BERAMAL LEWAT TULISAN

Friday, 30 August 2019

JELAJAH 6 PROPINSI DALAM SEBULAN (4)

Mumpung matahari pagi belum beranjak naik tinggi, aku buru² menuju ke WTC Batanghari. Di situ banyak tukang ojek non online. Sambil melihat² Jembatan Gentala Arasy yang melintas cantik di atas Sungai Batanghari, kupanggil ojek menuju Kawasan Candi Muaro Jambi.


KOMPLEKS CANDI MUARO JAMBI

Jarak dari situ sekitar 17 km dan ongkosnya disepakati 50 ribu sekali jalan. Nanti Pak Ijal aku ajak masuk ya ke dalam dan tiketnya aku yang nanggung. Tampaknya Pak Ijal tertarik ajakanku. Sebab dia pernah ke situ ketika berusia 18 tahun sedangkan sekarang umur beliau 60 tahun.

Pasti Pak Ijal nanti heran setelah 48 tahun belum melihat lagi Candi Muaro Jambi. Benar saja kataku, beliau bener² semangat memasuki area ini. Aku juga menjamin nanti pulangnya akan naik motor bapak lagi dengan biaya yang sama. Jadi saya bayar pp ya Pak.



Karena masih pagi kami berdua tidak bayar tiket masuk sebab kantornya belum buka. Tapi di dalam kawasan harus lapor di pos sekuriti dan menulis identitas. Sebelum menyusuri jalan cor setapak yang menghubungkan candi ke candi, aku siapkan dua buah botol air mineral buatku dan Pak Ijal.


Pak Ijal bilang, "Dulu nggak seperti ini dek, rumputnya tinggi² dan batu² candinya masih berantakan." Pak Ijal bernostalgia menceritakan masa remajanya ketika main² ke Candi Muaro Jambi. Pak Ijal benar² menikmati setiap obyek dalam kawasan ini sambil dia membantu menjepretkan hape untukku.

Kawasan Candi Muaro Jambi adalah salah satu kawasan Candi Budha yang terbesar di Asia Tenggara. Semuanya diusahakan terawat baik dan didata satu persatu untuk disajikan pada para pelancong. Tapi sayang, dari Kota Jambi tidak ada transportasi umum menuju kesini. Kalau mau kesini harus naik ojek atau bawa kendaraan sendiri.


Meski udaranya panas tapi di dalam terasa sejuk karena banyak pohon² rindang yang tumbuh tinggi di seluruh kawasan candi. Akhirnya, Alhamdulillah kupanjatkan pada Allah SWT yang telah memberi kesempatan bisa melihat hasil karya pendahulu bangsa tempo dulu.



BENGKULU

Tampaknya eksplor di Jambi kusudahi hari ini dan kulanjutkan menuju Bengkulu dengan travel pukul 11 siang (240 ribu). Perjalanan 10 jam kunikmati aja meski cukup jauh melintasi jalur tengah Sumatera.


Travel jenis Livina melewati Muara Bulian, Kab. Musi Rawas Utara, Sarolangun, Lubuklinggau, Curup lalu masuk ke Bengkulu. Perjalanan ruas Lubuklinggau menuju Bengkulu jalannya meliuk-liuk tajam. Di jalur ini harus hati² terutama bagi yang suka mabuk darat.

Alhamdulillah aku bisa langsung menempati kamar di Reddoorz (Jitra Guest House) yang ku-booking langsung di TKP. Harganya murah meriah dan lokasinya cukup dekat ke-mana².

Untuk eksplor Bengkulu aku cari yang deket² aja. Kalau yang paling dekat adalah Kompleks Makam Inggris. Lantas ke halaman gubernuran melihat puluhan rusa dan Benteng Inggris Fort Malborough.

Lanjut mencari jejak Bunga Rafflesia Arnoldi yang sedang mekar. Arahnya ke jurusan Curup dekat Liku 9. Namun kami belum beruntung. Satupun tidak kudapati jejak raflesia. Biasanya informasi ada atau tidaknya bisa didapat dari para penjual mamin di sepanjang jalur Bengkulu - Curup. Gpp kalau kali ini kami belum beruntung. Aku kemari diantar oleh sahabatku yang juga ingin melihat bunga tersebut bermekaran. Belum good time kali ini.




Pulangnya mampir Danau Dam Tak Sudah dan malamnya hunting durian di sekitar GOR daerah Sawahlebar yang lagi melimpah ruah.



Hari ini bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha (Lebaran Haji). Sehari sebelumnya aku puasa Arafah. Halaman Masjid yang terdekat dari hotel adalah pilihanku untuk melakukan Shalat Idul Adha. Sedangkan untuk berkurban tahun ini, semua kuserahkan pada anakku di Malang sana.



Rencana untuk eksplor Pulau Tikus terpaksa aku skip. Banyak warga Bengkulu yang menyarankan agar tidak ke sana dalam minggu ini sebab sedang badai, angin kencang dan gelombang tinggi.



Hari ini aku sangat bersyukur bisa Shalat Idul Adha meski bukan di lingkungan rumah tinggalku sendiri. Lalu bisa menyinggahi Masjid Agung At Taqwa untuk Shalat Dhuha dan ke Bekas Rumah Pengasingan Bung Karno menjadi lengkap kebahagiaanku hari ini. Apalagi aku dipertemukan oleh orang baik seperti Mas Zein yang sedang eksplor tipis² di sela² urusan dinas kantornya dari Jakarta.



Ternyata beliau berasal dari Malang. Aku diajak pakai mobil sewaannya berkeliling ke beberapa spot di Kota Bengkulu sebelum ke Bandara untuk balik ke Jakarta. Bercampur rasa sungkan aku menuruti ajakan baiknya menuju bekas rumah Ibu Fatmawati lalu ke Pantai Panjang. Dan akhirnya aku diantarkan pulang ke hotelku. Alhamdulillah Allah telah memudahkan perjalananku. Dan terima kasih Mas Zein atas kebaikan Mas padaku. Semoga Allah membalas kebaikan Mas Zein. Aamiin.

Eksplor di sore hari cuma tipis² aja. Setelah booking tiket via telepon untuk ke Palembang esok hari, dengan Grab (Gojek belum ada) aku menuju Ikan Bakar Jingkrak (IBJ). Oh my god... ikan bakarnya tutup. Terpaksa pingin tau ada apa di dekatnya, disitu ada Tapak Paderi dan Taman Jodoh. Wah... kurang cocok nih tempat itu buat seusiaku. Dengan santai aku meninggalkan lokasi itu lantas menuju ke Lapangan Merdeka menyantap sepiring ketoprak dan secangkir kopi panas. Eksplor sore ini berakhir di Masjid Jamik yang pernah direnovasi oleh Ir. Soekarno pada saat beliau diasingkan di Bengkulu.


Jangan pernah lupakan Kota Bengkulu salah satu kota perjuangan lahirnya negara Indonesia. Dan rasakan kuliner khasnya, Tempuyak yaitu durian yang difermentasi.


PALEMBANG

Pukul 10 pagi jemputan travel ke Palembang sudah datang (220 ribu). Menuju Palembang melewati jalan berliku mulai Kab. Bengkulu Tengah, Kab. Kepahiang, Kab. Rejang Lebong (Curup), Lubuklinggau, Ngulak, Bailangu yang bukan jalan utama lintas Sumatera. Tapi akhirnya masuk ruas jalan Lintas Timur Sumatera menuju Kota Palembang. Ruas jalan dari Lubuklinggau - Palembang mengikuti lika-liku alur Sungai Musi yang panjang. Karena tujuannya cukup jauh, travel ini 3 kali berhenti untuk istirahat makan. Perjalanan yang cukup melelahkan memakan waktu hingga 12 jam.

Bagi yang suka dengan arsitektur rumah lama. Di sepanjang jalur Bengkulu hingga Lubuklinggau banyak terdapat rumah² dengan arsitektur lawas tempo dulu. Ini merupakan rumah tradisional warga lokal di kiri kanan jalanan. Rumah² tersebut ada yang dibiarkan kosong dan masih banyak juga yang ditempati.

Pada tengah malam travel masuk Kota Wong Kito Palembang sampai ke hotel dimana aku menginap. Driver mengikuti arahan Google Maps yang kuberikan. Beruntung urusan check-in berlangsung cukup singkat hingga aku bisa bersiap-siap tidur nyenyak kecapean. Hotel yang cukup baik ku-booking sehari sebelumnya lewat aplikasi online langsung untuk menginap 3 malam. Harga yang murah tidak sebanding dengan pelayanan yang ramah, tempat strategis dan fasilitas hotel berbintang. Terima kasih Reddoorz.

Ga perlu buang² waktu meski badan masih terasa pegel, aku lanjutkan eksplor Kota Bumi Sriwijaya, Palembang. Dimulai dari Kampung Kapitan di pinggiran Sungai Musi. Sebelum masuk ke kawasan itu aku ngopi dulu di bawah Jembatan Ampera. Sekalian memandang penuh takjub keindahan jembatan tersebut yang dibangun tahun 60 an.


Tidak jauh dari warung tersebut terdapat Kampung Kapitan. Kampung intinya dikelilingi oleh rumah² kuno yang sudah teronggok tidak terpakai dan yang masih dipakai oleh warga.

Menurut penuturan Bapak Mulyadi sebagai keturunan ke-4 Kapitan atau keturunan ke-14 dari Dinasti Cing. Kapitan adalah warga keturunan Tionghoa yang berkedudukan di Palembang. Dan bekas rumah tinggalnya masih berdiri tegak yang terdiri dari rumah batu dan rumah kayu. Kapitan diakui oleh pemerintah Belanda dan raja² di Tiongkok.

Singkat cerita keberadaan Kampung Kapitan perlu digaungkan terus menerus termasuk melestarian peninggalan sejarah dengan dukungan semua pihak. Dengan demikian secara otomatis akan mendatangkan pelancong² ke Kampung Kapitan sehingga faktor² pendukungnya menjadi tumbuh.


Selanjutnya menikmati olahan empek² bersama jenis ikutannya. Lokasinya ada di dekat klenteng (utara Jembatan Ampera lalu sedikit ke timur). Lenjer, model, kapal selam, tekwan semuanya kucoba. Terasa puas sudah bisa makan empek² di tempat asalnya.

Dengan bantuan ojol aku Shalat Dhuhur di Masjid Agung Palembang (Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I). Suasana sejuk di bangunan masjid yang kental terasa. Ornamen dan aksesoris masjid masih apik terpelihara baik. Di sekitar situ setidaknya terdapat 3 obyek penting yang monumental selain masjid, Stasiun LRT, Jembatan Ampera dan Benteng Kuto Besak.

Eksplor di sore hari, aku coba LRT dari Stasiun Cinde menuju Jakabaring. Tiketnya langsung beli di loket (5 ribu). Tiket berupa thermal paper ada barcode-nya untuk masuk/keluar gerbang ruang tunggu LRT.

Suasana penumpang ramai ketika jam berangkat/pulang kantor dan sekolah. Atau hari² libur. Kenyamanan dan kebersihan tampak di area stasiun dan LRT. Setiap penumpang dipandu oleh petugas agar semuanya berjalan tertib dan lancar.


Mampir sesaat ke Kompleks Stadion Gelora Sriwijaya yang pernah dipakai sebagai pentas Asian Games tahun 2018. Setelah itu kembali lagi ke Stasiun Jakabaring untuk kembali ke Stasiun Ampera. Sebab, itu adalah LRT terakhir menuju Bandara.

Penjelajahan hari ini aku akhiri dengan jalan-jalan di atas Jembatan Ampera dengan suasana malam hari yang berbeda. Lantas kututup dengan makan malam di wing selatan bawah jembatan.

Pagi yang baru hadir lagi. aku pun bersiap lagi untuk jalan-jalan pagi di sekeliling Kota Wong Kito. Sudah kesemsem dengan olahan empek² yang kemarin, aku mampir kesana lagi di dekat klenteng bagian utara Jembatan Ampera.

Lantas ke bantaran Sungai Musi di depan Benteng Kuto Besak yang sekarang dipakai kantor TNI AD. Di dekat situ ada patung ikan belida, tulisan 'Palembang' dengan background Jembatan Ampera dan Monpera 'Monumen Perjuangan Rakyat'.

Jalan-jalan sorenya aku ke Taman Purbakala di Bungus untuk mencari jejak² Pusat Kerajaan Sriwijaya. Di situ terdapat Situs Karanganyar dengan dua pulaunya, Nangka dan Cempaka.

Selama di Ibukota Sumatera Selatan ini untuk ke-mana² aku menggunakan angkutan kota 'angkot' yang berpintu dan tempat duduknya menghadap ke depan semua. Kadang² pakai becak bermotor atau LRT. Yang paling sering aku pakai ojek online.

Pelemasan kaki hari ini kututup dengan menikmati kuliner pempek dan es kacang di Sentral Kampung Pempek Jl. Mujahidin.

Saatnya menuju Pulau Bangka dengan travel. Memilih dengan travel karena lebih simpel, hemat tenaga, lebih aman dan lebih pasti. Meski biayanya lebih mahal tapi terasa nyaman karena pakai armada minivan yang luas.


B A N G K A

Menuju Pelabuhan Tanjung Api Api 'TAA' perlu dua jam dari Palembang. Tersedia Bus Damri dari Palembang ke pelabuhan TAA. Dengan travel biayanya 160 Ribu Rupiah dari Palembang ke Pangkal Pinang 'PP', Ibukota Provinsi Kep. Bangka Belitung. Biaya tersebut termasuk antar jemput dan biaya ferry.


Ferry Dharma Kartika-1 meninggalkan Pelabuhan TAA on time pada pukul 10 pagi. Dan berlayar selama 3.5 jam melewati Selat Bangka bila kondisi cuaca sangat baik. Ferry nya bersih, AC nya dingin, mushalanya rapi bersih begitu juga dengan toiletnya bersih.

Sistem travel dari Palembang ke PP dan sebaliknya, mereka menjemput/mengantar sampai pelabuhan saja. Armada travel tidak ikut di ferry. Lantas ketika ferry tiba, pihak travel sudah siap menunggu di pelabuhan tujuan dan mengantarkan satu persatu atau didrop di agen.


Bersambung ke JELAJAH 6 PROPINSI DALAM SEBULAN (habis)
Klik di : https://www.seratusnegara.com/2019/08/jelajah-6-propinsi-dalam-sebulan-habis.html


Copyright© by RUSDI ZULKARNAIN

No comments: