BERAMAL LEWAT TULISAN

Jumat, 10 Februari 2017

TERBIUS VIETNAM di AWAL 2017



Bermula dari sahabat Rendra menantangku untuk traveling. "Jalan yuk Pak, kemana aja deh yang penting jangan lama-lama. Maksimum seminggu. Tetapi ke luar negeri ya", begitu tantangannya. 


Sudah beberapa kali dia menantangku seperti itu tetapi aku belum pernah serius meresponnya. Sebab aku baru saja kembali dari Aceh, Malaysia dan Iran. Jadi masih malas dan masih capek pastinya.

Akhirnya hatiku terpanggil juga. 'Darah traveling' ku mulai berdegup kencang menerima tantangannya. Hhe. Bagaimana kalau ke Vietnam ? kataku. Rendra spontan mengiyakan pilihanku. 



PILIHAN KE VIETNAM

Meski sudah pernah ke Vietnam, tapi apa salahnya aku kesana lagi. Pasti sensasi dan suasananya bakal beda. Apalagi hampir delapan tahun belum ke sana lagi. Ini kesempatan besar, bisa ngebolang bareng tetangga sekaligus sahabat ini.

Tidak mau dikatakan hanya basa basi, Rendra pun serta merta menalangi semua biaya booking tiketnya. Aku yang eksekusi via online, tapi dia yang bayar. Memang, di tempat kami tinggal sahabat yang satu ini dikenal sebagai sosok yang suka menolong dan dermawan. Pokoknya anak sholeh-lah.

Baru sehari berlalu, sudah ada sahabat lain yang ingin gabung. Adalah Dwi yang sudah nge-WA data paspornya. Tetapi setelah kuperiksa, dua bulan lagi paspornya expired. Tiket tambahan untuknya sudah kubooking (dapat 2,5 juta pp) dan kuminta segera memperpanjang paspornya. 

Meski kali ini ada promo sisa, namun karena berangkatnya untuk bulan depan, harga tiketnya masih kuanggap mahal. Dari Surabaya ke Kualalumpur dan Kualalumpur ke Ho Chi Minh City, tiketnya 1,1 juta. Pulang Pergi (pp) semuanya jadi 2,2 juta. 

Begitu juga dengan Sam Huget (nama walikan khas Ngalam), nama aslinya Mas Teguh. Dua minggu sebelum berangkat, dia juga gabung. Meski harga tiketnya jauh lebih mahal dari kami. Dia bilang ga jadi masalah (dapat 2,9 juta pp).

Tidak berhenti sampai di situ saja. Rupanya ada sobat lain yang kepincut ikut trip ini. Mas Terry namanya. Belakangan dia dapat tiket yang harganya hampir sama dengan Sam Huget. Jadi tambah rame trip ini. Sekarang, team kami jadi 5 orang. Welcome to the jungle.

Untuk memudahkan koordinasi, kami buat Group WhatsApp 'GoVietnam'. Kami sempatin juga buat kaos grup berlabel PJJJ Vietnam 'Permata Jingga Jalan Jalan Vietnam'. Masing-masing dapat sebuah kaos dengan warna berbeda-beda, tetapi labelnya sama. Di TKP (on the spot) tinggal atur kebutuhan kamarnya aja. Atau ambil kamar dorm, yang sekamar bisa isi lima orang. Kalau harus charter kendaraan bisa share cost berlima. Jadi lebih ringan dan bisa mumer. Tidak mau ketinggalan jaman, kami pun menyiapkan banner. Mau demo di Vietnam, kale ....

ALA MURAH MERIAH

Karena ordernya ingin yang murah meriah, bukan berarti sobats-ku tidak mampu. Kebetulan  semua memilih cara yang 'mumer'. Kalau mau yang mahal bisa aja, karena keempat sahabatku ini sudah terbiasa hidup enak. Jadi cara ini sekedar pilihan, sebagai variasi hidup yang sedang dijalaninya. Wkwkwk.

Kami memulainya berangkat dari rumah menuju ke T2 Bandara Juanda Surabaya. Diantar oleh driver Mas Rendra yang baik hati, semuanya tinggal duduk manis di dalam mobil Sam Huget tanpa harus bersusah payah. Hhe


Karena faktor kesibukan kerja, sobat Terry tidak bisa berangkat bareng dari Juanda Surabaya. Beliau berangkat dari Jakarta dengan maskapai yang berbeda dan kami akan ketemuan di KLIA2 (Resto NZ).

Begitulah masa persiapan kami yang penuh canda dan santai. Aku bilang, kita ini tanpa booking hotel lho. Tanpa rencana ini itu. Pendek kata semua akan diatur di TKP (on the spot). Semuanya sepakat. Welcome to the jungle.


TRANSIT DI KLIA2

Terbang di malam hari membawa kami tiba di KLIA2 Sepang Malaysia pada tengah malam. Transit beberapa jam kami manfaatkan nongkrong di Resto NZ ngopi-ngopi sambil menunggu tibanya sobat Terry yang terbang dari Jakarta.


HO CHI MINH CITY 'HCMC' YANG DULU BERNAMA SAIGON

Mendarat di Tan Son Nhat International Airport tidak menyulitkan. Semuanya serba lancar. Counter imigrasi yang banyak sangat membantu kelancaran kami masuk Vietnam.

Dimulai dari menukarkan uang ke Vietnam Dong 'VND' yang tersedia di money changer lantai atas maupun lantai dasar bandara. Untuk bertransaksi selama di Vietnam, kami akan mengkombinasikan pemakaian US Dollar dan Dong (1US$ rata-rata setara 22.500 VND).

Kami ambil shuttle bus warna kuning no 109 menuju pusat kota, Pham Ngu Lao. Bus AC yang mewah plus WiFi dan kru yang ramah, ongkosnya hanya 10 ribu VND. Dalam waktu kurang dari 30 menit, bus sudah tiba di Pham Ngu Lao yang hanya berjarak 7 kilometeran dari airport.

Mencari hotel dengan cara langsung di TKP sangat membantu kami melihat langsung harga-harga dan kondisi kehidupan masyarakat di HCMC. Rumusnya : Blusukan, Pilih, Tawar dan Deal.

Akhirnya kami sepakati mengambil Hotel Boutique Meraki di Jalan Bui Vien. Rata-rata per orang dari kami membayar 13 US$ untuk setiap kamar yang fasilitasnya cukup lengkap ini.

Perut kami harus segera diisi sebagai amunisi penjelajahan hari itu. Cari yang gampang aja, aku bersama Mas Rendra membeli beberapa bungkus nasi putih Vietnam yang legit plus telur ceplok di dalamnya (@12.500 VND). Kami berdua tau, telur digoreng dan caranya dimasak dengan minyak goreng baru. In Shaa Allah halal. 

Karena sudah cukup lapar, kami 'sikat' semuanya dengan menaburkan abon, sambal goreng kripik kentang, rendang kering dan bumbu pecel yang sengaja kami bawa dari tanah air. Alhamdulillah nikmatnya makan berjamaah, menyantap makanan yang sangat sederhana ini.

Setelah istirahat dan berkemas mandi, penjelajahan city tour siap dilakoni. Taksi Vinasum menjadi jujukan kami untuk menuju Independent Palace. Ongkosnya cuma 50 ribu VND shared 5 orang. Jadi per orang cuma bayar 5 ribu Rp.

Taksi Vinasum yang menggunakan jenis Kijang Innova, sangat cukup membawa kami kemana-mana. Kami selalu menggunakan Taksi karena sangat murah. Jauh dekat setiap driver melayani kastemernya dengan tulus hati. Argo pertamanya 12 ribu VND. Semua kendaraan roda empat menggunakan stir kiri dan menggunakan jalur kanan. Ini berlawanan dengan berlalu lintas di tanah air, stir kanan dan berhaluan di kiri jalan. Hal yang sama dengan Indonesia adalah 'kesamaan waktu' dengan Waktu Indonesia Bagian Barat.

Masuk ke beberapa museum ada tiketnya. Ke War Crime Museum (Museum Perang) 15.000 VND dan Independent palace (Reunification Palace) 40.000 VND. Kedua museum ini menyimpan catatan sejarah perpolitikan dan kisah pedih masa perang di Vietnam. 







Ke Notre Dame Cathedral (gereja tua peninggalan kolonial Perancis) dan Kantor Pos Besar juga pakai taksi yang hanya bayar 20.000 VND. Dari kantor pos yang memiliki foto besar pemimpin komunis Vietnam itu, kami kirim kartu pos ke tanah air. (Post card 5.000 VND dan perangkonya 11.000 VND). Dengan Taksi yang berbeda, kami lanjut ke Ben Thanh Market ngopi-ngopi (15.000 VND) lalu belanja aneka kopi dan teh asal Vietnam sambil menunggu hujan reda.


Makan malamnya di Jalan Nguyen An Ninh yang tidak jauh dari Ben Thanh Market. Di situ ada beberapa Resto halal yang dimiliki warga asal Malaysia. Kami memilih Resto Hj. Basiroh, memesan sup daging Pho, sup ikan dan lainnya. Untuk itu semua kami bayar 435.000 VND. 

Di bawah hujan rintik, dari area Ben Thanh kami menyebrang dan menyusuri jalan menuju Masjid Al Rahim untuk shalat berjamaah dan sedikit berbagi pada takmir masjid. Balik ke hotel pakai taksi lagi.


CU CHI TUNNEL YANG SELALU BIKIN TEGANG

Selepas sarapan di roof top lantai 8 Hotel Boutique Meraki, kami stand by menunggu jemputan bus untuk half day tour ke Cu Chi Tunnel.

Tiketnya 7 US$ belum termasuk entrance fee 5 US$ atau 110.000 VND per orang. Tiket tersebut kami beli semalam dari agen perjalanan yang berada di sebelah Hotel Boutique Meraki. Di situ, kami juga beli tiket full day tour ke Mekong Delta yang harganya 10 US$. Tour ini akan dipandu oleh tour operator 'Hai Travel'.

Bus yang banyak diduduki turis asal mancanegara meluncur selama satu setengah jam menempuh jarak 70 km ke Cu Chi Tunnel. Sambil ngantuk-ngantuk ayam, kami dibangunkan oleh suara Mr. Yellow, tour guide kami yang berbicara lewat mikroponnya, memberitahu kalau kita sudah sampai.

Ketegangan mulai terasa sejak pintu masuk sampai pintu keluar area Cu Chi Tunnel. Semuanya memberi pelajaran mendalam betapa gigihnya perlawanan Rakyat Vietnam melawan agresor Amerika yang memiliki persenjataan modern lengkap.


Inovasi dan berbagai kreasi diciptakan Gerilyawan Vietkong dalam usaha melawan dan menghalau tentara Amerika. Membuat terowongan sempit, bercabang dan memiliki rute sepanjang hingga 180 km. Para pejuang hidup di situ dalam waktu yang lama. Dalam terowongan tersedia ventilasi alam, dapur, rumah sakit, ruang meeting, ruang produksi senjata atau berbagai jebakan untuk melumpuhkan lawannya.

Wisata sejarah yang mengajarkan kita tentang kegigihan, keuletan, kerjasama dan rasa cinta tanah air telah mampu mengusir penjajah dari tanah Vietnam. Mas Rendra dan Sam Huget mencoba menembakan butiran peluru dari senjata AK47 dan Kalashnikov. 

Tubuh kami terasa segar karena keringat cukup banyak keluar. Menjelajahi bekas lokasi perjuangan Vietkong sangat menggugah hati karena obyeknya masih nyata ada di tengah hutan yang asli alamnya.

Selesai dari Cu Chi, perjalanan kami lanjutkan ke Masjid Jamia Thanh Duong, Dong Du di sebelah Hotel Sheraton. Di situ kami shalat berjamaah dan bersilaturahim dengan takmir masjid. Kami pun tidak lupa memberi hadiah dan sadaqah beberapa perangkat alat shalat. 

Uang Dong sudah menipis. Kami datangi salah satu bank untuk menukar US$ dan Sin$ lalu meluncur cari makan siang di Jalan Nguyen An Ninh lagi. Kali ini memilih resto yang berbeda dengan yang kemarin (625.000 VND), Restoran Halal Food Haji Osman. Sebelum pulang, kami beli tiga porsi nasi putih yang dibungkus sterofoam untuk makan malam. Sebenarnya di dekat Masjid Dong Du terdapat resto halal, Halal Saigon dan D'Nyonya. Tetapi kami disarankan jangan makan di situ.

Ketika masuk Pasar Ben Thanh selera kami tergugah melihat banyak pengunjung minum es beraneka ragam jenisnya. Ternyata dugaanku benar, bukan saja enak dipandang mata tetapi rasanya lebih enak dari yang kuduga. Harganya per gelas 15 ribuan.

Sebelum ke Cu Chi Tunnel, kami check out lebih awal dari Hotel Meraki dan menitipkan semua barang di situ hingga pukul empat sore. Kembali dari Cu Chi barulah semua bag kami angkut ke hotel yang baru, Vinh Hotel. Kamar berukuran besar dilengkapi AC, TV, kulkas dan kamar mandi di dalam, kami bayar 60 US$ untuk dua malam. Lokasi hotelnya sangat strategis, berada di pertigaan Jalan Pham Ngu Lao dan De Tham.

Di tiga jalan ini merupakan markasnya backpacker (backpacker area). Kawasan ini hidup hampir dua puluh empat jam, siang dan malam tiada hentinya. Hentakan musik di cafe-cafe, minum minuman keras bahkan para wanita muda hidup bebas di kawasan ini. Semuanya menjadi ujian kami, bisakah kita mengendalikan diri khususnya menyetir hawa nafsu menjadi nafsu yang baik.

Memang grup kami tidak pernah ada capeknya. Yang menjadi sasaran berikutnya adalah ke Saigon Square dan Saigon Center. Di Saigon Center barang yang dijual banyak yang branded, khususnya pakaian dan sepatu. Harganya murah. Barang-barang di sini ada juga dijual di Pasar Ben Thanh atau di pasar malam di sekitarannya. Intinya kami bisa dapat harga lebih murah asal mau teliti dan sabar. Pakaian dan sepatu di sini cocok untuk dipakai sendiri atau dibeli sebagai oleh-oleh.

Lumayan capek menjelajahi Cu Chi Tunnel dan HCMC hari ini. Untuk makan malam kami membuka bungkusan nasi putih. Seperti hari pertama di HCMC, kami menyantapnya dengan sambal goreng kentang, abon, bumbu pecel dan rendang kering. Cukup menggelar alas makan dari karton halus bekas box camilan, lalu dengan tangan kami menikmatinya berjamaah. Segunung nasi putih hanya sekejap saja sudah ludes semuanya. Tubuh mulai terasa berat. Akhirnya semua terlelap tidur dengan irama ngorok yang berbeda-beda.


MEKONG DELTA ANDALAN VIETNAM SELATAN

Pagi ini, sobats sudah siap semua sejak shubuh. Sebab pada pukul delapan kami akan melakukan one day tour ke Mekong Delta. Tampak Mas Terry sejak pagi sudah menyalurkan kebiasaannya, yaitu menabung 'ke belakang'. Di manapun tempatnya dia selalu mampir untuk menabung. Seperti di hotel, agen perjalanan, toilet umum, bandara atau di manapun kalau sensornya sudah bekerja, ia pasti mampir 'menabung'. Disamping kebiasaan 'baiknya' itu, Mas Terry punya hobi mencari sinyal free wifi. Dia sering berteriak ketika tiba-tiba dapat sinyal wifi, "Hei rek .... aku nangkep wifi gratis" . 


TERRY
HUGET & RENDRA
AKU & DWI
Berbeda dengan Sam Huget. Dia senang merekam dan mengabadikan segala aktifitas kami dengan kamera henponnya. Dia juga salah satu sobat yang hobinya shoping. Hampir setiap hari kami diajak ke Ben Thanh Market untuk membeli kopi bubuk khas Vietnam. Tampaknya sih dia sedikit naksir dengan penjual kopi yang berparas menarik itu. Hhe...

Memang Ben Thanh Market memiliki magnet yang luar biasa. Pasar tradisional ini menjual berbagai busana, souvenir dan kuliner dengan harga miring berkualitas baik. Uniknya para penjual mengajak mampir ke lapaknya dengan Bahasa Melayu atau Bahasa Indonesia. "Mampir Bang... murah ... murah ...".

Untuk mendapatkan harga yang lebih murah, aku terbiasa memakai siasat memakai bahasa lokal. Seperti Cam on (terima kasih), Xin Cao (Hallo) atau Bao Nyiu ? (berapa harganya ?). Dengan begini aku bisa lebih akrab menyatu dengan masyarakat lokal Vietnam.

Nyamannya, turis tidak pernah merasa terganggu apalagi dipaksa untuk membeli ini dan itu. Di Ben Thanh, Bahasa Indonesia bahkan Bahasa Jawa sering dipakai oleh pedagang atau penghubung antara penjual dan pembeli. Bukan itu saja, di tempat tertentu kami bisa bayar dengan mata uang Vietnam Dong, US$, Ringgit Malaysia atau Rupiah. Tetapi pada umumnya pembeli membayar pakai Dong, US$ atau Kartu Kredit.

"Mas aku udah lapar nih", kata Mas Dwi. Seperti itulah yang sering dirasakannya, cepat lapar. Kalau Mas Rendra sering menjadi pelumas memperlancar urusan kami. Ketika pas ga bawa uang, dia sering yang menalanginya dan kita boleh menggantinya belakangan. Tetapi dia ga tahan kalau harus berjalan kaki jauh. "Pak, masih jauh ga tempatnya ? kita naik Grab aja ya Pak...". Kadang-kadang dia bercanda manja, "Pak... gendonnng". Kalau aku sendiri sih pasti jadi orang yang paling baik. Wkwkwk .... Tugasku harus bertanggung jawab 'mengemong' para Bos, sejak berangkat hingga kembali.

Sebelum bus jemputan ke Mekong Delta datang, kami mencicipi es kopi Vietnam KQ5 di Jalan Bui Vien. Menikmati segelas besar es kopi susu di pagi hari sangat enak dan murah meriah, hanya 20.000 VND (sepuluh ribu rupiah saja). Semuanya cocok dengan rasa es kopi susu di jalan itu.

Tourist Bus berisi tiga puluh turis mancanegara membawa kami keluar HCMC menuju Mekong Delta. Menempuh perjalanan selama dua jam ke pinggiran Sungai Mekong di Kota My Tho. Sebelumnya bus singgah sejenak di sebuah rumah makan untuk istirahat 'meluruskan kaki'. Kemudian mampir lagi di sebuah Budha Temple untuk sekedar beli makanan dan minuman di tengah teriknya panas mentari. Teman-temanku membeli topi anyaman dan es tebu untuk membantu mengurangi rasa panas. 

Dengan boat ukuran sedang kami diseberangkan menuju pulau kecil Dragon, Unicorn, Tortoise dan Phoenix. Pertama, melihat proses pembuatan permen dari sari kelapa (coconut candy) dan produksi anggur pisang. Prosesnya diperagakan oleh tour guide kami bernama Jimmy yang sangat kocak dan baik hati. 



Pada pulau yang lain kami disajikan lunch menu vegetarian dan setelahnya menonton 'penyanyi seksi' yang beraksi di atas panggung, ke taman buaya, tidur bergantungan dengan hammock atau bisa saja bersepeda mengelilingi liku-liku pulau kecil ini. Di pulau yang berbeda kami disajikan buah-buahan seperti nangka, semangka, rambutan, buah naga dan nanas. Sambil menyeruput teh panas di bawah atap rumah lokal Vietnam, kami menikmati alunan lagu-lagu tradisional dari gadis-gadis asli Mekong Delta.


Kami dibawa lagi menuju kanal anak Sungai Mekong untuk berkano ria (canoeing) yang didayung oleh seorang ibu yang tinggal di dekat situ. Puluhan kano satu persatu membawa turis menyusuri kanal yang penuh ditumbuhi semacam pohon nipah. Pada bagian akhir tour ini, kami diisuguhi madu dan bipolen hasil peternakan lebah. Tanpa disadari madu dan bipolen dihajar habis oleh sobats kami asal Ngalam ini.

Kami sempat ngobrol bersama mendiskusikan tentang tour ke Mekong Delta. Kok bisa ya, hanya dengan biaya 10 US$ (135.000 Rupiah) kita bisa dilayani sebaik ini. Service Bus pergi pulang masing-masing dua jam. Dapat air mineral, makan siang, buah-buahan, madu, minum teh, sajian musik, boat dari pulau ke pulau, bermain kano dan hiburan gratis lainnya selama tour. Luar biasa... dan mereka tidak pernah memaksa untuk membeli ini itu, kecuali sesekali menawarkan dagangannya dengan cara yang sangat wajar. Ingin belajar akh seperti Vietnam.

Sekitar pukul tiga petang, bus balik ke HCMC yang krodit tetapi memiliki taman-taman dan pepohonan yang indah terawat baik. Tidak ada capeknya, begitu tiba kami langsung ke Saigon Center lagi membeli pakaian branded yang terkenal dengan harga miringnya. Lokasi Saigon Center tidak begitu jauh dari Ben Thanh Market. Memborong pakaian untuk keperluan sendiri dan titipan para sanak saudara sudah dilakukan dengan baik oleh teman-teman kami.

Pada malam terakhir di Vietnam, kami tutup dengan dinner di Rumah Makan Halal Amin di Jalan Nguyen An Ninh juga. Harga makanan di sini jauh lebih murah diantara resto lain di sekitarnya. 

Innalillahi wa inna ilahi rojiun.
Suasana duka menyelimuti kami semua. Ibunda Mas Terry dikabarkan berpulang ke Rakhmatullah pada usia 61 tahun karena sakit. Kami shalat ghaib di kamar hotel mendoakan almarhumah agar semua amal ibadah beliau diterima Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan. Allahumma firlaha warhamha wa afii wa'fuanha. Aamiin 3X YRA. 

Ini hari terakhir di Vietnam. Semua barang siap dikemas dan kami beranjak sarapan nasi goreng kampung dan es kopi susu khas Vietnam di Resto Amin. Uang Dong yang masih tersisa hanya bisa dipakai untuk sarapan pagi dan naik taksi ke bandara. Taksi ke bandara 140.000 VND lebih murah dibanding normalnya 170.000 VND. Check in lebih awal kami lakukan agar semuanya bisa terkendali.

Sejauh ini semua sesuai jadwal, termasuk Mas Terry. Kami tetap memakai tiket pulang ke KL. Tetapi di KLIA2 Mas Terry langsung transfer penerbangan ke Surabaya tanpa harus melalui gerbang imigrasi. Kami berpelukan dan menyampaikan duka mendalam pada beliau.


SEMALAM DI  MALAYSIA

Uang Dong harus kami habiskan. Karena kursnya rendah dan bakalan ga laku kalau ditukar di Malaysia atau di tanah air. Dari US$ ke Dong, kalau ditukar di bandara Tan Son Nhat kursnya lebih tinggi ketimbang ditukar di HCMC (1 US$ dapat sekitar 22.600 VND). Sedangkan di HCMC hanya dapat 22.500 VND. Jika bayar sesuatu dengan US$ gampang aja. Tetapi kalau bayar dengan VND, bayarnya per 1 US$ dihargai 22.800 sampai 23.000 VND. Jadi jatuhnya lebih mahal.

Akhirnya kami tiba kembali di KL dan bakal stay semalam satu hari di kota ini. Seperti biasa kami mengambil Shuttle Bus menuju downtown (11  Ringgit). Dan memilih guesthouse yang sangat murah, sekamar 60 Ringgit. Letaknya di Chinatown yang strategis kemana-mana.


Makan, menyusuri Pasar Senggol Chinatown, Pasar Seni dan ke Bukit Bintang menjadi jelajahan pertama di malam hari. Kami menggunakan Bus GoKL warna pink yang gratis. Selanjutnya dengan Taksi dan Grab kami ke Menara Kembar Petronas dan Dataran Merdeka. Pakai Grab ongkosnya jauh lebih murah dan mobilnya bagus-bagus. Setelah puas putar-putar mengelilingi pusat kota KL, pada tengah malam kami kembali ke Guesthouse.

Keesokan harinya, hampir semua sobat bangun kesiangan. Beruntung aku bisa bangun lebih awal dan masih sempat membangunkan yang lain. Tetapi Mas Rendra dan Sam Huget kebablasan, mereka bangun hampir pukul delapan pagi. Aku lupa nomor kamarnya jadi ga berani mengetuk pintu, takut salah.

Sekitar pukul sembilan pagi kami baru keluar guesthouse. Diantara kami ada yang ga sempat mandi. Sarapan menjadi tujuan utama pagi ini. Setelah itu ke Batu Caves dengan KTM (Kereta Api) dari Stasiun Kualalumpur. Di Batu Caves, semuanya menaiki ratusan anak tangga menuju gua raksasa di atas sana. Keringat bercucuran. Ga pa pa, hitung-hitung olahraga di pagi hari. 


Sepulang dari situ, kami buru-buru membersihkan tubuh di kamar mandi. Menuju ke Perhentian Pudu membeli buah segar dan juice nanas apel. Selanjutnya ke KLCC dengan LRT dari Stasiun Pasar Rakyat (transfer di Masjid Jamek).

Di KLCC rencananya hanya lihat-lihat aja, belanja tipis-tipis dan makan siang di situ. Tetapi apa yang terjadi. Semuanya kalap shoping, padahal hanya di satu outlet pakaian. Akhirnya aku tidak memberi toleransi lagi, semua harus tertib waktu dan bergegas meninggalkan KLCC. Gara-gara aku bilang mau beli coklat di supermarket grosir My Din, semuanya juga mau ikut. Barang belanjaan dari KLCC ditaruh di locker berbayar depan My Din. Pilih ini dan pilih itu khususnya berburu coklat, semuanya jadi kalap shoping. Teman-teman lupa, padahal dari Vietnam sudah bawa belanjaan. Begitu juga dari KLCC. Eh... ini malah ditambah lagi dengan coklat. Semuanya tidak ada yang bersalah.

Aku sudah web-checkin via henpon tiket untuk semuanya tanpa beli bagasi. Barang bawaan jadi banyak tetapi tanpa bagasi. Sedangkan peraturan bawa bagasi ke dalam kabin hanya 7 Kg saja. Akhirnya dan terpaksa barang bawaan harus dikemas praktis, diatur dan dibagi pada siapa saja yang bisa membantu bawa.

Sebetulnya kekuatiran terlambat sudah ada gejalanya sejak di KLCC. Oleh sebab itu aku batalkan makan siang di food court KLCC, karena kuatir terlambat. Sewaktu akan mengambil barang titipan di locker, kunci Sam Huget raib entah kemana. Dicari kesana kemari tetap ga ketemu. Akhirnya lapor pada pengelola locker kalau kunci hilang. Barang bisa diambil tapi harus bayar uang pengganti kunci yang hilang. Biaya penggantinya 50 Ringgit, berarti sekitar 150 Ribuan. Terpaksa harus diganti dan kami kehilangan waktu dua puluh menitan. 

Buru-buru kembali ke guesthouse yang jaraknya sekitar 400 meteran dari My Din. Semua tidak ingat lagi rasa lapar. Semua fokus pada keberangkatan agar ga terlambat. Ngepak-ngepak dan selip sana selip sini, akhirnya barang bawaan siap diangkat menuju shelter shuttle bus (Star Shuttle) menuju KLIA2. Aku sendiri hanya membawa satu bag dan kebagian harus membantu membawa barang belanjaan teman-teman. Nasib ... nasib ...


KEMBALI KE MALANG

Tiket shuttle bus ke KLIA2 sudah ditangan. Tetapi petugas harus men-skip satu jadwal karena bus tersebut ada gangguan. Terpaksa waktu tergerus hilang lagi karena harus menunggu lebih lama datangnya bus berikutnya. Pesawat kami berangkat pukul 19.15 dan boarding time ditutup pada pukul 18.55. Shuttle Bus berjalan lelet karena drivernya terlalu sabar mengendarainya. Ada juga sedikit kemacetan di jalan. Rasa kuatir terus bertambah ketika bus mampir dulu di KLIA, baru ke KLIA2. Lost time lagi. Kekuatiran terus bertambah, pas bus hendak berangkat, tiba-tiba datang seorang penumpang bus asal India yang merasa barangnya tertinggal di bus. Terpaksa driver ikut membantu mencarinya, di kabin dan di bagasi bus. Sedikit geregetan rasanya. Ketika bus masuk jalur KLIA2, ada hambatan waktu lainnya, ada mobil mundur yang salah masuk jalur. Terpaksa bus berhenti menunggu dia keluar jalur.

Kami sudah berada di terminal KLIA2. Semua berlari membawa barang bawaan yang cukup berat. Karena sedikit panik, aku sampai kesasar tidak menemukan jalan menuju departure hall. Padahal sudah puluhan kali aku lewat situ. Barcode web check in aku scan di mesin pemindai check in. Mencetak boarding pass gagal terus, mesin ga bisa mendeteksi dan nge-print. Akhirnya tiga orang dari kami mendatangi konter pemeriksaan dokumen. Alhamdulillah, petugas membantu kami. Dan mencetak semua boarding pass kami. Kenapa dia mengeluarkan boarding pass kami ? karena pesawatnya delay satu jam. Jadi pesawat berangkat pukul 20.15. "Pesawat bapak didelay satu jam" kata petugas. Aku heran pada temans seperjalanan, sudah dibilang petugas seperti itu tetapi tetap aja terus berlari. Mungkin mereka lelah dan masih tidak percaya kalau di-delay. Sebelumnya, kami sudah menyerah dan siap-siap untuk membeli tiket baru untuk besok pagi. Perkiraan biaya untuk tiket baru sebesar empat jutaan.

Para istri katanya sudah galau menunggu kedatangan para arjunanya masing-masing. Mereka sudah tau kalau kami tidak bisa pulang hari ini. Tetapi alhamdulillah, Allah masih sayang kami. Aku bilang, jangan berlari khan masih ada waktu !  Tetap aja teman-teman terus berjalan setengah lari. Kami harus melewati petugas pemeriksa tiket/paspor. Lalu harus melewati meja imigrasi. Barang bawaan discan tahap pertama dan menuju jalan panjang menuju gate Q11. Sebelum itu harus antri lagi, semua barang termasuk uang coin, dompet, HP, ikat pinggang bahkan sepatu harus discan pada tahap akhir. Proses-proses inilah yang meyakinkan kami kalau kami bakal terlambat. Tetapi alhamdulillah di-delay.

Nafas terengah-engah dan baru sadar kalau pesawat di-delay, barulah mereka berjalan pelan. Sejak pukul sembilan pagi kami belum makan siang dan malam. Itu semua dikorbankan demi bisa kembali ke tanah air tepat waktu. Masing-masing menenangkan diri dan masuk ke dalam mushala untuk menunaikan shalat. Untuk mengisi perut, kami hanya makan roti yang dibelikan Mas Rendra. Sambil makan roti, aku memeriksa ke dalam ruang tunggu Q11 dimana calon penumpang sudah banyak duduk di situ. Karena masing-masing sobat membawa bagasi yang over. Aku mencoba menyerahkan boarding pass untuk disobek petugas. Tetapi petugas menolak menyobeknya. Dia bilang, "Mana yang lain ?". Kujawab kalau teman kami sedang shalat. "Ok ... nanti aja saye koyak boarding pass nya kalau teman Pak Cik sudah lengkap" Wah, bakalan kena charge over barang bawaan nih. 

Akhirnya, hanya aku yang masuk ke ruang tunggu Q11. Sedangkan yang lain duduk-duduk santai di luar ruang tunggu. Mereka tidak tau ada masalah seperti ini. Banyak calon penumpang yang diharuskan membayar biaya kelebihan barang bawaan. Aku memberi kode pada teman-teman untuk segera masuk ke ruang tunggu. Tetapi rekan yang lain masih ada yang sedang shalat dan membeli minuman kopi/teh. Semua calon penumpang sudah masuk satu persatu ke dalam pesawat termasuk aku. Perkiraanku, teman-teman juga mulai menyusul masuk ke dalam pesawat. Ternyata tidak, mereka masih santai duduk-duduk di luar sambil menikmati kopi dan teh. Aku dapat cerita, kalau mereka kaget dan panik ketika menengok ke ruang tunggu sudah kosong semua. Barulah mereka kepontal-pontal lari memasuki ruang tunggu dan pesawat. Beruntung, petugas tidak sempat lagi memeriksa barang bawaan yang over itu. Dasar nakal .....



Sebetulnya kami hanya pasrah menunggu laparnya perut sampai tiba di Surabaya. Tetapi alhamdulillah Mas Rendra mentraktir kami makan minum di dalam pesawat. "Biar saya yang traktir karena masih suasana ulang tahun saya". Terus terang, ini adalah pengalaman pertamaku makan di pesawat budget. Biasanya aku ga pernah beli makanan minuman ketika pakai maskapai budget. Maklumlah, aku hanya seorang budget traveler.

Di tengah malam yang diiringi hujan rintik kami tiba di rumah masing-masing dengan membawa segala kenangan yang tidak mudah dilupakan. Maafkan saya sobats barangkali ada tutur kata dan perbuatan saya yang tidak pas mohon dimaafkan ya. Cheers



Copyright©  by RUSDI ZULKARNAIN
email :  alsatopass@gmail.com

  




Tidak ada komentar: