BERAMAL LEWAT TULISAN

Tuesday, 5 April 2016

Jelajahi Peninsula Malaysia dan Singapura Dalam 5 Hari




HARI PERTAMA, 14 MARET 2016

Inilah awal aktivitas kami keluar dari 'zona hidup nyaman'.
Kami berempat ke Juanda pakai mobil sewaan, 350 ribu. Ini sedikit lebih mahal dibanding dengan travel @80 ribu. Bedanya, mobil sewaan berangkatnya bisa bebas sesuai keinginan kita. Kalau travel harus jemput penumpang satu persatu, setelah lengkap lalu meninggalkan kota.

Semua kode boarding sudah disimpan dalam handphone (pakai web check in). Di Bandara, QR Code-nya tinggal di-scan oleh petugas counter untuk menerbitkan boarding pass-nya.

Calon penumpang yang masuk ke dalam ruang tunggu tidak boleh membawa air minum. Jadi untuk urusan yang satu ini bisa disiasati dengan cara bawa botol kosong, lalu isi air kran siap minum (tap water) di ruang tunggu.

Kami mendarat mulus di KLIA2 setelah terbang selama 2 jam 40 menit. Tidak perlu berlama-lama di situ. Saat itu juga kubeli tiket bus di counter dekat pintu keluar lantai bawah KLIA2 menuju TBS 'Terminal Bersepadu Selatan'. Tiketnya @10 RM 'Ringgit Malaysia'. Kami pakai 'Jetbus' yang terakhir. Perjalanan ke TBS ditempuh dalam 1 jam an saja.



Sebetulnya, kalau malas meneruskan perjalanan di malam hari bisa saja kami menginap di Capsule Hotel di KLIA2. Tarip 3 jam 55 RM per orang.

Pada saat tengah malam, terminal yang mewah ini hanya ada satu restoran yang buka. Iya, Nasi Kandar namanya.

Selanjutnya langsung ke Johor (Terminal Larkin) dengan Bus 'Season' yang berangkat pukul 02.30 (seat 2x1, AC, recleaning seat, 35 RM). Pukul 6 pagi, Bus Season sudah masuk di Terminal Larkin. Masuknya berbarengan dengan berkumandangnya adzan Shubuh dari Masjid Terminal.

Sarapan ringan dan cari budget hotel (Ghazrins Hotel, 50 RM berdua). Aku check in sekitar pukul 8 pagi dan waktu check outnya lebih panjang, yakni besok bisa sampai pukul 15 petang. Lokasinya dekat dengan Terminal Larkin. Di situ, kami bisa istirahat sejenak untuk memulihkan tubuh agar fresh siap menjelajah lagi.


HARI KEDUA, 15 MARET 2016

Menunggu bus di Larkin menuju Legoland. Pemberangkatan bus ada jadwalnya untuk hari biasa atau untuk hari jumat sabtu minggu. Tiketnya pakai uang pas tidak boleh kurang dari 3.3 RM. Caranya masukkan ke dalam box dan sopir akan memberi print tiketnya. Calon penumpang  menunggu di platform 28 Terminal Larkin. Dari Larkin ke Legoland cukup 40 menit saja dengan bus warna kuning 'Causeway LM1'.



Sambil menunggu datangnya bus LM1, kami makan dulu di restoran India yang menunya tersedia apa saja.

Berada di Legoland, anak-anak pasti senang. Sedangkan orang tuanya juga turut senang melihat anak-anaknya bisa bermain menikmati berbagai wahana.

Tempat ini menyerupai Ancol, Jatim Park, Genting Highland, Universal Studio Singapore atau Disneyland. Namun Legoland di Johor sementara ini ukurannya belum sebesar lainnya. Kawasan ini terus dikembangkan, diharapkan suatu saat nanti bisa menandingi yang lain.

Harga tiket masuknya lumayan mahal, bisa beli parsial atau terusan. Ada Theme Park dan ada Water Park (http://www.legoland.com.my/).

Setelah puas berada di sini, bus LM1 membawa kami kembali ke Larkin. Bus ini rutenya mulai dari JB Sentral, Larkin, Hello Kitty (Putri Harbour), Legoland, Gelang Patah, Legoland. Tentu bus ini melewati juga Kota Iskandar yang memiliki Masjid yang sangat artistik.


HARI KETIGA, 16 MARET 2016

Selepas check out hotel dan sarapan pagi di sekitar Terminal Larkin, kami menuju ke Singapura dengan Bus SBS Transit (2.5RM). Turun terakhir di Terminal Queen Street.

Keluar dari pemeriksaan Imigrasi Johor Malaysia, semua lancar-lancar saja. Tetapi ketika di Imigrasi Woodland Singapura, aku diminta ke Kantor ICA 'Immigration & Checkpoints Authority'. Ketika mendapat giliran pasporku diperiksa, aku bilang kalau kami datang berempat. Kirain lancar-lancar aja. Ga taunya aku dan anak lelakiku digiring diperiksa lebih lanjut di kantor lain. Sedangkan istriku dan saudaranya 'lolos' pemeriksaan. Aku dan anakku dibawa ke kantor di lantai atasnya. Di situ terdapat beberapa ruang terpisah dan tertutup untuk menginterogasi pelancong. Setiap pintu ada akses kodenya, termasuk pintu lift. Masing-masing petugas menjalankan tugasnya bersinergi saling terkait sampai masalah bisa dituntaskan.



Pertama, aku tiba di kantor atas kemudian anakku menyusul untuk diperiksa lebih lanjut. Sudah yang kesekian kalinya aku diinterogasi seperti ini. Namun yang ini periksaannya lebih lengkap dan detail.

Tasku diperiksa isinya apa. Dompet juga begitu. Jumlah uang yang dibawa diminta dihitung dan dicatat petugas. Kartu-kartu dalam dompet diperiksa satu persatu. KTP juga dicocokan dengan paspor. Kami berupaya tunjukkan paspor lama yang ada stempel pernah masuk Singapura sebelumnya. Tapi tidak mempan.

Tapi aku puas bisa 'mempermainkan' mereka. Apalagi anakku juga ngerjain mereka ketika dompetnya diperiksa. Anakku tunjukkan dompet bututnya plus uang recehan logam 100 perak dan 500 perak. Sedangkan uang kertasnya hanya beberapa lembar dua ribuan saja.

Sebenarnya, aku tidak berkenan diperiksa seperti itu. Karena itu sudah masuk ke wilayah privasi diri. Tetapi apa boleh buat, itu hukum dan prosedur negara mereka. Jadi aku turuti aja kemauan mereka. Setiap aku tanya mengapa diperiksa seperti ini, dia selalu menjawab, "Kami hanya menjalankan tugas". Meski pada akhirnya mereka meminta maaf.



Kini giliranku diwawancarai, menanyakan apa keperluan ke Singapura, berapa lama, sudah berapa kali dan kerja di mana.

Pada kesempatan tersebut, aku bertanya pada petugas, mengapa setiap kali masuk ke Singapura selalu diperiksa seperti ini ? Masuknya tidak pernah mulus kecuali keluar dari negeri anda selalu lancar.

Petugas bilang, kalau ini random check. Kalau random check, mengapa kami terus yang kena ? Dia selalu bilang hanya menjalankan tugas dari atas dan sesuai dengan yang ada di komputer imigrasi.

Setelah pemeriksaan selesai, aku diminta ke ruang interogasi (test kebohongan). Aku duduk di kursi khusus, memakai headset, ada kamera di depanku dan harus menjawab setiap pertanyaan yang muncul di monitor, YA atau YIDAK (pilihan pakai Bahasa Melayu).

Pertanyaannya diulang-ulang. Contohnya sbb :

a. Apa pernah membawa barang haram masuk ke Singapura ?
b. Apa pernah mencuri kereta ?
c. Apa pernah mencuri barang majikan ?
d. Apa pernah berbohong pada Pemerintah Singapura ?
e. Apa pernah terlibat aksi-aksi di Singapura ?
f. Apa pernah berbuat pengganasan di Singapura ?
g. Apa pernah terlibat pembuatan wang palsu ?
h. Apa pernah memasukan makanan terlarang ke Singapura ?

Ya, itulah macam pertanyaannya.
Meskipun kami diperbolehkan masuk ke Singapura selama 30 hari, tetapi hal ini masih menjadi tanda tanya besar. Ada apa sebenarnya ?

Sekitar dua jam aku diinterogasi. Kulihat ada pelancong yang sampai diborgol setelah diinterogasi atau barang bawaannya ditahan. Saking lamanya menunggu di luar sana, istriku mengira mungkin aku diajak 'makan bersama' di dalam sana.

Entahlah ada catatan apa di komputer mereka. Aku penasaran, ingin sekali lagi masuk ke negeri ini. Apa masih diperlakukan seperti ini ?

Tentu saja kehilangan waktu dua jam sangat berarti buatku. Sehingga rencana semula harus ada yang rela di-skip.

Aku sih enjoy aja. Kejadian ini malah membuka mataku. Betapa gigihnya petugas menjaga negaranya, dibantu dengan peralatan yang canggih. Begitu ketatnya mereka menjalankan prosedur peraturan untuk mencegah potensi ancaman yang masuk.

Akhirnya, aku hanya bisa mengantar istri dan saudaranya bernostalgia ke spot yang penting-penting saja. Seperti ke Arab Street, Masjid Sultan, Bugis Junction, Orchard, Merlion dan Marina Sand. Penjelajahan tidak bisa selengkap rencana semula.

Karena kejar tayang, sekitar pukul tujuh malam aku meninggalkan Singapura dari Terminal Queen Street menuju Terminal Larkin di Johor dengan Bus SJS (3.3 $Sin). Semoga kami bisa masuk Larkin sebelum pukul 10 malam. Karena aku titip 4 ransel dan penitipannya tutup maksimal pukul 10 malam. Kalau saja terlambat, terpaksa kami ke KL esok pagi setelah penitipan tas buka. Alhamdulillah, Allah melindungi dan memudahkan perjalanan kami. Bus Causeway masuk Larkin 10 menit sebelum pukul 10 malam. Itu juga setelah aku ambil keputusan naik Bus CW (bayar lagi 4RM) karena Bus SJS tak kunjung datang. Akhirnya, pada tengah malam kami meninggalkan Johor menuju KL (TBS) dengan Bus Double Decker Pacific (33RM, di tiket tertera 40RM).


HARI KEEMPAT, 17 MARET 2016

Setibanya di TBS Kualalumpur setelah hampir 4 jam di perjalanan. Kami istirahat sejenak di ruang tunggu TBS menunggu datangnya Shubuh pukul 6 pagi.

Terminal terpadu antara bus, LRT, Express Train KLIA berada dalam satu kawasan yang bernama TBS ini.

Suasananya bak sebuah Bandara, besar, bersih, terang benderang dan lengkap isinya. Ada restoran, ruang kedatangan/keberangkatan, pembelian tiket, klinik, troley, toilet bersih, mushala, kantor pos dan sekuriti ada tersebar di 4 lantai gedung ini.



Hari mulai terang, kami ambil LRT jurusan Sentul Timur dan turun di Plasa Rakyat (@3RM). Jalan sedikit ke Petaling Chinatown, di situ ada Guesthouse Ranting yang murah meriah. Kami buka 2 kamar AC @58 RM plus uang deposit kunci @30 RM. Wify-nya kenceng, ada meja bilyard, surau dan lokasinya sangat strategis.

Guesthouse ini berada di tengah keramaian Jl. Petaling-Chinatown pusat bisnis & barang branded KW1. Mulai pukul 11 siang hingga malam, lokasi ini selalu penuh sesak diserbu pelancong dari mancanegara. Kuncinya, di sini harus berani tawar menawar hingga 1/3 dari harga yang ditawarkan.

Untuk urusan makan, jangan kuatir. Di sini sangat banyak pilihan makanan enak yang murah meriah. Ada sejak pagi hingga malam. Dari sini dekat ke mana-mana seperti Masjid Jamek, Dataran Merdeka, Pasar Seni / Central Market dan pastinya Petaling itu sendiri.

Kalau kami biasa makan yang murah meriah. Ada kedai kuliner lengkap dan sangat cocok dengan lidah seperti di tanah air. Letaknya di seberang Pertokoan Kota Raya atau di samping jembatan penyebrangan 'Gerbang Petaling'. Kedai ini bukanya 24 jam.



Mau ke mana-mana gratis, naik saja Bus GoKL warna Purple. Jurusannya Pasar Seni < > Bukit Bintang. Untuk jurusan lainnya, pilih misalnya Bus GOKL warna Green ruas KLCC <> Bukit Bintang.

Hari ini hanya puas-puasin diri jelajahi Bukit Bintang dan Chinatown lengkap dengan aneka kulinernya.


HARI KELIMA, 18 MARET 2016

Karena sudah sering ke KL, jadi kami santai-santai saja tidak menargetkan harus ke mana.

Aku mengantar istri belanja oleh-oleh di My Din, grosiran murah milik orang India. Iya, apalagi kalau bukan beli aneka coklat.

Sekarang, di depan dan di belakang My Din dibuat terminal kecil. Di depan untuk Shuttle Star ke KLIA dan yang belakang di Jalan Lebuh Pudu mayoritas untuk city bus.

Menjelang petang, aku dan putraku menuju Masjid Jamek untuk jumatan. Jamaahnya banyak. Tenda jualan makanan minuman juga banyak di depan masjid. Semuanya tinggal pilih untuk menu makan siang.

Setelah itu ke Pasar Seni atau Central Market. Lalu ke Bukit Bintang lagi dengan Bus GoKL warna purple. Dan yang terakhir ke Menara Kembar Petronas KLCC dengan GOKL warna green. Sedangkan anakku jalan sendiri entah ke mana yang ia suka.


HARI TERKAHIR, 19 MARET 2016

Seperti biasa sarapan pagi dan menjelang tengah petang beranjak ke tempat perberhentian Bus Star Shuttle di depan My Din.

Bus membawa kami ke KLIA2 (@12 RM) selama 1 jam 15 menit. Istri balik ke Surabaya, sedangkan aku lanjut ke Colombo Sri lanka.


Alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan tepat waktu. Tinggal kami berdua yang masih harus nongkrong di KLIA2 menunggu check in penerbangan pukul 21.00 ke Sri lanka.

Untuk killing time, kami berdua makan di resto NZ Curry House di lantai bawah dekat pintu keluar ujung KLIA2. Sisa uang 20 Ringgit pas untuk berdua, pesan 2 nasi goreng dan 2 es teh manis (19.80 RM).

Tunggu sampai waktunya kami terbang ke Sri lanka.

Kisah bersambung ke :
http://seratusnegara.blogspot.co.id/2016/04/catatan-pribadi-perjalanan-anak-dan.html


Catatan :

- Pakai tandas (Toilet Umum) sekarang 0.3 RM
- Tiket Bus KLIA2 - KL Sentral semuanya sama 11 RM, ke Pudu tetap 12 RM. 
(Tiket dibeli di counter bus KLIA2).



    Copyright© by RUSDI ZULKARNAIN 
email  : alsatopass@gmail.com







No comments: