BERAMAL LEWAT TULISAN

Minggu, 08 Oktober 2017

MADNESS and COURAGE IN BANGLADESH




Hanya berniat ingin shalat di masjid terbesar kesepuluh di dunia yang ada di Dhaka, alhamdulillah Allah meringankan langkahku menuju Bangladesh.

Selebihnya itu, perjalanan kuteruskan ke India untuk mengeksplor keunikan bagian lain negeri ini yang sangat luas, lalu ke Nepal untuk memenuhi rasa penasaranku bagaimana menjelajahi Pegunungan Himalaya yang fenomenal itu.


Teman dan sahabatku banyak yang ingin gabung dalam traveling ini. Tapi lagi-lagi mereka ga mau pergi kelamaan. Bisanya cuma seminggu. Kubilang, kalau cuma seminggu ke Nepal mau dapat apa ? Sedangkan aku sendiri ambil waktu 35 hari untuk menjelajahi tiga negara yang bertetanggaan di Asia Selatan itu.

Sepertinya mereka kuatir, kalau pergi kelamaan, nanti bakal dipanggil Om oleh anaknya yang masih kecil karena jarang ketemu.

Sangat eman kalau pergi jauh-jauh tapi cuma sebentar, karena biayanya lumayan besar. Traveling itu perlu explore dan menikmati setiap detailnya. Ga mau cuma kejar tayang yang semuanya dikerjakan serba terburu-buru sehingga roh travelingnya ga dapet.

Istri dan anakku sih sudah paham kalau aku sukanya begitu (pergi lama). Karena faktor terbatasnya waktu teman², akhirnya aku harus ber-solo traveling menjelajahi tiga negara, Bangladesh, India dan Nepal. Ya bismillah aja. Aku yakin Allah akan selalu melindungi hambanya yang sedang musafir ini.

Khususnya ber-solo trekking ke Annapurna Base Camp (ABC) Nepal, aku ambil jalur Ghorepani Poon Hill. Manajemen waktu, tenaga dan kedisiplinan menjalankan rencana yang sudah disiapkan, akan menjadi penentu keberhasilanku.
In Shaa Allah semuanya bisa berjalan lancar. Aku mohon ridhoMu Ya Allah.

Dari Surabaya aku pilih Airasia menuju ke Kualalumpur (KLIA2, Budget Flight Terminal). Kemudian dilanjutkan dengan Train KLIA Express (2 RM) ke KLIA, lantas mengambil Malindo Air tujuan Dhaka- Bangladesh.


VISA BANGLADESH

Urusan visa menjadi hal yang penting untuk masuk ke negeri ini. Tiket pesawat malah boleh dibeli belakangan setelah visa diapprove.

Pengajuan visa harus di Jakarta. Inilah yang bikin males travelers. Apalagi kalau tinggalnya jauh di luar Kota Jakarta, bakal buang waktu tidak ekonomis. Setelah browsing kesana kemari, akhirnya kudapat agen pembuatan visa yang lokasinya ada di Jatinegara, Jakarta.

Semua persyaratan kukirim via pos tercatat (23K) langsung ke biro jasa. Biayanya 1,5 Juta. 7 hari selesai dan bayarnya ditransfer belakangan. Begitu di acc kedutaan, pihak biro jasa segera kirim foto visanya lewat WhatsApp. Setelah kutransfer biayanya, dua hari kemudian paspor yang dilengkapi tempelan Visa Bangladesh sudah nongol di rumahku.

Kalau urus visa sendiri, biayanya Rp. 749.000 untuk single entry dan dapat stay maksimum 15 hari. Masa laku visa 90 hari. Untung aja ada travel biro yang bisa membantu mengurus Visa yang simpel dengan persyaratan sbb :

- Paspor asli yang masih berlaku minimal 7 bulan.
- Copy rekening
- Copy KTP dan Kartu Keluarga
- Pas photo uk. 3x4 background putih (4 lembar)
- Surat sponsor dari tempat kerja

Urusan apply visa bukan untuk Bangladesh saja. Karena perjalanan akan kulanjutkan ke Kolkata India, maka Visa India perlu ku-apply juga. Visanya bisa diurus di Jakarta, Bali atau Medan.

Atau pakai eVisa yang berjenis VOA 'Visa on Arrival'. Visa yang satu ini bisa apply lewat online. Bila granted (disetujui), maka pelancong boleh masuk di salah satu dari 24 Bandara di India, seperti New Delhi, Mumbai, Kolkata, Chennai dan bandara lainnya plus 3 pelabuhan laut.

Untuk Visa India, aku pilih eVisa. Disamping ga ribet, juga lebih murah. Kedua cara apply visa semuanya harus lewat online lebih dulu pada website :
https://indianvisaonline.gov.in/evisa/tvoa.html

Baik visa yang diapply langsung ke kedutaan atau eVisa, keduanya harus diajukan lebih dulu melalui formulir online. Setelah itu, hasil printnya dibawa ke Kedutaan. Atau persetujuan eVisa, print nya  ditunjukkan di Bandara tujuan.

Intinya untuk urusan visa yang berantai seperti ini harus cermat jangan sampai ada kesalahan. Karena resikonya bakal serius.


DHAKA, CRAZIEST CITY IN THE WORLD

Meski Malindo Air termasuk budget flight, tetapi penumpangnya dapat meal. Berbeda dengan budget flight Airasia, tanpa meal.

Dari KLIA2 ke KLIA hanya perlu semenit pakai KLIA Express Train. Departure Terminalnya ada di lantai 5.



Kurang lebih empat jam aku terbang bersama Malindo Air. Pesawatnya baru, bersih, tempat duduknya longgar, dapat meal nasi goreng sate ayam, pramugarinya muda-muda, cantik lagi dan sangat ramah.

Aku adalah satu-satunya penumpang Warga Negara Indonesia yang ada dalam pesawat itu. Urusan imigrasi terbilang lancar. Karena semua jawaban petugas sudah kusiapkan dari tanah air.

Bandara jadul itu bernama Hazrat Shahjalal International Airport. Benar-benar masih jadul bangunan phisiknya maupun pelayanannya. Dari jauh airport tampak seperti terminal bus. Tetapi masyarakat Bangladesh cukup ramah. Ketika di atas pesawat mereka menyalamiku dan berkata, "Welcome to Bangladesh".


Pertama-tama yang kulakukan di bumi Bangla adalah tukar uang dari Dollar ke Taka. 1 USD setara 81.7 Taka. Atau 1 Taka sekitar 165 Rp. Pecahan Taka terkecil adalah 1 Taka (coin) dan yang terbesar 1.000 Taka.

Kemudian beli paket internet. Yang paling ngetop adalah Grameenphone. Beli yang 4Gb untuk seminggu, harganya 480 Taka (sekitar 80 Ribu Rp). Syaratnya, beri paspor, isi form dan mau di-photo.

Mengapa Bangladesh sebagai destinasi pilihanku ? Padahal negara ini kurang populer di mata travelers, crowded, kotor, poor dan dipandang kurang safe negaranya. Justru itu, aku pilih yang anti mainstream. Alasan lainnya, karena ingin ber Idul Adha di halaman masjid terbesar ke-10 di dunia (Baitul Mukarram). Negeri ini juga dekat dengan India dan Nepal sebagai destinasi lanjutanku. Apapun keadaannya, semuanya masih bumi Allah yang patut dikunjungi.

Fakta unik bahwa Bangladesh adalah bagian dari Pakistan. Dulu, namanya Pakistan Timur. Sejak tahun 1971 Pakistan Timur merdeka dan berubah menjadi Bangladesh. Tentu saja ini terjadi karena peperangan dengan India dan penolakan rakyat Pakistan Timur atas penindasan oleh Pakistan Barat.

Tiba di Hazrat Shahjalal International Airport di tengah malam. Kalau Waktu Indonesia Bagian Barat itu (GMT +7), maka di Dhaka adalah (GMT +6). Dhaka lebih lambat 1 jam dibandingkan WIB. Karena tiba di tengah malam, dengan senang hati (bukan terpaksa) aku nongkrong dan shubuhan di bandara.


TEMPAT MENGINAP DI DHAKA

Sebelumnya aku pesan penginapan lewat booking.com. Tempat tinggal sejenis AirBnB menjadi pilihanku.

Namanya Golpata BnB di Hafiz Garden, KA 37/5, Joar Shahara,  Lichu Bagan,  Baridhara.
Hubungi Joy 01721791089


Sejenis apartemen yang memiliki beberapa kamar ini letaknya di lantai 5 (ada lift). Kamarnya bersih, ada balkon, kamar mandi bersih,  dapur,  free sarapan, free wifi dan Joy adalah staf yang ramah siap melayani kami.

Tarip yang ditawarkan cukupan bagi turis yang datang ke Bangladesh. Karena negeri ini bukan destinasi turis, semua penginapan harganya mahal. Mereka tidak menyiapkan sarana tersebut karena sedikit sekali turis yang mau datang kemari.

Dari Bandara Hazrat Sjahjalal kucoba pakai bajaj berbahan bakar gas yang biasa disebut CNG. Armadanya ada argometernya. Tetapi kenyataan di lapangan harus tawar menawar (argometer tetap dijalankan).


Penumpang yang tidak terbiasa pakai moda transportasi yang satu ini akan kaget setelah membayar yang disepakati, tapi mereka minta tambahan lagi. Alasannya macetlah, atau sedikit mutarnya jauh atau pura-pura bertanya tidak tau tempatnya.

Waktu itu aku tawar 400 Taka (sekitar 65 Ribu Rupiah). Padahal jaraknya sekitar 5 km saja. Tetapi benar, Dhaka rajanya macet total.


KEGILAAN LALU LINTAS DHAKA

Bukan Dhaka namanya kalau tidak ada kegilaan di dalamnya. Super crazy yang pantas disandang kota ini.

Bagaimana mungkin ini bisa terjadi ? Semua tidak mau mengalah. Saling serobot, saling manuver dan ngebut. Antara bus, kendaraan pribadi, sepeda motor, rickshaw (becak) atau CNG tumpah ruah di jalanan yang berdebu dan panas.

Meski satu dua ada lampu merah, mereka tidak menghiraukannya. Bunyi klakson menjadi pemandangan yang memekakkan telinga. Bukan saja polusi udara, tetapi polusi suara adalah tantangan untuk hidup di Dhaka.




Hampir 100% segala jenis kendaraan tidak ada yang mulus. Paling tidak ada goresan, penyok atau lebih parah dari itu. Oleh sebab itu mobil jenis menengah ke atas memakai tambahan besi pelindung bamper depan belakang. Repair mobil dan aksesoris pelindung kendaraan bertebaran di mana-mana.

Kalau naik CNG lebih baik diam saja. Serahkan semuanya pada Allah dan Sang sopir. Cara berkendaranya bikin hati was-was. Kalau driver tidak punya inovasi berkendara, aku pasti akan menjadi korban juga.

Hampir 100% driver cycles rickshaw memakai sarung. Disamping memang hal itu sudah budayanya. Pakai sarung terasa lebih bebas gerakannya. Apalagi driver rickshaw, perlu mengayuh sepedanya sambil berdiri. Itulah sarung multifungsi yang banyak manfaatnya.



Negeri ini seperti tidak ada pemimpinnya. Semuanya jalan sendiri-sendiri. Yang tertib hanya ada satu hal, yakni shalat berjamaah di masjid. Ketika adzan tiba, semua bergegas ambil wudhu dan beramai-ramai shalat berjamaah tepat waktu. Itu bedanya taat perintah Allah dengan perintah manusia.

Ingat main bombom car waktu kecil ?
Itulah keadaannya di jalanan Dhaka. Kendaraan jadul seperti di jaman 'flintstone' masih banyak dipakai beroperasi.


Siang di hari ke-2 di Dhaka, aku ke railgate di jalan utama Joar Shahara. Dari situ aku ke Uttara dengan bus yang melewati depan Bandara Sjahjalal (20 Taka). Kemudian makan siang di restoran menu lokal Bangladesh. Aku pilih mirip nasi biryani plus mutton dan telur. Minumnya cukup air mineral botol besar dan teh susu Bangla 'chai' (180 Taka).

Dari situ ambil bus ke Saderghat, yakni Pelabuhan Ferry/Boat di pinggiran Sungai Burrigangga. Menuju ke Saderghat dengan bus ongkosnya 60 Taka. Tibanya sekitar dua jam an, karena macet total setiap hari.


Ketika waktu Ashar tiba sekitar pukul 5 petang, aku shalat di Masjid Hokers. Jamaahnya membludak. Karena masjid ini berada di dalam pasar yang ramai. Pulangnya pakai CNG (400 Taka). Dan dua jam kemudian baru sampai di penginapan.


MELIHAT SPOT TURIS DI DHAKA

Spot turis di Dhaka lokasinya menyebar. Kecuali di sekitar Saderghat ada beberapa spot yang berdekatan. Untuk menjangkau semuanya dalam satu waktu sangat sulit karena kemacetan ada di mana-mana. Sehingga harus satu persatu dicicil dijelajahi setiap hari.Mau naik apapun tidak akan memecahkan masalah. Karena semuanya harus melewati kemacetan yang parah.

Hari ini hari Jumat. Yang pastinya di Bangladesh adalah hari libur. Pagi hari setelah minum cucu coklat, aku bergegas ke rail gate untuk ambil bus menuju Gulistan (20 Taka). Dari situ kusambung dengan delman yang ditarik dua ekor kuda sampai Saderghat (50 Taka). Karena hari libur, menuju kemari cukup lancar tidak begitu macet.

Di Gulistan sangat sesak situasinya karena besok adalah Idul Adha. Ada yang mau pulang kampung, tukar uang kertas baru atau belanja untuk keperluan hari raya.

Ketika turun dari delman, tempat pertama kutuju adalah monumen di Bahadur Shah Park atau lebih dikenal Victoria Park, Old Dhaka. Monumen ini dibangun tahun 1858 untuk mengenang terbunuhnya tentara India oleh tentara Inggris.


Kemudian jalan kaki tepian Sungai Burrigangga. Di situ juga ramai dipadati masyarakat yang akan pulang kampung dengan perahu atau feri lewat jalur sungai.

Kucoba menyebrang dengan perahu dayung dari Saderghat ke tepian Sungai Burrigangga di seberangnya (10 Taka). Pemandangannya sangat indah. Deretan perahu dayung, kapal feri dan Istana Ahsan Manzil tampak jelas dan indah diabadikan dari seberang sini.



Di seberang sana, aku menikmati parata plus kari kentang dan segelas teh susu 'chai'. Menjelang Jumatan, aku kembali ke Saderghat dengan jenis perahu yang sama.

Sambil menuju ke Ahsan Manzil (Pink Palace), kubeli di PKL sepiring pepaya yang telah dipotong-potong. Harganya cuma Rp. 1.000. Karena hari Jumat, Pink Palace tutup. Aku hanya bisa mengabadikannya dari luar pagar. Sayang sekali Palace yang indah ini harus ternoda dengan semrawutnya orang berjualan di sepanjang jalan di depannya.

Lokasi ini dikenal sebagai pusat buah lokal dan import. Truk kontainer, gerobak, rickshaw dan mobil pickup banyak parkir memuat dan menurunkan bawaannya. Semua tumpah ruah menjadi satu di jalanan ini. Suasana semrawut dan kotor menjadi pemandangan yang biasa. Tampaknya tidak ada yang mau peduli untuk merubah keadaan ini.


JUMATAN DI MASJID GHAT

Karena kadung berada di daerah Saderghat, aku jumatan di sekitar situ. Jumatannya di Masjid Ghat di pinggiran Sungai Burrigangga.

Adzan dikumandangkan satu jam sebelum Khatib naik mimbar. Para jamaah satu persatu mulai berdatangan dan mengerjakan shalat sunnah. Khatib memberi nasihat/tausiah selama 40 menit sampai Khatib naik mimbar. Setelah naik mimbar, muadzin adzan dengan suara biasa yang tidak begitu nyaring.

Khutbah pertama dan kedua sangat singkat karena nasihat sudah disampaikan pada saat sebelumnya. Ketika Khatib berdoa tidak ada satupun jamaah yang mengaminkannya. Semuanya mengaminkan hanya dalam hati.

Shalat dilakukan seperti shalat berjamaah biasa hingga selesai. Setelah itu petugas pengumpul infaq masing-masing berkeliling shaf mengedarkan kantung kain sebagai pengganti kotak amal. Imam membaca doa untuk kebaikan, keselamatan dan perlindungan Muslimin Muslimat di manapun mereka berada. Selesai.

Masjid Ghat berlantai tiga. Dan lantai keempat sebagai top roof sedang diselesaikan pengerjaannya. Aku pun sempat naik ke lantai yang paling atas. Dari situ aku leluasa mengabadikan beberapa spot yang indah seperti hiruk pikuknya pedagang buah, boat dan feri di Sungai Burrigangga, juga Pink Palace yang tepat berhadap-hadapan dengan Masjid Ghat.

Selanjutnya aku penasaran ingin ke Lalbagh Fort. Dari Masjid Ghat jaraknya lumayan jauh. Jalanan sedikit becek karena harus melalui pasar hewan yang lokasinya di bawah fly over.

Di situ sangat ramai transaksi jual beli sapi dan kambing untuk dikurbankan esok hari. Sapinya mayoritas adalah sapi benggala. Meski besar-besar, harganya jauh lebih murah dibanding di tanah air.

Sambil menyusuri jalan-jalan sempit di kota lama, aku sering mampir ke kedai pinggir jalan untuk sekedar mengisi perut atau menghalau rasa haus.


Lalbagh Fort pun akhirnya aku temukan. Tapi hari itu tutup karena Jumat. Aku mencari celah untuk masuk lebih dekat ke dalamnya. Beruntung, di sebelahnya terdapat lorong kecil menuju Masjid kuno Lalbagh Kella yang berada masih dalam satu kompleks dengan Lalghat Fort. Shalat Ashr berjamaah di masjid itu dan berdiskusi dengan para jamaah yang antusias menyambut kedatanganku.

Untuk mengakhiri jelajah hari itu, aku berjalan menuju halte yang diberitahu oleh jamaah masjid untuk melanjutkan pulang dengan bus ke Joar Shahara (50 Taka).


SPESIAL KE MASJID BAITUL MUKARRAM

Berangkat dengan cycles rickshaw (20 Taka) dilanjut dengan bus umum ke Baitul Mukarram (20 Taka). Jadilah aku ditakdirkan Allah SWT bisa shalat berjamaah di Masjid terbesar ke-10 dunia, Baitul Mukarram. Masjid ini bisa menampung puluhan ribu jamaah, maka dijadikan sebagai Masjid Nasional Bangladesh.

Bayangkan, shalat dhuhur di masjid ini jamaahnya ribuan. Apalagi kalau Jumatan. Alhamdulillah, aku berkesempatan bisa cium tangannya Imam Masjid Baitul Mukarram. Dan beliau minta doa untuk kebaikan Bangsa Bangladesh. Kok minta sama aku. Emang aku ini siapa ? Begitulah



Masjid yang dibangun sejak tahun 1960 an ini dikelilingi oleh kedai makanan, toko kitab dan toko busana Muslim. Tempat wudhu yang luas dan pancuran kran air yang menyebar dapat melayani ribuan jamaah untuk mensucikan diri. Begitu juga dengan kamar kecilnya tersedia banyak.

Sebelum pulang ke hotel, aku menyantap parata dan mutton plus sebotol air mineral. Aku bayar 155 Taka atau 25 Ribu Rp.

Pulangnya ga tau harus naik bus apa. Karena busnya semua pakai Bahasa Bangla. Tidak ada secuil pun bahasa latinnya. Caranya mudah saja, tinggal tanya dan pakai sedikit feeling. Yang penting tau nama tempat ketika berangkat tadi.

Busnya memiliki satu pintu saja di depan. Kecuali bus tingkat, pintunya ada dua depan dan belakang. Karena hawanya panas, kipas angin sering dihidupkan. Di dalam bis umum penumpangnya banyak yang berdiri. Ngebut, saling kejar atau saling serempet menjadi pemandangan yang biasa. Penumpangnya pun hanya diam saja.


Kendaraan roda empat semua stirnya ada di sebelah kanan. Sama seperti di Indonesia. Tidak sedikit penumpang dengan kernet atau penumpang dengan penumpang  saling selisih paham. Ada aja gara-garanya. Persoalan kecil bisa jadi ribut.

Contohnya, gara-gara ada penumpang yang tau aku diminta ongkos dua kali, penumpang ribut dengan kernet. Kehebohan terjadi di dalam bus. Penumpang di sebelah tempat duduk terus membelaku. Padahal aku sudah mengikhlaskannya. Karena cuma kemahalan beberapa ribu saja. Tetapi penumpangnya ga terima kernet berbuat begitu. "Awas loe...  kalau berbuat sekali lagi pada turis. Loe tau sendiri," Ancamnya (tafsiranku seperti itu).

Taripnya ga tau berapa. Bayar aja, kalo kurang tinggal tambah. Gitu aja kok repot. Pepatah malu bertanya sesat di jalan ada benarnya juga. Meski ada Google Maps, kadang-kadang kurang puas kalau hanya 'ngomong-ngomong' dengan gadget. Wkwkwk

Aku belum punya tiket dari Dhaka ke Kolkata. Kalau pakai train ga bisa, karena eVisa ku berlaku untuk masuk lewat jalur udara, Kolkata Airport.

Akhirnya kubeli online SpiceJet salah satu budget flight yang bermarkas di India. Kudapat harga 94 USD include airport tax. Harga tersebut adalah yang termurah waktu itu. Karena memilih harga yang paling murah, aku keluar Bangladesh jadi mundur dua hari.

Keuntungannya, karena stay di Golpata seminggu, aku dapat diskon free 1 hari.


SUASANA IDUL ADHA DI DHAKA

Travelingku ke Bangladesh pas menjelang Idul Adha. Suasananya sangat ramai. Masyarakat menyiapkan segala sesuatunya buat merayakan Idul Adha. Mereka banyak yang pulang kampung, shoping atau mulai membawa hewan-hewan kurban mereka untuk disembelih.

Bangladesh, India dan Pakistan Idul Adhanya berbeda dengan di tanah air. Mereka mundur sehari. Kalau di tanah air tanggal 1 September, maka di Bangladesh jatuh tanggal 2 September 2017.

Hewan-hewan kurban sudah disiapkan beberapa hari sebelumnya. Setelah bubaran Shalat Ied, penyembelihan langsung dilakukan. Penyembelihannya tidak dilakukan di halaman masjid seperti di tanah air. Tetapi ini dilakukan di depan rumah masing-masing, di jalan raya, di depan toko-toko atau di dekat sekitarnya.


Prosesnya tidak begitu ribet. Bersama-sama menjatuhkan hewan kurban, lalu menyembelihnya. Jadi proses pemotongan cepat selesai, karena terbagi di beberapa titik. Yang memotong hewan kurban tidak ganti baju lagi sehabis shalat ied. Baju gamis dan kopiah putih masih melekat padanya. Alhasil baju gamisnya banyak terciprat percikan darah hewan kurban.

Daging-daging kurban dibawa para penerima dengan karung plastik. Ketika naik bus, mereka taruh begitu saja di bawah kursi tempat duduk. Darahnya mengalir kemana-mana.


SHALAT IDUL ADHA

Shalat dimulai pukul 07.30 pagi. Sebelumnya ada tausiah seperti Shalat Jumat.

Rakaat pertama takbir tiga kali setelah takbiratul ikhram. Baca Fatihah dan baca Surat. Dan lanjut seperti biasa. Pada rakaat kedua langsung baca Fatihah dan baca surat. Lalu takbir tiga kali lalu ruku. Dilanjutkan seperti biasa.

Shalat selesai dilanjutkan dengan khutbah. Di sini sedikit panjang dan ditutup dengan doa yang panjang pula. Sebelumnya, para petugas mengedarkan kantung-kantung kain sebagai pengganti kotak amal. Uniknya, ada beberapa penginfaq yang meminta uang kembalian karena mereka berniat tidak sebesar itu memberinya.

Hanya ada satu dua toko makanan dan warung yang buka di hari raya ini.


CHITTAGONG, COX'S BAZAR dan KUTUPALONG

Selepas Shalat Idul Adha dan menyaksikan penyembelihan hewah kurban, aku bergegas menuju Terminal Bus Kalabagan. Kuambil bus kota ke jurusan tersebut. Karena Idul Qurban, ongkosnya naik jadi 50 Taka. Karena penumpangnya sedikit, aku tidak diturunkan ditempat yang seharusnya di Kalabagan. Aku harus sambung lagi dengan bus ke Gulistan.



Tau aku ingin ke Chittagong, ada seorang pemuda yang bilang kepadaku, "Silakan ikut saya, Bapak mau ke Chittagong kan,?" tanyanya. Aku berjalan mengikutinya yang akan mengambil mobilnya di bank tempat ia bekerja. Katanya ia seorang sopir di bank tersebut. Tampaknya ia merendah. Dari penampilannya sih memang bukan sopir. Ia terlalu rapih untuk pengakuan seperti itu.

Ia mengantarku hingga aku dapat tiket di agen bus. Setelah itu ia pamit dan mengucapkan salam perpisahan padaku. Terimakasih Ya Allah yang selalu menolong hambaMu.


Jalanan ke Chittagong sangat lengang karena Idul Adha. Sepanjang perjalanan hanya tampak persawahan, rawa atau bangunan yang masing-masing jaraknya cukup jauh.


Aku menginap semalam di Hotel Diamont Park yang ratenya 110 Ribu Rupiah (kalau lewat booking.com ditawarkan 175 ribu). Untuk mendapatkan hotel tersebut sopir CNG aku pandu dengan Google Maps di handphone-ku.


Entah mengapa aku sebelumnya terpanggil untuk menengok ke Kamp Pengungsian saudara kita Rohingya dari Myanmar yang berada tidak jauh dari Cox's Bazar. Rencana tersebut kutetapkan jauh-jauh hari sebelum terjadinya pembantaian massal oleh tentara Myanmar terhadap etnis Rohingya hari-hari belakangan ini.


Menuju ke Kamp Pengungsian Rohingya bisa langsung dari Dhaka ke Cox's Bazar, lalu dilanjutkan ke Kutupalong. Atau stop dulu di Chittagong.

Chittagong sendiri berada hampir di tengah-tengah perjalanan antara Dhaka dan Cox's Bazar. Kota ini adalah tempat asal peraih Nobel Perdamaian tahun 2006. Muhamad Yunus, yang mengembangkan konsep kredit mikro dan keuangan mikro. Konsep pinjaman yang diberikan pada warga terlalu miskin yang tidak mampu pinjam ke bank.

Kota terbesar kedua di Bangladesh setelah Dhaka ini adalah provinsi yang terletak di bagian tenggara berdekatan dengan Myanmar.


Aku tidak langsung ke Cox's Bazar, tetapi stop dulu semalam di Chittagong. Perjalanan dengan bus dari Dhaka ke Chittagong, ongkosnya 480 Taka. Waktu tempuhnya sekitar 5 jam 30 menit.

Baru saja tiba di Chittagong, aku sudah disambut oleh mati lampu dan hujan lebat. Beruntung, aku sudah tiba di hotel budget sebelum keduanya terjadi.

Esok paginya kulanjutkan perjalanan dengan bus selama empat jam lebih menuju Cox's Bazar. Cox's Bazar adalah kota kecil yang berjarak 390 km dari Dhaka (Ibukota Bangladesh) atau 145 km dari Chittagong. Wilayah Cox's Bazar merupakan kabupaten yang posisinya di selatan Chittagong.

Di bawah guyuran hujan lebat yang jatuh sejak malam tadi, aku meninggalkan hotel pakai becak (rickshaw) menuju pangkalan bus menuju Cox's Bazar. Ongkos busnya 280 Taka atau sekitar 50 Ribu Rupiah.



Sebetulnya, untuk menuju ke Chittagong atau Cox's Bazar bisa ditempuh dengan pesawat udara dari Dhaka. Meski waktunya lebih cepat tapi harganya tentu jauh lebih mahal dibanding dengan perjalanan darat pakai bus. Tiketnya sekitar 6.000 Taka (900 Ribuan Rp).

Aku sengaja menyiapkan dana untuk berbagi pada saudara kita di Kamp Pengungsian yang sedang merayakan hari raya qurban. Idul adha di Bangladesh jatuh pada tanggal 2 september 2017. Berbeda satu hari dengan Indonesia. Bangladesh, India dan Pakistan lebih lambat satu hari dibanding dengan di tanah air. Sedangkan aku tiba di Kamp Pengungsian tepat pada hari tasyrik ke-2 Idul Adha.

Pas mau berangkat ke Chittagong, iseng-iseng aku cerita pada sahabatku tentang rencana ini. Serta merta beliau mentrasfer 10 juta rupiah ke rekening kartu kreditku. Tetapi karena di Bangladesh libur idul adha nya lima hari, dana tersebut tidak bisa kutarik. Sebab, Anjungan Tunai Mandiri 'ATM' berlogo Visa tutup semua tidak ada penjaganya. Alhasil kutalangi dulu beberapa ratus dollar untuk kebutuhan para pengungsi dari cadangan sangu travelingku.

Setelah naik bus hampir lima jam dari Chittagong, akhirnya aku tiba di Terminal Cox's Bazar. Ngopi-ngopi sejenak lalu langsung cari penginapan di pinggiran pantai Cox's Bazar.

Karena lagi peak season, aku dapat kamar yang 1500 Taka yakni sekitar 240 Ribu Rupiah semalam. Buat bayar hotel, uangku kurang 500 Taka. Mau ga mau harus tukarkan Dollar yang nilai tukarnya rendah sekali di kota ini. 1 Dollar Amerika dihargai 73 Taka, sedangkan di airport 81,7 Taka untuk setiap Dollarnya. Ga apa apalah yang ditukar cuma sedikit ini. Sebelum masuk ke kamar, aku booking tiket bus untuk besok malam kembali ke Dhaka. Aku dapat bus yang 800 Taka tanpa AC.

Kenapa dinamai Cox's Bazar, kok keren benar namanya  ? Daerah ini memiliki pantai sepanjang 120 km tanpa putus di teluk Bengal Samudra Hindia. Nama Cox berasal dari seorang diplomat Inggris yang bernama Captain Hiram Cox, beliau melayani wilayah Bengal dan Burma pada abad ke-18.

Cox's Bazar sebagai pusat wisata bagi para pelancong lokal maupun mancanegara. Memasuki daerah ini sangat berbeda suasananya. Tampaknya disini cukup aman dibanding daerah lainnya di Bangladesh. Hal itu bisa dilihat dari bentuk CNG (bajaj) yang berbeda dengan Dhaka. Di sini semuanya pintu dan jendelanya terbuka. Tidak seperti di Dhaka yang diberi ram besi.

Rencananya di Cox's Bazar aku mau belanja apa saja yang dibutuhkan pengungsi dan akan kubawa langsung ke Kamp Pengungsian. Di dekat Cox's Bazar ada beberapa lokasi yang dijadikan shelter pengungsian seperti Kutupalong,  Naya para dan Balukhali. Ketiga lokasi ini tidak terlalu jauh dari border 'perbatasan' Myanmar.

Sebetulnya Bangladesh sangat welcome menerima para pengungsi Rohingya. Namun negeri ini tidak seperti Turki yang kaya raya dan dengan tangan terbuka mau menerima dan mengurus dengan baik para pengungsi dari Suriah. Itulah masalahnya, Bangladesh terpaksa mau menerima pengungsi karena merasa sesama Muslim. Dan untuk membiayai kebutuhan para pengungsi banyak datang dari negara lain.

Pukul tujuh pagi aku sudah siap ke Kamp Pengungsian di Kutupalong. Check out hotel, cari sarapan terus ambil CNG ke Terminal Bus Cox's Bazar.

Bus nya juga sudah nongkrong di terminal dan siap berangkat. Dari terminal ongkosnya 50 Taka ke Kutupalong yang jaraknya 31 km dari Cox's Bazar.

Hampir pukul sembilan pagi aku sampai di mulut jalan menuju pengungsian. Beruntung aku dipandu Google Maps, jadi tidak perlu banyak tanya untuk menemukan lokasinya. Ratusan bahkan ada seribuan orang memadati pintu masuk tersebut yang dijaga berlapis aparat keamanan Bangladesh.

Hiruk pikuk dan padat sekali orang-orang menumpuk di sekitar sini. Ada pengungsi, warga lokal ataupun pihak yang sengaja menengok ke Kamp ini. Untuk masuk ke lapisan pertama, aku tunjukkan paspor sekedarnya. Petugas mempersilahkanku untuk masuk. Sekarang, aku harus menembus ke lapisan yang kedua dan petugasnya lebih banyak.




Beruntung ada seorang pengungsi yang sudah lama bermukim di tenda pengungsian. Namanya Muhamad Yasin. Beliau tinggal sekeluarga di gubuk yang atapnya bolong-blong menatap langit. Aneh bin ajaib, aku belum pernah kenal pada. Tapi dia langsung bilang, "Ayo ikuti saya," pintanya. Niat ingin menembus penjagaan lapis kedua kuurungkan. Aku diajak melewati jalan tikus menuju jantung pengungsian. Melewati pasar, sawah dan pematang yang banyak dilalui pengungsi sejauh 750 meter ke dalam.

Tetap saja, meski aku mengenakan kaos biasa, tapi para pengungsi tau kehadiranku. Mata mereka banyak yang menatap tajam. Perhatian mereka cukup kubalas dengan senyuman dan salam assalamu 'alaikum.



Aku berusaha tidak melakukan gerakan yang menarik perhatian mereka. Sebab mereka ada ribuan jumlahnya. Banyak dari mereka yang memegang parang untuk bekerja. Hal itu merupakan budaya mereka dan masih suasana idul kurban. Kelihatannya jadi serem.






Aparat keamanan pun ada di dalam sana. Bahkan mereka sangat tegas mengatur para pengungsi. Untuk jaga-jaga aku sudah sepakat bilang kalau Pak Muhamad Yasin adalah saudaraku. Dan sebaliknya dia juga akan bilang begitu.



Menapaki jalan tanah turun naik, melewati jalan becek, pematang sawah di antara hiruk pikuknya pengungsi mempunyai resiko tersendiri. Karena bagaimanapun face dan 'penampilan' ku jauh berbeda dengan mereka. Padahal aku datang ke situ sengaja dengan pakaian yang sangat biasa saja.



Tampak ratusan tenda dari plastik berjajar luas sekali. Tidak ada kasur atau perabot rumah tangga. Semua tinggal seperti orang sedang berkemah naik gunung. Puluhan anak tanpa pakaian, mandi bersama-sama. Mengambil air yang keluar dari pompa tangan yang mereka pompa.

Di bawah puluhan tenda yang tidak utuh lagi, mereka ngobrol bersama sekedar untuk melupakan sesaat penderitaan mereka. Tim relawan juga ada yang menghibur atau memeriksa kondisi kesehatan para pengungsi. Banyak dari pengungsi yang harus mencari makan minum sendiri. Untuk sementara mereka menanti uluran tangan orang lain yang lewat di jalan raya utama.

Akhirnya, aku masuk ke gubuknya Pak M Yasin. Anggota keluarganya yang ada di luar diminta masuk menemuiku. Yang lain dilarang masuk. Di dalam rumah udaranya sangat panas karena atapnya sangat rendah. Pak Yasin dan istrinya mengipasiku bagaikan seorang raja. Aku melarangnya, "Biar kepanasan jangan dikipasi," Pintaku.



Lantas menanyainya dengan bahasa Myanmar yang kubisa dan memintanya menunjukkan kartu identitas sebagai pengungsi. Alhamdulillah ia dengan senang hati memperlihatkannya.

Rasa pilu terus menggelayutiku menyaksikan para pengungsi yang sudah sejak lama tinggal di sini. Kondisi tenda-tenda yang kumuh yang hampir beratap langit semakin menambah keprihatinanku. Ditambah lagi mereka harus tinggal di lantai tanah, tanpa listrik dan setiap hari harus antri ketika memakai layanan umum.

Mereka harus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari untuk makan, minum atau menyekolahkan anak-anaknya. Memikirkan hal ini aku hanya diam terpaku tidak bisa berkata apa-apa. Apalagi beberapa hari terakhir, kamp ini kedatangan pengungsi baru yang menyelamatkan diri dari kejaran tentara Myanmar. Mereka ditembaki, rumahnya dibakar dan tubuhnya dianiaya oleh masyarakat dan tentara yang membenci etnis Rohingya. "Ini persoalan perjuangan antara hidup dan mati," kata Pak Salim yang berhasil menyelamatkan diri masuk ke wilayah Bangladesh.

Kamp Pengungsian dekat Cox's Bazar menampung ribuan orang pengungsi yang terbagi di beberapa titik. Mereka hidup dalam kondisi yang sangat memperhatinkan.

Oleh sebab itu, kedatanganku ini tidaklah sia-sia. Meski badan terasa lelah dan perlu biaya yang besar, semua itu hilang begitu saja terobati karena bisa bertemu dengan saudaraku yang sedang penuh penderitaan.



Kedatanganku disambut hangat. Semua banyak yang mencium dan memelukku merasa seperti saudara sendiri. Air mataku juga meleleh jatuh begitu saja tanpa kusadari. Apalagi setelah kubilang aku mau menyerahkan bantuan berupa uang, aku sesenggukan tidak bisa melanjutkan bicara pada keluarganya.

Celana jean, celana untuk shalat dan kaos yang kubawa untuk ganti pun, menjadi rebutan saudara-saudaraku yang tau kehadiranku. Uang kertas pecahan 100 Taka atau 16.500 Rupiah kubagikan pada mereka. Tetapi resikonya sangat besar. Yang datang bertambah banyak dan cepat sekali mereka mengetahui kedatanganku.

Tanpa disadari aku telah berada di tengah-tengah ratusan pengungsi. Anak-anak, tua muda mengerubutiku dan terus mengikuti memohon pemberianku. Alhamdulillah, aku punya feeling yang tepat. Aku batalkan belanja sembako untuk mereka. Andai saja jadi kubawa, pasti urusannya semakin ribet dan berisiko.

Aku ganti dengan bermusyawarah dengan Pak Yasin kalau aku akan menyerahkan beberapa ratus Dollar Amerika untuk ditukarkan ke Taka. Kemudian amanah ini tolong dibelanjakan sembako dan dibagikan pada tetangga terdekat. Di Cox's Bazar atau di sekitar jalan raya utama ada yang melayani penukaran uang asing.

Aku sama-sama mencatat nama dan nomor telepon untuk hubungan silaturahim berikutnya. Alhamdulillah, untuk mengobati anak-anak yang tidak kebagian uang, mereka aku ajak foto bersama. Mereka senangnya bukan main. Terima kasih Ya Allah, Engkau telah mempertemukanku dengan saudara-saudaraku dari Rohingya.

Ini nomor hp Muhamad Yasin
+8801850266064

Setelah semua urusanku di Kamp Pengungsian selesai, aku pamit dengan mereka semua. Kami satu sama lain saling mendoakan untuk keselamatan dan perlindungan saudara Muslim di seluruh dunia.

Mereka masih terus mengikutiku hingga ke jalan raya utama pada saat aku pulang mengambil bus umum.

Akhirnya, aku harus meninggalkan Cox's Bazar langsung menuju Dhaka dengan bus malam. Sebab, perjalananku masih panjang. Lusa harus terbang ke Kolkata India lanjut lagi ke Nepal dan Malaysia. Total travelingku kali ini 35 hari.

Ya Allah selamatkan dan lindungilah kami semua saudara Rohingya di Myanmar maupun yang ada di Kamp Pengungsian. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.


Sebagai hari penutup di Dhaka, aku berkunjung ke KBRI di Gulshan 2 road 53 no. 14. Hanya sekedar ingin tau aja kalau KBRI Dhaka itu di situ dan begitu. Rupanya di Gulshan 2 adalah kawasan para diplomat dan kedutaan negara-negara asing. Hampir setiap rumah di kawasan ini dijaga oleh aparat keamanan.


Akhirnya, berakhir sudah petualanganku di Bangladesh dan terbang ke Kolkata dengan SpiceJet.
Sampai jumpa Bangladesh. Banyak kenangan yang tak akan pernah kulupakan selama sebelas hari di negerimu. Kita akan bertemu kembali di India,



Copyright©  by RUSDI ZULKARNAIN
Email :  alsatopass@gmail.com

Tidak ada komentar: