oleh turis mancanegara dengan tujuan yang sama.

Kereta berangkat on time. Kemudian berjalan melewati kota-kota kecil dan pedesaan. Beberapa kali kereta menembus beberapa terowongan yang pendek dan panjang. Semua penumpang berteriak kegirangan karena dari terang berubah menjadi gelap.  Itu terjadi setelah kereta berjalan hampir dua jam.

Kereta tiba di Kandy setelah berjalan selama 3.5 jam. Kami ambil bajaj (150 Rupee) menuju hotel rekomendasi TripAdv & Lonely Planet, namanya Golden View Rise (persis di depan Hotel Ozo). Lokasinya dekat Kandy Lake.

Karena kamarnya bagus, kami tidak tega menawar lebih rendah lagi. Akhirnya, aku hanya sekali tawar yakni 2000 Rupee atau 200 Ribu Rp. berdua.



Sorenya, kami berjalan turun menyusuri track pinggiran danau. Di kelilingi pohon-pohon besar yang rindang, air yang bersih menjadi daya tarik satwa bebek, biawak, kawanan ikan dan burung-burung bermain di sana.

Kandy Lake yang dikelilingi pagar bercorak putih semakin terlihat berwibawa penampilannya. Tersedia boat sewaan bagi pelancong yang ingin mengelilingi danau.

Kandy yang pernah sebagai ibukota Sri lanka selain Colombo mempunyai kontur tanah yang naik turun. Banyak jalan bercabang ke kiri ke kanan atau ke atas ke bawah bahkan berbelok melingkar. Di pusat kota selain ada zebra cross, tersedia penyebrangan bawah tanah peninggalan kolonial. Namun sayang, tempat sampah di Kandy masih sedikit jumlahnya.



Di sini tidak ada pengemis, sedangkan di tempat lain ada tetapi jumlahnya sangat sedikit. Pengamen dan tukang parkir jalanan tidak ada. Yang paling banyak adalah penjual togel. Mereka ada di mana-mana dan tidak tanggung-tanggung hadiah mobil pun ada di sampingnya.

Clock tower dan patung2 pemimpin masa lalu menjadi ciri khas kota ini yang masih terawat baik. Burung gagak ada di mana-mana seperti juga di Colombo.

Selain stasiun kereta api, terdapat dua terminal bus melayani calon penumpang ke sekitar dan luar kota Kandy. Bukan itu saja, Kandy memiliki beberapa masjid. Yang terbesar adalah Masjid Al Markaz, lokasinya jauh di belakang 'White House' yang terkenal itu. Bentuknya sudah tidak seperti masjid lagi, tetapi masih bisa dikenali karena memiliki jendela yang khas berbentuk kubah. Masjid lainnya adalah Ith Thaqwa Malay Mosque. Masjid ini menggunakan lantai dua untuk shalat berjamaah bagi lelaki dan di bawah untuk perempuan. Letaknya persis di depan SPBU atau di sebelah gereja dan temple kuno.

Menjelajahi Kandy memang sangat mengasyikan, karena udaranya tidak begitu panas seperti Colombo. Kulinernya juga lengkap, lezat dan terjangkau. Kami menikmati sambosa, aneka roti, hopper (roti tipis berbentuk mangkuk), burger, samuly , buah-buahan seperti jambu dan nanas. Rata-rata air kemasan 1.5 L harganya 70 - 80 Rupee.

Sekilas tentang uang negeri ini, namanya sama dengan India, Rupee. Tapi yang ini Sri lanka Rupee. Ada yang kertas pecahan 10, 20, 50, 100, 500 dan 1000. Sedangkan yang koin pecahannya 2, 5 dan 10.
Khusus uang kertas, muka yang pertama pada umumnya modelnya sama berbentuk landscape (horizontal). Tetapi uang Sri lanka belakangnya berbentuk potrait (vertikal).


HARI KELIMA, Rabu 23 Maret 2016

Semalam aku cuci-cuci sebagian baju kotorku, meski ada larangan mencuci di dalam kamar. Alhamdulillah, esok paginya sudah 90% kering.

Bergegas check out hotel di pagi hari untuk eksplor sisa spot yang belum dikunjungi. Kami ambil bajaj ke kota sekitar pasar tradisonal dekat clock tower (150 Rupee). Di situ sarapan menu Muslim India langgananku yang kemarin baru kami kenal.


Perut sudah terisi, saatnya jelajah ke Temple of the tooth di sebelah Kandy Lake. Masuk ke kawasan ini banyak larangannya, tidak boleh pakai celana pendek, barang bawaan diperiksa, tidak boleh foto membelakangi patung Budha, tidak boleh beralas kaki dan ada beberapa larangan lainnya.

Disamping banyak larangannya, tiket masuknya juga lumayan mahal dan 'Gigi Budha' yang dimaksud juga tidak bisa langsung kita lihat.

Pengunjungnya banyak meski hari masih pagi. Sebelumnya kami menikmati suasana indah Kandy lake yang berlatar belakang perbukitan dan memiliki pulau kecil di tengahnya.

Setelah ke Temple of the  tooth, kami geser ke Terminal bus antar kota menuju Dambulla ambil jurusan Anuradhapura (186 Rupee, berdua).

Tepat dua setengah jam bus tiba di depan Terminal Dambulla. Sebelum mencari penginapan baru, kami menikmati dulu kelapa muda segar berwarna kekuningan (60 Rupee) di samping Terminal Bus Dambulla.

Aku bertanya pada pemilik kedai buah di mana ada budget hotel di dekat sini. Alhamdulillah, pemilik warung kelapa sekaligus sopir bajaj mengantar kami ke penginapan milik temannya yang masuk rekomendasi TripAdv (1500 Rupee).

Bajaj atau tuk-tuk di sini lebih dikenal sebutannya 3wheels (roda tiga) atau taxi. Semuanya buatan India. Pernah kutanya,  harganya sekitar 70 jutaan per unit.

Selain bus atau 3wheels tidak ada lagi moda transportasi di Sri lanka. Seperti Angkot atau bemo tidak ada di sini.



Sepuluh potong pakaian kotor aku cuci di kamar mandi hotel. Peras maksimum dan jemur di bawah hembusan fan kamar hotel. Pakaian yang berbahan tipis-tipis semua sudah kering. Sisa yang berbahan tebal mungkin besok pagi sudah kering.

Dengan bajaj di sore hari, kami dibawa ke Golden Temple (sopir minta 150 Rupee tapi aku bayar 200 Rupee). Patung Budha ini adalah yang terbesar (tinggi 100 m) di Sri lanka.


Kembali ke kota mencari makanan halal di sekitar pertokoan pusat kota. Kami pesan satu porsi untuk berdua nasi goreng ayam plus hopper, roti channai dan soft drink. Sejak di Colombo setiap pesan es batu (ice cube) tidak pernah ada. Yang ada semuanya hanya minuman dingin.

Sekali lagi tentang air minum, harganya cukup menguras isi kantong. Sebotol ukuran 1.5 Liter harganya 75 Rupee. Karena Sri lanka udaranya panas, kebutuhan air menjadi banyak. Bisa sampai 5 botol ukuran yang 1.5 Liter.


Penjelajahan hari ini kami anggap cukup. Sambil berdiskusi tentang rencana esok hari, kami berjalan kaki kembali ke hotel.


HARI KEENAM, Kamis 24 Maret 2016

Hari ini aku senang sekali karena pakaian yang kucuci kemarin sudah kering semuanya. Kini saatnya kami melangkah ke Sigiriya melihat Lion Rock dari dekat. Aku ambil bajaj (800 Rupee) dari Dambulla ke Sigiriya dan kembali sampai pertigaan Sigiriya - Poloranuwa.

Kalau ke Sigiriya bisa langsung memilih untuk stay di sana. Karena di situ tempatnya turis mangkal. Banyak homestay, rooms, cottages dan hotel bertebaran di sana. Tetapi tempatnya sepi dan jauh dari keramaian. Sedangkan kalau stay di Dambulla lebih baik karena ramai segala kebutuhan tersedia di sini.


Ada bus dari Dambulla ke Sigiriya, namun cukup lama periode berangkatnya. Begitu pula kembalinya. Walaupun taripnya lebih murah tetapi sedikit makan waktu.

Oleh sebab itu kami pilih pakai bajaj, ongkosnya sedikit lebih mahal tetapi lebih cepat aksesnya. Masuk ke kawasan World Herritage UNESCO ini tiketnya 30 USD.
Kita bisa menaiki bukit batu ini sampai puncaknya. Sungguh indah pemandangannya apalagi kalau ditambah dengan naik gajah keliling kawasan Sigiriya. Tetapi siap-siap saja saku anda sedikit robek dibuatnya (mahal). Memang di mana-mana yang namanya kawasan World Herritage UNESCO tiketnya mahal, paling murah sekitar 150 ribuan.

Kami lanjut ke Poloranuwa dengan bus (75 Rupee) ditempuh sekitar 1 1/2 jam. Sampai di situ kami santai-santai dulu minum teh susu sambil cari informasi tempat wisatanya kota kecil ini.

Aku titip bag di Rumah Makan Darshana di Polonaruwa. Dan dengan bajaj kami menuju beberapa spot peninggalan sejarah Sri lanka tempo dulu. Yang pertama melalui pinggiran danau semacam sistem irigasi Kota Poloranuwa. Di dekat situ ada reruntuhan bekas ibukota kedua Kerajaan Sri lanka setelah Kota Anuradhapura. Pahatan patung Raja. Dan di arah yang berbeda terdapat sisa peninggalan sejarah yang lain. Kemudian yang terakhir di pinggir jalan utama adalah Polonnaruwa Vatadage yang masuk world herritage UNESCO. Tiket masuknya 25 USD. Ya begitulah masuk ke dalam kawasan di bawah naungan UNESCO, semua tiketnya mahal.



Akhirnya, bajaj membawa kami ke Kaduruwela Muslim Jumma Mosque di Kota Polorannuwa. Kami bersilaturahmi dan shalat di sana. Dan berbagi sedikit Rupee pada beberapa orang yang membutuhkannya. Dari situ kami dapat informasi banyak untuk berhenti dan tinggal di kota selanjutnya.



Bus jurusan Polonnaruwa - Kattankudy membawa kami ke arah Kota Batticoloa. Ongkosnya 150 Rupee. Bus yang cukup padat ini baru berangkat setelah penumpangnya penuh.

Di tengah perjalanan banyak penumpang yang naik lagi. Sehingga bus yang kapasitasnya 54 kursi, menjadi bertambah hingga 85 orang. Yang berdiri pun harus berdesak-desakan.

Bus mulai memasuki daerah Pasekudah, kota pelabuhan dan tempat wisata pantai yang indah. Mulai dari daerah ini hingga Batticaloa di pesisir timur Sri lanka banyak bermukim warga Muslim.

Enam kilometer menjelang Kota Kattankudy penumpang diminta turun semuanya. Penumpang dioper bus ke Kattankudy. Tetapi bus operan belum juga menampakan diri. Setelah 30 menit menunggu, akhirnya muncul juga.

Bus dipenuhi penumpang operan, tetapi kami diminta harus bayar lagi. Meski hanya bayar 20 Rupee tetapi masalah ini hampir sama saja dengan di tanah air, sedikit menjengkelkan hati.

Akhirnya dalam waktu beberapa menit saja bus sudah tiba di kota yang akan kusinggahi. Subhanallah, ada kota kecil yang ramai dan padat. Lokasinya di Pantai Timur Sri lanka.



Yang mengagetkanku adalah nuansanya seperti di Makkah atau Madinah. Penduduknya semua Muslim. Di sepanjang boulevard nya berjajar pohon kurma. Masjidnya banyak.

Masyarakatnya pria dan wanita berpakaian Islami. Banyak tersebar makanan ala Timur Tengah. Di malam hari semakin ramai dan kotanya terang benderang oleh banyaknya lampu.


Buah-buahan hampir lengkap semuanya ada. Kebanyakan barang apa pun lebih murah dibanding di tanah air.

Usut punya usut, dulu ada Saudagar asal Arab yang menikah di sini. Beliau bernama Kahthan. Sehingga kota ini disebut Kattankudy.

Kami menginap hanya beberapa puluh meter dari Masjid Raya Kattankudy yang sedang direnovasi. Menginap di Guest House Cristal Palace murah sekali taripnya. Meski aku pilih yang 1300 Rupee tapi kondisinya sangat memuaskan. Lengkap, bersih, besar, murah dan pemiliknya seorang tua tetapi tegas, sopan, ramah dan bijaksana. Padahal baru kenal dengannya tetapi beliau sudah banyak membantu kami. Hati kami tidak bisa dibohongi oleh kebaikan seseorang, sehingga aku harus ngomong apa adanya.


Karena sudah tidak sabar lagi ingin meng-eksplor singkat kota ini, kami bergegas mandi. Ketika badan sudah bersih dan fresh, kami jelajahi Kattankudy ini dari ujung ke ujung. Terharunya, kami selalu disapa oleh setiap orang yang bertemu atau berpapasan, "Assalamu 'Alaikum, where are you from ?". Itulah sapaan mereka pada kami. Bahkan tidak jarang dari mereka yang minta foto bareng.

Hari semakin malam,  perut kami sudah menagih untuk segera diisi. Kuambil salah satu 'hotel' (restoran) di depan Masjid Raya Kattankudy. Sajiannya mirip rumah makan padang. Yang dimakan saja yang dihitung dan sisanya dibawa lagi oleh pelayan. Di sini banyak masakan yang baru pertama kali kulihat. Seperti nasi yang dikukus seperti kue putu atau membuat nasi goreng yang heboh sekali cara membuatnya. Alat masaknya seperti dipukul-pukul menimbulkan irama musik tanpa henti hingga selesai.

Menunya lengkap, ada yang kari-karian, yang bakar-bakaran, yang goreng-gorengan atau aneka es jus buah dan es krim. Tak kusangka, semuanya murah meriah, tidak menguras isi kantong.


HARI KETUJUH, Jumat 25 Maret 2016

Jumat pagi ini cerah sekali. Kami cari sarapan dulu di Gulf Restorant yang letaknya hanya beberapa meter saja dari guest house-ku.

Setelah perut terisi, kami menuju Pantai Kattankudy melewati gang-gang perkampungan penduduk lokal. Sapaan dari warga lokal tak henti-hentinya kami terima hingga hari ini. Mereka benar-benar sangat welcome pada kami.

Di ujung jalan menuju pantai, terdapat tugu berlambang bintang yang bertuliskan arabic. Hari masih pagi, ada beberapa perahu yang parkir di atas pasir yang siap berangkat bersama nelayan menyelam mencari Ikan hias.


Pantai yang panjang dan bersih tampak sepi pengunjung. Pantainya mirip Pantai Kuta. Bedanya di sepanjang tepi Pantai Kuta terdapat sederetan hotel. Sedangkan di sini terdapat sederetan rumah nelayan.

Kami bersilaturahmi dan bercengkerama dengan warga dan bercerita kisah tentang bencana tsunami tahun 2004 lalu. Sri lanka termasuk wilayah yang terkena dahsyatnya gelombang tsunami dan di sini juga banyak korbannya.

Kini, nelayan dan warga sekitar semua menatap ke depan berbuat nyata untuk kehidupan yang lebih baik. Di pesisir pantai ini juga terdapat masjid berwarna hijau muda, namanya Masjidul Ayisha binthi Abubakkar.

Baliknya kami pakai bajaj dan minta diantar sampai main gate Kota Kattankudy. Selanjutnya kami kembali ke hotel sambil menyusuri sudut-sudut kota ini.

Sisa pakaian kotor masih ada yang perlu dicuci. Kesempatan ini aku efektifkan untuk yang satu ini. Bahkan menjelang siang sudah ada kemeja batik yang kering siap dipakai untuk Jumatan.

Kami Jumatan di Masjid (lupa namanya), 300 meter dari hotel. Pemilik hotel mengantarkan kami satu persatu dengan sepeda motornya menuju masjid. Kali ini khutbahnya cukup lama dibanding dengan masjid lainnya. Karena isi khutbahnya sangat penting untuk disampaikan.

Di Masjid ini tampak hampir 100% jamaahnya memakai peci. Sedangkan kami tidak memakai sama sekali. Tetapi shalatnya tentu sah.

Selepas Jum'atan entah bagaimana kami dikerumuni jamaah berebut minta salaman. Tua muda dan anak-anak berebutan minta salaman. Ternyata, repot juga kalau jadi artis atau orang terkenal menjadi pusat perhatian. Untung saja kami tidak seperti itu.

Ketika akan kembali ke hotel banyak yang menawarkan kami untuk mengantar dengan sepeda motornya. Akhirnya, kami tidak bisa menolak ajakan mereka. Banyak dari warga satu persatu bertanya, "Dari mana asalnya ?" semua kujawab dengan sopan setiap pertanyaan mereka. Ya, mumpung di sini bagaikan artis disambut luar biasa. Banyak yang menawarkan kami ini dan itu tapi kami menolaknya dengan 'thank you for your attention'. Ada ajakan makan dan menginap di rumahnya atau tawaran lainnya.

Ada sejarah kelam di Kattankudy pada tahun 1990, pasukan bersenjata menyerang jamaah masjid yang sedang shalat. Peristiwa berdarah tersebut menewaskan lebih kurang 150 saudara Muslim. Syukur Alhamdulillah, saat ini Muslim di Sri lanka dapat berkembang dengan baik. Dan in shaa Allah bisa hidup rukun membangun negaranya. Aamiin YRA.

Sore ini kami ke pantai lagi, karena ini hari libur, pantai dipadati pengunjung warga setempat. Keadaan pantai bukan seperti pantai-pantai pada umumnya kita lihat, tetapi yang ini tidak ada satu pun yang berenang apalagi berpakaian minimalis. Semuanya berpakaian sopan. Bahkan di sini bukan seperti di pantai Sri lanka , namun seperti pantai di Timur tengah. 



Pengunjungnya berpakaian tutup aurat, berjubah, berkopiah putih atau sarungan. Semuanya duduk- duduk di atas pasir putih tanpa alas. Di sini hampir ada kesamaan kebiasaan duduk dan tidur di atas pasir tanpa alas seperti di salah satu daerah di Madura.

Puas menyusuri pantai sampai-sampai sandalku putus. Akhirnya kami shalat di Masjidul Ayisha binthi Abubakkar yang letaknya di pinggir pantai. Keluar dari masjid aku disapa oleh salah satu jamaah yang hendak pulang dengan sepeda motor. Di bertanya, "Sendalnya mana ?" Kubilang tadi putus di pantai. Meski sama-sama  baru kenal, ia memintaku memakai sendalnya. Sedangkan dia pulang tanpa sendal. Aku langsung berdoa semoga kebaikannya dibalas Allah SWT. Aamiin YRA.



Kebetulan satu kota pas mati lampu. Jadi kami pulang jalan hanya mengandalkan penerangan lampu kendaraan yang lewat.

Pelan-pelan akhirnya sampai juga. Tidak afdol rasanya kalau tidak mampir dulu di Gulf Restoran untuk makan malam. Kami pamitan pada mereka, karena esok akan pindah kota, ke Nuwara Eliya.

Bersambung ke episode-2 :
     Copyright© by RUSDI ZULKARNAIN 
email  : alsatopass@gmail.com



Tidak ada komentar: