BERAMAL LEWAT TULISAN

Kamis, 05 Oktober 2017

MENYINGKAP RAHASIA TREKKING KE HIMALAYA




Keras sekali tekadku ingin menjejakkan kaki di bumi Nepal, terutama trekking ke Himalaya. Bagiku diusia 55 ini, bukan perkara mudah untuk mengeksekusinya. Dibutuhkan stamina yang prima, selain itu perlu budget dan perlengkapan khusus selama trekking.

Hanya tekad yang kuat dan persiapan yang matang serta ridho Allah SWT, akhirnya aku bisa menyelesaikan trekking di salah satu kawasan 'Annapurna Base Camp' khususnya jalur Ghorepani Poon Hill di Pegunungan Himalaya.


PERSIAPAN TREKKING

Trekking ke wilayah Annapurna harus ke Kathmandu dulu (kalau lewat udara). Lantas ke Pokhara sebagai starting point-nya. Pas winter, cuacanya cukup dingin. Apalagi kalau di Annapurna pasti lebih dingin lagi. Aku perlu persiapan dan perlengkapan ekstra untuk menghalau hawa dingin.

Barang perlengkapan trekking cukup makan tempat di bagpack. Apalagi kalau semuanya harus dibeli dari nol, pasti biayanya tambah banyak. Bagpack, sepatu, topi, slepping bed, head lamp, kaos kaki, masker, jaket anti dingin/angin, trekking pole, rain coat dll. Perlengkapan tersebut tidak kubeli semuanya, karena ini musim panas. Kalau malas bawa dari tanah air, segala peralatan trekking bisa dibeli atau disewa di Kathmandu / Pokhara.

Perlengkapan trekking yang baru, second hand atau sewa banyak tersedia di kedua kota ini. Banyak merk terkenal atau hanya buatan lokal tapi berkualitas ada juga di sini.

Persiapan yang tidak kalah penting adalah kebugaran tubuh. Di usiaku yang ke 55, untuk menjelajah daerah ekstrim seperti ini perlu olah raga rutin. Berjalan kaki hingga 10 km setiap hari, adalah salah satu usaha yang harus kulakukan. Mengkonsumsi makanan yang yang cukup gizi juga menjadi keharusan sampai menjelang keberangkatan. Pendek kata, sebelum berangkat jangan sampai sakit. Kalau itu terjadi bakal berantakan semuanya.



SEKILAS NEPAL

Negara ini berbatasan langsung dengan China dan India. Situasi negaranya mirip dengan beberapa negara di Asia Selatan seperti India, Bhutan, Bangladesh atau Srilanka. Tetapi perawakan dan wajah penduduk aslinya perpaduan antara Asia Selatan dan Tibet. Bahkan wajahnya banyak yang mirip dengan orang Indonesia.

Negara ini tidak memiliki laut. Yang ada hanya pegunungan, danau dan sungai. Air cukup melimpah di sini. Negaranya mayoritas penganut Hindu yang sangat taat dan patuh pada aturan adat istiadat budayanya.



MASUK KE NEPAL LEWAT DARAT

Aku masuk Nepal tidak lewat Bandara utama Tribhuvan International Airport, tapi masuk lewat perbatasan darat (border) India-Nepal yakni Sonauli. Dari perbatasan perlu semalam lagi untuk mencapai Kathmandu dengan bus.

Setelah terjadi gempa besar pada April 2015. Nepal luluh lantak akibat hentakan gempa yang amat dahsyat. Namun karena masyarakatnya memiliki semangat yang tinggi dan memiliki potensi wisata yang sangat digandrungi wisatawan dunia, negara ini bisa bangkit. Potensi tersebut adalah Pegunungan Himalaya dan sosial budaya yang berdaya magnit sangat kuat bagi para pelancong mancanegara.

Pembuatan Visa on Arrival 'VOA' sangat simpel dan cepat di Kantor Imigrasi Border Belahiya. Hanya mengisi dua form sederhana, siapkan pas photo, paspor dan uang 25 US$ (untuk 15 hari), lantas serahkan ke petugas. Dalam dua menit pasporku yang telah berlabel Visa Nepal, selesai.

Tahap pertama sudah beres. Sisa uang Rupees India yang ada, semuanya kutukar jadi Rupee Nepal. 1 Rupee India dihargai 1,6 Nepal Rupee 'NPR'. Tukarnya di money changer yang letaknya sederetan dengan Kantor Imigrasi Belahiya. Sedangkan US Dollar pada waktu itu per 1 Dollar dihargai rata-rata 100 NPR.

Modal Visa dan uang Rupee Nepal sudah digenggaman. Saatnya harus menembus kondisi jalanan yang sangat berdebu. Sekarang memang waktunya musim panas. Kebetulan kedua negara ini sedang memperbaiki jalan di mana-mana. Tentu, yang kayak beginian sangat mengganggu aktivitas warga maupun turis.

Akhirnya, kupanggil sopir rickshaw (becak) untuk mengantarkanku dari Nepal border menuju Terminal Bus (3 km). Ongkosnya 100 Rupees India. Lalu booking tiket bus tujuan Kathmandu (500 NPR).

Beruntung, perjalanan itu di malam hari. Katanya, ke Kathmandu jalannya berliku dan jurangnya sangat dalam. Mana kutahu, disamping gelap ga kelihatan, aku juga capek ketiduran.

Jalur ke Kathmandu, kondisinya rusak berat. Tidak sedikit bus harus berhenti memberi kesempatan pada kendaraan dari arah berlawanan. Keadaan tersebut diperparah adanya bencana tanah longsor dan banjir yang terjadi beberapa waktu yang lalu.


KATHMANDU

Ga mau pusing-pusing, begitu tiba pada pagi hari di Terminal Bus Kathmandu langsung kutembak guesthouse di sekitar terminal. Lokasinya di samping sisi timur New Bus Terminal. Di situ banyak sekali guesthouse dan hotel kecil berbentuk ruko. Di sepanjang jalan tersebut juga berjejer toko-toko yang menjual aneka barang/jasa. Meski banyak pelancong yang fanatik stay di Area Thamel Road (Backpacker Area), tapi aku tetap memilih tinggal di area ini. Karena kemana-mana bakal gampang sekali.

Begitu memasuki Nepal, sejak dari border hingga Kathmandu suasananya sangat berbeda. Rasanya lebih nyaman tinggal di Nepal daripada di Bangladesh atau India. Udaranya sejuk, tidak begitu semrawut, lalu lintasnya cukupan baik, sedikit bunyi klakson dan orangnya ramah bisa dipercaya. Keadaan ini sangat disenangi wisatawan.

Tapi, masalah debu sama parahnya dengan Bangladesh atau India. Karena banyak jalanan yang sedang diperbaiki, jadi debunya terbang kemana-mana. Soal telekomunikasi, aku mengandalkan free wifi di setiap guesthouse. Selanjutnya untuk akses di luar, kubeli paketan internet dengan jangkauan yang lebih luas seperti operator NCell.

Siang ini aku menuju ke Durbar Marg Jame Masjid dengan taxi (280 NPR). Aku bertemu dengan petugas masjid dan beberapa jamaah yang habis shalat di situ. Lantas, petugas mengantarkanku ke kedai makanan halal langganannya.


Pulangnya ke Terminal lagi pakai taxi khas Nepal yang kecil mungil. Pada kesempatan itu pula ku-booking bus ke Pokhara (600 NPR Bus AC) untuk lusa malam. Ke Pokhara ini adalah bagian penting perjalananku di Nepal.

Untuk makan sehari-hari perlu selektif, aku cari yang pure vegetarian. Bukan menu daging-dagingan, kecuali ikan. Biaya makan di Nepal lebih tinggi dibanding India. Faktor kebersihan dan higienitasnya sama rendahnya dengan Bangladesh atau India. Warga lokalnya senang meludah sembarangan.

Moda transportasi Kathmandu juga sulit dipahami. Karena tulisannya Nepali. Kalau mau gampang, terpaksa pilih taksi tapi rada mahal argonya. Ada angkutan kota jenis lain seperti mikrolet, armadanya pakai Hiace model lama yang berwarna putih. Bus dan angkot juga ada. Sebaiknya untuk naik moda transportasi ini harus tau jurusannya.



Mikrolet Hiace, bisa mengangkut hingga 20 orang. Penumpangnya dipadatkan antara yang duduk dan berdiri. Kalau berdiri, harus tahan membungkuk sampai tempat tujuan.

Dari Gongabu (sebutan untuk daerah New Bus Terminal) ke Masjid Durbar Marg Jame Masjid atau Durbar Square, kuambil Hiace putih jurusan Sundhara. Ongkosnya 40 NPR.

Kirain hari minggu itu libur. Ga taunya hari kerja normal biasa. Ternyata di Nepal liburnya hari sabtu. Perbedaan waktu dengan WIB, Nepal lebih lambat 1 jam 15 menit.

Pelancong mancanegara sangat banyak mengunjungi negeri ini. Mereka datang kebanyakan untuk ke Himalaya (yang artinya tempat kediaman salju). Sedangkan warga Nepalnya sendiri banyak yang meninggalkan tanah airnya buat bekerja di luar negeri. Mereka rela meninggalkan keluarganya untuk kehidupan yang lebih baik.

Minum alkohol sudah menjadi kebiasaan hidup sehari-hari. Hal tersebut dianggap lumrah karena alamnya yang dingin, jadi perlu yang hangat-hangat. Salah satu jenis yang mereka minum, kadar alkoholnya hingga 42%. Ck ck ck.


TREKKING PERMIT

Modal utama persiapan trekking salah satunya adalah ijin (permit). Ijin tersebut ada dua bagian yang dikeluarkan oleh Nepal Tourism Board. Yang pertama ijin individual trekker dan yang kedua ijin masuk kawasan konservasi, misalnya ke Annapurna dsb. Kedua ijin ini masing-masing biayanya 2.000 NPR. Kalau buat lewat biro jasa travel, sekitar 8.000 NPR.

Form pengajuan permit harus diisi data diri, dokumen trekker, destinasi, agency, teman/keluarga yang bisa dihubungi dan asuransi. Agency dan asuransi boleh tidak diisi.

Selanjutnya, ijin yang kedua untuk masuk ke wilayah konservasi bisa juga diurus di Pokhara. Semua tinggal pilih, tergantung kita senangnya buat dimana.

Dimulai berangkat dengan bus malam dari Kathmandu menuju Pokhara (10 jam, 600 NPR). Tibanya di Tourist Bus Station Pokhara, bukan di Terminal Baglung. Inilah kota kedua terbesar di Nepal setelah Kathmandu. Pokhara merupakan pintu masuk trekking ke kawasan Annapurna.

Aku tiba sekitar pukul empat shubuh. Tak seorang pun ada yang memaksa menawarkan pakai jasanya. Misalnya menawarkan taxi. Mereka hanya sekedarnya saja menawarkan, kalau ga mau tidak apa-apa. Aku merasa nyaman untuk hal yang satu ini.

Akhirnya, kupanggil sopir taxi untuk mengantarku ke hotel di sekitar lakeside. Ongkosnya 300 NPR. Dia menunjukkan Hotel Rosemerry untuk aku. Taripnya 800 NPR per malam. Dapat kamar besar, TV dan kamar mandi di dalam. Kalau saja berdua, bayarnya lebih murah karena bisa share untuk dua bed yang tersedia.

Dari Hotel Rosemerry cukup jalan kaki beberapa menit ke Phewa Lake. Para turis dan warga lokal banyak yang mengunjungi danau ini karena keindahannya dan masih alami dikelilingi bukit hijau. Mereka sewa perahu untuk menyusuri danau atau untuk ritual di pulau kecil di tengahnya.

Danau indah ini letaknya tidak jauh dari kawasan turis Pokhara (area backpacker). Berbagai layanan turis berpusat di sini. Misalnya hotel, club malam, money changer, souvenir shop, peralatan trekking, paralayang, sewa heli, paket trekking, tiket angkutan atau city tour Pokhara.

Pernah dengar Gurkha ?  
Benar, Gurkha adalah tentara bayaran di masa kolonial Inggris yang ditugaskan di wilayah negara jajahan termasuk Indonesia. Mereka itu semuanya berasal dari Nepal, Tentara Ghurka sebutannya.

Gurkha tentu ada hubungannya dengan kondisi alam Nepal yang keras di Pegunungan Himalaya yang berhutan lebat dan bersalju.

Aku perlu beristirahat dua harian di Pokhara untuk melepas lelah dan menyesuaikan kondisi cuacanya. Beruntung, waktu itu cuacanya sangat bersahabat. Hanya sedikit hujan dan bukan musimnya salju.

Daripada hari ini nganggur ga ada kegiatan. Aku iseng ikut city tour di sekitaran Pokhara. Tour yang murah meriah dipandu seorang wanita asal Mongol yang bernama Kapona. Sayangnya, pada hari itu gerimis ga mau berhenti yang terus membasahi Kota Pokhara.

Besok adalah waktunya trekking ke Poon Hill. Persiapan kulakukan untuk esok pagi. Sebagian isi bagpack yang ga perlu kutitipkan di hotel.

Dunia ini kecil, tidak disangka tidak dinyana, aku bertemu dengan teman kuliah anakku yang baru saja turun dari Annapurna Base Camp. Dia tau aku ada di Pokhara dari facebook yang baru dibukanya. Karena biasanya kalau aku update status, aku selalu meng-tag nama anakku. Dari situlah, akhirnya aku bisa meet up dengannya di salah satu kedai kopi langgananku.



I AM READY FOR TREKKING TO POON HILL


Dari hotel kuambil jeep menuju Nayapul, 2.000 NPR. Kota kecil terakhir ini cukup lengkap sebagai tempat pemasok segala kebutuhan orang desa di atas sana. Aku harus minum secangkir milk tea dulu untuk menghangatkan tubuh. Dan membeli tongkat bambu sebagai pengganti pole trekking.

Dengan mengucap bismillah aku mulai menapakkan langkah pertama menuju Check point Bhiretati. Diiringi hujan lebat memaksaku untuk pakai rain coat yang kubawa dari tanah air. Sebenarnya, rain coat sederhana banyak dijual di Nayapul.

Permit dicatat pada pos pertama dan pada pos kedua setelah jembatan besi, permit distempel sebagai tanda masuk kawasan trekking.

Pada hari pertama ini targetnya hanya desa Tikhedungga. Trek nya berbatu dan zig zag turun naik menyusuri tepi sungai.



Waktu makan siang aku pilih di Sudame. Menunya cukup nasi goreng vegetable plus orak arik telur. Setelah tenaga pulih, kulanjutkan menuju Tikhedungga. Total trekking hari ini hanya empat jam. Atau tujuh jam sejak berangkat dari hotel.

Sebenarnya trekking ini hampir saja kubatalkan karena jempol kakiku cenat cenut sejak di Varanasi India minggu yang lalu. Sakitnya luar biasa. Pakai sepatu pun nggak bisa. Tapi sayang kalau trekking ini aku batalkan. Permit sudah terlanjur kuambil dengan biaya sekitar 40 Dollar.

Dengan niat yang kuat, minum obat dan berdoa memohon pada Allah SWT agar diberikan kemudahan. Akhirnya trekking tetap kujalankan meski jalannya pincang tertatih-tatih.

Aku bermalam di Tikhedungga. Kamar kecil berdinding triplek dihargai 300 NPR per malam. Kamarnya tanpa colokan listrik dan kamar mandinya di luar sharing. Kalau mau charge handphone harus bayar 100 NPR.



Untuk makan malamnya, aku masih pilih menu nasi goreng seperti di Sudame, 250 NPR. Minumnya teh jahe. Dan beli seliter air mineral yang harganya 100 NPR.

Trekking di musim normal seperti ini tidak perlu sleeping bed. Cukup pakai selimut tebal yang disediakan guesthouse.

Setelah sarapan menyantap Tibetian Bread dan secangkir teh jahe lagi. Trekking kulanjutkan menuju desa Ulleri. Jalur ini cukup berat karena up... up... up... naik terus tanpa bonus jalan mendatar apalagi turun. Keadaan ini kurasakan berat mulai Tikhedungga-Ulleri-Bathetani sampai ke Ghorepani.

Dalam perjalanan sering berpapasan dengan rombongan seratusan domba yang turun ke bawah. Aku harus mengalah memberi kesempatan rombongan turun. Kalau tidak bakal diseruduk tanduknya yang melebar kuat. Bukan itu saja, serombongan kuda juga melakukan hal yang sama. Turun untuk berbelanja aneka kebutuhan sehari-hari di bawah sana.

Di hari kedua makan siangnya di Bathetani. Kali ini aku pilih vegetable soup, ginger tea dan sebuah apel merah, per buah harganya 100 NPR (13 ribu).

Setelah trekking lebih dari tujuh jam, akhirnya sampai juga di Ghorepani. Tidurnya di Super View Hotel (400 NPR). Hotel ini memiliki view deretan gunung Himalaya seperti Dhaulagiri, Annapurna South dan Macchapucchre.


Namun, ada yang cukup mengganggu trekkers. Dari bawah hingga ke Ghorepani banyak polusi kotoran kuda dan kambing. Hampir di sepanjang jalur trekking banyak dijumpai kotoran ini baik yang lama atau baru. Benar-benar sangat mengganggu pernafasan. Padahal kalau setiap kuda diberi kantung penampung kotoran bakal lebih baik kondisinya. Udara terasa lebih bersih dan kesehatan semua pihak bisa terjaga.

Untung saja sekarang bukan musim salju. Karena kalau winter, suhunya bisa minus beberapa derajat. Tentu, barang bawaan akan lebih banyak disiapkan. Yang pasti bakal merepotkan dan perlu tenaga ekstra untuk melewati jalur ini.

Mencapai Ghorepani saja sudah berat. Dan esok dini harinya harus trekking lagi ke Poon Hill. Padahal capeknya belum hilang. Jalurnya juga naik terus tanpa ampun selama 1 jam 20 menit.

Berbekal air minum, jaket, head lamp dan topi, tepat pukul empat pagi aku naik ke Poon Hill. Sebab kalau terlambat nggak bakalan bisa lihat sunrise. Jalannya gelap, hanya cahaya head lamp yang dapat memecah gelapnya malam.

Menjelang sunrise aku tiba di Poon Hill bersama trekkers lainnya. Begitu tiba sudah lega rasanya. Kelelahan terobati semuanya. Apalagi setelah matahari menyembulkan dirinya, lukisan alam ciptaan Illahi tampak di depan mata. Segala usaha, tenaga dan waktu terlupakan semuanya. Akhirnya berubah menjadi suka cita dan kekaguman yang luar biasa.

Selama ini aku hanya lihat dari gambar-gambar yang ada, tapi kali ini menyaksikan sendiri dengan nyata. Iya... melihat yang sebenarnya.

Poon Hill adalah salah satu spot terbaik di dunia untuk melihat sunrise. Lapisan salju membalut dinding-dinding puncak Pegunungan Himalaya. Alur-alur putih sangat menakjubkan mata dan hati trekkers. Bentangan gunung-gunung dari kiri ke kanan sangat mempesona, Dhaulagiri, Annapurna South dan Macchapucchre. Semuanya mudah dikenali karena mempunyai ciri masing-masing.

Trekkers mengabadikannya dengan apa yang mereka bawa. Ber-video, foto, selfie sendirian atau bersama orang-orang yang dikasihinya, termasuk group trekking saling bergantian mengabadikan moment langka ini.

Pagi itu langit benar-benar bersih tanpa sedikit awanpun yang menghalanginya. Kedua kaki seakan tidak mau beranjak dari tempat ini. Entah kapan bisa kemari lagi. Poon Hill 3210 mdpl.

Dengan rasa berat hati terpaksa aku harus turun menjauhi Poon Hill. Berarti bakal berpisah dengan semua keindahan yang ada. Tapi tidak mengapa, semua itu sudah tersimpan rapi didalam hati dan ingatan yang tak mudah untuk dilupakan.


Kutinggalkan Ghorepani setelah sarapan dan membereskan segala perlengkapan menuju titik selanjutnya, Tadapani (2590 mdpl).

Rutenya, Ghorepani-Deurali-Tadapani. Tidak kalah dengan sebelumnya. Jalur ini juga menguras tenagaku, naik dan naik. Kuncinya hanya satu, sabar dan step by step. Makan siangnya di Banthanti (2.660 mdpl). Untuk menyelesaikan jalur ini perlu waktu 8 jam atau 10 jam plus Poon Hill pp.

Sinyal NCell rupanya tidak menjangkau Ghorepani dan Tadapani. Kalau perlu, bisa pakai wifi hotel. Tapi harus bayar 100 NPR. Nge-charge handphone sampai penuh, juga harus bayar 150 NPR. Air mineral 1 literan dihargai 100-120 NPR.


Sepanjang trek kenyang mendengar gemericik dan suara derasnya air mengalir. Sungai dan air terjun menjadi pemandangan yang biasa dijumpai.

Di hari ketiga aku bermalam di Tadapani dan Fishtail View Top Lodge menjadi pilihanku. Lodgenya sangat sederhana, kamar mandi di luar. Dindingnya dari triplek. Kalau bicara terdengar oleh kamar sebelahnya. Tapi, dari sini view gunung-gunung di Himalaya masih bisa dilihat dengan jelas seakan mengikutiku tidak mau berpisah.

Di hari keempat, setelah sarapan. Tepat pukul tujuh pagi langsung meninggalkan Tadapani menuju Gandruk. Pada jalur trekking ini, hampir semuanya menurun. Bukan berarti lebih enak. Di sini perlu konsentrasi. Jangan salah menapak turun dan jaga kekuatan kaki.


Dari Tadapani sampai Gandruk kukebut turunnya sehingga hanya perlu waktu 2 jam saja. Semula aku berniat bermalam di Gandruk. Tapi kupikir sangat tanggung. Lebih baik kuteruskan balik hingga Pokhara.

Jadi, dari Tadapani langsung Pokhara dan skip menginap di Gandruk. Dari sini lanjut ke Kimche, trekking turun selama 1 jam.

Sekitar pukul setengah dua belas siang, aku tiba di Kimche. Lantas makan siang di situ. Senampan stainless steel Dal Bhat (400 NPR) habis kusantap seketika.

Bus menuju Pokhara sudah siap menunggu. Jadwalnya berangkat pukul setengah satu siang. Cukup dengan bayar 300 NPR, aku sudah bisa sampai di Pokhara. Kalau pakai jeep taripnya 4.000 NPR.

Waktu yang diperlukan dari Tadapani sampai Kimche adalah 5 jam. Bus pun mulai meluncur turun menapaki jalan samping tebing yang sempit di pinggiran jurang yang dalam. Bus tidak bisa bebas berpapasan kalau ada kendaraan dari arah yang berlawanan. Salah satu harus berhenti. Atau harus bermanuver agar sama-sama bisa lewat.


Menyusuri jalan turun berliku. Sangat asyik pemandangannya. Kampung-kampung kecil tampak menempel di dinding gunung. Atau ada kampung kecil terpisah jauh di bawah sana. Alur sungai dan ladang juga tampak menawan dilihatnya. Yang sedikit mengerikan adalah bibir jurang curam tanpa batas yang harus dilewati bus ini.

Bus berhenti di check point Birethanti. Permit dikumpulkan kondektur bus dan dimintakan stempel keluar area trekking. Dengan distempelnya permit, berarti trekking selesai. Kalau mau masuk lagi harus bikin permit baru.

Bus dari Kimche ke Pokhara melewati Nayapul. Dan hampir empat jam baru sampai di Terminal Baglung, lanjut pakai taxi ke hotel 300 NPR.

Berikut adalah jalur trekking yang kulalui :

Nayapul-Birethanti-Ramgai-Sudame-Hille-Tikhedunga-Ulleri-Banthati-Nangethati-Ghorepani-Poon Hill-Ghorepani-Hill Top-Deurali-Banthanti-Tadapani-Baisikharka-Gandruk-Kimche-Nayapul-Pokhara.


PENUTUP JELAJAH NEPAL

Sebagai penutup aku nikmati sisa hari di Pokhara dan Kathmandu. Salah satunya shalat di Masjid El Bilal Pokhara atau makan momo (semacam dimsum/siomay) dan dal bhat, keduanya adalah makanan khas Nepal.



Menurut keterangan warga lokal, jumlah masjid di kathmandu ada 27 buah dan pokhara 3 buah.

Sebagai modal utama bertemu warga Nepal cukup bilang NAMASTE (ucapan salam bila bertemu), setelah itu bisa cepat akrab.



Di hari terakhir, dengan bus dari Terminal Gongabu, aku menuju Bakhtapur. Ini adalah kota tua yang sangat bersejarah. Suasananya mirip kawasan Durbar Square. Tempat peribadatan, rumah asli penduduk masa lalu dan beberapa bekas kolam luas melengkapi lanskap kawasan ini. Dari Gongabu cukup bayar bus 35 NPR (sekitar 5 ribu rupiah), dalam satu jam lebih sudah sampai di terminal kecil Bakhtapur. Dari situ jalan kaki ke kota tuanya. Sangat berkesan berada di sini, karena sangat artistik dan sangat bersejarah.


See you Nepal, I will come again. Saatnya menuju Airport dengan taxi (500 NPR). Mau pakai bus juga bisa dari Terminal Gongabu jurusan Bakhtapur (30 NPR). Minta berhenti di gerbang airport, lantas jalan kaki 100 meter ke dalam. Pesawat Airasia pun membawaku sampai Kualalumpur dan kuteruskan ke Surabaya, lantas Malang.




Copyright©  by RUSDI ZULKARNAIN

Tidak ada komentar: